Tuesday, December 10, 2019

Published December 10, 2019 by with 0 comment

Wanita Haid Wajib Mengqadha' Shalat Ini

Saat haid berlangsung seorang wanita haram mengerjakan shalat dan puasa. Mereka wajib mengqadha’ puasa, namun tidak wajib mengqadha’ shalat, kecuali dalam 3 waktu, yakni: (1) saat datangnya haid, (2) saat berhentinya haid, dan (3) saat sebelum berhentinya haidh (menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad).

Dalam hal ini udzur yang lain, seperti nifas, gila, anak-anak menjadi baligh, kafir yang masuk Islam) disamakan hukumnya.

Rincian pembahasannya adalah sebagai berikut berdasar pandangan madzhab Syafi’i:

1. Bila datangnya haid telah masuk waktu shalat dengan kadar waktu yang mencukupi untuk menjalankan shalat dan bersucinya (wudhu, tayammum atau mandi) secepat mungkin, tetapi ia belum mengerjakan shalat tersebut, maka wajib baginya mengqadha’ shalat itu.

Contoh: Waktu Zhuhur masuk pukul 12:30. Hingga pukul 12:45 si A belum juga menunaikan shalat Zhuhur, lalu datang haidh; maka saat suci nanti si A wajib mengqadha shalat Zhuhur itu.

2. Bila berhentinya haid masih menyisakan waktu shalat sekedar takbiratul ihram, maka ia wajib mengqadha’nya.

Contoh: Si A berhenti haid pukul 15:35, sedangkan waktu Ashar masuk pukul 15:37, sedangkan si A tidak sempat lagi untuk bersuci (mandi dan wudhu) dan shalat; maka si A wajib mengqadha’ shalat Zhuhur yang ketinggalan tersebut.

3. Diwajibkan mengqadha shalat yang berada pada posisi sebelum waktu berhentinya haid bila memenuhi persyaratan:

a. Shalat sebelumnya dapat dijama’ dengan shalat yang dirinya berhenti haid.

Contoh: Si A berhenti haid pada waktu Ashar. Dalam keadaan ini maka wajib bagi si A untuk  shalat Asar dan mengqadha’ shalat Zhuhur. Sebab, shalat Ashar dan Zhuhur adalah dua shalat yang bisa dijama’. 
 
Contoh lain, si B berhenti haid pada waktu Isya’. Maka si B wajib menunaikan shalat Isya dan mengqadha’ shalat Maghrib. Karena kedua shalat itu bisa dijama’.    

Namun jika si A atau si B berhenti haidnya pada waktu Subuh, Magrib atau Zhuhur, maka tidak wajib baginya menqadha’ shalat sebelumnya.

b. Masih menyisakan waktu shalat sekedar takbiratul ihram.
c. Tidak kembali keluar darah haid dalam waktu minimal cukup untuk mengerjakan dua shalat fardhu dan bersucinya. 

Rujukan:

1. Imam al-Haramain, Nihayatul Mathlab fi Diraayatil Madzhab, jilid 1 hal 398:

ثم يتفق انقطاعُ الحيض في آخر النهار، فيجب قضاءُ الظهر مع العصر

Kemudian mereka bersepakat jika darah haid sudah berhenti di akhir siang hari, maka wajib baginya qadha’ shalat Zhuhur dan Ashar

2. Majmu’ Fatawa, jilid 2 hal 347:

إنَّ الْمَرْأَةَ الْحَائِضَ إذَا طَهُرَتْ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ صَلَّتْ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ. وَإِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ صَلَّتْ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ.وَهَذَا مَذْهَبُ جُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ كَمَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ

Sesungguhnya seorang wanita yang haid ketika sudah suci sebelum fajar, maka ia wajib shalat Magrib dan Isya. Apabila ia suci sebelum terbenamnya matahari, maka wajib baginya shalat Zhuhur dan Ashar. Inilah pendapat dari jumhur ahli fiqh seperti Imam Malik, Imam Syafi’i dan  Imam Ahmad.

3. Mushannaf Ibnu Syaibah 2/122 No 7206-7208 : 
 
7206 – حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ مُغِيرَةَ، وَعُبَيْدَةَ، أَخْبَرَاهُ عَنْ إِبْرَاهِيمَ، وَعَنْ حَجَّاجٍ، عَنْ عَطَاءٍ، وَالشَّعْبِيِّ، وَعَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ عَطَاءٍ فِي الْحَائِضِ «إِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ صَلَّتِ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، وَإِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ الْفَجْرِ صَلَّتِ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ»
7207 – حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ، عَنْ يَزِيدَ، عَنْ مِقْسَمٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، مِثْلَهُ
7208 – حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي نَجِيحٍ، عَنْ عَطَاءٍ، وَطَاوُسٍ، وَمُجَاهِدٍ، قَالُوا: «إِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ غُرُوبِ الشَّمْسِ صَلَّتِ الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ، وَإِذَا طَهُرَتْ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ صَلَّتِ الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ»

Inti redaksinya (matannya):
“Bila wanita haid suci sebelum terbenamnya matahari (masih waktu Ashar) maka dia (wajib) shalat Zhuhur dan Ashar; dan bila suci sebelum fajar (masih waktu Isya) maka dia (wajib) shalat Magrib dan Isya.”

Wallahu a'lam...

      edit

0 comments:

Post a Comment