Showing posts with label Usfuriyah. Show all posts
Showing posts with label Usfuriyah. Show all posts

Friday, November 13, 2020

Published November 13, 2020 by with 0 comment

Tawakkal kepada Allah

عن معاذ بن جبل رضي الله تعالى عنه أنه قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم، يقول الله: يا ابن آدم استحي مني عند معصيتك وأنا أستحي منك يوم العرض الأكبر فلا أعذبك، يا ابن آدم تب إلي أكرمك كرامة الأنبياء، يا ابن آدم لا تحول قلبك عني فإنك إن حولت قلبك عني أخذلك فلا أنصرك، يا ابن آدم لو لقيتني يوم القيامة ومعك حسنات مثل أهل الأرض لم أقبل منك حتى تصدقني بوعدي ووعيدي، يا ابن آدم إني أنا الرزاق وأنت المرزوق وتعلم أني أوفيك رزقك فلا تترك طاعتي بسبب الرزق فإنك إن تركت طاعتي بسبب رزقك أوجبت عليك عقوبتي، يا ابن آدم احفظ لي هذه الخصال الخمس ولك الجنة

 

Dari Muadz bin Jabal ra, berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Allah berfirman “Wahai anak Adam, malulah kepada-Ku ketika engkau bermaksiat, maka Aku akan malu kepadamu pada hari kiamat dan tidak akan menyiksamu. Wahai anak Adam, bertaubatlah kepada-Ku, maka Aku akan memuliakanmu seperti kemuliaan para Nabi. Wahai anak Adam, jangan kau palingkan hatimu dari-Ku karena bila engkau palingkan hatimu dari-Ku, maka Aku akan menyiksamu dan tidak alam menolongmu. Wahai anak Adam, andai engkau bertemu dengan-Ku pada hari kiamat dan engkau membawa kebaikan sebanyak jumlah penduduk bumi, maka Aku tidak akan menerima darimu hingga engkau membenarkan janji-Ku dan ancaman-Ku. Wahai anak Adam sesungguhnya Aku Maha Pemberi rezeki dan engkau adalah yang diberi rezeki, engkau mengetahui sesungguhnya Aku memenuhi rezekimu, maka janganlah engkau tinggalkan ketaatan kepada-Ku dengan alasan rezeki, karena sesungguhnya bila engkau meninggalkan ketaatan kepada-Ku dengan alasan rezeki, maka Aku mewajibkan siksa-Ku padamu. Wahai anak Adam jagalah lima hal ini maka engkau akan mendapatkan surga”.

 

الخبر بتمامه (حكاية) يا إخواني لاتغتموا على الرزق ولايمنعكم رزقكم عن الطاعة بسبب قول الله تعالى “ومامن دابة فى الأرض إلا على الله رزقها” كما جاء فى الخبر ان الله تعالى خلق طيرا أخضر فى الهواء وجعل على ظهره رمحا وتحت بطنه رمحا آخر وخلق حوتا فى البحر يأكل السمك ويدخل بين أسنانه لحم السمك ويضره ويؤلمه فيخرج رأسه من الماء ويفتح فمه فيجئ ذلك الطير الأخضر فيدخل في فم الحوت يأكل ما كان بين أسنانه ويكون الرمحان كعمودين في فم الحوت لا يقدر على مضغه وأكله فلما فني اللحم من بين أسنانه يطير فى الهواء، جعل الله تعالى رزقه من بين أسنانه ويرجع الحوت إلى مكانه ويستريح بسببه ويكون كل واحدمنهما سببا للآخر ولايترك الطير بلا رزق فكيف يترك الإنسان بلارزق.

 

Kabar yang menyempurnakan, (sebuah kisah). Wahai saudara-saudaraku, janganlah kalian bersedih atas rezeki dan janganlah rezeki kalian mencegah untuk taat, sebab Allah Ta’ala berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya” (Hud:6), sebagaimana telah datang kabar bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan seekor burung hijau di udara, dan Allah membuat ujung runcing di atas punggungnya dan ujung runcing di bawah perutnya, lalu Allah menciptakan ikan Paus di laut, Paus itu memakan ikan dan daging ikan tersebut masuk di antara gigi-giginya. Daging ikan tersebut melukai dan menyakitinya. Kemudian ikan paus mengeluarkan kepalanya dari air dan membuka mulutnya, lantas datanglah burung hijau tersebut, dia masuk ke mulut ikan paus dan memakan yang ada di antara gigi-giginya (daging ikan), dua tombak tersebut seperti dua tiang di mulut ikan paus, sehingga dia (paus) tidak bisa mengunyah dan memakannya (burung), maka ketika telah habis daging di antara gigi-giginya, burung tersebut terbang ke udara. Allah telah membuat rezekinya ada di antara gigi-gigi ikan paus, dan kembalilah ikan paus ke tempatnya, dia istirahat sebab hal tersebut. Masing-masing dari keduanya menjadi sebab bagi yang lain. Allah tidak meninggalkan burung tanpa rezeki, maka bagaimana mungkin Allah meninggalkan manusia tanpa rezeki?

 

 (وفي حكاية ) إبراهيم بن أدهم رحمة الله عليه وكان سبب توبته إنه كان يوما من الأيام خرج إلى الصيد فنزل منزلا وبسط السفرة ليأكل الطعام فبينما هو كذلك جاء غراب و أخذ من السفرة خبزا بمنقاره وطار فى الهواء فتعجب إبراهيم من ذلك وركب فرسه وذهب إلى خلف الطير حتى صعد الغراب إلى الجبل وغاب عن عين إبراهيم فصعد إبراهيم أيضا الجبل لطلب الغراب فرأى من بعيد ذلك الغراب فلما دنا إبراهيم طار الغراب فرأى إبراهيم رجلا مشدودا بالحبل مضطجعا على قفاه فلما رأى إبراهيم ذلك الرجل على هذه الحالة نزل عن فرسه وحل شداده وسأل عن حاله وقصته فقال الرجل إني كنت تاجرا فأخذني قطاع الطريق وأخذوا ما كان معي من المال وقتلوني وشدوني وطرحوني في هذا الموضع وصار لي سبعة أيام كل يوم يجىء الغراب بالخبز ويجلس على صدري ويكسر الخبز بمنقاره ويضعه فى فمي وما تركني الله جائعا في تلك الأيام فركب إبراهيم فرسه وأردفه وجاء به إلى موضعه الذي كان نزل فيه وتاب إبراهيم بن أدهم ورجع إلى الله تعالى ونزع ثيابه الفاخرة ولبس الصوف وأعتق عبيده وأوقف عقاره و أملاكه وأخذ بيده عصا وتوجه إلى مكة بلا زاد ولا راحلة وتوكل على الله تعالى ولم يهتم على الزاد ولم يبق جائعا حتى وصل إلى الكعبة وشكر الله تعالى وأثنى عليه قال ومن يتوكل على الله فهو حسبه إن الله بالغ أمره قد جعل الله لكل شيء قدرا الآية.

 

(Sebuah kisah), Ibrahim bin Adham, semoga Allah merahmatinya. Adapun sebab taubatnya adalah sesungguhnya pada suatu hari dia keluar untuk berburu, kemudian dia duduk di suatu tempat dan membuka alas untuk makan makanan. Ketika dia melakukan hal tersebut datanglah seekor burung gagak. Burung tersebut mengambil sepotong roti dari alas dengan paruhnya lalu dia terbang ke udara. Ibrahim kagum pada hal tersebut. Dia pun menaiki kudanya dan pergi membuntuti burung tersebut sambil melihat burung gagak itu dari kejauhan. Ketika Ibrahim mendekat, terbanglah burung gagak tersebut. Lantas Ibrahim melihat seorang laki-laki terikat tali yang kencang sambil berbaring di atas punggungnya. Ketika Ibrahim melihat laki-laki itu dalam keadaan tersebut, dia turun dari kudanya dan melepas ikatannya. Dia menanyakan keadaannya dan laki-laki tersebut bercerita kepadanya. Lelaki tersebut berkata, “Sesungguhnya aku adalah seorang pedagang, lalu para pencuri mengambil harta yang aku bawa, mereka menyakitiku mengikatku dan meninggalkanku di tempat ini. Aku lalui tujuh hari. Tiap hari datang burung gagak dengan roti dan duduk di atas dadaku. Dia cuilkan roti dengan paruhnya dan meletakkan di mulutku, dan tidaklah Allah meninggalkanku kelaparan pada hari-hari tersebut. Kemudian Ibrahim menaiki kudanya dan kembali ke tempat semula. Ibrahim bin Adham bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Dia lepas bajunya yang mewah dan memakai baju sufi. Dia merdekakan budaknya yang kecil, dia waqafkan perkebunan serta harta bendanya, dia ambil tongkat dengan tangannya dan menuju Mekkah tanpa bekal dan kendaraan. Dia tawakkal kepada Allah Ta’ala. Dia tidak memperhatikan bekal dan dia tidak pernah kelaparan hingga dia sampai ke Ka’bah. Dia bersyukur kepada Allah Ta’ala dan memuji-Nya, Allah berfirman “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (Thalaq:3).

 

Read More
      edit

Sunday, June 14, 2020

Published June 14, 2020 by with 0 comment

Keutamaan Laa Ilaaha Illallaah

Abdus Shomad bin Mughaffal mendengar Ibnu Munabbih berkata: "Aku membaca 30 baris terakhir dari kitab Zabur-nya Nabi Dawud, Allah berfirman: "Wahai Dawud! Tahukah engkau orang mukmin yang paling Aku cintai, yang Aku panjangkan usianya?" 
 
Nabi Dawud menjawab, "Tidak, Tuhan."
 
Allah berfirman: "Yaitu orang yang ketika membaca laa ilaaha illallaah merinding kulitnya dan melemah sendi-sendinya. Aku tak ingin ia cepat mati, sebagaimana halnya orangtua yang tak menginginkan kematian anaknya. Tapi bagaimanapun juga kematian pasti datang. Akan Kuberikan kebahagiaan dalam satu tempat, namun bukan di tempat ini. Kenikmatan di dunia adalah cobaan. Kemewahannya adalah kebangkrutan. Di dunia terdapat musuh yang mengganggu dan merusak. Jalannya seperti aliran darah. Karena itulah Aku percepat wali-Ku masuk ke dalam surga. Andaikata tanpa itu, maka manusia takkan pernah mati hingga sangkakala ditiup."
 
Dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Saw bersabda:
 
مَنْ قَالَ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَمَدَّهَا هُدِمَتْ لَهُ اَرْبَعَةُ آلاَفِ ذَنْبٍ مِنَ الْكَبَائِرِ
 
"Barangsiapa membaca laa ilaaha illallaah dan memanjangkan kalimat itu maka akan hancur empat ribu dosa besar."
 
Sayidina Ali juga meriwayatkan hadits ini.
 
Kisah (1)
Hazim yang Sakit
 
Dalam sebuah majelis tafsir yang diasuh oleh seorang guru besar yang zuhud, yakni Ya'qub al-Kisai, dikisahkan bahwa Hazim bin Walid tengah sakit. Seorang tabib pun didatangkan untuk mengobatinya. 
 
"Ia tak sakit," kata sang tabib. "Cobalah tanyakan kepadanya mengapa ia sakit, karena dialah yang paling tahu tentang keadaannya."
 
Mereka lalu bertanya kepada Hazim. 
 
"Aku memang tak sakit. Sakitku adalah rasa takut kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Memberi. Takut membanggakan amal. Takut perhitungan amal. Takut kehilangan iman dari sanubariku. Takut dimasukkan ke dalam golongan yang menerima azab. Alangkah beruntung orang yang mati dengan membawa iman, lalu melangkahkan kakinya ke dalam surga," jawab Hazim
 
Kisah (2)
Raja yang Durhaka

Dikisahkan oleh Abu Bakar bin Abdullah al-Musani:
 
Hiduplah seorang raja yang durhaka kepada Tuhannya. Orang-orang kemudian melakukan perlawanan kepadanya hingga ia menyerah.
 
Mereka bertanya-tanya, "Dengan cara apa kita menghukum mati dia yang telah durhaka kepada Tuhannya?"
 
Terjadilah kesepakatan. Mereka memasukkan sang raja ke dalam bejana besar. Kepalanya ditutupi. Mereka menyalakan api di bawah bejana tersebut.
 
Ketika api semakin memanas, raja memanggil-manggil tuhannya. Tapi tuhan yang dipanggilnya itu bukanlah Allah.
 
"Wahai Latta, Hubal, Uza. Selamatkan aku! Aku selalu mengusap kepalamu, wahai Hubal; dan selalu melayanimu!" teriaknya.
 
Setiap ia meminta perlindungan, api semakin bertambah panas. Sadar bahwa apa yang ia sembah tak bisa menolong, ia putus asa. Lalu kembali kepada Allah.
 
Dari dalam bejana ia menyeru, "Laa ilaaha illallaah Muhammadur rasuulullaah...." 
 
Seketika itu Allah menurunkan hujan dari langit yang mampu memadamkan api. Angin bertiup sangat kencang dan menerbangkan bejana tersebut ke awang-awang. Ia terus mengucapkan kalimat itu, hingga bejana itu tak terlihat lagi oleh mata. Angin tersebut melemparkannya ke dalam satu kaum yang belum mengenal Allah Ta'ala.
 
Seketika kaum itu mengambil bejana tersebut dan membukanya, sang raja keluar.
 
"Siapakah engkau? Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya mereka.
 
Sang raja menjawab, "Aku adalah seorang raja."
 
Lalu, ia menceritakan semua peristiwa yang ia alami, hingga kaum itu kemudian masuk Islam seluruhnya.
Read More
      edit

Sunday, June 7, 2020

Published June 07, 2020 by with 0 comment

Amalan yang Bisa Menghapus Dosa

Dari Abu Nashir al-Wasithi, ia mendengar Abu Raja' al-Atharidi mendapat cerita dari Abu Bakar as-Shiddiq.

Seorang badui datang menghadap Rasulullah Saw dan berkata, "Aku mendengar engkau bersabda, bahwa dari Jumat satu ke Jumat yang lain adalah pelebur dosa bagi orang yang tidak menjalankan dosa besar."

"Ya," jawab Nabi. Lalu menambahkan:

الْغُسْلُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ وَالْمَشْيُ اِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَةٌ وَكُلُّ قَدَمٍ مِنْهَا كََعَمَلِ عِشْرِيْنَ سَنَةً فَإِذَا فَرَغَ مِنَ الْجُمُعَةِ اَجِيْزٌ بِعَمَلِ مِائَتَى سَنَةٍ  


"Mandi hari Jumat adalah pelebur dosa. Setiap jejak kaki sama dengan amalan 20 tahun. Jika shalat Jumat telah selesai ia diberi pahala seperti amalan 200 tahun."

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakar as-Shiddiq ra.
Hikayat (1)
Abu Bakar Memeluk Islam

Pada masa jahiliyah Abu Bakar as-Shiddiq dikenal sebagai saudagar besar yang kaya raya. Ketika berniaga ke Syam ia bermimpi, bahwa matahari dan bulan ada di dalam kamarnya. Ia mengambil dan memeluk erat di dadanya, dan menutup dengan selendangnya.

Begitu bangun, langsung ia mendatangi pendeta Nasrani untuk menanyakan mimpinya. Ketika tiba ia segera menceritakan mimpinya dan meminta pendeta itu menafsirkan makna mimpinya.

"Dari mana engkau?" tanya pendeta itu.
"Dari Mekah," jawab Abu Bakar.
"Dari suku apa?" tanya pendeta itu lagi.
"Suku Tayyim," jawab Abu Bakar.
"Apa pekerjaanmu?"
"Berdagang."

Kemudian pendeta itu menjelaskan, "Akan muncul pada masamu seorang laki-laki dari Bani Hasyim. Ia bernama Muhammad dengan julukan al-Amin. Ia menjadi Nabi terakhir. Andaikata ia tak ada, maka Allah tidak akan ciptakan langit, bumi dan seisinya. Juga andaikan ia tidak ada, maka Allah tidak akan menciptakan Nabi Adam, para nabi dan rasul. Ia menjadi penutup para nabi. Engkau akan menjadi pemeluk agamanya. Engkau akan menjadi pembantu dektanya. Inilah tafsir mimpi yang engkau alami."

Pendeta itu meneruskan, "Sifat dan ciri-ciri lelaki itu telah kudapatkan di dalam Taurat, Injil dan Zabur. Sesungguhnya aku telah memeluk Islam untuknya. Akan tetapi aku melakukannya dengan sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang Nasrani yang lain."

Usai Abu Bakar mendengar penjelasan pendeta tersebut, hatinya jadi ciut. Ia ingin sekali bertemu Nabi.

Cepat-cepat ia langkahkan kaki menuju Mekah, mencarinya dan mendapatkannya. Abu bakar cinta sekali padanya. Sekajap pun ia tak melepaskan pandangannya dari Nabi.

Hal itu berjalan dalam waktu yang cukup lama.

Suatu hari Nabi bertanya, "Setiap hari kau datang kepadaku. Mengapa engkau tak masuk Islam?"
"Jika kau seorang Nabi, pastilah kau mempunya mukjizat," jawab Abu Bakar.
"Apakah tidak cukup dengan mukjizat yang kau lihat dalam mimpimu ketika di Syam dan ditafsirkan oleh seorang pendeta yang telah masuk Islam?"

Begitu mendengar hal itu, Abu Bakar langsung mengucapkan syahadat. Memeluk Islam dengan baik.

Hikayat (2)
Dua Orang Penyembah Berhala 

Pada masa Malik bin Dinar, hiduplah dua orang majusi penyembah api. Yang satu berusia 73 tahun, yang satunya lagi berusia 35 tahun.

"Kemari!" panggil yang muda kepada yang tua. "Apakah api ini akan menolong kita ataukah membakar kita sebagaimana ia membakar orang-orang yang tidak menyembahnya? Jika tidak membakar kita, ayo kita terus menyembahnya. Tetapi jika membakar kita, maka buat apa kita memujanya?"

"Ya," jawab yang lebih tua.

Mereka lalu menyalakan api.

"Aku ataukah engkau yang lebih dahulu memasukkan tangannya ke dalam api ini?" tanya yang muda.
"Engkau saja," jawab yang tua.

Ia lalu menaruh tangannya di atas api. Jari jemarinya pun terbakar. Ia mengaduh kesakitan. Ia kemudian berkata, "Tiga puluh lima tahun kau kusembah, masih juga kau menyakitiku! Ayo kita cari saja Tuhan Yang Maha Esa, yang apabila kita berdoa dan meninggalkan perintah-Nya selama lima ratus tahun, misalnya, Dia mau mengampuni dan memaafkan hanya dengan menaati-Nya dalam waktu satu jam, dan hanya dengan satu kali memohon ampun."

Yang tua menurut saja. Katanya, "Baiklah. Kita cari orang yang bisa membimbing kita ke jalan yang lurus, yang mengajarkan kita kepada agama Islam yang menyelamatkan."

Mereka pun sepakat untuk menemui Malik bin Dinar di Bashrah. Mereka segera berangkat ke Bashrah. Mereka menemukan Malik bin Dinar tengah berkumpul bersama masyarakat memberikan bimbingan untuk mereka.

Melihat hal itu yang tua berkata, "Tak usahlah aku masuk Islam. Usiaku sudah terlalu tua. Umurku sudah habis untuk menyembah api. Kalau pun aku masuk Islam, agama yang dibawa oleh Muhammad itu, tentulah keluarga dan tetanggaku akan mencaciku. Neraka lebih kusukai daripada caci maki mereka."

"Jangan lakukan itu," cegah yang muda. "Cacian bisa berhenti, tapi neraka akan abadi," katanya memberi nasehat.

Tapi yang tua ternyata tetap pada pendiriannya. Ia lebih memilih pulang dan menetapi keyakinannya sebagai penyembah api.

Sementara itu, yang muda mengajak istri dan anak-anaknya yang masih kecil mengikuti majelis yang diasuh oleh Malik bin Dinar hingga selesai. Setelah bertemu dengan Malik bin Dinar, yang muda ini mengisahkan semua yang ia alami dan menyempaikan niatnya untuk masuk Islam. Akhirnya ia dan keluarganya mengucapka dua kalimat syahadat. Orang-orang yang hadir pada waktu menangis gembira melihat keislaman keluarga itu.

Ketika ia bermaksud pulang, Malik bin Dinar menahannya. "Nantilah, duduklah engkau di sini hingga kawan-kawanku mengumpulkan sedikit hartanya."

Laki-laki itu berkata, "Tidak, aku tak ingin menjual agamaku dengan dunia."

Ia lalu pergi dan memasuki sebuah puing-puing yang di dalamnya terdapat rumah tua. Disanalah mereka tinggal.

Keesokan hari istrinya berkata, "Wahai suamiku, pergilah ke pasar dan carilah pekerjaan. Belilah makanan secukupnya untuk kita makan."

Ia pun berangkat ke pasar. Ke sana ke mari ia melangkahkan kaki, namun tak satupun pekerjaan yang berhasil ia dapatkan.

"Lebih baik aku bekerja untuk Allah saja," bisiknya di dalam hati.

Ia kemudian memasuki masjid yang sepi dari manusia. Ia shalat hingga malam tiba. Lalu pulang dengan tangan hampa.

Sesampai di rumah, sang istri bertanya, "Engkau tak mendapatkan sesuatu?"
Ia pun menjawab, "Hari ini aku bekerja untuk Raja. Hari ini Dia belum memberinya. Semoga saja besok Dia akan memberikannya."

Mereka pun melewati malam itu dalam keadaan lapar. Keesokan harinya ia kembali ke pasar. Namun hal yang sama ia alami. Tak ada pekerjaan yang ia peroleh. Ia memutuskan untuk kembali lagi ke masjid. Di sana ia shalat hingga waktu malam tiba. Lalu, ia pulang dengan kondisi tangan hampa.

"Masih juga kau tak mendapatkan sesuatu?" tanya sang istri.
"Aku masih bekerja untuk Raja yang kemarin. Dia masih belum memberinya. Besok hari Jumat. Aku berharap Dia akan memberiku," jawabnya.

Seperti malam sebelumnya. Malam itu mereka kembali melewatinya dengan rasa lapar yang semakin kuat.

Esoknya, hari Jumat. Ia kembali berangkat ke pasar. Namun tak dapat juga pekerjaan. Ia pergi ke masjid. Shalat dua rakaat. Dengan mengangkat tangan ia mengadu, "Tuhanku, Junjunganku, telah Kau muliakan aku dengan Islam. Telah Kau berikan kepadaku keagungan Islam. Telah Kau berikan aku petunjuk dengan petunjuk terbaik. Atas nama kemuliaan agama yang telah Kau berikan kepadaku dan dengan kemuliaan hari Jumat yang penuh berkah ini, hari yang telah Kau tetapkan sebagai hari yang agung, aku mohon tenangkanlah hatiku karena sulitnya mencari nafkah untuk keluargaku. Berikanlah aku rezeki yang tak terhingga. Demi Allah! Aku malu kepada keluargaku. Aku takut mereka berubah pikiran tentang Islam."

Kemudan ia berdiri dan menyibukkan dirinya dengan shalat.

Ketika tengah hari, saat lelaki itu menunaikan shalat Jumat. Saat anak dan istrinya kelaparan yang sangat berat, seseorang mengetuk pintu rumah. Sang istri membukakan pintu. Seorang tamu datang membawa nampan emas yang ditutupi kain bersulamkan benang emas.

"Ambil nampan ini. Katakan pada suamimu. Ini upah kerjanya selama dua hari. Akan ditambah bila ia rajin bekerja. Apalagi pada hari Jumat seperti ini. Amal yang sedikit pada hari ini akan menjadi besar di sisi Sang Raja Yang Maha Perkasa."

Nampan itu ia terima. Tidak disangka, ternyata isinya seribu dinar. Ia ambil satu dinar untuk ditukarkan di tempat penukaran uang. Pemilik tempat penukaran uang itu seorang Nasrani. Ia menimbang dinar tersebut. Ternyata beratnya dua kali lipat dari dinar biasa. Setelah diteliti ukirannya, ia mengatakan  bahwa itu ukiran akhirat.

"Dari mana kau dapatkan dinar ini?" tanyanya.

Wanita itupun menceritakan apa yang ia alami. Pemilik tempat penukaran uang itu kemudian menyatakan keislamannya setelah mendengar cerita itu. Ia kemudian memberi si wanita seratus dirham. "Pakai saja. Kalau habis datang kembali padaku. Aku akan memberimu lagi," katanya.

Sang suami yang masih tetap di masjid terus melakukan shalat. Menjelang malam ia pun pulang dengan tangan hampa. Agar terlihat membawa sesuatu, ia mengisi sapu tangannya dengan pasir. "Bila nanti istriku bertanya, maka akan kujawab saja kalau isinya adalah tepung," gumamnya.

Ketika memasuki rumah, laki-laki itu mencium bau makanan. Ia letakkan bungkusan pasirnya di samping pintu agar istrinya tidak tahu. Kemudian ia menanyakan apa yang terjadi di rumahnya. Sang istri pun menceritakan seluruh yang ia alami hari itu. Setelah mendengar seluruhnya, ia pun sujud syukur kepada Allah.

"Apa yang kau bawa?" tanya sang istri.
"Jangan tanyakan itu," elaknya.

Istrinya kemudian beranjak mengambil bungkusan suaminya dan membukanya. Atas izin Allah, pasir yang ada dalam bungkusan itu berubah menjadi tepung, seperti yang ia ucapkan sebelumnya. Lelaki itu kembali bersujud kepada Allah sebagai wujud syukurnya.

Al-Faqih berkomentar, "Angkatlah tanganmu ke langit dan berdoalah, "Demi kemuliaan hari Jumat, ampunilah dosa kami. Sirnakanlah nestapa kami." Laki-laki itu ketika berdoa dengan menyebut kemuliaan hari Jumat, ia diberi syafaat. Allah memberinya rezeki tak terhingga. Demikian juga jika kita berdoa kepada Allah pada hari Jumat. Semoga Allah mengabulkan permohonan-permohonan kita.


Read More
      edit

Tuesday, February 18, 2020

Published February 18, 2020 by with 0 comment

Amalan Mendekatkan ke Surga dan Menjauhkan dari Neraka

عَنْ اَبْى ذَرٍّ الْغِفَّارِى رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ عَلِّمْنِى عَمَلًا يُقَرِّبُنِى اِلَى الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُنِى مِنَ النَّارِ. قَالَ اِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاتْبَعْهَا حَسَنَةً. قُلْتُ اَمِنَ الْحَسَنَاتِ قَوْلُ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ قَالَ نَعَمْ هِيَ اَحْسَنُ الْحَسَنَاتِ 
 
Abi Dzar al-Ghifari radhiyallahu 'anhu meminta kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, "Ya Rasulullah, ajarkan aku amalan yang bisa mendekatkan aku ke surga dan menjauhkan aku dari neraka." "Jika berbuat keburukan, ikutilah dengan amal kebaikan," jawab Nabi."Apakah kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH termasuk amalan baik?" "Ya, itulah yang terbaik," jawab Nabi.
 
Hikayat (1)
Kesaksian Tujuh Batu
 
Seorang laki-laki yang tinggal di Arafah menggenggam tujuh buah batu. Lalu berkata, "Jadilah saksi di hadapan Tuhan, bahwa aku bersaksi tak ada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya."
 
Lalu ia tidur.
 
Dalam tidurnya ia bermimpi seakan kiamat telah tiba. Ia ditimbang amalnya dan diputuskan masuk neraka. Malaikat segera membawanya. Ketika telah berada di pintu neraka, batu yang menjadi saksi lelaki itu menghalanginya.
 
Para malaikat yang bertugas menyiksa lalu bersatu menyingkirkan batu itu. Mereka tak mampu. Diputuskan untuk lewat pintu yang lain saja. Sayang, semua terhalang oleh batu. Mereka tetap tak mampu mengangkatnya. Bahkan hingga pintu neraka yang ketujuh.
 
Maka lelaki tadi dibawa menghadap Allah ke bawah 'Arsy. Para malaikat mengeluh, "Tuhan, Engkau lebih tahu tentang hamba-Mu ini. Kami tak menemukan jalan untuk menjebloskannya ke dalam neraka."
Allah memberikan jawaban kepada lelaki itu. "Hamba-Ku, batu-batu itu, adalah saksimu. Ia tidak menghilangkan hakmu. Bagaimana mungkin Aku akan mengabaikan hakmu yang telah mengucapkan syahadat kepada-Ku."
 
Kepada para malaikat Allah memberikan perintah, "Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga!"
 
Ketika dibawa ke surga, semua pintu-pintunya menutup. Maka datanglah kesaksian kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAH yang mampu membuka pintu surga.
 
Laki-laki itu pun masuk surga.
 
Hikayat (2)
Mengapa Hamba Bisa Masuk Neraka?
 
Ini kisah dari Imam Mufti yang zahid yang mendapat cerita dari ayahnya yang juga seorang mufti. 
 
Suatu ketika Nabi Musa mengadu keapada Allah, "Wahai Allah! Kau ciptakan makhluk dan Kau berikan kenikmatan rezeki. Kau jadikan pengikutku masuk neraka."
 
Allah berfirman, "Bangkit dan bertanamlah, hai Musa!"
 
Nabi Musa pun mulai bercocok tanam dan menyiraminya. Ia melakukan hal itu hingga masa panen tiba.
 
"Apa yang kau dapat dengan tanaman itu, Musa?" tanya Allah.
 
"Aku telah memanennya," jawab Nabi Musa.
 
"Adakah sedikit yang tersisa?" 
 
"Aku tak pernah menyisakan sesuatu yang tak ada kebaikannya," jawab Musa.
 
Allah berfirman, "Hai Musa! Aku memasukkan hamba yang tak mempunyai kebaikan ke dalam neraka."
 
Siapakah dia?'
 
"Dia adalah yang meremehkan kalimat LAA ILAAHA ILLALLAAHU MUHAMMADUR  RASULULLAH."
Read More
      edit

Monday, February 17, 2020

Published February 17, 2020 by with 0 comment

Keutamaan Ilmu

Dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
مَنْ تَعَلَّمَ بَابًا مِنَ الْعِلْمِ يُنْتَفَعُ بِهِ فِى آخِرَتِهِ وَدُنْيَاهُ، اَعْطَاهُ اللهُ خَيْرًا لَهُ مِنْ عُمْرِ الدُّنْيَا سَبْعَةَ آلَاف سَنَةٍ، صِيَامُ نَهَارِهَا وَقِيَامُ لَيَالِهَا مَقْبُوْلًا غَيْرَ مَرْدُوْدٍ

"Barangsiapa yang mempelajari satu bagian dari ilmu yang akan berguna untuk akhirat dan dunianya, maka Allah akan memberikan kebaikan dari orang-orang yang mendiami dunia selama tujuh ribu tahun. Puasanya pada siang hari dan shalatnya di saat malam pasti diterima dan tak akan ditolak."
 
Menurut riwayat yang sama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Membaca al-Qur'an adalah amalan orang-orang yang cukup. Shalat adalah amalan orang yang lemah. Puasa adalah amalan orang yang fakir. Bertasbih adalah amalan wanita. Sedekah adalah amalan orang berada. Tafakur adalah amalan orang yang lemah. Inginkah kalian aku tunjukkan amalan para pahlawan?"
 
"Apakah amalan para pahlawan itu, ya Rasulullah?" tanya para sahabat.
 
Beliau menjawab, "Mencari ilmu. Ia akan menjadi penerang bagi orang Mukmin di dunia dan di akhirat."
 
Hikayat
Ali dan Kaum Khawarij
 
Ketika kaum Khawarij mendengar sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
 
أَنَا مَدِيْنَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا
 
"Akulah kota ilmu. Dan Ali adalah gerbangnya."
 
Mereka tak mau terima. Lalu berkumpullah sepuluh pemuka kaum Khawarij untuk membuktikannya.
 
"Kita cukup melontarkan satu pertanyaan yang sama. Jika Ali memberikan alasan yang berbeda, benarlah apa yang disabdakan Nabi," kata kaum Khawarij itu.
 
Mereka lalu mendatangi Ali secara bergilir satu persatu, dan bertanya kepada Ali, "Lebih utama mana ilmu atau harta?"
 
"Ilmu," jawab Ali.
 
"Apa alasannya?"
 
"Ilmu warisannya para Nabi. Harta warisannya Qarun, Syaddat, Fir'aun dan lainnya."
 
Ia segera pergi, dan datang lagi yang berikutnya dengan pertanyaan yang sama. Ali selalu menjawab bahwa ilmu lebih utama dari harta. Tetapi setiap pertanyaan selalu diberikan alasan yang berbeda.
 
"Ilmu menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjaganya," jawab Ali kepada orang yang kedua.
 
"Pemilik harta musuhnya banyak.Sedangkan pemilik ilmu sahabatnya banyak," jawabnya kepada orang ketiga.
 
Kepada orang keempat Ali menjawab, "Harta akan berkurang jika engkau gunakan. Sedangkan ilmu akan bertambah jika engkau pergunakan."
 
Kepada orang kelima Ali menjawab, "Pemilik harta akan ada saja orang yang menjulukinya si pelit. Sementara pemilik ilmu selalu dihormati dan dimuliakan."
 
Kepada orang keenam Ali menjawab, "Harta perlu dijaga dari tangan pencuri. Ilmu tak perlu menjaganya."
 
Kepada orang ketujuh Ali menjawab, "Pemilik harta pada hari Kiamat kelak akan diminta pertanggungjawaban. Pemilik ilmu akan memperoleh syafaat."
 
Kepada orang kedelapan Ali menjawab, "Manakala dibiarkan dalam jangka waktu yang lama harta akan rusak. Sedangkan ilmu takkan musnah dan lenyap."
 
Kepada orang kesembilan Ali menjawab, "Harta membuat hati menjadi keras. Sedangkan ilmu menjadi penerang hati."
 
Kepada orang kesepuluh Ali menjawab, "Pemilik harta akan dipanggil tuan besar. Pemilik ilmu akan dijuluki ilmuwan. Andaikata kalian hidupkan banyak orang maka aku akan menjawabnya dengan berbeda selagi aku masih hidup."
 
Mereka lalu kembali ke dalam pengakuan Islam.
Read More
      edit

Friday, February 14, 2020

Published February 14, 2020 by with 0 comment

Kemuliaan Saat Usia Tua

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْظُرُ اِلَى وَجْهِ الشَّيْخِ صَبَاحًا وَمَسَاءً، وَيَقُوْلُ: يَا عَبْدِيْ، قَدْ كَبُرَ سِنُّكَ، وَرَقَّ جِلْدُكَ، وَرَقَّ عَظْمُكَ، وَاقْتَرَبَ اَجَلُكَ، وَحَانَ قُدُوْمُكَ اِلَيَّ. فَاسْتَحْيِيْ مِنِّيْ، فَأَنَا اَسْتَحْيِيْ مِنْ شَيْبَتِكَ اَنْ اُعَذِّبُكَ فِى النَّارِ

"Sesungguhnya Allah Ta'ala selalu memperhatikan orangtua renta tiap pagi dan sore. Lalu berfirman, "Wahai hamba-Ku! Usiamu sudah lanjut, kulitmu makin keriput, tulangmu makin rapuh, ajalmu dekat, dan kau akan menghadap-Ku. Malulah kepada-Ku, maka Aku akan segan menyiksamu di dalam neraka karena ketuaanmu."
 
Hikayat (1)
Ali dan Lelaki Tua Nasrani
 
Ketika waktu Subuh telah tiba, Ali bin Abi Thalib nampak tergesa-gesa. Ia tak ingin ketinggalan jamaah shalat Subuh-nya. Sayang, seorang laki-laki tua yang berjalan sangat lambat menghambat langkah Ali.
 
Demi menghormati orangtua itu, Ali hanya membuntut di belakangnya. Tentulah Ali sangat khawatir tidak bisa ikut shalat berjamaah Subuh bersama Nabi. Ketika ia tahu si tua tadi tidak memasuki masjid, barulah ia sadar bahwa laki-laki tua itu seorang Nasrani.
 
Ketika Ali masuk masjid, ia mendapati Rasulullah tengah ruku'. Itu artinya Ali masih punya kesempatan mengejar shalat tersebut. Ali lalu berjamaah bersama mereka. 
 
Ketika shalat sudah usai, para sahabat bertanya kepada Nabi, "Apa yang terjadi wahai Rasulullah, sehingga engkau memperpanjang ruku' shalat ini tadi? Engkau tak pernah melakukan hal ini sebelumnya."
 
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Ketika ruku' dan tengah membaca subhana rabbiyal 'azhimi seperti biasanya, maka aku bermaksud hendak mengangkat kepalaku. Tetapi Jibril datang dan menggelar sayapnya di atas punggungku. Lama sekali. Ketika ia mengangkat sayapnya, barulah aku bisa berdiri mengangkat kepala."
 
"Mengapa bisa terjadi seperti itu ya Rasulullah?" tanya salah seorang sahabat.
 
"Aku tak sempat menanyakan hal itu," jawabab Nabi.
 
Maka Jibril datang menemui Nabi, lalu berkata, "Ya Muhammad! Tadi Ali tergesa-gesa agar bisa ikut shalat Subuh berjamaah. Tapi seorang Nasrani tua menghambat jalannya. Ali tak tahu kalau laki-laki tua itu seorang Nasrani. Ia biarkan orangtua itu berjalan di depannya. Maka Allah memerintahkan padaku agar engkau tetap dalam keadaan ruku, agar Ali bisa menyusul shalat Subuh-mu. Ini tidaklah mengherankan buatku. Yang mengherankan justru Allah memerintahkan kepada Mikail untuk menahan perputaran matahari dengan sayapnya, sehingga tenggang waktu terbitnya menjadi lebih lama.Ini tentu karena pebuatan Ali tadi."
 
Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Inilah derajat orang yang memuliakan orang yang sudah lanjut usia, meskipun si tua itu seorang Nasrani."
 
Hikayat (2)
Guru Abu Manshur al-Maturidi
 
Salah seorang guru Abu Manshur al-Maturidi telah dekat kewafatannya. Usianya 80 tahun. Ketika sakit ia menginginkan seorang budak yang seusia dengannya.
 
Maka ia menyuruh Abu Manshur mencari budak yang dimaksud untuk dibeli kemudian dimerdekakan. Sayang ia tak bisa menemukannya. Bahkan orang-orang berkata, "Apa ada orang yang tetap menjadi budak dalam usia 80 tahun?"
 
Abu Manshur kemudian menghadap gurunya dengan tangan hampa, dan menceritakan kepada gurunya apa yang telah dikatakan oleh orang-orang tadi.
 
Sang guru lalu menangis. Ia sujud kepada Allah seraya mengadu, "Wahal Allah! Makhluk saja tidak menanggung kemuliaan apabila telah berusia 80 tahun. Bila ia jadi budak, maka ia akan dimerdekakan. Kini usiaku telah 80 tahun ya Allah. Bagaimana Kau takkan membebaskan aku dari siksa neraka, padahal Engkau Maha Mulia, Maha Pemurah, Maha Agung, Maha Mengampuni dan selalu menerima syukur."

Allah lalu membebaskannya dari api neraka karena doa tersebut. 
Read More
      edit

Thursday, February 13, 2020

Published February 13, 2020 by with 0 comment

Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah

Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
اَلْفَاجِرُ الرَّاجِى رَحْمَةَ اللهِ تَعَالَى أَقْرَبُ اِلَى اللهِ تَعَالَى مِنَ الْعَابِدِ الْمُقْنِطِ
 
"Seorang pendosa yang sangat berharap rahmat Allah lebih dekat di sisi Allah daripada ahli ibadah yang putus asa akan rahmat Allah."
 
Hikayat (1)
Ahli Ibadah yang Masuk Neraka
 
Zaid bin Aslam mendapat cerita dari Umar bin Khatthab radhiyallahu 'anhu:
 
Pada zaman dahulu hiduplah seorang hamba Allah yang tekun beribadah. Sayangnya ia tak pernah mengharap rahmat Allah.
 
Ketika meninggal ia bertanya kepada Allah, "Wahai Tuhan, apa yang akan Engkau berikan untukku?"
"Neraka!" jawab Tuhan.
 
"Wahai Tuhan, kalau begitu kemanakah seluruh ibadah dan amal saleh yang selama ini kulakukan?" protesnya.
 
Tuhan pun menjawab, "Tatkala di dunia kau berputus asa dari rahmat-Ku, maka pada hari ini takkan Kuberikan rahmat-Ku padamu."
 
Hikayat (2)
Rahmat Allah kepada Hamba-Nya

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkisah berdasarkan cerita yang disampaikan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:

Hiduplah seorang laki-laki yang selama hayatnya tak pernah berbuat baik selain hanya keyakinan akan Allah Yang Maha Esa.

Ketika ajalnya siap menjemput, ia berpesan kepada keluarganya, "Jika aku mati, bakarlah! Buang abunya ke laut saat angin bertiup."

Keluarganya pun memenuhi permintaan tersebut.

Ketika di akhirat Allah bertanya kepadanya, "Amal apakah yang kau jadikan bekal?"

"Hanya rasa takut menghadap Engkau, wahai Tuhan," jawabnya.

Lantas Allah mengampuninya. Sedangkan dia sama sekali tak pernah berbuat baik selain hanya mengesakan Allah.


Hikayat (3)
Nabi Musa dan Laki-laki Sesat
 
Pada masa Nabi Musa 'alaihissalam, ada seorang laki-laki yang meninggal dunia. Karena ia sesat, maka para penduduk enggan memandikan dan menguburkan jenazahnya. Mereka menendanginya dan membuangnya ke tempat sampah.
 
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa seraya berfirman, "Wahai Musa! Ada laki-laki yang mati. Mayatnya dibuang di tempat sampah. Ia salah seorang dari wali-Ku. Ia belum dimandikan, dikafani dan dikuburkan. Pergilah kamu ke sana! Mandikanlah, kafanilah, shalatkanlah, lalu kuburkan dengan baik!"
 
Kemudian Nabi Musa mendatangi tempat yang dimaksud. Ia bertanya kepada para penduduk setempat tentang mayat itu. 
 
"Ya, dia seorang laki-laki sesat. Moralnya rusak dan bejat. Ia telah mati di sini."
 
"Di mana mayatnya? Allah memerintahkan aku ke mari untuk mengurus jenazah laki-laki itu," jelas Nabi Musa.
 
Bersama mereka Nabi Musa pergi. Ketika melihat langsung mayat yang dibuang di tempat sampah itu dan mendengar penuturan penduduk setempat tentang keburukan perbuatannya, maka Nabi Musa penasaran.
 
"Wahai Tuhan, Kau suruh aku mengafani dan menyalatinya, sementara kaumnya menyaksikan bahwa ia seorang yang tercela. Engkau lebih tahu dari mereka tentang kebaikan dan keburukannya."
 
Allah berfirman, "Wahai Musa! Kaumnya memang benar menjatuhkan hukuman karena keburukan perbuatannya. Hanya saja ketika ia mati Aku mengampuninya karena tiga hal. Orang-orang yang berbuat dosa yang memohon ampunan-Ku pastilah Aku memberinya ampunan. Bagaimana Aku tidak mengampuni Dia? Padahal Aku-lah Dzat Yang Maha Penyayang.
 
Apakah tiga hal itu wahai Tuhan?" tanya Nabi Musa.
 
Allah berfirman, "Ketika akan meninggal dunia ia berkata, "Wahai Tuhan! Engkau tahu dengan semua maksiat yang aku lakukan. Hatiku sebenarnya sangat membenci maksiat itu. Ada tiga hal yang membuat aku begitu: Pertama, karena hawa nafsu, pergaulan buruk, dan karena Iblis terkutuk. Tiga hal ini menyeretku ke jurang maksiat. Engkau tahu itu, maka ampunilah aku. Kedua, Engkau tahu mengapa aku berbuat maksiat? Itu karena hidupku dikelilingi oleh kemaksiatan. Padahal aku lebih suka bergaul di lingkungan orang saleh dan zuhud. Bersama mereka lebih kusuka daripada dengan orang-orang sesat. Ketiga, Sungguh orang saleh lebih baik daripada orang jahat. Orang saleh lebih kusukai. Bila datang kepadaku oang saleh dan jahat, pasti akan kudahulukan orang yang saleh."
 
Dalam riwayat Wahab bin Munabbih, laki-laki disebutkan berkata, "Wahai Tuhan! Andaikan Kau ampuni dosaku, maka akan bergembiralah para wali dan nabi-Mu. Sedangkan setan yang memusuhi-Mu dan musuhku akan bersedih. Apabila Kau siksa aku karena ulah dosaku, maka setan dan sekutunya akan bergembira. Sedangkan para wali dan para nabi-Mu akan bersedih. Kutahu kegembiraan para nabi dan para wali lebih Kau suka daripada kegembiraan setan dan sekutunya. Ampunilah aku Ya Allah! Kau tahu apa yang kukatakan, maka rahmatilah dan ampunilah dosaku."
 
Maka, Kurahmati dan Kuampuni dia karena Aku Maha Penyayang. Lebih-lebih kepada orang yang telah mengakui dosa-dosanya, maka Kuampuni dia dan kumaafkan semua dosanya.
 
Wahai Musa! Lakukan apa yang Kuperintahkan. Akan Kuampuni orang-orang yang menyalatinya dan menghadiri pemakamannya karena kemuliaan yang Kuberikan kepada laki-laki itu."
Read More
      edit

Wednesday, February 12, 2020

Published February 12, 2020 by with 0 comment

Menyayangi Sesama Makhluk

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
اَلرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، إِرْحَمُوْا مَنْ فِى الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ
 
"Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah makhluk yang ada di bumi niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian."
 
Hikayat (1)
Umar dan Burung Pipit
 
Suatu hari, Umar berjalan-jalan di kota Madinah. Ia melihat seekor burung pipit sedang dipermainkan oleh seorang anak kecil dengan tangannya. Umar kasihan melihat keadaan burung pipit itu. Ia membelinya, kemudian menerbangkannya ke angkasa.
 
Ketika Umar wafat, beberapa ulama bermimpi bertemu dengannya. Mereka menanyakan keadaannya.
 
"Apa yang dilakukan Allah Ta'ala kepadamu?" tanya mereka.
 
"Allah mengampuni dan melewatkan dosa-dosaku," jawaban Umar.
 
"Karena apa? Apakah karena kedermawananmu? Atau karena keadilanmu? Atau karena zuhudmu?"
 
Umar menjawab, "Ketika kalian menguburkan aku, menutupi dengan tanah dan meninggalkan aku seorang diri, maka dua malaikat yang menakutkan mendatangiku. Aku kehilangan akal. Sendi-sendiku berguncang karena ketakutan. Mereka lalu mengambil dan mendudukkan aku, bermaksud menanyaiku. Tiba-tiba terdengar suara keras: "Tinggalkan hamba-Ku itu! Jangan menakut-nakutinya! Aku menyayangi dia. Semua dosanya telah Ku-ampuni. Karena ketika di dunia ia telah menyayangi seekor burung pipit. Maka Aku menyayangi dia sebagai balasannya.
 
Hikayat (2)
Niat Baik dari Seorang Bani Israil
 
Ketika Bani Israil ditimpa bencana kelaparan, salah seorang dari mereka berjalan di atas gundukan pasir. Ia berhayal, "Andaikan pasir ini menjadi tepung, akan kukenyangkan seluruh Bani Israil."
 
Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi pada masa itu. Sang Nabi lalu berkata kepada si Fulan tadi, "Allah pasti akan memberimu pahala sepadan andaikata pasir tadi menjadi tepung, lantas engkau menyedekahkannya."
 
Barangsiapa menyayangi hamba Allah, maka Allah akan menyayanginya. Juga seperti yang dilakukan oleh si Fulan tadi. Ia sayang kepada manusia. Ia layak menadapat pahala dan kasih sayang dari Allah Ta'ala.
Read More
      edit