Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Saturday, April 18, 2020

Published April 18, 2020 by with 0 comment

Soal Rezeki: Tenanglah!

Betapa banyak hal yang tersembunyi dalam dirimu. Bila kau cermati secara saksama barulah engkau bisa melihatnya. YANG PALING BERBAHAYA ADALAH DOSA RAGU KEPADA ALLAH. SESUNGGUHNYA RAGU TERHADAP REZEKI BERARTI RAGU TERHADAP DZĀT YANG MEMBERIKAN REZEKI. Sesungguhnya dunia ini terlalu hina untuk dirisaukan.

Kalau engkau sadar, pastilah engkau merisaukan sesuatu yang lebih besar, yaitu masalah akhirat. Orang yang merisaukan masalah kecil lalu melupakan masalah besar berarti ia bodoh. Karena itu, lakukanlah kewajiban untuk melaksanakan ibadah dan semua perintah Tuhan, Dia pun akan mejalankan apa yang menjadi kewajiban-Nya terhadapmu. Kalau kumbang, tokek, dan cacing saja diberi rezeki, akankah engkau dilupakan?

Allah berfirman:
 
وَ أْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَ اصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَ الْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
 
“Suruhlah keluargamu untuk shalat dan sabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak menuntut rezeki darimu. Kamilah yang memberimu rezeki. Balasan yang baik akan diberikan kepada yang bertakwa.” (QS. Thāhā [20]: 132).

KALAU ENGKAU MENYAKSIKAN ORANG YANG RISAU KARENA REZEKI, KETAHUILAH BAHWA SEBETULNYA IA JAUH DARI ALLAH. Seandainya ada yang berkata kepadamu: “Besok kamu tak usah bekerja. Cukup kamu kerjakan ini saja, saya akan memberimu sepuluh dirham,” pastilah engkau percaya dan mematuhi perintahnya. Padahal, ia makhluk yang fakir, tak bisa memberi manfaat ataupun madarat. Lalu mengapa engkau tidak merasa cukup dengan Allah Yang Maha Kaya dan Maha Mulia yang telah menjamin rezekimu sepanjang hidup? Allah berfirman:
 
وَ مَا مِنْ دَآبَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَ يَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَ مُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِيْ كِتَابٍ مُّبِيْنٍ
 
“Tidak ada makhluk melata di muka bumi kecuali Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis di Lauh Mahfuzh.” (QS. Hūd [11]: 6).

Siapa bergembira karena mendapat dunia, ia betul-betul dungu. Lebih dungu lagi orang yang sedih ketika kehilangan dunia. Ia tak ubahnya seperti orang yang didatangi ular yang siap menggigit. Tiba-tiba ular tersebut pergi dan ia diselamatkan oleh Allah dari ular tersebut, namun ia sedih karena ular itu tak jadi menggigitnya. DI ANTARA TANDA KELALAIAN DAN PENDEKNYA AKAL IALAH KALAU ENGKAU MERASA RISAU DENGAN SESUATU YANG BELUM PASTI, SERTA KHAWATIR JATUH MISKIN SEBELUM KEMISKINAN ITU TIBA. Sementara itu, di sisi lain, engkau tidak pernah risau dengan sesuatu yang pasti terjadi, yaitu mati. Engkau bertanya-tanya: “Bagaimana kondisi keluarga besok?” “Bagaimana keadaan sampai akhir bulan?” “Bagaimana kita mencari penghasilan tahun ini?” Padahal kasih dan karunia Allah bisa datang dari arah yang tak terduga dan tak kau ketahui.

Yang dicuri oleh seorang pencuri atau dirampas oleh seorang perampok memang merupakan rezekinya. Selama engkau hidup rezekimu takkan berkurang sedikit pun.

Sungguh bodoh dan dungu bila engkau mencemaskan hal yang kecil dan melupakan sesuatu yang besar. Yang mestinya kau cemaskan adalah akankah engkau mati dalam keadaan muslim atau kafir? Akankah engkau bahagia atau celaka? Risaukanlah neraka yang kekal abadai itu. Risaukanlah apakah pada hari kiamat engkau akan menerima kitab catatan amal dengan tangan kanan atau dengan tangan kiri. Inilah yang seharusnya kau risaukan. Jangan merisaukan masalah sesuap nasi yang hendak kau makan atau seteguk minuman yang akan kau minum. Mungkinkah Sang Majikan yang menjadikanmu pelayan takkan memberimu makan? Mungkinkah engkau yang sedang berada dalam tempat jamuan tak dilayani dan disia-siakan?

Ketaatan yang paling disukai adalah yakin pada-Nya. Allah berfirman:
 
وَأْتُوا الْبُيُوْتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَ اتَّقُوا اللهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
 
“Datangilah rumah-rumah itu dari pintunya dan bertaqwalah kepada Allah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]: 189).

Pintu rezeki itu terletak pada ketaatan kepada Sang Pemberi rezeki. Bagaimana mungkin rezeki-Nya diminta tetapi disertai oleh maksiat? Bagaimana mungkin karunia-Nya dimohon dengan cara menentang-Nya?

Rasulullah Saw bersabda: “Apa yang di sisi Allah tak mungkin diperoleh dengan membuat-Nya murka.” Artinya, rezeki-Nya hanya bisa diminta dengan ridha dan taat kepada-Nya. Itu sesuai dengan firman Allah:
 
وَ مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَّهُ مَخْرَجًا. وَ يَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَ مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
 
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar untuknya dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Siapa yang bertawakkal kepada Allah, Dia akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2-3).

Karena itu, Syekh Abul-‘Abbās al-Mursī berkata dalam hizibnya: “Yang disebut rezeki menyenangkan adalah yang tak membuat kita terhijab di dunia, serta tak dihisab, tak ditanya, dan tak dihukum di akhirat. Pemilik rezeki tersebut berada dalam hamparan ilmu tauhid dan syariat. Mereka selamat dari hawa nafsu, syahwat, dan rasa tamak.”

Orang yang risau dengan urusan dunia dan lalai terhadap urusan akhirat, seperti orang yang didatangi binatang buas yang siap menerkam tapi ia malah sibuk mengusir lalat dari wajahnya daripada berlindung dari terkaman binatang buas tadi. Tentu saja orang tersebut sangat dungu dan tak punya akal. Seandainya berakal, pastilah ia sibuk berlindung dari serangan singa ketimbang memikirkan lalat kecil yang tidak ada artinya.

Demikianlah keadaan orang yang risau dengan urusan dunia sehingga lupa berbekal untuk akhirat. Itu menunjukkan kebodohannya. Seandainya cerdas, niscaya ia akan bersiap-siap menuju negeri akhirat. Sebab, di sana nanti ia akan ditanya di hadapan Allah.

Janganlah kau sibuk dengan masalah rezeki. Sebab, rezeki dunia kalau diukur dengan akhirat, seperti lalat kecil diukur dengan singa yang sedang menyerang.

Keberadaan seorang hamba bersama Allah di dunia ini seperti anak kecil bersama ibunya. Sang ibu takkan membiarkan anaknya tak terurus. Ia akan mengasuhnya dengan baik. Ia juga tak pernah membiarkan anak itu terlantar. Demikian pula kondisi seorang hamba beriman bersama Allah. Allah-lah yang memberinya nafkah secara baik. Ia akan diberi berbagai kenikmatan sekaligus dilindungi dari berbagai ujian.

Seorang hamba yang bersama Allah tak ubahnya seperti pelayan upahan yang dibawa oleh raja ke istananya. Pelayan itu pun disuruh bekerja. Tentu, tak mungkin raja tersebut mendatangkan seorang pelayan lalu disuruh bekerja di istananya tanpa diberi makan. Dalam hal ini, Allah jauh lebih pemurah dari raja tersebut.

Begitulah kondisi hamba dan Allah. Istana tersebut adalah istana-Nya, sedangkan pelayan upahan itu adalah engkau sendiri, wahai orang beriman. Pekerjaan yang diperintahkan kepadamu adalah ketaatan. Upahnya adalah surga pada hari kiamat. Allah tak pernah menyuruhmu melakukan suatu perbuatan dan tak pernah memberikan sesuatu kecuali untuk kebaikan.

Diceritakan bahwa ada seorang penggali kubur yang bertobat kepada Allah. Kemudian suatu hari ia berkata kepada gurunya: “Wahai guruku, kira-kira aku sudah menggali seribu kubur. Ku saksikan wajah mereka berpaling dari kiblat.” Mendengar hal tersebut, gurunya itu berkomentar: “Wahai anakku, itu terjadi karena mereka ragu dalam masalah rezeki.”
 
================================
Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh as-Sakandarī (648-709 H).
Read More
      edit

Thursday, April 9, 2020

Published April 09, 2020 by with 0 comment

Risalah Kesepuluh

Sesungguhnya tidak ada yang lain selain Allah dan diri kamu sendiri. Diri manusia itu bertentangan dengan Tuhan. Segala sesuatu itu tunduk kepada Allah dan diri manusia itupun adalah kepunyaan Allah. Pada diri manusia timbul angan-angan dan hawa nafsu. Oleh karena itu, jika kamu masuk kepada yang haq dan menentang diri kamu sendiri, maka kamu telah masuk ke pihak Allah dan menentang diri kamu sendiri. Allah berfirman kepada Nabi Daud as, “Hai Daud, kepada-Ku-lah kamu kembali. Oleh karena itu, berpegang teguhlah kamu kepada-Ku. Sesungguhnya penghambaan yang sejati adalah melawan diri kamu sendiri karena Aku”.
 
Karena itulah penghambaan kamu dan kedekatan kamu kepada Allah menjadi kenyataan yang sungguh-sungguh. Karena itulah kamu mencapai kesucian dan kebahagiaan. Dan karena itulah kamu akan dimuliakan serta segalanya akan menjadi hamba kamu dan takut kepadamu, lantaran semuanya tunduk kepada Allah. Sebab, Dia-lah Pencipta dan tempat asal mereka, dan mereka telah menyatakan kehambaan mereka kepada Allah. Allah berfirman, “Seluruhnya memuji Allah, tetapi kamu tidak mengetahui pujian mereka”. Ini berarti segala yang ada di dalam alam ini sadar akan adanya Allah dan patuh kepada-Nya.
 
Allah Swt berfirman, “Kemudian Dia berkata kepadanya dan kepada dunia, Kemarilah kamu berdua dengan rela ataupun tidak”. Mereka berkata, “Kami datang dengan rela”.
 
Oleh karena itu, segala penghambaan adalah melawan dirimu sendiri dan hawa nafsumu. Allah berfirman, “Janganlah kamu menuruti hawa nafsumu, karena dia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”.
 
Selanjutnya Allah berfirman, “Jauhkanlah kehendak hawa nafsumu, karena tidak ada yang melawan-Ku dan kerajaan-Ku melainkan hawa nafsu manusia”.
 
Ada satu cerita yang masyhur tentang Abu Yazid Busthami. Diceritakan bahwa ia telah melihat Allah Swt di dalam mimpinya. Ia bertanya kepada Allah, “Bagaimana seseorang itu dapat sampai kepada Allah?” Jawab Tuhan, “Buanglah dirimu dan datanglah kepada-Ku”. “Setelah itu,” katanya, “Akupun keluar dari diriku seperti ular keluar dari sarangnya”. Karenanya, semua kebaikan itu terletak pada jihad melawan diri sendiri serta semua perkara dan keadaan hidup ini. Sekiranya kamu dalam keadaan salah, lawanlah dirimu hingga kamu terhindar dari hal yang haram, dari manusia, dari prasangka serta dari pertolongan mereka, ketergantungan kepada mereka, takut kepada mereka dan dari menghendaki apa yang mereka dapati dari dunia fana ini. Janganlah kamu mengharapkan hadiah, sedekah atau pemberian mereka.
 
Hendaklah kamu membebaskan dirimu dari apa saja yang bersangkutan dengan keduniaan. Dan sekiranya kamu mempunyai saudara yang hartawan, maka janganlah kamu mengharapkan dia lekas mati dengan niat kamu ingin mendapatkan hartanya itu. Hendaklah kamu keluar dari pengaruh mahluk dan angaplah mereka itu seperti pintu pagar yang bisa terbuka dan bisa tertutup atau seperti bunglon yang kadang-kadang berubah dan kadang-kadang tidak. Segala yang berlaku dan terjadi adalah dengan kehendak Allah dan Dia-lah yang membuat dan merencanakan segalanya itu. Jadilah kamu berjiwa tauhid, yaitu meng-Esa-kan Allah Tuhan Semesta Alam.
 
Jangan pula kamu mengikuti faham golongan Jabariyyah atau Qodariyyah. Lebih baik kamu mengatakan bahwa perbuatan itu adalah kepunyaan Allah, sedangkan manusia adalah berusaha.
 
Jalankanlah perintah Allah yang berhubungan dengan manusia, pisahkanlah bagianmu dengan perintah-Nya dan janganlah kamu melampaui batas, karena perintah Allah itu pasti berlaku dan Allah akan menjatuhkan hukuman kepada kamu dan mereka. Janganlah kamu ingin menjadi hakim sendiri.
 
Keberadaan kamu bersama manusia adalah karena takdir Allah dan takdir ini terdapat di dalam kegelapan. Oleh karena itu, masuklah ke dalam kegelapan itu dengan membawa lampu yang juga menjadi hakim. Itulah dia al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Janganlah kamu melanggar keduanya. Jika timbul di dalam pikiranmu atau kamu menerima suatu ilham, kemukakanlah dulu kepada al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah.
 
Sekiranya suatu pikiran atau ilham bertentangan dengan al-Qur’an dan hadits, maka janganlah kamu ikuti dan kamu jalankan, karena hal itu mungkin datang dari iblis. Jika al-Qur’an mewajibkan seperti makan, minum dan lain-lainnya dan ilhampun sejalan dengan yang diwajibkan itu, maka janganlah kamu terima dan ketahuilah bahwa itu adalah ajakan atau godaan untuk memuaskan hawa nafsu dan sifat-sifat kebinatanganmu. Oleh karena itu lawanlah dan janganlah kamu turuti.
 
Jika apa yang diilhamkan kepada kamu itu tidak sesuai dengan al-Qur’an dan hadits, baik yang berupa larangan maupun pembenaran, dan tidak pula kamu ketahui dengan faham, seperti kamu disuruh untuk pergi ke suatu tempat atau disuruh menemui seseorang yang saleh, sedangkan kamu tidak perlu lagi pergi ke tempat itu atau berjumpa dengan orang itu, tetapi dengan pengetahuan dan nur kamu dapat mengetahuinya, maka bersabarlah, jangan tergesa-gesa dan bertanyalah kepada diri kamu sendiri, “Adakah ilham ini datang dari Allah dan aku mesti melakukannya?” Pikirkan dulu dan bersabarlah. Adalah biasa bagi Tuhan untuk mengulang ilham seperti itu dan memerintahkan kepada kamu untuk segera melakukan perkara ilham itu atau untuk membuka suatu tanda yang dibukakan bagi para ahli Allah, tanda yang hanya dapat dipahami oleh para Aulia yang bijaksana dan para Abdal. Janganlah kamu terburu-buru mengerjakan perkara itu, karena kamu tidak mengetahui akibat dan tujuannya, dan juga kamu tidak mengetahui ujian dan jalan yang dapat merusak dan menguji kamu.
 
Karena itu bersabarlah sampai Tuhan sendirilah yang menjadi pelaku perkara itu untuk kamu. Apabila sesuatu perbuatan itu benar-benar dari Allah, maka akan selamatlah kamu dan Dia pasti menolong kamu. Jika kamu sendiri yang melakukannya, maka kamu sendirilah yang bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, Jika Allah yang melakukannya untuk kamu, maka kamu tidak bertanggung jawab atas perbuatanmu itu, karena perbuatan itu adalah perbuatan Allah, dan sudah barang tentu Allah sendirilah yang bertanggung jawab atas perbuatan-Nya.
 
Jika kamu berada dalam peringkat hakikat, yaitu kedudukan wilayah (kewalian), maka lawanlah nafsumu itu dan patuhlah kepada perintah itu sepenuhnya. Kepatuhan kepada perintah ini ada dua macam : pertama, hendaknya kamu mengambil dari dunia ini apa-apa yang kamu perlukan saja, hindarkanlah dirimu dari keserakahan hawa nafsumu, lakukanlah ibadah-ibadahmu dan hindarkanlah dosa-dosa, baik yang tampak maupun yang tersembunyi; kedua, berkenaan dengan perintah batiniah. Ini adalah perintah Allah yang berupa suruhan dan larangan untuk melakukan sesuatu. Perintah batiniah atau perintah yang tersembunyi ini adalah perintah untuk melakukan hal-hal yang tidak haram dan tidak pula wajib, di mana seorang hamba diberi kebebasan untuk bertindak.
 
Dalam hal ini, hendaknya si hamba tadi tidak mengambil inisiatif (kemauan) sendiri, tetapi hendaklah ia menunggu perintah yang berkenaan dengannya. Apabila perintah itu telah datang, maka patuhilah dengan segenap gerak dan diam, karena Allah semata-mata. Jika di dalam syari’at terdapat hokum tentang sesuatu perkara, maka tunduklah kepada hukum itu. Tetapi, jika tidak terdapat hukum di dalam syari’at mengenai perkara itu, maka bertindaklah menurut perintah batin atau perintah yang tersembunyi itu. Melalui inilah seseorang dapat menjadi orang yang benar-benar telah mencapai hakikat.
 
Sekiranya perintah batin ini tidak ada dan yang ada hanyalah perbuatan Allah, maka ini memerlukan suatu penyerahan. Jika kamu telah mencapai hakikat yang sebenarnya, yang juga disebut “keadaan tenggelam (Mahwu) atau fana”, maka kamu telah mencapai peringkat Abdal (mereka yang luluh hatinya karena Allah), sesuatu keadaan atau peringkat yang dimiliki oleh orang-orang yang betul-betul berjiwa tauhid, suatu keadaan yang dimiliki oleh orang-orang yang dikaruniai cahaya keruhanian, yaitu orang-orang yang berilmu dengan kebijaksanaannya yang tinggi, orang-orang yang menjadi ketua dari seluruh ketua, pelindung dan penjaga khalayak ramai, khalifah Allah dan wali-Nya serta orang-orang yang  dipercayai-Nya. Mematuhi perintah di dalam hal-hal yang demikian itu adalah melawan hawa nafsu kamu sendiri, memisahkan diri dari ketergantungan kepada daya dan upaya apa saja serta kosong dari segala kehendak dan tujuan apa saja yang berkenaan dengan dunia dan akhirat.
 
Oleh karena itu, jadilah kamu hamba raja itu dan bukan hamba kerajaan serta hamba perintah Allah dan bukan nafsu badaniah. Dan jadilah kamu seperti bayi yang berada dalam pelukan ibunya, atau seperti mayat yang sedang dimandikan oleh orang-orang dan atau seperti orang sakit yang tidak sadarkan diri di hadapan dokter, di dalam hal yang berada di luar, baik berupa suruhan maupun larangan.
Read More
      edit

Tuesday, April 7, 2020

Published April 07, 2020 by with 0 comment

Risalah Kesembilan

Perbuatan Allah itu ditampakkan kepada Aulia dan Abdal di dalam pandangan dan pengalaman keruhanian. Ini berada di luar jangkauan akal manusia dan keluar dari adat kebiasaan. Penampakkan atau pemanifestasian ini ada dua jenis: yang pertama dinamakan “Jalal” (kebesaran dan keagungan) dan yang kedua dinamakan “Jamal” (keindahan). Jalal ini menimbulkan kehebatan dan mempengaruhi hati sedemikian rupa, sehingga tanda-tandanya tampak pada badan kasar. Diceritakan bahwa ketika Nabi Muhammad Saw tengah melakukan shalat, terdengarlah oleh orang bunyi seperti air mendidih dari hati beliau, karena hebatnya dan gentarnya hati beliau ketika menghadap Allah Swt, ini adalah suatu pengalaman yang beliau rasakan apabila Allah menunjukkan keagungan dan kebesaran-Nya. Peristiwa seperti ini juga terjadi pada Nabi Ibrahim as dan Khalifah Umar ra.
 
Pengalaman yang akan dirasakan oleh seorang hamba apabila Allah memanifestasikan sifat Jamal-Nya adalah hati si hamba itu akan merasa gembira, tenang, sentosa dan selamat, ia akan mengucapkan kata-kata yang penuh kasih mesra, dan akan tampak tanda-tanda yang menggembirakan tentang karunia-karunia yang besar, kedudukan yang tinggi dan kedekatan kepada-Nya yang kepada-Nya-lah segala perkara mereka itu akan kembali. Inilah karunia-karunia dan rahmat Allah yang diberikan kepada mereka di dunia ini. Hati mereka yang cinta kepada-Nya akan dipuaskan oleh-Nya, sehingga mereka akan merasa senang. Allah mengasihi dan menyayangi mereka. Nabi pernah bersabda kepada Bilal, “Hai Bilal, hiburlah hati kami”. Apa yang Nabi maksudkan adalah agar Bilal mengumandangkan adzan, supaya Nabi memasuki shalat dengan merasakan manifestasi sifat Jamal Allah itu. Karena itu, Nabi bersabda, “Dan kesejukan mataku, telah kurasakan di dalam shalatku.”
Read More
      edit

Monday, April 6, 2020

Published April 06, 2020 by with 0 comment

Risalah Kedelapan

Bila kau berada dalam hal tertentu, jangan mengharap hal yang lain, baik yang lebih tinggi maupun yang lebih rendah. Jadi, bila kau berada di pintu gerbang istana Raja, jangan berkeinginan untuk masuk ke istana itu kecuali terpaksa. Yang dimaksud dengan terpaksa ialah diperintah terus menerus. Dan jangan menganggapnya sebagai izin masuk karena mungkin saja Raja menjebakmu. Tapi bersabarlah hingga kau benar-benar dipaksa memasukinya oleh sang Raja. Dengan demikian, sang Raja takkan menghukummu karena Dia sendiri yang menghendakinya. Jika toh kau dihukum juga tentu hal itu disebabkan oleh keburukan kehendak, kerakusan, ketaksabaran, kekurangajaran dan keinginanmu untuk berpuas dengan keadaan kehidupanmu. Bila kau harus masuk ke dalamnya karena terpaksa, maka masuklah dengan penuh ketenangan dan menundukkan pandangan. Bersikaplah yang layak dan patuhi semua perintah-Nya dengan sepenuh jiwa tanpa mengharapkan kemajuan dalam tingkat kehidupan. Allah berfirman kepada Rasul pilihan-Nya: “Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka sebagai hiasan hidup, untuk Kami uji mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan abadi.” (QS. Thaha: 131)
 
Dengan firman-Nya: “Dan karunia Tuhanmu lebih baik dan abadi”,. Allah mengingatkan Nabi pilihan-Nya agar menghargai hal yang ada dan mensyukuri karunia-karunia-Nya. Dengan kata lain, perintah ini adalah sebagai berikut: “Segala yang telah Aku karurniakan kepadamu - kebaikan, kenabian, ilmu, keridhaan, kesabaran, kerajaan agama, dan jihad di jalanKu - lebih baik dan lebih berharga dibanding semua yang Kuberikan kepada yang lain.” Jadi, segala kebaikan terletak pada menghargai dan mensyukuri keadaan yang ada, dan menghindar dari berharap selainnya karena hal semacam itu merupakan ujian dari-Nya. Dengan demikian, bila sesuatu telah ditentukan-Nya untukmu, tentulah sesuatu itu akan datang kepadamu, baik kau menyukainya ataupun tidak. Karenanya, sungguh tak patut bagimu bersikap merasa sesuatu itu kurang layak bagimu atau bersikap ingin sekali sesuatu itu mewujud padamu karena merasa itu yang pantas untukmu, kedua-duanya tertolak oleh akal dan ilmu. Dan jika sesuatu itu ditakdirkan-Nya untuk orang lain, maka mengapa engkau harus bersusah payah meraih sesuatu yang tak bisa kau raih? Dan jika sesuatu tak diturunkan-Nya kepada siapapun, hanya sebagai ujian, mana mungkin seorang arif menyukainya dan berupaya keras meraih itu? Terbukti bahwa seluruh kebaikan dan keselamatan terletak pada sikap menghargai keadaan yang ada. Maka bila kau dinaikkan ke tingkat atas, bahkan sampai ke puncak istana, maka kau sebagaimana yang telah kami nyatakan, mesti sadar diri, tenang, dan tetap baik dalam berprilaku. Kau mesti berbuat lebih dari ini, sebab kau kini lebih dekat kepada sang Raja, dan di sisi lain lebih dekat juga kepada mara bahaya. 
 
Oleh karena itu, jangan menginginkan perubahan keadaan yang ada padamu. Kau tak punya pilihan dalam masalah ini, sebab hal itu mendorong munculnya sikap tidak bersyukur atas rahmat-rahmat yang ada, dan sikap semacam ini menjadikanmu terhina, baik di dunia maupun di akhirat. Maka berlakulah sebagamana yang telah kami nasihatkan kepadamu, sampai kau dikarunia oleh Allah maqam yang teguh dan takkan tergoyahkan dengan segala tanda dan isyaratnya. Karena itu, tambatkan dirimu padanya dan jangan biarkan dirimu lepas darinya. (Keadaan perubahan ruhani) adalah milik para wali, sedang maqam (peringkat ruhani) adalah milik para badal.
Read More
      edit

Sunday, April 5, 2020

Published April 05, 2020 by with 0 comment

Risalah Ketujuh

Keluarlah dari kedirian, jauhi dia dan pasrahkan segala sesuatu kepada Allah. Jadilah penjaga pintu hatimu, patuhi segala perintah-Nya dan hormati larangan-larangan-Nya dengan senantiasa menjauhkan diri dari segala yang diharamkan-Nya. Jangan biarkan kedirianmu masuk ke dalam hatimu. Mengusir kedirian dari hati harus disertai pertahanan yang kokoh terhadapnya dan menolak bersikap patuh kepadanya di dalam segala keadaan. Mengizinkan ia masuk ke dalam hati sama artinya merelakan diri mengabdi kepadanya dan berintim ria dengannya. Maka hendaklah engkau tidak menginginkan segala yang bukan kehendak Allah. Segala keinginan yang bukan kehendak Allah adalah kedirian, yang merupakan rimba kejahilan. Dan hal itu akan  membinasakanmu dan menjadi penyebab keterasinganmu dari-Nya. Karena itu, jagalah perintah Allah, jauhi larangan-Nya, berpasrahlah selalu kepada-Nya dalam segala hal yang telah ditetapkan-Nya, dan jangan sekutukan Dia dengan sesuatu apapun. Jangan perturutkan kehendak diri agar tak tergolong orang-orang musyrik. Allah berfirman: “Barangsiapa mengharap penjumpaan (liqa') dengan Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukanNya.” (QS. Al Kahfi: 110)
 
Kesyirikan tak hanya penyembahan berhala. Pemanjaan nafsu jasmani dan menyamakan segala yang ada di dunia dan akhirat dengan Allah, juga syirik. Sebab selain Allah adalah bukan Tuhan. Bila kau tenggelam dalam sesuatu selain Allah berarti kau menyekutukan-Nya. Oleh sebab itu, waspadalah, jangan terlena. Maka dengan menyendiri akan diperoleh keamanan. Jangan menganggap dan mengklaim segala kemaujudan atau maqam-mu adalah berkat kau sendiri. Maka bila engkau memperoleh kedudukan atau maqam tertentu, hendaklah engkau tidak membicarakannya kepada orang lain. Sebab dalam perubahan nasib yang terjadi dari hari ke hari keagungan Allah mewujud, dan Allah membuat sekat di antara hati para hamba-Nya. Bisa-bisa yang kau perbincangkan itu sirna darimu dan yang kau anggap abadi pun menjadi lenyap hingga kau dipermalukan di hadapan yang kau ajak bicara. Simpanlah pengetahuan ini dalam lubuk hatimu dan jangan perbincangkan dengan orang lain. Maka jika hal itu terus maujud, maka hal itu akan membawa kemajuan dalam pengetahuan, nur, kesadaran dan pandanganmu. Allah berfirman: “Segala yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan terlupakan, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya, atau yang sepertinya. Tidakkah kamu ketahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 106)
 
Jangan menganggap Allah tak berdaya dalam suatu hal, jangan pula menganggap ketetapan-Nya tidak sempurna, dan jangan sedikit pun ragu akan janji-Nya. Dalam hal ini ada sebuah contoh luhur dalam Nabi Allah. Ayat-ayat dan surah-surah yang diturunkan kepadanya, dan yang dipraktikkan, dikumandangkan di masjid-masjid, dan termaktub di dalam kitab-kitab. Mengenai hikmah dan keadaan ruhani yang dimilikinya, ia sering mengatakan bahwa hatinya sering tertutup awan, dan ia berlindung kepada Allah tujuh puluh kali sehari. Diriwayatkan pula, bahwa dalam sehari ia dibawa dari satu hal ke hal lain sebanyak seratus kali, sampai ia berada pada maqam tertinggi dalam kedekatan dengan Allah. Ia diperintahkan untuk meminta perlindungan kepada Allah, karena sebaik-baik hamba adalah yang berlindung dan senatiasa mengarah kepada Allah. Dengan cara seperti itu, ada pengakuan akan dosa dan kesalahannya, dan inilah dua macam mutu yang terdapat pada seorang hamba, dalam segala keadaan kehidupan dan yang dimilikinya sebagai warisan dari Adam as, 'bapak' manusia, dan pilihan Allah.
 
Berkatalah Adam as: “Wahai Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tak mengampuni kami, dan merahmati kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. al-A'raaf: 23). Maka turunlah kepadanya cahaya petunjuk dan pengetahuan tentang taubat serta  hikmah di balik peristiwa ini, yang takkan terungkap tanpa ini; lalu Allah mengarah kepada mereka dengan penuh kasih sayang, sehingga mereka bisa bertaubat.
 
Dan Allah mengembalikannya ke posisi semua sehingga ia pun berada pada peringkat wilayat yang lebih tinggi, dan ia dikaruniai maqam di dunia dan akhirat. Maka dunia ini pun menjadi tempatnya menjalani hidup dan juga tempat keturunannya. Sedang akhirat sebagai tempat kembali dan tempat peristirahatan abadi mereka. Maka ikutilah Nabi Muhammad Saw, kekasih sekaligus pilihan Allah. Ikuti juga nenek moyangnya, Adam, pilihan-Nya - keduanya adalah kekasih Allah - dalam hal mengakui kesalahan dan berlindung kepada-Nya dari dosa-dosa, dan dalam hal bertawadhu dalam segala keadaan di kehidupan ini.
Read More
      edit