Showing posts with label Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Tafsir. Show all posts

Wednesday, January 19, 2022

Published January 19, 2022 by with 0 comment

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 2

Allah Swt berfirman:
 
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
 
"Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya."
 
Kata (إله) Ilaah biasa diterjemahkan dengan Tuhan. Ada juga yang berpendapat bahwa kata itu pada mulanya berarti Pencipta, Pengatur dan Penguasa alam raya. Ada banyak ayat al-Qur’an yang dapat mendukung pendapat ini, misalnya QS. al-Anbiya’ [21]: 22: 
 
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
 
"Sekiranya di langit dan di bumi ada llah, yakni Penguasa yang mengatur keduanya, selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa." Dengan demikian, ayat di atas menafikan segala sesuatu yang kuasa mengatur alam raya, kecuali Allah Swt, yang oleh ayat di atas disifati dengan dua sifat yang sempurna yaitu Maha Hidup dan Maha Qayyum.
 
Maha Hidup, adalah yang memiliki sifat hayah/hidup. Hayah adalah kesempurnaan yang sesuai dengan objek yang disifatinya. Demikian tulis pakar tafsir Fakhruddin ar-Razi. Bukankah bumi dihidupkan oleh Allah dengan menumbuhkan tanaman, sedang tumbuhnya tanaman adalah kesempurnaan bumi/tanah. Banyak ulama menandai kehidupan makhluk dengan gerak, rasa dan tahu. Yang tidak bergerak, atau merasa, dan tidak juga tahu — minimal dirinya — maka dia adalah sesuatu yang mati. Hidup itu bertingkat-tingkat. Kehidupan binatang lebih berkualitas daripada kehidupan tumbuhan, antara lain karena gerak binatang lebih leluasa daripada gerak tumbuhan. Manusia berpotensi untuk hidup lebih berkualitas daripada binatang, karena pengetahuannya dapat lebih luas daripada binatang. Hidup ada yang singkat dan ada juga yang lama. Yang lama lebih berpotensi memiliki kehidupan yang lebih berkualitas daripada yang singkat, karena waktunya dapat dia gunakan untuk mengetahui lebih banyak serta bergerak lebih leluasa. Yang memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang penting lagi mulia, hidupnya lebih berkualitas daripada yang mengetahui hal-hal remeh. Allah Yang Maha Hidup, karena Dia mengetahui segala sesuatu, bahkan mengetahui diri-Nya, yang merupakan Dzat Yang Maha Mulia. Allah juga Maha Hidup, karena Dia yang menggerakkan segala sesuatu. Di sisi lain Dia Maha Hidup, karena Dia tidak mengalami kematian, bahkan kantuk, dan Dia Yang memberi hidup seluruh yang hidup. Bukan saja memberi mereka hidup, tetapi Dia juga Qayyum.
 
Kata Qayyum terambil dari kata qawama yang mengandung makna terlaksananya sesuatu secara sempurna dan berkesinambungan. Anda perhatikan makna perintah shalat yang juga menggunakan akar kata yang sama. Allah Qayyum adalah Dia yang mengatur segala sesuatu yang merupakan kebutuhan makhluk, sehingga terlaksana secara sempurna dan berkesinambungan, sedangkan diri-Nya sendiri tidak memerlukan sesuatu untuk wujud dan kesinambungan wujud-Nya.
 
Dirangkaikannya sifat Maha Hidup dan sifat Qayyum, memberi isyarat bahwa hidup yang sebenarnya itu bukan hidup sendiri atau bersifat egoistis, tetapi adalah kemampuan memberi hidup dan sarana kehidupan kepada pihak lain.
 
Wallahu a'lam
 
 
Read More
      edit

Sunday, October 25, 2020

Published October 25, 2020 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 87

Allah Swt. berfirman:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوْسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا مِنْ بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ، وَآتَيْنَا عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوْحِ الْقُدُسِ، أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُوْلٌ بِمَا لَا تَهْوَى أَنْفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيْقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيْقًا تَقْتُلُوْنَ (٨٧)

Dan sungguh, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan Kami telah memberikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami memperkuat dia dengan Ruh al-Qudus (Jibril). Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh? (87)

  • Tafsir Ath-Thabari

Allah telah mengutus Nabi Musa a.s. dengan membawa kitab Taurat, diikuti oleh rasul-rasul lainnya yang menyeru Bani Israil untuk menegakkan, mengamalkan, dan mendakwahkan isi Taurat. Setelah itu Allah mengutus Nabi Isa a.s. dengan bukti-bukti yang membenarkan kenabiannya, seperti menghidupkan orang mati, menyembuhkan penderita kusta, dan berbagai mukjizat lainnya. 

Allah juga telah menguatkan dan menolong Nabi Isa a.s. dengan Ruh al-Qudus. Para ahli ta'wil berbeda pendapat mengenai makna Ruh al-Qudus ini. Menurut al-Dhahak, al-Rabi', dan ath-Thabari yang dimaksud Ruh al-Qudus adalah Malaikat Jibril. Adapun menurut Ibnu Zaid yang dimaksud Ruh al-Qudus adalah kitab Injil. Sedangkan menurut Ibnu Abbas yang dimaksud Ruh al-Qudus adalah ruh yang digunakan Nabi Isa a.s. ketika ia menghidupkan orang yang sudah mati. 

Ayat ini menjelaskan bahwa sungguh telah banyak rasul yang Allah Swt. kirimkan kepada Bani Israil. Allah mengutus Nabi Musa a.s. dengan membawa Taurat dan mengirimkan setelahnya para nabi dan rasul lainnya yang datang silih berganti membawa peringatan kepada Bani Israil. Setelah itu Allah pun mengirimkan Nabi Isa a.s. dengan membawa berbagai mukjizat sebagai bukti nyata kenabiannya. Namun, Bani Israil tetap bersikap sombong terhadap para nabi dan rasul yang Allah utus itu. Sebagian dari para nabi dan rasul itu mereka dustakan dan sebagian lagi mereka bunuh.

 Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid II, 2001: 219-226. 
Read More
      edit

Thursday, September 17, 2020

Published September 17, 2020 by with 0 comment

Perintah Berjilbab Berdasarkan Asbabun Nuzul

Menutup aurat adalah kewajiban setiap laki-laki dan perempuan Mukmin. Meskipun para ulama berbeda pendapat terkait mana saja aurat laki-laki dan perempuan, tapi pada intinya seluruhnya sepakat menutup aurat itu adalah kewajiban. 
 
Kalau diperhatikan aurat perempuan lebih banyak daripada laki-laki. Aurat laki-laki hanya dari pusar sampai lutut, sementara perempuan seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan menurut pendapat sebagian ulama.

Karena aurat perempuan itu seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan menurut sebagian ulama, maka perempuan diharuskan menggunakan jilbab. Makna jilbab itu sendiri sebetulnya masih dalam perdebatan.  Ada yang mengatakan jilbab penutup kepala sampai dada. Ada pula yang berpendapat jilbab adalah kain penutup seluruh tubuh, dari kepala sampai ujung kaki.


Perintah untuk menggunakan jilbab ini didasarkan pada firman Allah dalam surah al-Ahzab ayat 59:

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak perempuanmu, dan perempuan-perempuan Mukmin agar mereka mengulurkan jilbabnya. Dengan demikian mereka lebih mudah dikenal dan mereka tidak akan diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Ahzab: 59)

 

Yang menarik dalam ayat ini adalah tujuan mengulurkan jilbab agar perempuan mukmin tidak diganggu dan lebih mudah dikenal. Untuk mengetahui lebih detail maksud ayat ini perlu menggunakan bantuan asbabul nuzul atau melacak latar belakang turunnya ayat.

 

Sebagian besar ahli tafsir menjelaskan bahwa ayat ini turun pada saat situasi sosial tidak aman dan ramah terhadap perempuan. Di Madinah saat itu masih banyak orang fasik yang suka menganggu perempuan, apalagi kalau malam hari. Sementara kebiasaan perempuan pada waktu itu, mereka keluar tengah malam untuk buang hajat.

 

Ini dapat dimaklumi karena tempat buang hajat pada masa Nabi jauh dari rumah. Supaya tidak terlihat orang, mereka buang hajat tengah malam.  Biasanya perempuan merdeka (hurrah) pergi bersama budak perempuan (amah). Seketika mereka pergi buang hajat, ada sekelompok orang yang suka menganggu budak perempuan. Karena tidak jelas perbedaan budak dan perempuan merdeka di malam hari, perempuan merdeka pun juga tidak bisa menghindar dari gangguan laki-laki hidung belang.

 

Supaya aman dan tidak diganggu, Allah menyuruh perempuan mukmin untuk menggunakan jilbab agar terlihat berbeda dengan budak perempuan. Syaikh Ali al-Shabuni dalam Rawai’ul Bayan mengatakan, budak perempuan tidak diperintahkan berjilbab karena bisa memberatkan mereka. Sebagaimana diketahui, budak dibebankan pekerjaan oleh majikannya, sering keluar rumah untuk bekerja, sehingga sulit kalau mereka juga diwajibkan mengenakan jilbab.

 

Hal ini berbeda dengan perempuan merdeka yang pada waktu itu jarang keluar rumah kecuali untuk kebutuhan tertentu. Pada masa itu, yang bertanggung jawab terhadap kehidupan rumah tangga adalah laki-laki, sehingga perempuan lebih banyak di rumah.

 

Dengan demikian, perintah menggunakan jilbab dilihat dari asbabul nuzul-nya ditujukan untuk melindungi perempuan dari gangguan laki-laki, dan sekaligus menjadi pembeda antara perempuan merdeka dengan budak perempuan.

 

Wallahu a’lam

Read More
      edit

Friday, March 13, 2020

Published March 13, 2020 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 83

Allah Subhanahu wata'ala berfirman: 
 
وَإِذْ أَخَذْنَا مِيْثَاقَ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ لاَ تَعْبُدُوْنَ إِلاَّ اللهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِيْنِ وَقُوْلُوْا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيْمُوا الصَّلاَةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلاَّ قَلِيْلاً مِّنْكُمْ وَأَنتُم مُّعْرِضُوْنَ (٨٣)
 
Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil, “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepa­da manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari) kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu (masih menjadi) pembangkang. (83)
 
  • Tafsir Ath-Thabari
Kata (mengambil janji) dalam ayat ini adalah perjanjian yang Allah ambil dari Bani Israil pada zaman Nabi Musa 'alaihis salam, yaitu  (1) hendaknya mereka ikhlas terhadap Allah dan tidak akan menyembah selain Dia, demikian kata Abu 'Aliyah. (2) Berbuat baik kepada kedua orang tua, seperti berkata lembut, berbuat menyenangkan, bersikap santun, dan mendoakan kebaikan bagi mereka. (3) Menyambung silaturahim dengan karib kerabat, bersikap lembut dan sayang  kepada anak yatim, memberi orang-orang miskin hak-hak mereka sewajarnya. (4) Mengucapkan perkataan yang baik kepada manusia.
 
Maksud (bertutur katalah yang baik) adalah mengajak manusia mengucapkan "Tiada Tuhan selain Allah". Juga termasuk perkataan baik jika berbicara kepada manusia dengan sopan santun dan akhlak mulia. Demikian kata Ibnu 'Abbas. Adapun menurut Sufyan Al-Tsauri maksud perkataan baik di sini adalah amar ma'ruf nahi munkar. (5) Menunaikan shalat dengan menyempurnakan ruku' dan sujudnya, memelihara kekhusyukannya, dan memahami bacaannya, serta menegakkan nilai-nilainya di dalam kehidupan, serta menunaikan zakat yang tentu saja yang sesuai dengan syariat mereka pada masa itu. Demikian kata Ibnu 'Abbas.
 
Bani Israil pada masa Nabi Musa mengabaikan perjanjian itu, dan demikian pula kelakukan keturunan mereka pada zaman Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. 

➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 187-198
Read More
      edit

Sunday, November 24, 2019

Published November 24, 2019 by with 0 comment

Surat Al-Baqarah: 10-13

"فِي قُلُوبهمْ مَرَض" شَكّ وَنِفَاق فَهُوَ يُمْرِض قُلُوبهمْ أَيْ يُضْعِفهَا "فَزَادَهُمْ اللَّه مَرَضًا" بِمَا أَنْزَلَهُ مِنْ الْقُرْآن لِكُفْرِهِمْ بِهِ "وَلَهُمْ عَذَاب أَلِيم" مُؤْلِم "بِمَا كَانُوا يُكَذِّبُونَ" بِالتَّشْدِيدِ أَيْ : نَبِيّ اللَّه وَبِالتَّخْفِيفِ أَيْ قَوْلهمْ آمَنَّا

010. (Dalam hati mereka ada penyakit) berupa keragu-raguan dan kemunafikan yang menyebabkan sakit atau lemahnya hati mereka. (Lalu ditambah Allah penyakit mereka) dengan menurunkan Alquran yang mereka ingkari itu. (Dan bagi mereka siksa yang pedih) yang menyakitkan (disebabkan kedustaan mereka.) Yukadzdzibuuna dibaca pakai tasydid, artinya amat mendustakan, yakni terhadap Nabi Allah dan tanpa tasydid 'yakdzibuuna' yang berarti berdusta, yakni dengan mengakui beriman padahal tidak.

"وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ" أَيْ لِهَؤُلَاءِ "لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْض" بِالْكُفْرِ وَالتَّعْوِيق عَنْ الْإِيمَان "قَالُوا إنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ" وَلَيْسَ مَا نَحْنُ فِيهِ بِفَسَادٍ قَالَ اللَّه تَعَالَى رَدًّا عَلَيْهِمْ :

011. (Dan jika dikatakan kepada mereka,) maksudnya kepada orang-orang munafik tadi ("Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi!") yakni dengan kekafiran dan menyimpang dari keimanan. (Jawab mereka, "Sesungguhnya kami ini berbuat kebaikan.") dan tidak dijumpai pada perbuatan kami hal-hal yang menjurus pada kebinasaan. Maka Allah swt. berfirman sebagai sanggahan atas ucapan mereka itu:

"أَلَا" لِلتَّنْبِيهِ "إنَّهُمْ هُمْ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ" بِذَلِكَ

012. (Ingatlah!) Seruan untuk membangkitkan perhatian. (Sesungguhnya mereka itulah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar) akan kenyataan itu.

"وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاس" أَصْحَاب النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاء" الْجُهَّال أَيْ لَا نَفْعَل كَفِعْلِهِمْ قَالَ تَعَالَى رَدًّا عَلَيْهِمْ : "أَلَا إنَّهُمْ هُمْ السُّفَهَاء وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ" ذَلِك

013. (Apabila dikatakan kepada mereka, "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain beriman!") yakni sebagaimana berimannya para sahabat Nabi. (Jawab mereka, "Apakah kami akan beriman sebagaimana berimannya orang-orang yang bodoh?") Artinya kami tidak akan melakukan seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh itu. Maka firman Allah menolak ucapan mereka itu: (Ketahuilah, merekalah orang-orang bodoh tetapi mereka tidak tahu) akan hal itu.
Read More
      edit

Sunday, November 17, 2019

Published November 17, 2019 by with 0 comment

Surat Al-Baqarah: 6-9

"إنّ الَّذِينَ كَفَرُوا" كَأَبِي جَهْل وَأَبِي لَهَب وَنَحْوهمَا "سَوَاء عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتهمْ" بِتَحْقِيقِ الْهَمْزَتَيْنِ وَإِبْدَال الثَّانِيَة أَلِفًا وَتَسْهِيلهَا وَإِدْخَال أَلِف بَيْن الْمُسَهَّلَة وَالْأُخْرَى وَتَرْكه "أَمْ لَمْ تُنْذِرهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ" لِعِلْمِ اللَّه مِنْهُمْ ذَلِك فَلَا تَطْمَع فِي إيمَانهمْ وَالْإِنْذَار إعْلَام مَعَ تَخْوِيف

006. (Sesungguhnya orang-orang kafir) seperti Abu Jahal, Abu Lahab dan lainnya (sama saja bagi mereka, apakah kamu beri peringatan) dibaca, a-andzartahum, yakni dengan dua buah hamzah secara tegas. Dapat pula hamzah yang kedua dilebur menjadi alif hingga hanya tinggal satu hamzah saja yang dibaca panjang (atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.) Hal itu telah diketahui oleh Allah, maka janganlah kamu berharap mereka akan beriman. 'Indzar' atau peringatan, artinya pemberitahuan disertai ancaman.

"خَتَمَ اللَّه عَلَى قُلُوبهمْ" طَبَعَ عَلَيْهَا وَاسْتَوْثَقَ فَلَا يَدْخُلهَا خَيْر "وَعَلَى سَمْعهمْ" أَيْ مَوَاضِعه فَلَا يَنْتَفِعُونَ بِمَا يَسْمَعُونَهُ مِنْ الْحَقّ "وَعَلَى أَبْصَارهمْ غِشَاوَة" غِطَاء فَلَا يُبْصِرُونَ الْحَقّ "وَلَهُمْ عَذَاب عَظِيم" قَوِيّ دَائِم

007. (Allah mengunci mati hati mereka) maksudnya menutup rapat hati mereka sehingga tidak dapat dimasuki oleh kebaikan (begitu pun pendengaran mereka) maksudnya alat-alat atau sumber-sumber pendengaran mereka dikunci sehingga mereka tidak memperoleh manfaat dari kebenaran yang mereka terima (sedangkan penglihatan mereka ditutup) dengan penutup yang menutupinya sehingga mereka tidak dapat melihat kebenaran (dan bagi mereka siksa yang besar) yang berat lagi tetap. Terhadap orang-orang munafik diturunkan:

"وَمِنْ النَّاس مَنْ يَقُول آمَنَّا بِاَللَّهِ وَبِالْيَوْمِ الْآخِر" وَنَزَلَ فِي الْمُنَافِقِينَ أَيْ يَوْم الْقِيَامَة لِأَنَّهُ آخِر الْأَيَّام "وَمَا هُمْ بِمُؤْمِنِينَ" رُوعِيَ فِيهِ مَعْنَى مِنْ وَفِي ضَمِير يَقُول لَفْظهَا

008. (Di antara manusia ada orang yang mengatakan, "Kami beriman kepada Allah dan hari akhir.") yaitu hari kiamat, karena hari itu adalah hari terakhir. (Padahal mereka bukan orang-orang yang beriman). Di sini ditekankan arti kata 'orang', jika kata ganti yang disebutkan lafalnya, yakni 'mereka'.

"يُخَادِعُونَ اللَّه وَاَلَّذِينَ آمَنُوا" بِإِظْهَارِ خِلَاف مَا أَبْطَنُوهُ مِنْ الْكُفْر لِيَدْفَعُوا عَنْهُمْ أَحْكَامه الدُّنْيَوِيَّة "وَمَا يَخْدَعُونَ إلَّا أَنَفْسهمْ" لِأَنَّ وَبَال خِدَاعهمْ رَاجِع إلَيْهِمْ فَيُفْتَضَحُونَ فِي الدُّنْيَا بِإِطْلَاعِ اللَّه نَبِيّه عَلَى مَا أَبْطَنُوهُ وَيُعَاقَبُونَ فِي الْآخِرَة "وَمَا يَشْعُرُونَ" يَعْلَمُونَ أَنَّ خِدَاعهمْ لِأَنْفُسِهِمْ وَالْمُخَادَعَة هُنَا مِنْ وَاحِد كَعَاقَبْت اللِّصّ وَذِكْر اللَّه فِيهَا تَحْسِين وَفِي قِرَاءَة وَمَا يَخْدَعُونَ

009. (Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman) yakni dengan berpura-pura beriman dan menyembunyikan kekafiran guna melindungi diri mereka dari hukum-hukum duniawi (padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri) karena bencana tipu daya itu akan kembali menimpa diri mereka sendiri. Di dunia, rahasia mereka akan diketahui juga dengan dibuka Allah kepada Nabi-Nya, sedangkan di akhirat mereka akan menerima hukuman setimpal (tetapi mereka tidak menyadari) dan tidak menginsafi bahwa tipu daya mereka itu menimpa diri mereka sendiri. Mukhada`ah atau tipu-menipu di sini muncul dari satu pihak, jadi bukan berarti berserikat di antara dua belah pihak. Contoh yang lainnya mu`aqabatul lish yang berarti menghukum pencuri. Menyebutkan Allah di sana hanya merupakan salah satu dari gaya bahasa saja. Menurut suatu qiraat tidak tercantum 'wamaa yasy`uruuna' tetapi 'wamaa yakhda`uuna', artinya 'tetapi mereka tidak berhasil menipu'.
Read More
      edit

Saturday, November 16, 2019

Published November 16, 2019 by with 0 comment

Surat Al-Baqarah: 1-5

"الم" الله أَعْلَم بِمُرَادِهِ بِذَلِكَ
 
001. (Alif laam miim) Allah yang lebih mengetahui akan maksudnya. 
 
"ذَلِك" أَيْ هَذَا "الْكِتَاب" الَّذِي يَقْرَؤُهُ مُحَمَّد . "لَا رَيْب" لَا شَكَّ "فِيهِ" أَنَّهُ مِنْ عِنْد اللَّه وَجُمْلَة النَّفْي خَبَر مُبْتَدَؤُهُ ذَلِك وَالْإِشَارَة بِهِ لِلتَّعْظِيمِ "هُدًى" خَبَر ثَانٍ أَيْ هَادٍ "لِلْمُتَّقِينَ" الصَّائِرِينَ إلَى التَّقْوَى بِامْتِثَالِ الْأَوَامِر وَاجْتِنَاب النَّوَاهِي لِاتِّقَائِهِمْ بِذَلِكَ النَّار
 
002. (Kitab ini) yakni yang dibaca oleh Muhammad saw. (tidak ada keraguan) atau kebimbangan (padanya) bahwa ia benar-benar dari Allah swt. Kalimat negatif menjadi predikat dari subyek 'Kitab ini', sedangkan kata-kata isyarat 'ini' dipakai sebagai penghormatan. (menjadi petunjuk) sebagai predikat kedua, artinya menjadi penuntun (bagi orang-orang yang bertakwa) maksudnya orang-orang yang mengusahakan diri mereka supaya menjadi takwa dengan jalan mengikuti perintah dan menjauhi larangan demi menjaga diri dari api neraka. 
 
"الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ" يُصَدِّقُونَ "بِالْغَيْبِ" بِمَا غَابَ عَنْهُمْ مِنْ الْبَعْث وَالْجَنَّة وَالنَّار "وَيُقِيمُونَ الصَّلَاة" أَيْ يَأْتُونَ بِهَا بِحُقُوقِهَا "وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ" أَعْطَيْنَاهُمْ "يُنْفِقُونَ" فِي طَاعَة اللَّه
 
003. (Orang-orang yang beriman) yang membenarkan (kepada yang gaib) yaitu yang tidak kelihatan oleh mereka, seperti kebangkitan, surga dan neraka (dan mendirikan salat) artinya melakukannya sebagaimana mestinya (dan sebagian dari yang Kami berikan kepada mereka) yang Kami anugerahkan kepada mereka sebagai rezeki (mereka nafkahkan) mereka belanjakan untuk jalan menaati Allah. 
 
"وَاَلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إلَيْك" أَيْ الْقُرْآن "وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلك" أَيْ التَّوْرَاة وَالْإِنْجِيل وَغَيْرهمَا "وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ" يَعْلَمُونَ
 
004. (Dan orang-orang yang beriman pada apa yang diturunkan kepadamu) maksudnya Alquran, (dan apa yang diturunkan sebelummu) yaitu Taurat, Injil dan selainnya (serta mereka yakin akan hari akhirat), artinya mengetahui secara pasti. 
 
"أُولَئِكَ" الْمَوْصُوفُونَ بِمَا ذُكِرَ "عَلَى هُدًى مِنْ رَبّهمْ وَأُولَئِكَ هُمْ الْمُفْلِحُونَ" الْفَائِزُونَ بِالْجَنَّةِ النَّاجُونَ مِنْ النَّار
 
005. (Merekalah), yakni orang-orang yang memenuhi sifat-sifat yang disebutkan di atas (yang beroleh petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung) yang akan berhasil meraih surga dan terlepas dari siksa neraka.
Read More
      edit

Sunday, November 10, 2019

Published November 10, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 76

Allah Subhanahu wata'ala berfirman: 

وَإِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ آمَنُوْا قَالُوْا آمَنَّا وَإِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ قَالُوْا أَتُحَدِّثُوْنَهُمْ بِمَا فَتَحَ اللهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَاجُّوْكُمْ بِهِ عِنْدَ رَبِّكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ (٧٦)
 
Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata: "Kami telah beriman." Tetapi apabila kembali kepada sesamanya, mereka bertanya: "Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu sehingga mereka dapat menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu? Tidakkah kamu mengerti?" (76)
 
  • Tafsir Ath-Thabari
Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas ra dan As-Saddi ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik dari kalangan Yahudi yang apabila bertemu Rasulullah Saw dan para sahabat, mereka berkata: "Kami beriman." Padahal sebenarnya mereka memperolok-olok dan menertawakan.

Para ahli tafsir berbeda pendapat tentang maksud kalimat [Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu]. Apa sebenarnya yang diceritakan oleh orang-orang Yahudi itu kepada orang-orang Mukmin? Menurut riwayat Ibnu Abbas ra, yang mereka beberkan adalah perintah-perintah Allah kepada mereka.
 
Sebagian yang lain berdasarkan riwayat Qatadah berpendapat, yang mereka ungkapkan adalah sifat-sifat Nabi Muhammad Saw di dalam kitab Taurat. Pendapat yang lain menyebutkan bahwa yang mereka paparkan adalah azab Allah. Adapun menurut Imam Ath-Thabari tafsir yang paling tepat untuk kalimat [Apakah akan kamu ceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu] adalah "Apakah kamu sekalian menceritakan kepada mereka tentang apa yang telah Allah tetapkan dalam kitab suci kamu sekalian tentang diutusnya Muhammad Saw?"
 
Ayat ini menggambarkan keingkaran dan kemunafikan kaum Yahudi. Mereka mengetahui sebenarnya kerasulan Muhammad Saw serta ajaran yang dibawanya dan menyatakan akan beriman kepadanya, bahkan mereka menyampaikan tanda-tanda kenabian itu kepada orang lain. Namun, ketika beliau telah diutus, mereka bersikeras mengingkarinya. 
 
➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 144-151)    
Read More
      edit

Sunday, October 13, 2019

Published October 13, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 62

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَالَّذِيْنَ هَادُوْا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِيْنَ مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ (٦٢)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.(62)
  • Tafsir Ath-Thabari
Yang dimaksud [orang-orang yang beriman] dalam ayat ini adalah mereka yang membenarkan ajaran Rasulullah Saw. Sedangkan yang dimaksud [Haadu] pada ayat ini adalah-orang-orang Yahudi. Menurut Ibnu Juraij kata [Haadu] muncul dari pengakuan mereka sendiri untuk menjadi bangsa Yahudi. Lafazh [Nashaaraa] menurut riwayat Ibnu Juraij adalah orang-orang yang mula-mula mendiami suatu daerah yang bernama Nazaret. Sedangkan dalam riwayat Ibnu Abbas yang dimaksud [Nashaaraa] adalah orang-orang yang menjadi penolong Nabi Isa as. Adapun yang dimaksud [Shaabi'iin] menurut Mujahid adalah sekelompok orang yang tidak beragama. Namun, sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa yang dimaksud [Shaabi'iin] adalah setiap orang yang keluar dari suatu agama dan berpindah kepada agama yang lain.

Ayat ini menerangkan bahwa orang-orang Mukmin, Yahudi, Nashrani, ataupun Shabi'in yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat dan mereka tidak mengganti dan mengubah keyakinan mereka hingga mereka wafat dan mereka melakukan amal kebaikan sebagai bentuk ketaatan pada-Nya, maka mereka mendapatkan pahala atas amal kebaikan yang telah mereka kerjakan dan mereka tidak akan merasa takut terhadap apa yang akan mereka hadapi pada hari Kiamat dan tidak akan bersedih hati dengan apa yang telah mereka tinggalkan di dunia karena mereka yakin akan kenikmatan akhirat yang kekal. Demikian menurut Imam Ath-Thabari.
 
➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 723-732.
Read More
      edit

Thursday, October 10, 2019

Published October 10, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 58-59

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوْا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوْا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُوْلُوْا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ، وَسَنَزِيْدُ الْمُحْسِنِيْنَ (٥٨) فَبَدَّلَ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِيْ قِيْلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوْا يَفْسُقُوْنَ (٥٩)

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitul Maqdis), maka makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami)", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan Kami akan menambah (karunia) bagi orang-orang yang berbuat kebaikan" (58). Lalu, orang-orang yang zalim mengganti perintah dengan (perintah lain) yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka Kami turunkan malapetaka dari langit kepada orang-orang yang zalim itu karena mereka selalu berbuat fasik. (59) 
  • Tafsir Ath-Thabari
Ayat ini menggambarkan ucapan dan perbuatan durhaka yang dilakukan oleh Bani Israil yang mempermainkan perintah Allah ketika memasuki Baitul Maqdis. Mereka menggati perkataan dan perbuatan yang diperintahkan Allah dengan perkataan dan perbuatan yang mereka buat-buat sendiri. 

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dari Rasulullah Saw disebutkan bahwa ketika mereka diperintahkan untuk memasuki pintu gerbang Baitul Maqdis sambil bersujud dan mengucapkan [Hiththatun] yang artinya bebaskanlah kami (dari dosa-dosa kami), maka mereka menggatinya dengan ucapan "Hinthatun" yang artinya sebutir gandum, seraya mereka pun masuk ke Baitul Maqdis sambil merangkak. 

Karena kelakuan tersebut, mereka disebut orang-orang zalim, yaitu orang-orang yang mengerjakan suatu perkara yang seharusnya tidak mereka kerjakan. Mereka juga disebut orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang meninggalkan ketaatan kepada Allah serta lebih memilih maksiat kepada-Nya dan menolak perintah-Nya.

Akibat kefasikan mereka ini Allah menyiksa mereka dengan azab dari langit. Menurut Ibnu Zaid, azab tersebut berupa penyakit tha'un yang pernah diturunkan kepada umat terdahulu. Menurut Imam Ath-Thabari yang dimaksud [Malapetaka] atau azab dalam ayat ini bisa berupa penyakit tha'un atau bisa pula berupa siksaan dalam bentuk yang lain karena tidak ada keterangan yang tegas dari al-Qur'an.
 
➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 723-732.
Read More
      edit

Monday, September 30, 2019

Published September 30, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 50

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنْجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ (٥٠)

Dan (ingatlah), ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun, sedang kamu menyaksikan. (50) 
  • Tafsir Ath-Thabari
Menurut Imam Ath-Thabari, ayat ini adalah kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya yang mengingatkan Bani Israil agar mereka mengingat berbagai nikmat yang telah mereka terima dari Allah Subhanahu wata'ala. Di antara nikmat-nikmat itu adalah ketika Allah Subhanahu wata'ala menyelamatkan mereka dari kejaran Fir'aun, juga ketika Dia membelah lautan untuk mereka.

Ayat ini menjelaskan peristiwa ketika Fir'aun dan tentaranya mengejar Nabi Musa 'Alaihissalam dan kaumnya yang terdiri dari 12 suku. Ketika itu mereka terjebak di tepi lautan, dan mereka melihat tentara Fir'aun semakin mendekat. Mereka pun berkata bahwa Fir'aun pasti akan dapat menyusul mereka. Namun, Allah menyelamatkan mereka dengan membelah lautan menjadi 12 jalan, dan menenggelamkan Fir'aun dan tentaranya di tengah lautan tersebut.

Adapun makna [Sedang kamu menyaksikan] adalah bahwa Bani Israil saat itu menyaksikan langsung bagaimana Allah membelah lautan bagi mereka, serta bagaimana Allah menenggelamkan Fir'aun di sana. Mereka melihat langsung betapa agungnya kekuasaan Allah, saat lautan itu patuh pada perintah Allah untuk menyediakan jalan bagi mereka, dan mereka melihat bagaimana lautan itu terbelah menjadi gulungan-gulungan ombak yang tinggi.

Melalui ayat ini Allah mengingatkan Bani Israil  untuk tidak mendustakan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, agar tidak turun azab kepada mereka sebagaimana yang dulu Allah turunkan kepada Fir'aun dan bala tentaranya, karena mereka mendustakan Nabi Musa 'Alaihissalam.

➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 654-663 .
 
Read More
      edit

Sunday, September 22, 2019

Published September 22, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 44

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتَابَ، أَفَلاَ تَعْقِلُوْنَ (٤٤)

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu mengerti? (44)
  • Tafsir Ath-Thabari
Pada dasarnya para ahli tafsir sepakat bahwa [(Mengerjakan) kebajikan] berarti segala bentuk ketaatan kepada Allah. Namun, ketaatan macam apa yang dimaksud kata [(Mengerjakan) kebajikan] dalam ayat ini? Para ahli tafsir berbeda pendapat.

Menurut Ibnu Abbas r.a., [(Mengerjakan) kebajikan] dalam ayat ini adalah iman kepada Nabi Muhammad Saw., masuk agamanya, dan mengikuti ajarannya. Sedangkan menurut Ibnu Juraij adalah shalat dan puasa. Adapun menurut As-Saddi adalah taat kepada Allah. Sedangkan menurut Qatadah adalah taat dan takwa kepada Allah serta berbuat kebaikan.

Walaupun ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna kata [(Mengerjakan) kebajikan] dalam ayat ini, menurut Imam Ath-Thabari, semuanya sepakat bahwa ayat ini merupakan teguran kepada kaum (Bani Israil dan kaum manapun termasuk umat Islam) yang menyuruh manusia kepada perkataan dan perbuatan yang diridhai Allah, tetapi mereka melupakan diri sendiri. Karena itu menurut Ibnu Juraij sudah sepatutnya yang menyeru kepada kebaikan untuk terlebih dahulu mengamalkannya.

Kalimat [Tidakkah kamu mengerti?] pada akhir ayat ini adalah celaan terhadap Bani Israil, karena menyuruh orang lain berbuat kebaikan, padahal mereka sendiri tidak melakukan. Mereka melarang orang lain berbuat keburukan, tapi mereka sendiri suka melakukan. Mereka menyeru manusia agar beriman kepada Nabi Muhammad Saw. dan risalahnya, namun mereka sendiri mengingkari. Tidakkah mereka menyadari betapa buruknya perbuatan itu?

➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 613-617     
Read More
      edit

Tuesday, September 17, 2019

Published September 17, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 30

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً، قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ، قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ (٣٠)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (30).
  • Tafsir Ath-Thabari
Ayat ini mengingatkan nikmat-nikmat Allah kepada manusia, di antaranya dinobatkannya Adam a.s. sebagai khalifah di bumi. Menurut Imam Ath-Thabari maksud [Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi] adalah mengangkat Adam a.s. sebagai khalifah di bumi dan mengangkat setelahnya khalifah-khalifah lain silih berganti.

Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa yang dimaksud khalifah adalah suksesi kepemimpinan yang silih berganti sejak Adam a.s. hingga keturunannya hingga hari kiamat. Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa Adam a.s. diangkat sebagai khalifah di muka bumi menggantikan bangsa jin. Sedangkan Imam Ath-Thabari berpendapat berdasarkan riwayat Ibnu Abbas r.a. dan Abdullah bin Mas'ud ra, bahwa yang diangkat sebagai khalifah Allah hanyalah Adam a.s. dan mereka yang taat kepada Allah. Mereka bertugas menegakkan hukum Allah di tengah-tengah makhluk-Nya.

Adapun sebab para malaikat itu bertanya [Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah] adalah untuk memperoleh informasi, karena para malaikat itu, menurut riwayat Ibnu Abbas r.a. pernah ditugaskan untuk membasmi jin penghuni bumi sebelum Adam a.s., yang kebetulan suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Maka timbullah pertanyaan ini karena mereka hendak memperoleh informasi dari Allah, bukan karena malaikat itu tahu perkara gaib, tidak pula karena mereka berburuk sangka, atau hendak mengingkari keputusan Allah Swt.

➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 470-500
Read More
      edit

Tuesday, September 10, 2019

Published September 10, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 26

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَنْ يَضْرِبَ مَثَلاً مَا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا، فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ، وَأَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللهُ بِهَذَا مَثَلاً، يُضِلُّ بِهِ كَثِيْرًا وَيَهْدِيْ بِهِ كَثِيْرًا، وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ (٢٦)

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (26).
  • Tafsir Ath-Thabari
Menurut para sahabat, di antaranya Ibnu Abbas ra, ayat ini turun terkait ayat [Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api (QS. Al-Baqarah: 170] dan [Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit (QS. Al-Baqarah: 19)] yang mengibaratkan keimanan orang munafik dengan sekelebat cahaya api atau kilat. Mendengar perumpamaan ini, orang-orang munafik mengejek, "Allah Maha Tinggi, Maha Gagah dibanding perumpamaan yang dibuat-Nya." Turunlah ayat ini yang menjelaskan bahwa Allah tidak malu dengan perumpamaan yang Dia buat.

Penafsiran lain dikemukakan oleh Al-Rabi' bin Anas ra. Menurutnya ayat ini adalah perumpamaan kehidupan dunia. Karena nyamuk hidup ketika ia lapar, saat sudah gemuk tiba-tiba ia mati. Demikianlah kehidupan dunia. Sebagaimana firman Allah:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوْا بِمَا أُوْتُوْا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُوْنَ (٤٤)
 
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al-An'am: 44)
 
Penafsiran ketiga dikemukakan oleh Qatadah. Ketika Allah menyebutkan nyamuk dan laba-laba dalam Al-Qur'an, mereka yang sesat berkata, "Apa maksud Allah menyebutkan itu?" Maka turunlah ayat ini, menjelaskan bahwa Allah tidak malu menyebutkan kebenaran, walaupun sedikit.

➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 422-425  
Read More
      edit

Friday, September 6, 2019

Published September 06, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 19

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيْهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُوْنَ أَصَابِعَهُمْ فِيْ آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ، وَاللهُ مُحِيْطٌ بِالْكَافِرِيْنَ (١٩)

Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir (19). 
  • Tafsir Ath-Thabari
Lafazh ash-shaibu sinonim dari kata al-qathru, al-matharu, dan al-ghaitsu, yang semuanya mempunyai arti yang sama, yaitu hujan. Melalui perumpamaan hujan, ayat ini memperjelas ciri orang-orang munafik yang pura-pura masuk Islam padahal mereka tetap tenggelam di dalam kekafiran.

Menurut Imam Ath-Thabari, hujan adalah gambaran umum keimanan orang-orang munafik. Mereka secara zahir mengaku beriman padahal hati mereka mendustakan. Suasana gelap saat hujan terjadi adalah ibarat kesesatan mereka yang bersumber dari kebutaan dan kebodohan mereka. Secercah cahaya kilat adalah ibarat cahaya keimanan mereka yang hanya sekelebat.

Sedangkan takutnya mereka terhadap suara petir dengan menutupkan jari jemari mereka ke telinga adalah ibarat ketakutan (paranoid) mereka yang disebabkan hati mereka lemah akibat penyakit ragu. Mereka ragu apakah ancaman yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam itu benar atau tidak. Mereka khawatir kalau ancaman itu bohong. Namun mereka juga takut jangan-jangan ancaman yang dikatakan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam itu benar bahwa siksa Allah akan turun di halaman rumah mereka.

Akan tetapi, walaupun orang-orang munafik di dunia ini pandai bersandiwara menyembunyikan kekafirannya, Allah tetap meliputi mereka [wallaahu muhiitum bilkaafiriin]. Adapun makna Allah meliputi mereka menurut Mujahid dan Ibnu Abbas adalah bahwa Allah akan menyiksa dan mengumpulkan mereka seluruhnya di neraka jahannam.

➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 373-378 
Read More
      edit

Wednesday, September 4, 2019

Published September 04, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 3

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُوْنَ (٣)

(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (3). 
  • Tafsir Ath-Thabari
[Al-Ghaib] berarti segala hal yang masih tersembunyi. Oleh karena itu, beriman kepada perkara yang gaib berarti membenarkan adanya surga dan neraka, pahala dan siksa, juga adanya hari kebangkitan, serta membenarkan adanya Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul-rasul, dan segala hal yang sebelumnya disangkal oleh orang-orang Arab Jahiliah. Padahal, perkara-perkara itu adalah perkara-perkara yang wajib diimani walaupun hakikatnya masih tersembunyi.

Firman Allah [yuqiimuunash shalaata] berarti menunaikan shalat dengan menyempurnakan ruku' dan sujudnya, memelihara kekhusyu'annya, dan memahami bacaannya, serta menegakkan nilai-nilainya di dalam kehidupan nyata. Itulah maksud mendirikan shalat menurut Ibnu Abbas. 

Shalat itu sendiri secara etimologis berarti doa, sehingga orang yang mendirikan shalat pada hakikatnya adalah seseorang yang sedang memohon kepada Allah Subhanahu wata'ala agar mendapatkan pahala dari-Nya, serta agar terpenuhi hajat hidupnya di dunia.

Adapun tafsir [wamimmaa razaqnaahum yunfiquun] menurut Ibnu Abbas adalah orang-orang yang menunaikan zakat mal (harta). Sedangkan menurut Al-Dahhak adalah orang-orang yang menginfakkan sebagian harta sesuai batas kemampuan. Kedua penafsiran ini menurut Imam Ath-Thabari dapat dipadukan, karena baik zakat maupun infak pada dasarnya sama-sama merupakan upaya seorang hamba untuk mengeluarkan sebagian hartanya yang halal agar memperoleh keridhaan Allah Ta'ala.
 
➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 240-250 
Read More
      edit