Showing posts with label Rindu Rasul. Show all posts
Showing posts with label Rindu Rasul. Show all posts

Monday, December 13, 2021

Published December 13, 2021 by with 0 comment

Saat Rasulullah Wafat

Ibnu Abbas berkata bahwa Abu Bakar ra keluar rumah pada hari Rasulullah Saw wafat, dan saat itu Umar sedang berbicara kepada orang-orang. Abu Bakar berkata, "Duduklah, wahai Umar!"

Namun Umar menolak untuk duduk. Abu Bakar berkata lagi, "Duduklah, wahai Umar!"

Lalu Abu Bakar membaca syahadat dan berkata, "Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Dan barangsiapa di antara kalian yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha hidup tidak mati. Sesungguhnya Allah berfirman, 

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

'Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah iika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)?' (QS. Ali Imran: 144)

Ibnu Abbas berkata, "Demi Allah, seolah-olah mereka tidak tahu bahwa Allah telah menurunkan ayat ini hingga Abu Bakar membacakannya, lalu semua orang menerima ayat itu dari Abu Bakar. Kami pun mendengar semua orang membacanya."

Ibnu Syihab berkata: Sa'id bin Musayyib mengabariku, bahwa Umar bin Khaththab ra berkata, "Demi Allah, aku mengetahui ayat ini tidak lain karena Abu Bakar membacanya, sehingga aku pun bergetar hingga kakiku goyah dan hingga aku jatuh ke tanah saat mendengar Abu Bakar membacanya, tahulah aku bahwa Rasulullah Saw telah wafat."

Read More
      edit

Friday, December 11, 2020

Published December 11, 2020 by with 0 comment

Tabarruk

Tabarruk adalah salah satu ungkapan kecintaan. Jika Anda mencintai seseorang, Anda akan menganggap apa pun yang disentuh orang itu, apa pun yang ditinggalkan orang itu, apa pun yang berkaitan dengan orang itu, punya nilai yang sangat tinggi.

Menurut kamus-kamus Arab seperti al-Qamus dan Taj al-Arus, berkah adalah kebaikan, keberuntungan, kesejahteraan, dan pertambahan nilai. Tetapi untuk memahami konsep berkah di dalam Islam, ada baiknya kita melihat beberapa contoh dari para sahabat nabi.

Ketika terjadi perjanjian Hudaibiyah, kaum Quraisy mengirimkan 'Urwah bin Mas'ud al-Tsaqafi sebagai perunding dari pihak mereka. Ketika kembali lagi kepada kaumnya, ia berkata, "Jika ia berwudhu, mereka memperebutkan air wudhunya; jika ia meludah, mereka memperebutkan ludahnya; dan jika satu lembar rambutnya jatuh, mereka berlomba-lomba mengambilnya. Demi Allah, jika ludah Nabi Saw jatuh pada telapak tangan seseorang, ia akan mengiusapkannya ke mukanya dan kulitnya. Jika ia memerintahkan sesuatu, orang berlomba untuk menjalankannya. Jika ia berwudhu, hampir-hampir orang berkelahi untuk memperebutkan air wudhunya." Menurut Abu Jahifah, "Aku melihat Bilal mengambil bekas wudhu Nabi Saw dan orang-orang datang memperebutkan bekas wudhunya itu. Jika kena sedikit saja, mereka mengusapkannya ke anggota wudhunya. Jika tidak, mereka mengambilnya dari basahan tangan sahabatnya."

Menyaksikan itu semua, Nabi Saw tidak melarangnya dan tidak menegurnya. Bahkan dalam berbagai peristiwa beliau memerintahkannya. Di Ja'ranah, sebuah perkampungan terpencil di antara Mekah dan Madinah, Nabi Saw berhenti. Beliau menyuruh Bilal dan Abu Musa untuk mengambil wadah air. Pada wadah itu, beliau membasuh tangannya dan wajahnya; lalu beliau meludah padanya. Beliau kemudian bersabda kepada kedua sahabatnya itu, "Minumlah dan usapkanlah kepada wajah dan leher kalian." Menurut al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani, "Maksud Nabi Saw dengan meludah itu ialah mengalirkan berkah."

Salah satu keberkahan dari air yang sudah diludahi Nabi Saw adalah kesembuhan. Rasulullah Saw pernah meludah pada sumur Bidha'ah. Para sahabat Nabi berkata, "Waktu itu, jika ada yang sakit, ia dimandikan dengan air Bidha'ah. Usai dimandikan, ia sembuh seperti baru dilepaskan dari ikatan."

Keberkahan bukan hanya memberikan kesembuhan jasmaniah. Para sahabat juga percaya bahwa berkah Nabi Saw dapat menyembuhkan hati. Abdullah bin Ubay terkenal sebagai tokoh munafik. Orang munafik adalah orang yang punya penyakit di dalam hatinya; kemudian Allah tambah penyakitnya. Ia punya anak yang saleh. Abdullah benci kepada Nabi Saw, tapi anaknya mencintai beliau. Ketika Rasulullah Saw minum air, anak Abdullah berkata, "Ya Rasulullah, sisakan air minummu. Aku akan memberikannya pada ayahku, mudah-mudahan Allah membersihkan hatinya dengan air itu." Nabi Saw menyisakan kelebihan minumannya dan memberikannya kepadanya. Ia menemui ayahnya. "Apakah ini?" kata ayahnya. Sang anak berkata, "Sisa minuman Nabi Saw. Ak ingin memberikannya kepadamu. Mudah-mudahan Allah menyucikan hatmu dengan air itu." Ayahnya menukas, "Lebih baik kaubawa untukku air kencing ibumu. Itu lebih bersih dari bekas minuman Nabi." Anak Abdullah datang menemui Nabi Saw, "Ya Rasulullah, perkenankan aku untuk membunuh ayahku." Nabi Saw bersabda, "Tetaplah berbuat baik dan sayang padanya."

Abdullah bin Ubay tidak suka tabarruk dengan sisa minum Nabi Saw. Dengan kasar, ia menolak anggapan bahwa sisa minum Nabi Saw dapat menyembuhkan penyakit hatinya. Anak Abdullah tersinggung. Karena cintanya kepada Nabi Saw, ia tidak rela mendengar ucapan ayahnya yang sangat menyakitkan hati. Dalam keluarga Abdullah berkumpul mukmin yang percaya tabarruk dan munafik yang mencemoohkannya.

Seorang laki-laki datang menemui Ibn Abbas. "Dari mana kamu?" tanya Ibn Abbas. "Aku baru minum Zamzam," jawabnya. "Apakah kamu meminumnya sebagaimana seharusnya?" tanya Ibn Abbas lagi. "Memangnya harus bagaimana?"

Ibn Abbas berkata, "Jika kamu minum Zamzam, menghadaplah ke arah kiblat. Sebut nama Allah. Tarik nafas tiga kali dan minumlah sampai kenyang. Bila sudah kenyang, ucapkan alhamdulillah. Rasulullah Saw bersabda, 'Perbedaan kita dengan orang munafik ialah mereka tidak sanggup mengenyangkan perutnya dengan Zamzam.'"

Dalam riwayat lain, Nabi Saw bersabda, "Minum Zamzam dengan kenyang akan menyembuhkan orang dari kemunafikan."

Mengapa orang munafik tidak mau minum Zamzam sampai kenyang? Karena ia tidak percaya bahwa Zamzam itu air yang penuh berkah. Ia bukan hanya bisa melepaskan kita dari dahaga, tetapi juga dapat memberikan kesembuhan, perlindungan, ilmu yang bermanfaat, dan rezeki yang luas. Masih dari Ibn Abbas, diriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Air Zamzam tergantung pada untuk apa diminumnya. Jika engkau meminumnya untuk memperoleh kesembuhan, Allah akan menyembuhkan kamu. Jika kamu meminumnya untuk perlindungan, maka Allah akan melindungi kamu. Jika kamu meminumnya hanya sekedar untuk melepaskan dahagamu, ia akan melepaskan dahagamu."

Orang yang tidak percaya pada berkah akan melihat apa pun dari manfaat lahiriahnya saja. Air hanya untuk melepaskan dahaga. Pakaian hanya untuk menutup aurat. Ludah hanya menjadi barang kotor. Selembar rambut tidak ada artinya apa-apa.

Bila di atas manfaat lahiriah yang kasat mata, kita percaya ada manfaat tambahan yang bersifat ruhaniah, kita melihat keberkahan di dalamnya. Dalam pengertian manfaat tambahan, lebih dari kemampuannya yang biasa ini, Nabi Saw menyebutkan berkah.

Dalam sebuah kisah yang panjang, Nabi Saw pernah membawa uang dua dirham ke pasar. Dengan uang itu, beliau berhasil membantu orang miskin yang kehilangan uangnya, memberi pakaian kepada yang telanjang, melepaskan derita yang kesusahan, dan membebaskan budak belian. Nabi Saw bersabda, "Belum pernah aku punya uang dua dirham yang lebih berkah dari dua dirham ini."

Karena itu, kita diajarkan untuk membaca doa berikut ini ketika minum air Zamzam: Ya Allah, jadikanlah Zamzam ini bagiku ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, dan obat untuk segala penyakit. Itu sebabnya pula mengapa kita dianjurkan untuk membaca doa sebelum makan. Di dalam doa itu kita mohon keberkahan dari rezeki yang Allah berikan kepada kita. Bahkan kita mohon agar kita dijauhkan dari api neraka. Kita berdoa agar makanan yang kita nikmati menjadi sebab kita terhindar dari api neraka.

Para sahabat Nabi sering bertabarruk dengan apa saja yang menyentuh atau disentuh beliau untuk keselamatannya pada hari akhirat. Insyaallah akan disampaikan hadits-hadits terkait dengan pembahasan tabarruk ini pada tulisan mendatang. Para sahabat ada yang mengambil burdah atau pakaian Nabi Saw untuk dijadikan kain kafannya. Mereka mencotoh apa yang dilakukan Nabi Saw.

Ketika Fatimah binti Asad, istri Abu Thalib, meninggal dunia, Rasulullah Saw memakaikan gamis-nya pada Fatimah. Beliau juga berbaring bersamanya di dalam kuburannya. Ketika ditanya mengapa hal itu beliau lakukan, Rasulullah Saw menjawab, "Setelah Abu Thalib, tidak ada lagi yang paling baik terhadapku selain dia. Aku pakaikan gamisku kepadanya supaya ia memakai pakaian surga. Aku berbaring bersamanya untuk meringankan perjalanannya."

Di bawah ini kami tuliskan riwayat tersebut secara lebih lengkap sebagaimana yang dituturkan oleh Jabir ra:

"Ketika kami duduk bersama Rasulullah di masjid, datang seseorang, "Ya Rasulullah, ibu Ali, Ja'far dan Aqil telah meninggal dunia." Rasulullah Saw berkata, "Marilah kita pergi menemui ibuku." Kami pun berangkat sambil menundukkan kepala seakan-akan burung bertengger di atas kepala kami. Setelah sampai di pintu rumahnya, Rasulullah Saw melepaskan gamisnya dan berkata kepada Ali, "Inilah gamisku. Kafanilah ia dengannya. Kalau sudah selesai, beritahu aku." Setelah itu, Rasulullah Saw menyalatinya dengan shalat yang sangat bagus yang tidak pernah beliau lakukan kepada siapa pun sebelum dan sesudahnya. Lalu beliu turun ke dalam kuburannya dan berbaring di sampingnya. Kami bertanya, "Ya Rasulullah, engkau sudah melakukan dua hal yang tidak pernah engkau lakukan seperti itu sebelumnya." Beliau bertanya, "Apa itu?" Kami berkata, "Kau lepaskan gamismu dan kau berbaring di liang lahat." Rasulullah Saw bersabda, "Dengan gamisku ini aku ingin ia tidak pernah disentuh api neraka, insyaallah. Sedangkan aku berbaring di lahatnya, karena aku ingin meluaskan kuburannya."

Wallahu a'lam        

                        

Read More
      edit

Wednesday, October 28, 2020

Published October 28, 2020 by with 0 comment

Sentuhan Cinta Rasulullah Saw

Marwan bin Hakam adalah Gubernur Madinah yang diangkat oleh penguasa Bani Umayyah. Ketika Nabi Saw masih berada di dunia ini, ia dan ayahnya seringkali mengganggu Rasulullah Saw. Bersama ayahnya, ia termasuk orang yang masuk Islam pada peristiwa kemenangan Kota Suci Makkah. Ia bergabung dengan para tokoh Quraisy dan memohon ampunan Nabi Saw atas tindakan kejam mereka pada kaum muslimin dahulu. Rasul yang penyayang memaafkan mereka dan berkata, "Berangkatlah kalian. Kalian dibebaskan." Pemeluk Islam yang terakhir ini digelari dalam tarikh Islam, seperti cara Rasulullah Saw memanggil mereka, al-Thulaqa, orang-orang yang dibebaskan.
 
Tentu saja pengetahuan al-Thulaqa tentang Islam sangat sedikit. Marwan dan ayahnya bahkan dikenal sebagai tidak tahu adab majelis. Mereka sering mengganggu Nabi Saw dengan meniru-niru cara bicaranya dengan maksud mengejek. Nabi Saw mendapati al-Hakam sedang mencibirkan bibirnya. Beliau Saw bersabda, "Jadilah seperti itu." Muka al-Hakam menjadi seperti itu sampai akhir hayatnya. Pada zaman Utsman, mereka kembali ke Madinah dan menduduki jabatan sebagai sekretaris negara. Pada zaman Muawiyah, Marwan menjadi Gubernur Madinah. Karena jabatannya, walaupun pengetahuan Islamnya kurang, Marwan juga sekaligus menjadi imam di Masjid Nabi.
 
Pada suatu hari, ia menemukan seseorang yang sedang membenamkan mukanya di kuburan Nabi Saw. Ia segera membentaknya, "Apa kamu sadari apa yang kamu kerjakan?" Ternyata orang yang dibentak itu adalah salah seorang sahabat Nabi Saw, yakni Abu Ayyub al-Anshari. Ia menjawab, "Betul. Aku mengunjungi Rasulullah Saw. Aku tidak mendatangi batu. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda, "Janganlah kamu tangisi agama, jika dipegang oleh ahlinya. Tangisilah agama ketika dipegang oleh orang yang bukan ahlinya."
 
Abu Ayyub al-Anshari menyampaikan hadits itu untuk mengajari Marwan, yang membentak orang yang membenamkan wajahnya pada pusara Nabi Saw. Ia harus menyadari bahwa pengetahuannya sangat sedikit. Kedudukannya sebagai khatib dan imam Masjid Nabawi tidak boleh membuatnya berani menyalahkan orang lain. Kelak, Marwan diikuti oleh banyak kaum muslimin, terutama orang-orang awam. Mereka mengkafirkan dan menganggap musyrik orang-orang yang mengambil berkah pada kuburan Nabi Saw atau peninggalan beliau yang lain.  

Waktu itu, dikubran Nabi Saw berhadapan dua tokoh yang mempunyai latar belakang keislaman yang sangat berbeda. Anda sudah tahu tentang Marwan. Saya sudah menceritakannya. Lalu, siapakah Abu Ayyub al-Anshari? Abu Ayyub adalah orang yang rumahnya disinggahi Nabi Saw ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hijrah. Ketika Rasulullah Saw tinggal di rumahnya, beliau tidur di ruangan bawah. Rumah Abu Ayyub terdiri dari dua lantai. Ketika memasuki waktu malam, Abu Ayyub sadar bahwa ia tidur tepat di atas kamar Nabi Saw. Karena rumahnya terbuat dari tanah, ia khawatir gerakan tubuhnya dapat menyebabkan debu-debu berguguran menimpa wajah Nabi yang mulia. Sepanjang malam ia membekukan tubuhnya seperti sebongkah kayu.
 
Pagi-pagi ia menemui Rasulullah Saw, "Ya Rasulullah, semalaman aku tidak dapat memejamkan mata sekejab pun; begitu juga Ummu Ayyub." Nabi Saw bertanya, "Apa yang terjadi padamu?" Abu Ayyub berkata, "Ya Rasulullah, aku sadar bahwa jika aku bergerak, debu-debu akan berjatuhan dan mengganggu engkau, padahal aku berada di antara engkau dengan wahyu." Dalam bayangan Abu Ayyub, wahyu itu berasal dari langit. Di antara Nabi Saw dan langit ada Abu Ayyub dan istrinya. Nabi Saw terharu menyaksikan ketulusan cinta Abu Ayyub, sehingga beliau ajarkan kepada keduanya wirid yang dapat menghapuskan kejelekan mereka dan mengangkat mereka ke arah kemuliaan.
 
Walhasil, Abu Ayyub adalah pecinta Nabi; sedangkan Marwan, Anda tahu siapa Marwan. Ketika Abu Ayyub menelungkupkan kepalanya ke pusara Rasul yang agung dan membasahinya dengan air mata kerinduan, ia melakukannya karena cinta. Buat orang yang tidak mencintai Nabi Saw, perbuatan Abu Ayyub itu sangat mengherankan, bahkan mungkin menggelikan. Pecinta Layla disebut Majnun, si gila, karen ia datang ke rumah Layla dan mencium dinding rumah itu sepuas-puasnya. Terhadap cemoohan itu, Majnun menjawab dengan ungkapan yang sangat puitis:
 
امر على الديار ليلى -- اقبل ذاالجدار وذاالجدار
وما حب الديار شغفن قلبى -- ولكن حب من سكن الديارا 
 
Aku melewati rumah, rumah Layla
Kucium dinding ini, dinding ini
 
Tidaklah cinta rumah yang memenuhi hati
Tetapi cinta kepada dia yang tinggal di rumah ini  
Read More
      edit

Thursday, August 6, 2020

Published August 06, 2020 by with 0 comment

Sang Pecinta Akan Memberikan Yang Terbaik Untuk Yang Dicintai

Seorang pecinta akan merasa sangat bahagia bila bisa mempersembahkan hal terbaik yang dimilikinya untuk yang ia cintai.

Di antara manusia yang paling mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah sepupu beliau, Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhah. Kecintaannya menjadi tonggak sejarah Islam. Dalam perjalanan perjuangannya, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sampai pada saat yang paling kritis.

"Ingatlah ketika orang-orang kafir membuat tipu daya untuk memenjarakanmu, atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya. Dan Allah adalah sebaik-baiknya pembalas tipu daya." (QS. al-Anfal: 30)

Musuh-musuh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersepakat untuk menyerbu rumah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di malam hari. Semua kabilah mengirimkan wakil-wakilnya. Mereka punya missi yang sama: menghabisi Nabi yang mulia.

Pada malam itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menawarkan kepada Ali apakah ia bersedia untuk berbaring di tempat tidur beliau. Ali balik bertanya, "Apakah dengan begitu engkau selamat ya Rasulallah?" Nabi berkata, "Betul!" Mendengar itu Ali melonjak gembira. Ia merebahkan diri, bersujud syukur kepada Yang Mahakasih. Ia diberi kesempatan untuk mempersembahkan nyawanya buat keselamatan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang dicintainya. Baginya, peluang untuk berkorban demi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah anugerah yang agung. Ia segera mengambil selimut hijau dari Yaman. Ke dalam selimut Nabi shallallahu 'alaihi wasallam itu dengan bahagia Ali memasukkan tubuhnya. Ia tidur dengan tenteram tanpa sedikitpun rasa khawatir.

Menjelang Subuh, para pembunuh dari berbagai kabilah datang dengan menghunus pedang-pedang mereka. Mereka yakin bahwa yang tidur itu adalah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. "Bangunkan dia lebih dahulu, supaya ia merasakan pedihnya tebasan pedang," teriak mereka.

Ketika mereka melihat Ali bangun, dengan kecewa mereka segera meninggalkan tempat itu untuk mencari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Malaikat Jibril turun di dekat kepala Ali dan Mikail di dekat kakinya. Jibril berkata, "Luar biasa, siapa yang seperti engkau, hai putra Abu Thalib?" Allah membanggakannya di hadapan para malaikatnya. Lalu turunlah surat al-Baqarah 207: "Di antara manusia ada orang yang menjual dirinya untuk mencari keridhaan Allah. Dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya."

Ayat ini turun untuk mendefinisikan cinta sebagai kesediaan untuk "menjual diri", memberikan yang paling berharga untuk sang kekasih. Inilah kecintaan yang sejati.

Wallahu a'lam



 

Read More
      edit

Friday, June 26, 2020

Published June 26, 2020 by with 0 comment

Perpisahan Itu Musibah yang Sangat Besar

Di Madinah pernah tinggal seorang pedagang minyak. Setiap pagi, sebelum berangkat ke warungnya, ia singgah dulu di halaman rumah Nabi Saw. Ia menunggu sampai junjungannya muncul. Dengan penuh cinta ia memandang wajah Nabi Saw yang mulia. 

Pada suatu hari, ia datang. Seperti biasa ia memuaskan hatinya dengan memandang wajah Rasulullah Saw. Setelah itu, ia pergi ke tempat kerjanya. Tak lama kemudian ia balik lagi. Ia mohon izin untuk memandang beliau sekali lagi. Setelah puas, ia berangkat ke pasar. Selama seminggu setelah itu, Rasulullah Saw tidak pernah melihatnya lagi. 

Ketika beliau menanyakan perihal dia kepada para sahabatnya, beliau mendapatkan jawaban bahwa ia sudah meninggal seminggu sebelumnya. Rupanya itulah pertemuan terakhir antara dia dengan Rasulullah Saw. Untuk orang itu, Rasulullah Saw bersabda, "Karena kecintaannya kepadaku, Allah mengampuni dosa-dosanya."

***

Seorang laki-laki Anshar datang menemui Nabi Saw. Ia mengadu, "Ya Rasulullah, aku tak tahan berpisah darimu. Jika aku masuk ke rumahku, lalu aku ingat dikau, aku tinggalkan harta dan keluargaku. Aku lepaskan kerinduanku dengan memandangmu. Lalu, aku ingat pada hari kiamat. Pada hari itu, engkau dimasukkan ke surga dan ditempatkan di tempat yang paling tinggi. Bagaimana dengan nasibku, Ya Rasulullah?"

Beliau tidak menjawab. Tidak lama setelah itu, turun ayat: "Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang syahid dan orang-orang saleh, dan alangkah baiknya berteman dengan mereka." (QS. al-Nisa: 69). 

Begitu ayat ini turun, Nabi Saw memanggil lelaki itu, membacakan kepadanya ayat itu dan memberikan kabar gembira kepadanya. Ia dijanjikan bahwa ia akan digabungkan dengan Rasulullah Saw. Di sana, ia tidak akan berpisah lagi dari Nabi Saw. Lelaki itu tentu sangat bahagia dengan kabar gembira dari Nabi Saw. 

Buat pecinta, perpisahan dengan kekasih adalah musibah yang sangat besar. Karena itulah, Fatimah merintih ketika ayahnya, panutannya, junjungannya dan kekasihnya meninggal dunia. Setiap hari ia mengunjungi pusara Rasulullah Saw dan melantunkan syair yang mengungkapkan isi hatinya:

Nafasku tersekat dalam tangisan
duhai, mengapa nafas tak lepas bersama jeritan
sesudahmu tiada lagu kebaikan dalam kehidupan
aku menangis karena aku takut hidupku akan kepanjangan

Kala rinduku memuncak,
kujenguk pusaramu dengan tangisan
aku menjerit meronta tanpa mendapatkan jawaban

Duhai yang tinggal di bawah tumpukan debu,
tangisan memelukku
kenangan padamu melupakan daku dari segala musibah yang lain
jika engkau menghilang dari mataku ke dalam tanah
engkau takkan pernah hilang dari hatiku yang pedih

Kepedihan yang sama diderita oleh Ali bin Abi Thalib. Lama ia berdiri di hadapan pusara Rasulullah yang mulia. Dalam deraian air mata yang tak kunjung berhenti, ia mengungkapkan deritanya:
Bi Abi Anta wa Ummi
Biarlah ayah bundaku jadi tebusanmu, ya Rasulallah
Sekiranya tidak kau perintahkan kami bersabar
jika tak kau larang kami berduka cita
akan kami alirkan gelombang air mata

Tapi walau begitu, sakit kami tak kunjung sembuh
derita kami takkan berakhir
sakit dan derita kami terlalu kecil ketimbang kepedihan karenamu

Kepergianmu takkan mungkin dikembalikan
kematianmu tak bisa dihindarkan

Bi Abi wa Anta Ummi
Kenanglah kami di sisi Tuhanmu
dan simpan kami di dalam hatimu

Sekali lagi, bagi sang pecinta, perpisahan dengan yang dicintai itu adalah musibah yang sangat besar.


Read More
      edit

Sunday, May 3, 2020

Published May 03, 2020 by with 0 comment

Kecintaan kepada Rasulullah Tanda Puncak Keimanan

Abdullah bin Hisyam bercerita, "Kami sedang bersama Nabi Saw. Ia memegang tangan Umar bin Khaththab. Umar berkata: Ya Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari apa pun kecuali dari diriku sendiri. Nabi Saw berkata: Tidak. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, belum sempurna iman kamu sebelum aku lebih kamu cintai dari dirimu sendiri. Umar berkata lagi: Sekarang memang begitu demi Allah. Sungguh engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri. Nabi Saw bersabda: Sekaranglah, hai Umar."

Ali bin Abi Thalib ditanya: Bagaimana kecintaan kalian kepada Rasulullah Saw? Ia menjawab: Demi Allah, ia lebih kami cintai daripada harta kami, anak-anak kami, orangtua kami dan bahkan lebih kami cintai daripada air sejuk bagi orang yang kehausan.  

Kebenaran ucapan Ali itu dibuktikan dalam peristiwa Uhud. Kepada seorang sahabat perempuan Anshar diperlihatkan keluarganya yang syahid di situ --ayahnya, saudaranya dan suaminya. Ia bertanya: Bagaimana keadaan Rasulullah Saw? Orang-orang menjawab: Ia baik-baik saja, seperti yang engkau sukai. Tunjukkan beliau kepadaku supaya aku pandangi beliau. Ketika ia melihatnya, ia berkata: Sesudah berjumpa denganmu ya Rasulullah, semua musibah terasa kecil saja.

Atau ketika Zaid bin al-Datsanah ditangkap oleh kaum musyrikin. Sambil tidak henti-hentinya menerima penganiayaan dan siksaan, ia diseret dari Masjidil Haram ke padang pasir untuk dibunuh. Abu Sufyan berkata kepadanya: Hai Zaid, maukah Muhammad kami ambil dan kami pukul kuduknya, sedangkan engkau berada di tengah keluargamu? Zaid melonjak, seakan-akan kekuatannya pulih kembali. Ia membentak: Tidak, demi Allah. Aku tidak suka duduk bersama keluargaku sementara sebuah duri menusuk Muhammad. Kata Abu Sufyan: Aku belum pernah melihat manusia mencintai seseorang seperti sahabat-sahabat Muhammad mencintai Muhammad.

Kecintaan kepada Rasulullah Saw seperti yang ditampakkan oleh Zaid adalah tanda puncak keimanan. Rasulullah Saw bersabda, "Tidak beriman salah seorang di antara kamu sebelum aku lebih dicintainya daripada anaknya, orangtuanya dan semua manusia." Beliau hanya menegaskan apa yang difirman Allah Swt: 

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ، وَاللهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
 
Katakanlah: “Jika orangtua-orangtua, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah: 24)




Read More
      edit

Tuesday, April 28, 2020

Published April 28, 2020 by with 0 comment

Demi Membahagiakan Rasulullah SAW

Rasulullah SAW pernah menguji kecintaan para sahabat sebelum perang Badar. Kepada para sahabat dihadapkan dua pilihan: Menyerang kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan atau menyerang pasukan Quraisy. Kebanyakan sahabat menghendaki kafilah dagang karena menyerang mereka lebih mudah dan lebih menguntungkan. Nabi SAW menghendaki musuh yang akan menyerang Madinah dan berada pada jarak perjalanan tiga hari dari Madinah. Tuhan berfirman: 
 
وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ
 
Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir. (QS. Al-Anfal: 7)

Rasulullah SAW bersabda: "Tuhan menjanjikan kepada kalian dua pilihan --menyerang kafilah dagang atau menyerang pasukan Quraisy." Abu Bakar berdiri, "Ya Rasulullah, itu pasukan Quraisy dengan bala tentaranya. Mereka tidak beriman setelah kafir dan tidak merendah setelah perkasa." Beliau menyuruh Abu Bakar duduk, seraya berkata, "Kemukakan pendapatmu kepadaku." Umar berdiri dan mengucapkan pendapat yang sama seperti pendapat Abu Bakar. Rasulullah SAW pun menyuruhnya duduk kembali.
 
Kemudian Miqdad berdiri, "Ya Rasulullah, memang itulah Quraisy dengan bala tentaranya. Kami sudah beriman kepadamu, sudah membenarkanmu, dan kami bersaksi bahwa yang engkau bawa itu adalah kebenaran dari sisi Allah. Demi Allah, jika engkau memerintahkan kami menerjang pohon yang keras dan duri yang tajam, kami akan bergabung bersama bersamamu. Kami tidak akan berkata seperti Bani Israil kepada Musa -- Pergilah kamu bersama Tuhamu, berperanglah kalian berdua, kami akan duduk di sini saja. Tetapi kami akan berkata: Pergilah engkau bersama Tuhanmu, berperanglah dan kami akan berperang bersamamu."
 
Wajah Nabi SAW bersinar gembira. Beliau mendoakan Miqdad. Beliau juga meminta pendapat Anshar, kelompok mayoritas yang hadir di situ. Berdirilah Sa'ad bin Mu'adz: "Demi ayah dan ibuku, ya Rasulullah, sungguh kami sudah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan menyaksikan bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran dari Allah. Perintahkan kepada kami apa yang engkau kehendaki. Demi Allah, sekiranya engkau perintahkan kami untuk terjun ke dalam lautan, kami akan terjun ke dalamnya bersamamu. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan kepadamu yang menentramkan hatimu. Berangkatlah bersama kami dalam keberkahan dari Allah."
 
Berangkatlah Rasulullah SAW bersama sahabatnya meninggalkan kota Madinah untuk menyongsong musuh yang bersenjata lengkap. Pada waktu itu turun ayat:
 
كَمَا أَخْرَجَكَ رَبُّكَ مِنْ بَيْتِكَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنَ الْمُؤْمِنِينَ لَكَارِهُونَ
 
Sebagaimana Tuhanmu mengeluarkan kamu dari rumahmu dengan kebenaran, walaupun sebagian dari kaum mukminin membencinya. (QS. Al-Anfal: 5)
 
Sikap Miqdad dan Mu'adz menunjukkan cinta setia mereka kepada Rasulullah SW. Mereka segera menangkap kehendak kekasihnya --Rasulullah SAW-- dan mengesampingkan tujuan-tujuan duniawi demi membahagiakan Nabi SAW yang dicintainya. Mereka juga mengutamakan kehendak Rasulullah SAW di atas kehendak dan keinginan mereka sendiri. 

Wallahu a'lam
Read More
      edit