Tuesday, November 24, 2020
Monday, September 28, 2020
Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, "Pada hari kiamat Allah Ta'ala berfirman: "Keluarkanlah dari neraka orang yang pernah sesaat berdzikir kepada-Ku dan orang yang pernah merasa takut kepada-Ku." (HR Tirmidzi, dari Anas ra).
Pada hari kiamat orang-orang akan ditempatkan sesuai amalnya masing-maisng di surga atau di neraka. Lalu Allah memerintahkan kepada Malaikat Zabaniah untuk mengeluarkan --dari neraka-- hamba-Nya yang pernah beriman dan percaya Allah sebagai Rabb Yang Maha Esa, atau mentauhidkan-Nya, tetapi mereka mencampurkan amal shalih dengan perbuatan maksiat, sehingga dijebloskan ke neraka untuk membakar habis kotoran dosa maksiatnya. Setelah kotorannya itu terbakar habis oleh api neraka, barulah ia dikeluarkan dari api neraka, entah melalui syafaat dari orang yang diberi izin oleh Allah untuk memberi syafaat, atau berkah ampunan Allah secara umum.
Yang dimaksud dengan dzikr adalah ingat dengan ikhlas dan jujur dalam meng-Esakan Allah, dan itu hanya bisa dilakukan oleh mukmin, tidak oleh orang kafir dan musyrik. Nabi Saw bersabda, "Barangsiapa mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAAH dengan ikhlas dari hatinya, niscaya ia masuk surga."
Sedangkan yang dimaksud dengan khauf (takut) di dalam hadits qudsi tersebut adalah menahan nafsu dan semua anggota tubuh dari perbuatan maksiat dengan penuh ketaatan.
Ada banyak ayat al-Qur'an yang menerangkan ihwal takut kepada Allah dan siksa-Nya, lebih dari dua puluh ayat. Di antaranya adalah firman Allah Ta'ala dalam surah an-Nazi'at [79] ayat 40-41: "Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Allah dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat kembali(nya)." Firman Allah dalam surah Ali Imran [3] ayat 175: "Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti dengan pengikut-pengikutnya (kepada lain). Karena itu janganlah kalian takut kepada mereka, tapi takutlah kepada-Ku, jika kalian benar-benar orang yang beriman." Firman Allah dalam surah an-Nahl [16] ayat 50: "Mereka takut kepada Tuhannya yang berkuasa atas mereka dan melaksanakan yang diperintahkan (kepada mereka)."
Semoga Allah memberi taufiq kepada kita untuk berdzikir dan hanya takut kepada-Nya.
Wallahu a'lam
Hudzafah al-Mar'asyi berkata, "Ikhlas adalah berbuat sama antara lahir dan batin (di hadapan orang lain dan di dalam kesendirian."
Dzun Nun al-Mishri berkata, "Ciri ikhlas ada tiga. Pertama, dipuji atau dicela orang lain sama saja baginya. Kedua, ketika beramal, ia tidak melihat dirinya sedang beramal. Ketiga, amal yang ia lakukan hanya demi pahala di akhirat."
Abu Muhammad Sahal bin Abdullah at-Tustari berkata, "Ikhlas adalah seluruh gerak dan diamnya hanya karena Allah, baik dalam kesendirian maupun di keramaian, tidak bercampur dengan kehendak nafsu, keinginan diri dan keinginan duniawi."
Abu Ali ad-Daqqaq berkata, "Ikhlas adalah menjaga diri dari keinginan diperhatikan manusia. Sedangkan shidq (jujur) iadalah bersih hati dari mengikuti hawa nafsu."
Pada diri orang yang ikhlas tidak akan ditemukan riya, dan pada diri orang yang jujur tidak akan ada kesombongan.
Al-Qusyairi berkata, "Minimal shidq adalah sama dalam beramal di kesendirian dan di keramaian."
Sahal at-Tustari berkata, "Seorang hamba yang takabur tidak akan pernah mencium aroma kejujuran."
Imam al-Harits al-Muhasibi berkata, "Orang yang jujur adalah orang yang tidak mempedulikan penghormatan apapun yang bersemi di hati manusia untuk dirinya. Ia tak senang kebaikannya --yang paling kecil sekalipun--diketahui orang lain, tidak pula ia benci orang lain yang melihat kejelekan amalnya."
Menurut al-Qusyairi, jujur merupakan tiang amal, bahkan sendi ibadah. Yang dimaksud jujur karena Allah dalam beribadah ialah sama antara lahir dan batin. Lahirnya karena Allah dan batinnya pun karena Allah. Orang yang jujur dalam beribadah karena Allah adalah orang yang tidak mempedulikan penilaian manusia terhadap dirinya saat ia beramal, tidak suka memperlihatkan kesungguhannya kepada manusia, dan tidak benci kepada orang yang mengecam kesalahannya. Inilah niat ibadah yang benar, ikhlas dan jujur karena Allah. Orang seperti ini akan istiqamah dalam menjalankan ibadah, tidak terpengaruh oleh sanjungan dan celaan orang lain. Inilah niat yang dimaksud di dalam hadits Nabi Saw: "Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya". Yakni, "Segala amal itu berharga sesuai kadar keikhlasan dan kejujuran maksud pelakunya."
Ibnu Abbas ra berkata, "Seseorang akan mendapat pemeliharaan (amal) sesuai kadar niatnya." Dan Abu Ali al-Fudhail bin Iyadh berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya. Beramal karena manusia adalah syirik. Apabila kamu beruntung mendapat pemeliharaan Allah dari keduniaan, itulah yang dinamakan ikhlas."
Wallahu a'lam
Friday, September 4, 2020
Kisah Melenyapkan Bisul
Dari hadits Muhammad Ibnu Uqbah dari Syurahbil dari kakeknya Abdurrahman, dari bapaknya yang berkata, “Aku mendatangi Rasulullah SAW karena bisul yang ada di telapak tanganku.
Aku berkata kepada Nabi, “Wahai Nabi Allah, bisul ini telah menghalangiku dari bertempur di jalan Allah dan menyakitkanku ketika aku memegang kendali kuda.”
Maka Rasulullah SAW pun bersabda, “Mendekatlah kepadaku.”
Aku pun mendekat. Kemudian beliau membuka dan meniup telapak tanganku. Setelah itu beliau meletakkan tangannya di atas bisul itu sambil menepuk-nepuknya. Maka pada saat itu juga bisulku lenyap tanpa bekas.”
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani dan dinukil oleh al-Hafizh al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid, juz 8 halaman 298.
Kisah Muadz ra dan Lengannya yang Putus
Di tengah berkecamuknya perang Badar, Muadz bin Amr bin al-Jamuh ra mendapatkan tebasan pedang di pundaknya dari Ikrimah bin Abu Jahal.
Kemudian Muadz bercerita, “Tebasan pedang itu memutuskan lenganku, namun masih tergantung di badanku karena ada sedikit kulit yang tidak putus. Maka kuselipkan lenganku itu di balik punggungku dan aku terus berperang di sepanjang hari itu. Akan tetapi lama kelamaan gerakanku menjadi terganggu karena keadaan lenganku itu. Maka kuhentakkan lengan itu hingga menjadi lepas dari tempatnya.”
Setelah itu, sebagaimana yang diceritakan kembali oleh Qadhi Iyadh dari Ibnu Wahab dalam kitab al-Mawahib, Muadz membawa lengannya yang lepas itu kepada Rasulullah SAW. Beliau kemudian meletakkan tangan yang sudah lepas itu ke tempatnya semula dan meludahinya. Seketika itu juga lengan Muadz kembali tersambung seperti sedia kala.
Kisah ini diriwayatkan oleh al-Zarqani dan disandarkan kepada Ibnu Ishaq, dan di antaranya sanadnya terdapat al-Hakim.
Meminta Tolong kepada Nabi SAW untuk Menolak Bencana
Ada banyak hadits yang menerangkan tawassul pada sahabat dengan Nabi SAW ketika mereka mengalam musim kemarau yang berkepanjangan. Dan di antaranya adalah sebagai berikut:
Suatu ketika, seorang Arab Badui memanggil-manggil Nabi SAW sewaktu beliau menyampaikan khutbah Jumat.
“Wahai Rasulullah, telah musnah harta benda kami karena kami tidak berdaya untuk mencegahnya. Maka berdoalah kepada Allah untuk kami, agar Dia menurunkan hujan,” kata Arab Badui itu.
Maka Rasulullah SAW pun berdoa sehingga hujan turun dari langit.
Pada hari Jumat berikutnya, Arab Badui itu datang lagi dan berkata, “Harta benda kami porak poranda, rumah kami roboh, hewan ternah kami mati disebabkan oleh derasnya air hujan, sedangkan kami tidak dapat berbuat apa-apa.”
Maka Rasulullah SAW pun berdoa sehingga hujan hanya turun di sekitar kota Madinah.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Istisqa’, pada Bab “Permintaan Rakyat kepada Imam untuk Melaksanakan Shalat Istisqa’ ketika Terjadi Bencana Kekeringan.” Imam Abu Dawud juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang baik dari Aisyah ra. Imam Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini dalam kitab Dalail al-Nubuwwah dengan rangkaian sanad yang bersumber dari Anas ra, yang di dalamnya disebutkan bahwa Arab Badui setelah menyampaikan keluh kesahnya kemudian berkata, “Maka tidak ada lagi tempat kami bergantung kecuali kepadamu, duhai Rasulullah. Dan hendak ke mana lagi manusia bergantung kecuali kepada Rasulullah?” Riwayat mengenai hadits ini juga dapat dilihat dalam kitab Fath al-Bari, jilid 2 halaman 495.
Perhatikanlah bagaimana para sahabat secara majazi telah menisbatkan pertolongan dan manfaat kepada Rasulullah SAW. Demikian pula dengan orang Badui itu sewaktu ia mengatakan, “Tidak ada lagi tempat kami bergantung kecuali kepadamu, duhai Rasulullah.” Namun Rasulullah SAW tidak memusyrikkannya, karena penisbatan kepada Nabi di sini tidaklah bersifat hakiki, melainkan idhafi (relatif).
Mungkin Anda bertanya, “Apakah tindakan Nabi SAW itu disebabkan beliau tidak mengerti firman Allah yang memerintahkan agar manusia hanya bergantung kepada Allah SWT?”
Jawabnya, tentu saja beliau mengerti akan ayat tersebut karena ia diturunkan kepada beliau. Namun ketahuilah bahwa makna hakiki dari tempat bergantung yang diharapkan dapat menolong dan memberi manfaat, hanyalah Allah SWT dan para Rasul-Nya, bukan yang lain selain Allah dan para Rasul-Nya itu.
Mengapa para Rasul itu dikatakan termasuk sebagai tempat bergantung? Karena mereka adalah kelompok pertama yang dapat dijadikan sebagai perantara (wasilah) kepada Allah SWT. Mereka juga merupakan kelompok yang doanya paling didengar oleh Allah dalam memenuhi berbagai kebutuhan dan hajat umatnya.
Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW begitu terkesan dengan ucapan si Arab Badui dalam kisah di atas, hingga beliau bersegera memenuhi harapannya dengan berdoa kepada Allah SWT. Beliau tidak lagi menunda harapan Arab Badui itu hingga Allah mengabulkannya.
Semoga shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Thursday, September 3, 2020
Sesungguhnya ada banyak hadits yang menerangkan bagaimana Rasulullah SAW meluluskan permohonan dan permintaan orang-orang yang memiliki hajat, serta bagaimana beliau membebaskan mereka dari kesulitan. Karena Rasulullah SAW adalah wasilah yang paling utama untuk memohon kepada Allah SWT, baik untuk menolak bencana maupun untuk tercapainya suatu hajat.
Tidak diragukan lagi bahwa Kiamat adalah suatu masa yang paling menakutkan dan mengerikan bagi seluruh manusia. Hari Kiamat adalah masa penantian yang seolah-olah tiada ujungnya. Pada masa itu panas yang memanggang di tengah kumpulan manusia bak pasir di lautan, sementara cucuran keringat menggenang melampaui leher.
Dalam keadaan seperti itu, seluruh manusia akan mencari hamba yang paling disayang Allah untuk menjadi perantara dalam memohon keringanan penderitaan yang sedang mereka alami, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:
"Ketika mereka mengalami penderitaan yang hebat itu, maka mereka pun memohon keselamatan kepada Allah dengan Nabi Adam (sebagai wasilah).”
Dalam hadits di atas Rasulullah SAW menggunakan kata “istaghatsu” yang berarti memohon keselamatan. (Demikian redaksi yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari).
Para sahabat pun memohon pertolongan dan keselamatan kepada Allah dengan menjadikan Rasulullah SAW sebagai wasilah. Mereka juga meminta syafaat kepada beliau dan mengadukan banyak hal kepada beliau, seperti kemiskinan, penyakit, bencana, dililit hutang dan kelemahan fisik yang mereka alami. Bahkan mereka berlindung kepada beliau ketika menghadapi marabahaya dengan keyakinan bahwa pada hakikatnya beliau itu tidak lebih dari seorang perantara (wasilah) dalam mendatangkan manfaat dan menolak mudarat, sedangkan pelaku yang sesungguhnya adalah Allah SWT.
Kisah Abu Hurairah ra dan Penyakit Lupa
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam yang lain dari Abu Hurairah ra, bahwa pada suatu hari beliau mengadu kepada Rasulullah SAW tentang banyaknya hadits Rasulullah yang terlupakan olehnya, sehingga Abu Hurairah ra meminta agar dibebaskan dari penyakit lupa yang dialaminya.
Abu Hurairah ra berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku banyak mendengar sabda-sabdamu, tetapi aku sering lupa, maka aku ingin sekali untuk tidak lupa.”
Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Bentangkanlah surbanmu!”
Abu Hurairah pun membentangkan surbannya. Kemudian Rasulullah SAW meraup-raupkan tangannya ke udara di atas surban itu, kemudian bersabda, “Dekaplah!”
Maka Abu Hurairah mendekap surban itu dan menempelkannya ke dadanya. Dan berkata Abu Hurairah, “Sejak saat itu, aku tidak pernah lupa lagi.”
Jika kita perhatikan hadits di atas, sebenarnya Abu Hurairah ra telah meminta kepada Rasulullah SAW sesuatu yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah SWT, yakni menghilangkan sifat lupa. Lalu, mengapa Rasulullah tidak menolak dan menghukuminya sebagai perbuatan syirik? Jawabnya adalah karena beliau tahu bahwa permintaan seseorang kepada orang-orang yang dianggap memiliki keutamaan di sisi Allah bukanlah permintaan untuk menciptakan sesuatu, dan si pemohon tidak pula berkeyakinan bahwa mereka itu mampu menciptakan dan berbuat seperti Allah SWT.
Ia hanya bermaksud menjadikan mereka sebagai perantara (wasilah), karena mereka memiliki keutamaan dan kekuasaan yang telah Allah berikan kepada mereka, baik dalam bentuk doa maupun kelebihan yang lain yang dikehendaki Allah.
Sebagaimana yang kita baca dalam hadits di atas, Nabi SAW dalam memenuhi permintaan Abu Hurairah, tidak disebutkan bahwa beliau mendoakan Abu Hurairah. Beliau hanya meraup-raupkan tangannya di udara kemudian menumpahkannya ke hamparan surban Abu Hurairah, dan memintanya supaya mendekap surban tersebut. Abu Hurairah ra kemudian mendekap surban itu ke dadanya, dan atas karunia Allah, apa yang dilakukan Nabi SAW itu menjadi sebab terkabulnya permohonan Abu Hurairah ra.
Kisah Qatadah ra dan Bola Matanya
Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa pada suatu hari Qatadah ra terkena anak panah di bagian matanya, yang menyebabkan bola matanya keluar dan menggantung di atas pipinya. Waktu itu para sahabat yang lain bermaksud hendak menolongnya, namun ditolak oleh Qatadah karena belum mendapat izin dari Rasulullah SAW.
Setelah Qatadah meminta izin kepada Rasulullah, ternyata beliau tidak mengizinkan mereka membantu Qatadah. Justru Rasulullah SAW sendiri yang memegang bola mata Qatadah dan memasukkannya kembali ke tempat semula, sehingga sembuhlah mata Qatadah, bahkan lebih baik dari keadaan sebelumnya.
Kisah ini diriwayatkan oleh al-Baghawi, Abu Ya’la, al-Daruquthni, Ibnu Sahir dan al-Baihaqi dalam kitab al-Dalail. Kisah ini juga dinukil oleh al-Imam Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishabah, juz 3 halaman 225, al-Hafizh al-Haitsami dalam kitab Majma’ al-Zawaid, juz 4 halaman 297, dan al-Hafizh al-Suyuthi dalam kitab al-Khashais al-Qubra.
Friday, August 28, 2020
1) Nabi Adam ‘Alayhissalam
Setelah beratus-ratus tahun lamanya Nabi Adam ‘Alayhissalam meminta ampunan dan bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala, maka pada hari yang bersejarah yaitu tanggal 10 Muharram Allah Subhanahu wata’ala telah menerima taubat Nabi Adam ‘Alayhissalam. Inilah salah satu penghormatan kepada Nabi Adam ‘Alayhissalam. Ratusan tahun bertobat. Begitu lama sekali Nabiyullah Adam ‘Alayhissalam melakukan tobat ini.
2) Nabi Idris ‘Alayhissalam
Pada tanggal 10 Muharram, Nabi Idris ‘Alayhissalam telah dibawa ke langit sebagai tanda bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah menaikkan derajat beliau.
3) Nabi Nuh ‘Alayhissalam
Pada tanggal 10 Muharram, perahu Nabi Nuh ‘Alayhissalam mulai berlabuh, karena banjir yang melanda seluruh alam di mana hanya ada 40 keluarga saja yang ikut. Kita ini merupakan anak cucu dari 40 keluarga tersebut, dan ini merupakan penghormatan kepada Nabi Nuh ‘Alayhissalam karena 40 keluarga ini saja yang selamat dan dipilih oleh Allah Subhanahu wata’ala. Selain 40 keluarga itu, mereka adalah orang-orang yang ingkar kepada Nabi Nuh ‘Alayhissalam.
4) Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam
Pada tanggal 10 Muharram, Nabiyullah Ibrahim ‘Alayhissalam diangkat sebagai kekasih Allah (khalilulah) dan juga hari di mana Nabi Ibrahim diselamatkan dari api yang dinyalakan oleh Raja Namrud. Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam diberi penghormatan dengan cara Allah memerintahkan kepada api supaya menjadi dingin dan tidak membakar Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam, hingga selamatlah Nabi Ibrahim ‘Alayhissalam dari kekejaman Namrud. Sungguh sesuatu yang di luar nalar manusia, namun begitulah adanya, api dicipta oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Allah sajalah yang mampu menundukkannya.
5) Nabi Daud ‘Alayhissalam
Pada tanggal 10 Muharram, Allah Subhanahu wata’ala menerima taubat Nabi Daud ‘Alayhissalam. Seperti riwayat yang telah ada bahwa Nabi Daud ‘Alayhissalam ini sudah memiliki istri 99 orang, namun karena masih ingin memiliki istri lagi, maka istri orang hampir saja direbutnya. Untung saja Nabi Daud ‘Alayhissalam segera ditegur oleh Malaikat yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala. Malaikat ini menyamar sebagai manusia bisa dan menyindir atas perbuatan Nabi Daud Alayhissalam. Oleh karenanya, sadarlah Nabi Daud ‘Alayhissalam atas perbuatannya dan memohon ampunan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sebagai penghormatan kepada Nabi Daud ‘Alayhissalam, maka Allah Subhanahu wata’ala mengampuni beliau pada tanggal 10 Muharram.
6) Nabi Isa ‘Alayhissalam
Pada tanggal 10 Muharram, Allah Subhanahu wata’ala mengangkat Nabi Isa ‘Alayhissalam ke langit. Dan Allah Subhanahu wata’ala menukar Nabi Isa ‘Alayhissalam dengan Yahuza. Ini adalah suatu bentuk penghormatan kepada Nabi Isa ‘Alayhissalam dari kekejaman kaum Bani Israil.
7) Nabi Musa ‘Alayhissalam dengan Tongkat yang Menjadi Ular Besar
Pada tanggal 10 Muharram, Allah Subhanahu wata’ala telah menyelamatkan Nabi Musa dari kekejaman Raja Fir'aun dengan mengaruniakan mukjizat. Mukjizatnya adalah tongkat yang dapat menjadi ular besar yang memakan semua ular-ular para ahli sihir Fir'aun.
8) Nabi Musa ‘Alayhissalam dengan Tongkat Membelah Lautan
Pada tanggal 10 Muharram, Nabi Musa ‘Alayhissalam diberi mukjizat untuk membelah lautan untuk dilalui tentara Nabi Musa ‘Alayhissalam dan pada tanggal itu pula Fir'aun ditenggelamkan di tengah lautan. Mukjizat yang dikaruniakan Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Musa ‘Alayhissalam ini merupakan satu penghormatan kepada Nabi Musa ‘Alayhissalam. Nabi Musa ‘Alayhissalam dengan Haman dan Qarun. Pada tanggal 10 Muharram, doa Nabi Musa as untuk mengubur semua harta Qarun dikabulkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.
9) Nabi Yunus ‘Alayhissalam
Pada tanggal 10 Muharram Nabi Yunus ‘Alayhissalam telah dikeluarkan dari perut ikan Nun setelah berada dalam perut ikan selama 40 hari. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan hukuman secara tidak langsung kepada Nabi Yunus ‘Alayhissalam dengan cara ikan Nun menelannya. Namun pada akhrinya Allah Subhanahu wata’ala menerima tobat beliau dan mengeluarkannya dari perut ikan itu.
10) Nabi Sulaiman ‘Alayhissalam
Pada tanggal 10 Muharram, Allah Subhanahu wata’ala telah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman. Tanggal itu merupakan suatu penghormatan kepada beliau. Akhirnya sebagai bentuk rasa syukur, Nabi Sulaiman berpuasa dan beriibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Sunday, July 12, 2020
Saturday, July 11, 2020
Sunday, June 28, 2020
Wallahu a'lam








