Saturday, March 12, 2022
Thursday, December 16, 2021
Abu Bakar ra menjawab, "Karena aku sangat lapar. Dari mana kamu memperoleh makanan ini?" Budak itu menjawab, "Dahulu aku pernah berpapasan dengan suatu kaum di masa jahiliyah, lalu aku melakukan jampi-jampi kepada mereka, dan mereka berjanji untuk memberiku sesuatu. Nah, hari ini aku bertemu dengan mereka lagi, dan temyata mereka sedang mengadakan pesta sehingga mereka pun memberiku makanan ini."
Abu Bakar berkata, "Kamu nyaris menghancurkanku."
Kemudian Abu Bakar ra memasukkan tangannya ke tenggorokannya agar muntah, namun tidak kunjung keluar. Lalu seseorang berkata kepadanya, "Makanan tidak bisa keluar kecuali dengan air."
Lalu dia meminta diambilkan sebaskom air dan meminumnya hingga muntah. Lalu seseorang berkata, "Semoga Allah merahmatimu. Semua ini hanya karena sesuap makanan?"
Dia menjawab, "Seandainya dia tidak bisa keluar kecuali bersama nyawaku, niscaya aku akan mengeluarkannya. Aku mendengar Rasulullah Saw bersabda,
كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
'Setiap jasad yang tumbuh dari makanan yang haram, maka neraka lebih pantas untuknya'. Karena itu, aku takut sekiranya ada bagian dari tubuhku yang tumbuh dari sesuap makanan ini."
Tuesday, December 14, 2021
Monday, November 1, 2021
Disebutkan dalam sebuah riwayat:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَةُ وَالْفَرَاغُ
Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Dua nikmat yang sering membuat banyak manusia menjadi lalai adalah nikmat sehat dan waktu luang." (HR Imam al-Bukhari, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan an-Nasa'i)
Menurut Imam Ibnu Baththal seseorang dikatakan memiliki waktu luang ketika ia hidup dalam kecukupan dan sehat secara jasmani. Tatkala ia berada dalam dua kondisi itu seyogyanya ia waspada jangan sampai terlalaikan dari bersyukur keharibaan Allah atas anugerah nikmat yang telah diberikan kepadanya. Dan, salah satu cara bersyukur yang bisa ia lakukan adalah dengan mempergunakan nikmat itu untuk menaati Allah dan menjauhi segala laranganNya.
Oleh karena itu, barangsiapa yang tidak bisa melaksanakan hal tersebut maka ia termasuk dalam kelompok orang yang lalai, dan sungguh di antara manusia jauh lebih banyak yang lalai daripada yang mengingat Allah Swt dengan menaatiNya. Hal ini bisa disinyalir dari ungkapan Rasulullah Saw di atas: كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ (banyak orang).
Sejatinya dunia adalah ladang akhirat. Perdagangan yang sedang kita lakukan di kehidupan dunia ini akan terlihat hasilnya dengan jelas di akhirat nanti. Barangsiapa yang mengisi waktu luangnya dan masa sehatnya dengan menunaikan berbagai macam ibadah kepada Allah sungguh ia termasuk golongan yang beruntung. Sedangkan yang mengisinya dengan perbuatan maksiat kepada Allah Swt adalah orang yang lalai. Padahal tiada waktu luang kecuali berakhir dengan kesibukan, dan tiada masa sehat melainkan akan berakhir dengan kondisi sakit. Seandainya keduanya tidak ada, maka yang tersisa hanyalah usia tua yang penuh dengan kelemahan.
Di dalam sebuah syair dikatakan:
"Seorang anak muda merasa senang dan nyaman dengan kondisi sehat
dan umur panjang,
namun lihatlah apa yang diperbuat oleh kondisi sehat itu?
la mengembalikan pemuda tersebut setelah merasa tenang dan sehat
Kembali saat dia tak bisa lagi berdiri dan membawa beban."
Wallahu a'lam
Thursday, July 15, 2021
1. Dzikrullah dan Tilawatil Qur'an.
Dengan senantiasa dzikrullah (menyebut dan mengingat Allah) bagi seorang hamba manfaatnya sangatlah besar. Sebagaimana Dia berfirman: "Ingatlah, bahwa hanya dengan selalu mengingat Allah, hati menjadi tentram." (QS. Ar-Ra'du:28). Syaikh Ibnul Qoyyim berkata: ”Sesungguhnya dzikir adalah makanan pokok bagi hati dan ruh, apabila hamba Allah gersang dari siraman dzikir, maka jadilah ia bagaikan tubuh yang terhalang untuk memperoleh makanan pokoknya." Dan Imam Hasan al-Bashri berkata: "Lunakkanlah hatimu itu dengan berdzikir".
Kendatipun dzikrullah adalah salah satu bentuk ibadah yang termudah dan ringan, akan tetapi pahala dan keutamaan yang didapatkan melebihi amalan-amalan lainnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya mengingat-ingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya daripada ibadat yang lain)." (QS. Al-Ankabut: 45).
Sebaik-baik dzikir adalah membaca Al-Qur'an, karena Al-Qur'an mengandung berbagai khasiat penyembuh hati dari semua penyakit kegundahan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman; "Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman." (QS. Yunus: 57).
2. Beristighfar
Hakikat istighfar adalah untuk memohon maghfirah (ampunan), dan batasan maghfirah adalah penjagaan dari keburukan yang diakibatkan dari dosa-dosa. Dan barangsiapa yang meminta ampun kepada-Nya selama memenuhi syaratnya pasti Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan ampunan. Firman-Nya: "Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia meminta ampun kepada Allah niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa’: 110).
Hendaklah seseorang itu memperbanyak istighfar kepada-Nya dimanapun berada, sebab seseorang itu tidak tahu di mana tempat maghfirah Tuhannya turun. sebagaimana Rasulullah Saw bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku selalu mohon ampunan kepada Allah sehari semalam lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari).
‘Aisyah berkata: "Beruntunglah orang yang mendapat dalam buku catatan amal perbuatannya memuat istighfar yang banyak." Qatadah berkata: "Sesunggunhya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepadamu tentang penyakitmu dan obat penangkalnya. Adapun penyakitmu adalah dosa-dosa, sedangkan obatnya adalah istighfar."
3. Do'a
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku niscaya Aku perkenankan bagimu." (QS. Al-Mukmin: 60).
Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan kepada kita agar berdo'a kepada-Nya dan Dia akan memenuhi permohonan hamba-Nya. Berkenaan dengan ini Rasulullah Saw bersabda: "Tidaklah seorang Muslim pun berdo'a dengan do'a yang di dalamnya tidak berisi dosa dan pemutus tali silaturahim melainkan Allah memberikan kepadanya salah satu dari tiga perkara: Allah akan menyegerakan permohonannya itu (diperoleh di dunia) atau Allah akan menyimpannya untuknya di akhirat kelak, atau Dia memalingkan darinya keburukan yang setimpal dengan do'anya itu." (HR. Ahmad). Dalam ayat yang sama Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (tidak mau berdo'a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan terhina." (QS. Al-Mukmin: 60). Orang-orang yang tidak mau berdo'a kepada-Nya maka mereka yang dikatakan Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah termasuk orang yang sombong, dan mereka mendapatkan murka dari-Nya, sebagaimana Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang tidak mau meminta (memohon kepada Allah), maka Allah murka terhadap-Nya." (HR. Tirmidzi).
4. Bershalawat kepada Nabi Saw
Allah Subhanahu wa Ta'ala bershalawat sepuluh kali, bagi orang bershalawat kepada rasul-Nya sekali. Sebagaimana sabda beliau Saw: ”Barangsiapa yang bershalawat untukku satu kali, maka Allah akan bershalawat sepuluh kali." (HR. Muslim). Karena yang demikian itu, setiap satu kebaikan nilainya akan dilipatgandakan sepuluh kalinya, dan bershalawat untuk Nabi saw termasuk kebaikan yang tinggi.
5. Qiyamullail
Jika seseorang tetap melakukan shalat malam, maka wajahnya akan bercahaya dan dia juga akan merasakan kenikmatan beribadah dalam hatinya, sebagaimana yang dituturkan oleh para Ulama Salaf berikut ini:
Abu Sulaiman berkata: “Malam hari bagi orang yang sering beribadat di dalamnya, itu lebih nikmat daripada permainan bagi mereka yang suka hidup bersantai-santai. Seandainya tanpa malam aku tak suka hidup di dunia ini.”
Ibnul Mukandir: ”Bagiku kelezatan dunia ini hanya ada pada tiga perkara, qiyamullail, bersilaturahim dengan saudaraku dan shalat berjama’ah.”
Wallahu a'lam
Monday, July 12, 2021
Setiap kemaksiatan adalah racun dan yang merupakan penyakit dan perusak kesucian hati. Dan racun-racun hati yang paling banyak ditemukan dan reaksinya cukup keras bagi kelangsungan hidup hati ada empat macam, yaitu:
1. Berlebihan dalam berbicara
Banyak berbicara adalah salah satu faktor yang menyebabkan hati menjadi keras, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: "Janganlah memperbanyak kata (bicara) selain dzikrullah, karena banyak bicara selain dzikrullah menjadikan hati keras. Dan orang yang terjauh dari Allah adalah yang berhati keras." [HR. Tirmidzi dari Ibnu Umar].
Kemudian juga dengan banyak berbicara terkadang membuat seseorang mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan dan tanpa dipertimbangkan sebelumnya, sehingga melahirkan kerugian dan penyesalan. Umar bin Khattab ra pernah berkata: “Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak kesalahannya, sehingga nerakalah sebaik-baik tempat bagi mereka.”
Hal ini ditegas juga dalam sebuah hadits, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar mengucapkan kata-kata tanpa dipikirkan yang menyebabkan ia tergelincir ke dalam neraka lebih jauh antara timur dan barat.:” (Muttafaq ‘alaihi, dari Abu Hurairah ra)
2. Berlebihan dalam memandang sesuatu
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kepada setiap mukmin dan mukminah untuk menundukkan pandangannya yang demikian itu lebih suci bagi hati-hati mereka. Dan juga mereka akan merasakan manisnya iman, sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa yang menahan pandangannya karena Allah, maka dia akan diberikan oleh Allah rasa manisnya iman yang ia rasakan dalam hatinya, sampai di mana ia manghadap kepada-Nya.” (HR. Ahmad).
Sekarang bagaimana jika perintah itu dilanggar, maka jelas akan menyebabkan fitnah bagi hati pelakunya, yaitu rusaknya kesucian hati itu sendiri oleh angan-angan dan keindahan semu yang dibisikkan setan, lupa terhadap hal yang menjadi kemaslahatan. Lalu ia berbuat melampaui batas sehingga hilanglah akal sehatnya dan menyebabkan ia menjadi pengabdi hawa nafsu. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
"Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melampaui batas." (QS. Al-Kahfi: 28).
3. Berlebihan dalam makan
Sedikit makan dapat melunakkan hati, menajamkan otak, merendahkan nafsu birahi dan melemahkan nafsu amarah. Sedangkan bila banyak makan, bahkan sampai kekenyangan akan berakibat sebaliknya.
Dari Miqdam bin Ma’di Karib dia berkata, bahwa ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: “Anak Adam tidak memenuhi wadah yang lebih buruk, daripada ia memenuhi perutnya. Cukuplah baginya beberapa suap saja untuk menguatkan tulang rusuknya. Jika memang tidak memungkinkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Alangkah banyak kemaksiatan yang tersulut akibat makan yang berlebihan dan menghalangi ketaatan manusia kepada Sang Khalik. Karenanya siapa yang mampu menjaga perutnya dari sifat serakah, maka ia benar-benar membuktikan bahwa dirinya mampu menjaga diri dari keburukan yang lebih fatal lagi.
Ibrahim bin Adham berkata: "Barangsiapa mampu mengendalikan perutnya, maka ia mampu pula mengendalikan agamanya, dan barangsiapa yang mampu menguasai rasa lapar (tidak makan berlebihan) maka ia dapat menguasai akhlak-akhlak yang baik, sebab maksiat kepada Allah itu jauh dari orang-orang yang lapar (yang mampu menahan syahwat perutnya).”
4. Berlebihan dalam bergaul
Betapa tragis suatu pergaulan yang dapat merampas kenikmatan yang telah ada, karenanya timbul benih-benih permusuhan dan kebencian yang terpendam sehingga menyesakkan rongga-rongga dada. Namun rasa itu sulit dihindari terutama oleh hati yang sudah terluka. Demikian juga berlebih-lebihan dalam pergaulan dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Seyogyanya bagi seorang hamba dapat mengambil hikmah dari setiap pergaulan. Usahakanlah untuk bersikap bijak dan dapat menempatkan diri dalam menghadapi berbagai karakter teman sepergaulan. Di mana karakter-karakter tersebut ada empat golongan:
- Terhadap orang yang jika kita membutuhkan bergaul dengannya, laksana kebutuhan kita terhadap makanan, kita tidak dapat lepas darinya dalam sehari semalam. Mereka itu adalah Para Ulama yang memiliki cakrawala pengetahuan yang luas tentang ilmu agama, mengetaui tipu daya setan dan segala macam bentuk penyakit hati.
- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya seperti kebutuhan kita akan obat, Kita mengharapkannya di kala kita sedang sakit saja, tetapi bila badan kembali sehat maka mereka tidak kita butuhkan lagi. Mereka ini adalah dari orang yang kehadirannya kita nantikan berkaitan dengan masalah kemaslahatan hidup dan kehidupan, seperti untuk saling bekerjasama atau sebagai mitra kerja dalam berniaga, bertani, bermusyawarah dan masalah-masalah lain dalam hal muamalah.
- Terhadap orang yang jika kita bergaul dengannya, tidak ubahnya seperti penyakit. Golongan ini terbagi menjadi beberapa jenis dan tingkatan, bergantung pada intesitasnya terhadap jiwa kita. Di antara mereka adalah yang bersifat individualis dan egoistis. Jika bergaul dengannya hendaklah kita waspada dan berlaku bijak dalam menghadapinya. Hal ini bukan berarti kita harus menghindar dan tidak mau bergaul dengannya, tetapi jagalah jangan sampai diri kita terbawa oleh pengaruh kepribadiannya, karena akan merugikan kita dalam hal agama dan dunia. Oleh karena itu, sebaiknya orang-orang yang masuk dalam tipe ini hendaklah dijauhi jika ingin selamat agama dan dunia kita.
Wallahu a'lam
Saturday, July 10, 2021
Ketiga, Qalbun Maridl
Qalbun Maridl (hati yang sakit) adalah hati yang sebenarnya memiliki kehidupan, namun di dalamnya tersimpan benih-benih penyakit berupa kejahilan. Hati yang sedang dicekam sakit akan mudah menjadi parah apabila tidak diobati dengan hikmah dan mau'idzah. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:
لِيَجْعَلَ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ فِتْنَةً لِلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ
"Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan setan, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya." (QS. Al-Hajj: 53).
Karena sesungguhnya apa yang disisipkan oleh setan ke dalam hati manusia itu, akan membuat sesuatu menjadi syubhat (sesuatu yang meragukan), seperti penyakit ragu. Begitu hati menjadi lemah karena penyakit yang diidap, maka setanpun mudah merasuk ke dalam hati lalu menghidupkan fitnah dalam hati tersebut. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ
وَالْمُرْجِفُونَ فِي الْمَدِينَةِ لَنُغْرِيَنَّكَ بِهِمْ ثُمَّ لَا
يُجَاوِرُونَكَ فِيهَا إِلَّا قَلِيلًا
"Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafiq, orang-orang yang berpenyakit di dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka. Kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar." (QS.Al-Ahzab: 60).
Namun demikian hati orang-orang yang seperti itu belumlah mati sebagaimana hati orang-orang kafir dan orang-orang munafiq, akan tetapi bukan pula hati sehat, seperti sehatnya hati orang-orang yang beriman. Sebab di dalam hati mereka terdapat penyakit syubhat dan syahwat. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:
فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ
"Sehingga berkeinginanlah orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya." (QS. Al-Ahzab: 32).
Ciri-ciri Qalbun Maridl
Boleh jadi hati manusia sedang sakit, bahkan tanpa disadari. Lebih tragis lagi bahwa hatinya sebenarnya mati, namun si empunya tidak menyadari.
Tanda-tanda spesifik hati yang sedang sakit atau mati adalah jika ia tidak merasa sakit dan pedih oleh goresan-goresan pisau kemaksiatan, Hal itu disebabkan karena hatinya telah rancu dan teracuni, sehingga tidak dapat lagi membedakan antara nilai kebenaran dan aqidahnya yang batil. Hal ini seperti ditafsirkan oleh Mujahid dan Qatadah tentang firman Allah yang berbunyi: "Fi Quluubihim Maradhun" (QS.Al-Baqarah: 10), artinya: "Dalam hati mereka terdapat penyakit." “Ayat ini menunjukkan adanya keraguan yang tumbuh dalam hati manusia tentang kebenaran.” Bahkan ia melihat kebenaran bagai sesuatu yang sangat bertentangan dengan kehendaknya. Kebenaran itu dilihat dari sisi lain yang terasa merugikan dirinya, sehingga dalam kondisi seperti ini ia lebih menyukai kebatilan dan kemudharatan.
Faktor-faktor Penyebab Sakitnya Hati
Penyebab timbulnya penyakit di hati adalah dikarenakan banyaknya fitnah yang selalu dibidikkan pada hati. Fitnah-fitnah tersebut dapat berupa: fitnah syahwat, di mana reaksinya amat keras sampai dapat merancukan niat dan iradat (kehendak) seseorang. Dan yang lain adalah fitnah syubhat (keragu-raguan) yang menyebabkan kacaunya persepsi dan i’tiqad (keyakinan).
Wallahu a'lam
Friday, July 9, 2021
Kedua, Qalbun Mayyit
Qalbun Mayyit (hati yang mati) adalah kebalikan dari hati yang sehat, hati yang mati tidak pernah mengenal Tuhannya, tidak mencintai atau ridha kepada-Nya, dan ia berdiri berdampingan dengan syahwatnya dan memperturutkan keinginan hawa nafsunya, walaupun hal ini menjadikan Allah Subhanahu wa Ta'ala marah dan murka akan perbuatannya. Ia tidak peduli lagi apakah Allah ridha atau murka terhadap apa yang dikerjakannya, sebab ia memang telah mengabdi kepada selain Allah. Jika mencintai didasarkan atas hawa nafsu, begitu pula dengan membenci dan memberi. Hawa nafsu lebih didewa-dewakan daripada rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Hati jenis ini adalah hati yang jika diseru kepada jalan Allah, maka seruan itu tidaklah bermanfaat sedikitpun, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menutup hati mereka. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ ۖ وَجَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا ۚ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا ۚ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
"Dan di antara mereka ada orang yang mendengar (bacaanmu), padahal Kami telah meletakkan tutup di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: "Al-Qur'an itu tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu". (QS. Al-An'am:25).
Ayat ini menunjukkan, bahwa ada manusia yang tidak mempergunakan hatinya untuk memahami ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan tidak mempergunakan telinganya untuk mendengar perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Juga tidak mau melihat kebenaran yang telah disampaikan. Seperti difirmankan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala:
وَقَالُوا قُلُوبُنَا فِي أَكِنَّةٍ مِمَّا تَدْعُونَا إِلَيْهِ وَفِي آذَانِنَا وَقْرٌ وَمِنْ بَيْنِنَا وَبَيْنِكَ حِجَابٌ فَاعْمَلْ إِنَّنَا عَامِلُونَ
"Mereka berkata: Hati kami tertutup dari ajakan yang kamu serukan kepada kami, dalam telinga kami ada sumbatan, dan di antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu, sesungguhnya kami bekerja pula." (QS. Fushilat:5).
Allah Subhanahu wa Ta'ala akan membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka sedikitpun tidak akan mendapatkan cahaya iman.
مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ. صُمٌّ بُكْمٌ عُمْيٌ فَهُمْ لَا يَرْجِعُونَ
"Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka. Dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka mereka tidaklah akan kembali (kepada jalan yang benar).” (QS. Al-Baqarah:17-18).
Bersambung...
Monday, July 5, 2021
Nabi saw bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila daging itu baik maka baiklah tubuh manusia itu, akan tetapi bila daging itu rusak maka rusak pula tubuh manusia. Ketahuilah bahwa sesungguhnya segumpal daging itu adalah hati." [HR. Bukhari-Muslim].
Pengelompokan Hati Manusia
Hati manusia terbagi menjadi tiga klasifikasi: Qalbun Shahih (hati yang suci), Qalbun Mayyit (hati yang mati), dan Qalbun Maridh (hati yang sakit).
Pertama, Qalbun Shahih
Yaitu hati yang sehat dan bersih (hati yang sehat) dari setiap nafsu yang menentang perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala, dan dari setiap penyimpangan yang menyalahi keutamaan-Nya. Sehingga ia selamat dari pengabdian kepada selain Allah, dan mencari penyelesaian hukum pada selain rasul-Nya. Karenanya, hati ini murni pengabdiannya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, baik pengabdian secara iradat (kehendak), mahabbah (cinta), tawakkal (berserah diri), takut atas siksa-Nya dan mengharapkan karunia-Nya. Bahkan seluruh aktivitasnya hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta'ala semata. Jika mencintai maka cintanya itu karena Allah, dan jika membenci maka kebenciannya itupun karena Allah, jika memberi atau bersedekah, hal itu karena-Nya dan jika tidak memberi, juga karena Allah. Dan tidak hanya itu saja, tapi diiringi dengan kepatuhan hati dan bertahkim kepada syari'at-Nya. ia mempunyai landasan yang kuat dan prinsip tersendiri dalam menjadikan Muhammad saw sebagai suri tauladan dalam segala hal. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Hujurat:1].
Ciri-ciri Qalbun Shahih
1. Apabila hati pergi meninggalkan dunia menuju dan berdomisili di alam akhirat, sehingga seakan ia termasuk penduduknya. Ia datang ke dunia fana ini bagaikan seorang asing yang kebetulan singgah sebentar sebelum meneruskan perjalanan menuju alam akhirat. Sebagaimana telah diwasiatkan Nabi saw kepada Abdullah bin Umar : "Jadikanlah dirimu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang sedang menyeberangi suatu jalan." [HR. Bukhari].
2. Jika ia tertinggal wirid, atau sesuatu bentuk peribatan lainnya, maka ia merasakan sakit yang tiada terperi ,melebihi sakitnya orang yang tamak dan kikir saat kehilangan barang kesayangannya.
3. Ia senantiasa rindu untuk dapat mengabdikan diri di jalan Allah, melebihi keinginan orang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu'adz berkata: "Barangsiapa yang merasa berkhidmat kepada Allah, maka segala sesuatupun akan senang berkhidmat kepadanya, dan barang siapa tentram dan puas dengan Allah maka orang lain tentram pula ketika melihat dirinya."
4. Apabila tujuan hidupnya hanya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
5. Bila sedang melakukan shalat, maka sirnalah semua kegundahannya dan kesusahan kaena urusan dunia. Sebab di dalam shalat telah ia temukan kenikmatan dan kesejukan jiwa yang suci.
6. Sangat menghargai waktu dan tidak menyia-nyiakanya, melebihi rasa kekhawatiran orang bakhil dalam menjaga hartanya.
7. Tidak pernah terputus dan futur (malas) untuk mengingat Allah Idan berdzikir kepada-Nya.
8. Lebih mengutamakan pada pencapaian kualitas dari suatu amal perbuatan daripada kuantitas. ia lebih condong pada keikhlasan dalam beramal, mengikuti petunjuk syari'at Rasulullah Saw di samping ia selalu merenungi segala bentuk karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mengakui tentang kelalaian dan keteledorannya dalam memenuhi hak-hak Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bersambung...
Sunday, July 4, 2021
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan kepada manusia janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu maka janganlah katakan kepada keduanya ‘ah’ dan janganlah kamu membentak keduanya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan katakanlah,”Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil.”
Al Hafidz Ibnu Katsir telah menerangkan ayat tersebut sebagai berikut:
“Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada semua manusia untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tidak menyekutukan dengan yang lain. “Qadla” di sini bermakna perintah sebagaimana yang dikatakan Imam Mujahid, wa qadla yakni washa (Allah berwasiat). Kemudian dilanjutkan dengan “wabil waalidaini ihsana” hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya.
Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya dalam keadaan lanjut usia, “fa laa taqul lahuma uffin” maka janganlah berkata kepada keduanya ‘ah’ (‘cis’ atau yang lainnya). Janganlah memperdengarkan kepada keduanya perkataan yang buruk. “Wa laa tanhar huma” dan janganlah kalian membenci keduanya. Ada juga yang mengatakan bahwa “wa laa tanhar huma ai la tanfudz yadaka alaihima” maksudnya adalah janganlah kalian mengibaskan tangan kepada keduanya. Ketika Allah melarang perkataan perkataan dan perbuatan yang buruk, Allah juga memerintahkan untuk berbuat dan berkata yang baik. Seperti dalam firman Allah Ta’ala “wa qul lahuma qaulan karima” dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia, yaitu perkataan yang lembut dan baik dengan penuh adab dan rasa hormat. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan kasih sayang, hendaklah kalian bertawadlu’ kepada keduanya. Dan hendaklah kalian berdoa, “Ya Allah sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi dan mendidikku di waktu kecil,” pada waktu mereka berada di usia lanjut hingga keduanya wafat.” [Tafsir Ibnu Katsir Juz III hal 39-40 Cet. I. Maktabah Daarus Salam, Riyad. Th. 1413H]
Wallahu a'lam
Wednesday, April 21, 2021
Setelah bangun, orang suruhan Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, "Tuanku yang tinggal di istana ini ingin bertemu denganmu." Begitu datang, Ibrahim bin Adham berkata, "Wahai anak muda, engkau menyantap remah-remah roti, apakah engkau lapar?" Orang itu menjawab, "Ya". Ibrahim bin Adham bertanya lagi, "Apakah engkau kenyang?" Ia menjawab, "Ya." Ibrahim bin Adham bertanya lagi, "Lalu engkau tidur dengan pulas tanpa beban apapun?" Ia menjawab, "Ya." Ibrahi bin Adham berkata dalam hati, "Apa yang telah aku perbuat selama ini dengan dunia? Memuaskna nafsu belaka."
Selanjutnya Ibrahim bin Adham mengembara dalam misi pencarian Allah. Ia ingin hijrah kepada-Nya dengan hati yang bersih dan niat yang tulus. Dalam perjalanan, ia berjumpa dengan seseorang yang berparas tampan, berpakaian menawan, serta wangi. Orang itu menyapanya, "Wahai Ibrahim, dari mana dan hendak kemana engkau?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Dari dunia menuju akhirat." Orang itu bertanya lagi, "Wahai Ibrahim, apakah engkau lapar?" Ibrahim menjawab, "Ya." Orang itu kemudian shalat dua rakaat, kemudian salam. Tiba-tiba di sebelah kanannya tersaji makanan dan di sebelah kirinya tersaji minuman. Lalu, ia berkata, "Makanlah."
Ibrahim bin Adham pun makan sekedar menghilangkan lapar dan haus. Orang itu berkata, "Wahai Ibrahim, bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu. Pikirkan, pahami, jangan bersedih hati, dan jangan terburu-buru, karena terburu-buru itu sifatnya setan. Wahai Ibrahim, jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, Dia akan jadikan hatinya lentera untuk membedakan yang benar dari yang salah, di saat kebanyakan orang susah untuk membedakannya. Wahai Ibrahim, aku akan mengajarkanmu nama Allah yang paling agung. Jika engkau lapar, mohonlah kepada Allah dengan nama itu, niscaya Dia akan mengenyangkanmu. Dan jika engkau haus, mohonlah kepada Allah dengan nama itu, niscaya Dia akan menghilangkan rasa dahagamu. Jika engkau berjumpa dengan orang-orang baik, jadilah engkau tanah bagi mereka, biarkan mereka menginjakmu. Sesungguhnya Allah akan murka dengan murka mereka, dan Allah juga ridha dengan ridha mereka.
Orang itu kemudian berkata lagi, "Ya Allah, tutupilah aku darinya dan tutuplah dia dariku." Setelah itu Ibrahim bin Adham berpisah dengannya dan tak tahu kemana perginya. Ia pun terus melanjutkan perjalanannya. Di telinganya masih terngiang nama Allah yang paling agung yang diajarkan laki-laki itu. Di tengah perjalanan selanjutnya, Ibrahim bin Adham dikejutkan dengan seorang laki-laki yang tampan, berpakaian indah dan wangi yang menepuk pundaknya. Ia berkata, "Wahai Ibrahim, apa yang engkau inginkan dan apa yang engkau jumpai di tengah perjalananmu ini?" Ibrahim menjawab, "Seorang laki-laki dengan ciri-ciri seperti ini, dan ia mengajarkan padaku nama Allah yang paling agung yang dengannya aku meminta kepada-Nya." Orang itu tiba-tiba menangis. Ibrahim bin Adham kemudian berkata, "Demi Allah, siapakah sebenarnya orang itu?" Orang itu menjawab, "Ilyas. Allah mengutusnya kepadamu untuk mengajarkanmu tentang agamamu." Ibrahim kembali bertanya, "Lantas, siapakah engkau?" Ia menjawab, "Aku adalah Khidir."
Begitulah, oleh karena Ibrahim bin Adham hijrah dengan niat tulus karena Allah, yang dipertegas dengan tindakan nyata, maka ia pun berjumpa dengan para wali Allah. Ia pun belajar nama Allah yang paling agung dari mereka. Maka ia berhasil mendapatkan karamah dan maqam yang tinggi berkat niat yang tulus karena Allah Ta'ala.
"Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya. Begitu pula balasan setiap orang tergantung niatnya. Barangsiapa hijrah dengan niat karena Allah dan Rasul-Nya, maka (ia akan mendapatkan balasan) hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya. Namun, barangsiapa hijrah dengan niat karena ingin mendapatkan dunia atau menikahi wanita, maka (balasan) hijrahnya seperti yang ia inginkan." (HR Imam Bukhari dan Muslim)
Thursday, March 18, 2021
Pada suatu hari Rasulullah Saw berziarah ke sebuah pekuburan. Ia berkata: Salam bagimu, wahai penghuni kampung mukmin. Insyaallah kami akan menyusul kalian. Aku rindu sekali untuk berjumpa dengan ikhwan kami. Para sahabat berkata: Bukankah kami ini saudara-saudaramu, ya Rasulullah. Beliau bersabda: Kalian adalah sahabatku. Saudara-saudaraku adalah orang-orang yang belum datang sampai sepeninggalku.
Dalam kesempatan lain, Nabi Saw menjelaskan orang-orang yang dirindukannya itu: "Umat yang paling besar kecintaannya kepadaku adalah manusia yang datang sesudahku. Setiap orang di antara mereka ingin sekali berjumpa denganku walaupun harus mengorbankan keluarga dan hartanya."
Berbahagialah mereka yang berjumpa dengan Nabi Saw di dunia ini --meskipun di dalam mimpi. Berbahagialah mereka yang dijemput Nabi Saw ketika mereka meninggalkan dunia ini. Berbahagialah mereka yang diberi minum di telaga al-Kautsar dari tangan Nabi Saw yang suci sehingga mereka tidak pernah haus lagi selama-lamanya. Berbahagialah mereka yang mencintai Rasulullah Saw dengan sangat, sehingga ia juga merindukan pertemuan mereka.
Ya Rasulullah, jadikan aku salah seorang di antara mereka.
Monday, March 15, 2021
Nama bulan ini berakar dari kata bahasa Arab tasya’aba yang berarti berpencar. Pada masa itu kaum Arab biasa pergi memencar, keluar mencari air. Bulan Sya’ban juga berasal dari kata sya’aba yang berarti merekah atau muncul dari kedalaman, karena ia berada di antara dua bulan yang mulia.
A. Peristiwa yang Terjadi di Bulan Sya’ban
1. Pindah Kiblat
Pada bulan Sya’ban kiblat berpindah dari Baitul Maqdis Palestina ke Ka’bah Mekah al-Mukaramah. Demikian peristiwa itu terjadi setelah turun ayat:
قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ
“Sungguh Kami melihat wajahmu kerap menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkanmu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram.” (QS. al-Baqarah: 144).
2. Turun Ayat Shalawat
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
“Sungguh Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, shalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. al-Ahzab: 56).
B. Keutamaan Bulan Sya’ban
1. Diangkatnya Amal Manusia
عَنْ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ، قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
Dari Usamah bin Zaid ra, ia berkata: “Aku berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya’ban.” Rasulullah menjawab, “Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa.” (HR. An-Nasa’i).
2. Disebut sebagai Bulan al-Qur’an
Imam Ibn Rajab al-Hanbali meriwayatkan dari Anas, “Kaum Muslimin ketika memasuki bulan Sya’ban mereka menekuni pembacaan ayat-ayat al-Qur’an dan mengeluarkan zakat untuk membantu orang yang lemah dan miskin agar mereka bisa menjalankan ibadah puasa Ramadhan.
C. Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban
Aisyah ra berkata:
مَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah Saw berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Aisyah ra berkata:
لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُوْمُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُوْمُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Nabi Saw tidak pernah berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Saw biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ummu Salamah ra berkata:
أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ يَصُوْمُ مِنَ السَّنَةِ شَهْرًا تَامًّا إِلاَّ شَعْبَانَ يَصِلُهُ بِرَمَضَانَ
Thursday, February 25, 2021
Imam An-Nawawi dalam Kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an menyebutkan sejumlah ketentuan waktu dan tempat membaca Al-Qur’an.
اعلم أن قراءة القرآن محبوبة على الإطلاق إلا في أحوال مخصوصة جاء الشرع بالنهي عن القراءة فيها وأنا أذكر الآن ما حضرني منها مختصرة بحذف الأدلة فإنها مشهورة
"Ketahuilah, aktivitas membaca Al-Qur’an dianjurkan secara mutlak (kapan dan di mana saja) kecuali pada beberapa kondisi tertentu yang diterangkan larangannya oleh syara’. Saya akan menyebutkannya sekarang apa yang saya ingat secara ringkas tanpa menyebutkan dalil karena ini sudah masyhur," (Lihat Imam An-Nawawi, At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an, [Indonesia, Al-Haramain: tanpa tahun], halaman 93).
Imam An-Nawawi kemudian menyebutkan secara rinci waktu dan tempat yang sebaiknya dihindari untuk membaca Al-Qur’an karena makruh:
1. Pada saat ruku’.
2. Pada saat sujud.
3. Pada saat tasyahud.
4. Pada saat melakukan rukun shalat lainnya selain pada saat berdiri.
5. Bacaan selain Surat Al-Fatihah saat makmum mendengarkan imam membaca Al-Qur’an pada shalat jahar (maghrib, isya, dan subuh).
6. Pada saat di toilet.
7. Pada saat kantuk.
8. Pada saat tidak cakap membaca Al-Qur’an.
9. Pada saat khutbah.
Imam An-Nawawi menambahkan, pembaca Al-Qur’an juga perlu memperhatikan adab dalam membaca kitab suci tersebut. Misalnya, ia dianjurkan untuk menghentikan sejenak aktivitasnya ketika mengantuk di tengah aktivitas membaca Al-Qur’an. (Imam An-Nawawi: 95).
Berkaitan dengan ini, Imam An-Nawawi mengutip hadits riwayat Imam Muslim yang menganjurkan orang menutup mulut saat menguap.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فَمِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ
"Dari Abu Said Al-Khudri RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Jika salah seorang dari kalian menguap, hendaklah ia meletakkan tangan pada mulutnya karena setan akan masuk,'" (HR Muslim).
Dengan demikian, seseorang perlu menghentikan sejenak aktivitas membaca Al-Qur’annya ketika menguap karena ia dianjurkan untuk menutup mulutnya sesaat. Setelah selesai, ia dapat melanjutkan kembali aktvitas mulianya, membaca Al-Qur’an.
Wallahu a’lam.
Wednesday, November 4, 2020
Friday, October 30, 2020
Monday, October 26, 2020
Kebutuhan hatimu kepada ilmu lebih besar daripada kebutuhan jasadmu kepada makanan dan minuman. Tiada hal yang paling utama di muka bumi selain majelis ilmu. Rasulullah Saw pernah bersabda: "Menghadiri majelis ilmu lebih utama daripada shalat seribu rakaat dan menjenguk seribu orang sakit dan mengiringi seribu jenazah."
Setiap umat Islam perlu untuk menghadiri majelis ilmu, baik ia seorang yang alim, ahli ibadah, bahkan seorang yang bodoh, untuk menyambut rahmat dan duduk bersama orang-orang yang siapa saja duduk bersama mereka tidak akan pernah rugi.
Sayyidinal Imam Abdullah ibn Husain ibn Thahir ra yang dimakamkan di Masileh, yaitu sebuah daerah di wilayah Tarim, Hadhramaut, beliau wafat pada tahun 1172 H, pernah berkata dalam bait-bait syairnya :
Wahai orang yang menjauhi madrasah, ini bukanlah hal yang baik | Majelis kebaikan jangan ditinggalkan karena di dalamnya banyak anugerah
Majelis-majelis kebaikan di dalamnya ada segala keutamaan dan pemberian | Majelis-majelis kebaikan dapat menolak fitnah-fitnah dan cobaan
Majelis-majelis ilmu penuh dengan kebaikan dan segala cabang ilmu | Sungguh beruntung bagi orang yang menjadikannya sebagai harta dan rumahnya
Majelis-majelis ilmu menghilangkan kotoran-kotoran dan kekeruhan (di dalam hati) | Dengannya lahir dan batin kita menjadi saleh
Sungguh ini adalah kebenaran dengan penuh keyakinan bukan sekedar perkiraan atau persangkaan | Betapa banyak ayat-ayat yang telah terkenal bagi orang-orang yang cerdas
Betapa banyak hadits masyhur dari Jaddil Hasan | Sebagian dalam Shahih Bukhari sebagian dalam Shshih Muslim sebagian lagi dalam Kitab Sunan
Menghadiri majelis ilmu lebih baik daripada menjenguk seribu orang mukmin | Mengiringi seribu jenazah orang mukmin atau ibadah shalat seribu rakaat
Mencari ilmu adalah fardhu atas orang Muslim | Dan barangsiapa menempuh jalan-jalan mencari ilmu maka dia akan beruntung
Dan Allah tidak akan menyia-nyiakannya, sedangkan surga tempat terbaik adalah tempat kembalinya | Maka, ketahuilah ajarkanlah dan amalkanlah serta ikhlaskanlah
Bersainglah bersama para pembesar dalam membangun, mendekatlah (dengan mereka) | Jangan kau sia-siakan umur, betapa banyak waktu yang telah engkau sia-siakan
Manfaatkanlah umurmu sebelum waktunya memakai kafan dan kapas | Ya Rabb, wahai Tuhanku berikanlah kepadaku taufik untuk mengerjakan kebaikan
Tutuplah usia kami dengan kebaikan, ketika waktunya untuk pergi telah tiba | Curahkanlah wahai Tuhanku, shalawat dan salam-Mu setiap kali petir menyambar
Kepada utusan-Mu, yaitu Abul Qasim, orang yang telah menyingkap segala fitnah | Dan juga kepada keluarganya, sahabatnya dan pengikut-pengikutnya
Saturday, October 24, 2020
Nabi Saw bersabda: "Kedudukan shalat dalam agama Islam adalah seperti kedudukan kepala pada tubuh manusia. Barangsiapa yang tidak memiliki shalat, maka dia tidak memiliki agama."
Dalam hadits juga disebutkan: "Amal seseorang yang pertama kali dihisab adalah shalat. Jika shalat itu sempurna, maka akan diterima seluruh amal yang lain. Dan jika shalatnya kurang, maka akan ditolak beserta seluruh amal yang lainny."
Dan dalam hadits juga disebutkan: "Barangsiapa meninggalkan shalat, maka dia akan berjumpa dengan Allah, sedangkan Allah marah padanya."
Maka engkau harus bergegeas untuk menunaikan shalat di awal waktu dengan penuh kebahagiaan, kegembiraan dan suka cita, karena shalat adalah penghubung yang mampu menghubungkanmu dengan Tuhan-mu Yang Maha Pemurah. Dalam shalat engkau bisa berbincang dengan Allah Ta'ala dan engkau telah masuk ke dalam lingkaran anugerah-Nya yang agung.
Andai saja engkau tahu dengan siapa engkau sedang mengadu, niscaya engkau tidak akan pernah berpaling dari shalatmu.
Ketahuilah! Bahwa di antara tanda-tanda munafik adalah dia shalat tetapi 'bemalas-malasan', dia berinfak dan bersedekah tetapi tidak ikhlas, dia beramal tetapi riya', dan tidaklah ia berdzikir kepada Allah kecuali hanya sedikit saja.
"Dan mereka tidak mengerjakan shalat melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka melainkan dengan rasa enggan." (QS. at-Taubah: 54)
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya' (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali." (QS. an-Nisa: 142)
Shalat yang terberat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Fajar (Subuh). Andai mereka tahu pahala yang ada di dalam keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak di atas lutut.
Jagalah shalatmu. Ketika kau kehilangannya, kau akan kehilangan yang lainnya.
Wallahu a'lam
Thursday, October 22, 2020














