Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts
Showing posts with label Kisah Inspiratif. Show all posts

Monday, September 9, 2019

Published September 09, 2019 by with 0 comment

Setangkai Mawar Tanda Cinta Untuk Ibu

Seorang lelaki berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dikirimkan kepada sang ibu yang tinggal sekitar 250 km dari tempat tinggalnya. Begitu keluar dari mobilnya, ia mendapati seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Lelaki itu bertanya mengapa gadis kecil itu menangis dan si gadis kecil menjawab, “Aku ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibuku. Tetapi aku hanya mempunyai uang lima ratus rupiah, sedangkan harga mawar itu seribu rupiah.”

Lelaki itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut aku, aku akan membelikan bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesan karangan bunga untuk dikirimkan kepada ibunya. Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri utuk mengantarkan gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya, tentu saja. Maukah Anda mengantarkan aku ke tempat ibuku?”

Kemudian mereka berdua menuju tempat yang ditunjuk gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum. Setibanya di sana, si gadis kecil meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah. Melihat itu, hati laki-laki itu menjadi terhenyuh dan teringat akan sesuatu. Bergegas ia kembali menuju toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang telah dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya. 

Pesan Inspiratif 

Ada kalanya arti penting orang yang kita cintai dan mencintai kita baru sangat terasa saat kita telah berpisah dengannya. Sementara saat-saat bersamanya terasa sebagai sesuatu yang biasa. Sikap kita yang terbaik adalah memanfaatkan sebaik mungkin setiap kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita dalam kebersamaan kita dengan orang yang sangat mencintai kita, yakni sang ibu. Jangan pernah mengabaikan kehadirannya. Berilah selalu yang terbaik untuknya mumpung kita masih bisa bersamanya. Penyesalan karena sikap yang tidak berbakti kepada sang ibu setelah ia berpulang kepada Tuhan, meninggalkan kefanaan dunia ini, akan menjadi penyesalan yang pasti sangat sulit dihapuskan. Berilah yang terbaik buat sang ibu.
Read More
      edit

Wednesday, September 4, 2019

Published September 04, 2019 by with 0 comment

Bersiap Menghadapi Kehilangan

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama dia menganggur. Kondisi keuangan keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya, yaitu sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali ini pun akan membawa keberuntungan, yakni memperoleh sebuah pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya dengan kecewa.

Meskipun begitu ia tetap memungut koin itu dan membawanya ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin ini Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller bank yang ia temui waktu itu memberi saran.

Lelaki itu pun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin kuno yang sudah penyok itu senilai 30 dollar.  Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan ia lakukan dengan rezeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Ia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata bahwa mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples.

Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, ia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan ia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Si pemilik bengkel menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu. Terlihat keraguan di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya, bahkan menawarkan kepadanya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang sudah lama diidam-idamkan istrinya. Ia menukar kayu yang dibawanya itu dengan sebuah lemari dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Ia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan ia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itu pun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa ia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik-baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi.”

Pesan Inspiratif

Memang, ada beragam cara menyikapi kehilangan. Semoga kita termasuk orang yang bijak menghadapi kehilangan dan sadar bahwa sukses hanyalah titipan Tuhan. Benar kata orang bijak, “Manusia tak memiliki apa-apa kecuali pengalaman hidup.” Bila kita sadar bahwa kita tak pernah memiliki apa pun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan saat kehilangan sesuatu menimpa kita?
Read More
      edit

Tuesday, September 3, 2019

Published September 03, 2019 by with 0 comment

Misi Hidup dalam Sebuah Kerja

Seorang wanita tua, bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi mereka menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah. Hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? 

Wanita itu terkekeh menjawab, “Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun.” Tapi bukankan ia bisa menaikkan harga sedikit? 

Sekali lagi ia terkekeh. “Lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? Siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil menunjukkan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

 Pesan Inspiratif

Ah..! betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua di atas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut, bahkan mampu menjadi pengobat luka. Bukankan demikian tugas kita dalam kerja? Menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.
Read More
      edit