Showing posts with label Rahasia Kaya. Show all posts
Showing posts with label Rahasia Kaya. Show all posts

Wednesday, September 18, 2019

Published September 18, 2019 by with 0 comment

Sepuluh Penghalang Terbukanya Pintu Rezeki (Bagian Akhir)

7. Curang dalam Usaha
Abu Hurairah berkata bahwasanya Rasulullah Saw suatu saat melewati seonggok makanan yang dijual di pasar. Lalu Rasulullah memasukkan tangannya ke dalam onggokan makanan itu hingga jari beliau menyentuh makanan yang basah.
Rasulullah bertanya, “Apa ini wahai penjual makanan?”
Penjual makanan menjawab, “Itu kena hujan wahai Rasulullah!”
Rasulullah bersabda, “Mengapa tidak kamu letakkan yang basah itu di atas supaya dapat dilihat orang-orang? Barangsiapa berbuat curang maka ia bukan golongan kami.”[1]

8. Bersikap Bakhil
Allah berfirman:

وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَا آتَاهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ، بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ، سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلِلَّهِ مِيْرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ (١٨٠)

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”[2]

9. Bekerja Hingga Melalaikan Kewajiban
Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلاَ أَوْلاَدُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ، وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُوْنَ (٩)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”[3]

10. Lalai dari Dzikrullah
Allah Swt berfirman:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَإِنَّ لَهُ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى (١٢٤)

“Dan barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”[4]

Ad Dhahak berkata, “Yang dimaksud penghidupan yang sempit adalah penghidupan yang dipenuhi amal buruk serta rezeki yang buruk pula.”
 

[1] HR Imam Muslim.
[2] QS. Ali Imran [3]: 180.
[3] QS. al-Munafiqun [63]: 9.
[4] QS. Thaha [20]: 124.
Read More
      edit

Friday, September 13, 2019

Published September 13, 2019 by with 0 comment

Sepuluh Penghalang Terbukanya Pintu Rezeki (Bagian Kedua)

4. Menyandarkan Nikmat Tidak kepada Pemberi yang Sesungguhnya
Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah tentang ucapan Qarun:

قَالَ إِنَّمَا أُوْتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِيْ، أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا، وَلاَ يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ (٧٨

“Sebagaimana Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”[1]

Merupakan suatu sikap menyombongkan diri bila di antara manusia ada yang berkata bahwa rezeki yang ia dapatkan semata-mata karena ilmu dan keahlian yang dimilikinya. Yang benar adalah bahwa rezeki itu semata-mata karunia dari Allah Ta’ala.

5. Banyak Bersumpah dalam Jual Beli
Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah Saw bahwasanya beliau bersabda:

“Sumpah itu dapat melariskan dagangan tetapi juga menjadi penghilang berkah.”[2]

Abdullah bin Abi Aufa ra berkata ada seseorang yang menawarkan suatu barang di pasar, lalu dia bersumpah atas nama Allah bahwa dia telah memberikan harga yang paling rendah yang belum pernah diberikan, agar ada seorang muslim yang terjebak, lalu turunlah ayat:[3] “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji(nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara pada mereka dan tidak (pula) akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”[4]

6. Mengotori Diri dengan Harta Riba
Allah Swt berfirman:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوْا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا، وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا، فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ، وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ، هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (٢٧٥) يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ، وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيْمٍ (٢٧٦)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”[5]

Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.

Ibnu Mas’ud berkata, “Pemakan riba, yang memberikan harta riba, penulisnya, dan saksinya dilaknat oleh Muhammad Saw.”

Bersambung...


[1] QS. al-Qashash [28]: 78.
[2] HR Imam Bukhari dan Imam Muslim.
[3] QS. Ali Imran [3]: 77.
[4] HR Imam Bukhari.
[5] QS. al-Baqarah [2]: 275-276.
Read More
      edit

Tuesday, September 10, 2019

Published September 10, 2019 by with 0 comment

Sepuluh Penghalang Terbukanya Pintu Rezeki (Bagian Pertama)

Kita semua yakin bahwa Allah adalah Pemilik dan Pembagi rezeki. Dialah Allah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan. Tidak ada setetes air pun yang kita teguk kecuali berasal dari pemberian-Nya. Tidak pula ada satu pun makhluk yang diciptakan-Nya kecuali mendapat bagian rezeki dari-Nya. Namun demikian, rezeki yang berasal dari-Nya itu bisa saja tertahan dan tidak sampai kepada kita.

Tentu saja hal itu tidak terjadi tanpa sebab. Ada sejumlah sebab yang berasal dari kesalahan-kesalahan yang kita perbuat sehingga Allah menahan sebagian rezeki-Nya untuk kita. Berikut akan kami paparkan sepuluh penyebab yang menjadikan pintu rezeki tidak terbuka lebar. Dengan kata lain sepuluh hal berikut ini merupakan penghalang terbukanya pintu rezeki:

1. Melawan Sang Pemberi Rezeki
Allah Swt berfirman:

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (٣) الَّذِيْ أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوْعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (٤)

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”[1]

Ayat ini memerintahkan kita untuk memurnikan ibadah hanya kepada Rabb penguasa Ka’bah, sehingga Allah akan memberikan dua rezeki sekaligus, yaitu dicukupkan kebutuhan dunianya dan diberi rasa aman di akhirat.

2. Berbuat Dosa
Rasulullah Saw bersabda, Sesungguhnya hamba ditahan rezekinya karena dosa yang ia dilakukan.”[2]

Disebutkan pula bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, dan hendaklah tertundanya rezeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.”[3]

3. Mengingkari Nikmat Allah
Allah Saw berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ (٧)

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”[4]

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ (١١٢)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”[5]

Bersambung...

[1] QS. al-Quraisy [106]: 3-4.
[2] HR Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah.
[3] HR Imam Abu Nu’aim, Imam al-Baihaqi, dan Imam al-Bazzar.
[4] QS. Ibrahim [14]: 7.
[5] QS. an-Nahl [16]: 112.
Read More
      edit

Wednesday, September 4, 2019

Published September 04, 2019 by with 0 comment

Takwa Sarana untuk Mendapatkan Rezeki yang Berkah (Bagian Keempat)

5. Firman Allah dalam QS. al-Maidah [5]: 66

وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيْلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوْا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيْرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُوْنَ (٦٦)

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan (al-Qur’an) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan. Dan alangkah buruknya apa yang dikerjakan oleh kebanyakan mereka.”

Saat menjelaskan ayat ini, Ibnu Abbas ra berkata, “Kalau saja mereka mengamalkan Taurat, Injil, dan al-Qur’an dengan baik dan benar, niscaya Allah akan melimpahkan untuk mereka rezeki, baik yang turun dari langit maupun yang keluar dari bumi.”

Sebagai seorang muslim, ayat ini bisa dipahami, seandainya saja kita mau mengamalkan dan menegakkan hukum-hukum Allah yang ada di dalam al-Qur’an dalam kehidupan, niscaya curahan rezeki dari Allah akan mengalir deras kepada kita, dan pada hakikatnya semua itu menjadi jaminan dari Allah akan kesejahteraan hidup kita di dunia dan akhirat.

Dari sejumlah ayat di atas, kesimpulan yang harus menghunjam di sanubari kita adalah jika ingin memperoleh kelapangan rezeki dan mata pencaharian yang membawa berkah, maka hendaklah menghindarkan diri dari segala macam perbuatan yang mengandung dosa dan maksiat, baik lahir maupun batin, serta menunaikan segala yang diperintahkan Allah dan menghindar dari segala yang dilarang oleh-Nya. Menghindarlah dari segala hal yang mengundang kemurkaan Allah, niscaya Dia akan menjadikan Anda sebagai orang yang kaya di sisi-Nya.
Read More
      edit

Saturday, August 31, 2019

Published August 31, 2019 by with 0 comment

Takwa Sarana untuk Mendapatkan Rezeki yang Berkah (Bagian Ketiga)

3. Firman Allah dalam QS. ath-Thalaq [65]: 4

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا (٤)

“…Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.”

Jika Anda taat kepada Allah dengan sebenar-benarnya, menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi segala larangan-Nya dalam seluruh dimensinya, maka Allah berjanji akan memudahkan segala urusan Anda. Urusan yang dimaksud di sini adalah seluruh urusan, baik duniawi maupun ukhrawi, materi maupun nonmateri, pribadi maupun kemasyarakatan, dan sebagainya. Pendek kata, apa pun yang menjadi urusan Anda akan dimudahkan Allah, dengan syarat Anda bertakwa kepada-Nya.

4. Firman Allah dalam QS. al-A’raf [7]: 96

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (٩٦)

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

Ayat ini menjelaskan janji Allah untuk penduduk negeri, di mana pun mereka berada di bumi ini, jika mereka beriman dan bertakwa kepada Allah, maka Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan dari seluruh penjuru langit dan bumi. Negeri yang dimaksud tentunya tidak terbatas sebuah wilayah negara yang luas. Lingkup yang lebih kecil dari itu pun, jika para penghuninya bertakwa kepada Allah, niscaya pintu-pintu keberkahan akan dibukakan Allah untuk mereka.

Ketika menjelaskan makna kalimat “pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”, Ibnu Abbas ra berkata, “Yakni, Allah akan menganugerahkan kebaikan-kebaikan dan berbagai kemudahan bagi mereka dari segala penjuru.”

Lalu, apa makna berkah yang ada dalam ayat tersebut?

Sebagian ulama berkata bahwa yang dimaksud berkah dalam ayat di atas adalah suatu kebaikan yang diberikan Allah secara terus menerus pada makhluk yang dikehendaki-Nya dan menghendaki-Nya. Syaikh Ibnu ‘Asyur berkata, “Berkah artinya kebaikan yang tidak membawa keburukan di dunia muapun di akhirat. Dan, itulah nikmat yang sebaik-baiknya.”

Ada pula yang menuturkan kata ‘berkah’ pada ayat di atas menggunakan bentuk jamak, sehingga maknanya menunjukkan keberkahan Allah yang sangat banyak, yang tersebar di seluruh penjuru langit dan bumi, di alam dunia maupun alam akhirat, sehingga tak ada satu pun makhluk yang mampu menghitung ataupun memperkirakannya.

Yang lain mengatakan bahwa yang dimaksud berkah dari langit ada dua macam: yang berifat lahir dan yang bersifat batin. Berkah dari langit yang bersifat lahir adalah hujan, salju, dan embun. Sedangkan yang bersifat batin adalah cahaya Allah yang tak sedetik pun berhenti menyinari jasmani dan ruhani orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya, sehingga mereka menjalani kehidupan ini dengan damai, tenteram, aman, dan bahagia.

Ada pun yang dimaksud dengan berkah dari bumi adalah segala macam kekayaan yang telah disebarkan Allah di permukaan bumi ini, termasuk di dalamnya yang tersembunyi nun jauh di perut bumi, yang bisa dikelola dan dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan di dunia ini, dan dijadikan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt demi menggapai kebahagiaan hidup di akhirat.
Read More
      edit
Published August 31, 2019 by with 0 comment

Takwa Sarana untuk Mendapatkan Rezeki yang Berkah (Bagian Kedua)

2. Firman Allah dalam QS. ath-Thalaq [65]: 2-3

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ... (3)

“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya..."

Pada ayat di atas, Allah berjanji akan memberikan dua hal pada orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya:

a) Allah akan memberikan jalan keluar padanya.

Ibnu Abbas ra menjelaskan bahwa jalan keluar yang dimaksud adalah jalan keluar dari berbagai kesusahan, baik di dunia maupun di akhirat. Bukankah ini yang kita butuhkan dalam menjalani berbagai persoalan di kehidupan ini? Siapa pun yang hidup di dunia ini niscaya akan berhadapan dengan berbagai persoalan yang terkadang menyulitkan baginya. Pada saat seperti itu yang ia butuhkan adalah jalan keluar. Di sini Allah berjanji akan membantu Anda untuk menemukan jalan keluar dari berbagai masalah yang menyulitkan Anda, jika Anda beriman dan bertakwa kepada-Nya. Bahkan tidak hanya di dunia, namun kelak juga di akhirat.

b) Allah memberi rezeki padanya melalui cara yang tak pernah disangka-sangka.

Yakni, Allah akan memberikan padanya rezeki, baik lahir maupun batin, melalu cara yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Allah Maha Mengetahui berbagai macam cara yang bisa menjadi jalan sampainya rezeki dari-Nya untuk hamba-hamba yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Namun perlu dipahami, bahwa rezeki yang dijanjikan Allah ini adalah sesuai kehendak-Nya, bukan semata-mata menurut kehendak kita. Sesuai waktu yang Dia ingin memberikan rezeki itu kepada kita, bukan semata-mata menuruti waktu yang kita inginkan. Rezeki Allah hendaknya tidak dipahami hanya dalam wujud materi, karena ia memiliki makna yang sangat luas, baik lahir maupun batin. Tubuh yang sehat, pikiran yang tenang, anak-anak yang cerdas, keluarga yang bahagia, dan sebagainya, adalah merupakan bentuk rezeki dari Allah Swt. Sekali lagi, jangan pahami rezeki hanya dalam wujud materi, karena Allah Dzat Yang Maha Kaya, sehingga Dia mampu memberikan berbagai macam rezeki kepada Anda, bahkan terkadang membuat Anda tidak menyadari bahwa Anda telah memperoleh rezeki dari-Nya.
Read More
      edit

Thursday, August 22, 2019

Published August 22, 2019 by with 0 comment

Takwa Sarana untuk Mendapatkan Rezeki yang Berkah (Bagian Pertama)

Tahukah Anda, jika Anda bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, maka Allah akan datang menghampiri Anda untuk mengajarkan kepada Anda segala sesuatu yang belum Anda ketahui, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Jika hal itu Anda alami, niscaya segala macam bentuk kesulitan akan sirna. Apa pun urusan Anda akan dimudahkan Allah. Dalam persoalan rezeki, rezeki Anda akan datang dari segala penjuru tanpa pernah Anda duga sebelumnya; dan rezeki itu membawa serta keberkahan dari Allah Swt.

Jika Anda meragukan hal itu, simaklah ayat-ayat al-Qur’an berikut ini, yang berisi janji Allah bagi orang yang benar-benar bertakwa kepada-Nya.

1. Firman Allah dalam QS. al-Anfal [8]: 29

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ  وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu furqaan. Dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”

Salah satu hal yang dijanjikan Allah akan Dia berikan kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya adalah furqaan. Tahukah Anda apa furqaan itu? Sebagian ulama memaknainya sebagai petunjuk Allah, sehingga orang yang memperolehnya dapat membedakan antara yang hak dan yang batil. Jika Anda mendapatkan furqaan ini, maka Anda akan mengerti cara mana yang mestinya Anda tempuh dalam mencari rezeki. Ada banyak orang yang tidak memperoleh furqaan dari Allah, sehingga ketika ia mencari rezeki yang ditebarkan Allah di permukaan bumi ini, segala macam cara ditempuhnya tanpa mengindahkan antara yang halal dan yang haram.

Sebagian ulama lainnya ada yang memaknai furqaan sebagai pertolongan Allah. Jika Anda bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menolong Anda untuk menggapai apa yang Anda harapkan. Allah akan menolong Anda untuk menemukan sumber-sumber rezeki dan Dia pilihkan cara yang paling baik untuk Anda dalam meraih rezeki itu, sehingga rezeki yang Anda peroleh akan menjadi rezeki yang berkah, yang mencukupi bagi kebutuhan Anda, dan membawa kebaikan bagi sesama.
Read More
      edit

Wednesday, August 21, 2019

Published August 21, 2019 by with 0 comment

Memahami Makna Rezeki

Sebagian besar manusia berpandangan bahwa rezeki adalah uang, penghasilan yang besar, bahan makanan yang lezat, rumah megah, dan kendaraan pribadi yang mewah. Namun, hal ini berbeda dengan pemahaman yang disampaikan kalangan ulama. M. Mutawalli asy-Sya’rawi, misalnya, berkata, “Rezeki adalah segala apa yang bisa dimanfaatkan oleh pemiliknya.”[1] Dengan demikian, bisa dipahami bahwa rezeki adalah segala sesuatu yang dipakai, segala sesuatu yang dimakan, dan segala sesuatu yang dinikmati.

Dengan bahasa lain, rezeki bisa dimaknai sebagai segala anugerah dan karunia Allah Swt. Itu artinya rezeki meliputi uang, pekerjaan, rumah, kendaraan, makanan, kesehatan, ilmu pengetahuan, dan segala sesuatu yang dirasa nikmat dan dapat memberi manfaat bagi pemiliknya.

Setiap anugerah dan kenikmatan yang diberikan oleh Allah kepada setiap makhluk ciptaan-Nya dinamakan rezeki. Setiap makhluk pasti akan memperoleh rezeki. Pengertian rezeki yang dimaksud adalah bersifat umum, baik konkret maupun abstrak, lahir maupun batin. Rezeki yang konkret (lahir) seperti harta kekayaan, pangkat, jabatan, dan sebagainya. Sedangkan rezeki yang abstrak (batin) seperti rasa senang, hati tenang, gembira, dan sebagainya. Besar kecilnya kadar rezeki yang diberikan itu hak Allah Yang Maha Menentukan dan Allah adalah Dzat Yang Maha Suci dari kesalahan.

Allah Swt berfirman:
 
وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
 
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”[2]

Yang dimaksud binatang melata di sini adalah segenap makhluk yang bernyawa. Tidak diragukan lagi tentang banyaknya hewan, beraneka ragam warna dan bentuknya serta jenisnya, di darat, di laut, maupun di udara. Semua itu hanya Allah yang tahu pasti berapa jumlahnya. Dia pula yang tahu pasti bagaimana watak dan tabiatnya, makanannya, dan tempat tinggalnya, dan hal-hal yang sesuai atau serasi dengannya.

Dan termasuk dari bagian dabbah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dalam penciptaan, dan juga paling mulia di sisi Allah Swt. Kedudukan manusia, apakah dia termasuk golongan yang bertakwa atau durhaka, rezekinya tetap berada dalam tanggungan Allah.

Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Swt berfirman: “Wahai hamba-Ku, tiap-tiap dari kalian berada dalam kelaparan kecuali orang-orang yang Kuberi makan. Oleh karena itu, mintalah makan kepada-Ku, niscaya Aku akan memberimu makan.”



[1] Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi, Rezeki (terj.), Jakarta: Gema Insani Press, 1996, Cet. IV, halaman 25.
[2] QS. Hud [11]: 6.
Read More
      edit

Monday, August 19, 2019

Published August 19, 2019 by with 0 comment

Kekayaan Hakiki

Khubaib bin Adi ra berkata, “Kami sedang berada di suatu majelis, tiba-tiba Rasulullah Saw datang dan di kepalanya terdapat bekas air.” Sebagian dari kami berkata, “Kami melihat engkau berjiwa tenang.” Beliau mejawab, “Ya, Alhamdulillah.” Kemudian orang-orang berdiskusi panjang lebar tentang hakikat kekayaan. Maka Rasulullah Saw bersabda: Tidak mengapa kekayaan itu bagi orang bertakwa, dan kesehatan bagi orang yang bertakwa (kepada Allah) lebih baik daripada kekayaan, sedangkan kenyamanan dan kekayaan jiwa termasuk dalam kenikmatan.”[1]

Kekayaan hakiki tidak terletak pada banyaknya harta, deposito, saham, dan properti. Tidak sedikit pemilik harta yang gelisah dan sengsara. Ia berusaha siang malam menumpuk harta, namun kikir bersedekah karena takut miskin. Ia tidak ridha dengan rezeki yang dibagi oleh Allah sehingga miskin hati. Kemiskinan hati inilah yang mendorong manusia mati-matian menumpuk harta dan enggan berjuang di jalan Allah.

Rasulullah Saw pernah bertanya kepada Abu Dzar ra, “Wahai Abu Dzar, apakah banyaknya harta adalah kekayaan?” Abu Dzar ra menjawab, “Ya, benar, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya lagi, “Apakah kamu menganggap sedikitnya harta adalah kemiskinan?” Abu Dzar ra menjawab, “Benar, ya Rasulullah.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya kekayaan itu adalah kekayaan hati dan kemiskinan adalah kemiskinan hati.”[2]

Kemiskinan hati adalah penyakit berbahaya. Orang miskin hati bisa mengumpulkan harta tanpa memedulikan halal atau haram. Tidak jarang mereka berani menipu dalam bisnis, mengurangi timbangan, mencuri dan korupsi. Para sahabat adalah teladan orang-orang yang kaya jiwa. Mereka meletakkan harta di tangan, bukan di hati. Mereka tidak ragu memberikan hartanya untuk jihad fi sabilillah. Pada saat pengiriman jaysul ‘usrah Umar bin Khattab ra memberikan separuh hartanya, Abu Bakar ra menginfakkan semua hartanya, demikian juga sahabat-sahabat yang lain.

Pemilik dunia adalah orang yang memiliki tiga kriteria: hidup tenteram dan aman di tengah masyarakatnya, sehat jasmaninya, dan memiliki makanan cukup untuk sehari itu.[3]

Imam Syafi’i menegaskan, “Bila Anda memiliki hati yang serba puas maka Anda sejajar dengan pemilik semua isi dunia.”

Agar memiliki kekayaan hakiki, maka beberapa hal berikut harus ada dalam diri kita: 

Pertama, tidak melihat pada harta orang lain.[4]
Kedua, puas dengan pembagian rezeki dari Allah. Rasulullah Saw bersabda: “Puaslah dengan apa yang diberikan Allah kepadamu pasti kamu menjadi orang yang paling kaya.”[5] Beliau juga bersabda: “Bila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang maka dijadikanlah kekayaan jiwanya dan ketakwaannya berada di hatinya dan bila Allah menghendaki keburukan pada seseorang maka dijadikanlah kemiskinan itu berada di pelupuk matanya.”[6]
Ketiga, melihat kepada orang yang lebih rendah dalam hal harta.

Bila ketiga hal di atas ada dalam diri Anda, niscaya Anda adalah pemiliki kekayaan hakiki yang akan memberikan kebahagiaan bagi Anda di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam



[1] HR Imam Ibnu Majah.
[2] HR Imam Nasa’i, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Thabarani.
[3] HR Imam Turmudzi.
[4] QS. Thaha [20]: 131.
[5] HR Imam Ahmad, Imam Turmudzi, dan Imam al-Baihaqi.
[6] HR Imam Ibnu Asakir dan Imam al-Baihaqi.
Read More
      edit

Saturday, August 17, 2019

Published August 17, 2019 by with 0 comment

Kekayaan yang Bersifat Batin

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan kekayaan yang bersifat batin, simaklah kisah berikut ini. Semoga Allah memberikan pencerahan kepada Anda untuk bisa mengambil hikmah darinya.

Tersebutlah seorang sufi bernama Buhlul. Nama aslinya Buhlul bin Amr Ash ash-Shairafi, dengan julukan Abu Wuhaib. Ia tinggal di Kufah dan hidup semasa dengan Khalifah Harun al-Rasyid. Menurut Abu Qasim al-Naisabury, Buhlul termasuk kelompok sufi majnun yang banyak akal sekaligus seorang penyair.

Suatu ketika Khalifah Harun al-Rasyid pergi menunaikan ibadah haji. Tatkala berada di luar kota Kufah, tiba-tiba ia melihat Buhlul berjalan membawa tongkat dengan diikuti anak-anak di belakangnya. Lalu Buhlul lari menghindar. Melihat hal itu, Sang Khalifah bertanya kepada anak-anak tersebut, “Siapa orang itu?” Anak-anak itu menjawab, “Dia Buhlul, si majnun (si gila).” Lantas, Khalifah Harun al-Rasyid berkata, “Aku ingin menemuinya, panggillah dia, jangan ditakut-takuti!” Anak-anak itu pun berlari menghampiri Buhlul, membujuknya seraya berkata, “Penuhilah panggilan Amirul Mukminin.”

Lalu, Buhlul berlari ke arah Khalifah Harun al-Rasyid sambil membawa tongkatnya. Begitu melihat Buhlul ada di hadapannya, Sang Khalifah mengucapkan salam padanya, kemudian berkata, “Telah lama aku merindukanmu, wahai Buhlul.” Dengan enteng Buhlul menjawab, “Tapi aku tidak merindukanmu, wahai Khalifah!” Khalifah kemudian berkata, “Wahai Buhlul, berilah aku nasihat.” Buhlul menjawab, “Dengan apa aku memberikan nasihat padamu, wahai Khalifah?” Namun, Khalifah Harun al-Rasyid terus mendesak Buhlul agar memberinya nasihat.

Beberapa saat kemudian, Buhlul berkata, “Wahai Amirul Mukminin, barangsiapa yang diberi Allah ketampanan dan rezeki harta, lalu ia tidak berbuat kejahatan dengan ketampanannya, serta berbelas kasih kepada yang lain dengan hartanya, maka ia dicatat dalam kitab amal sebagai orang baik.” Mendengar jawaban itu, Khalifah Harun al-Rasyid mengira Buhlul menghendaki sesuatu di balik ucapannya itu. Khalifah berkata, “Aku telah memerintahkan agar semua hutangmu dilunasi.”

Mendengar itu, Buhlul menjawab, “Tidak, wahai Amirul Mukminin! Hutang dibayar dengan hutang, tetapi kembalikan hak kepada yang punya dan bayarlah hutangmu sendiri!” Khalifah kemudian berkata, “Aku telah memerintahkan agar engkau diberi gaji tetap.” Mendengar ucapan Sang Khalifah, Buhlul menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau berpendapat bahwa Allah telah memberimu (rezeki), tetapi Dia lupa padaku?” Setelah mengucapkan kata-kata itu, Buhlul kemudian berlari menjauhi Khalifah Harun al-Rasyid.

Dalam kisah lain disebutkan bahwa Buhlul pernah berkata kepada Khalifah Harun al-Rasyid, “Wahai Amirul Mukminin, bagaimanakah bila Allah menempatkanmu di sisi-Nya, lalu engkau ditanya tentang perahu kecil, sumbu lampu, dan kulit?” Cecaran pertanyaan yang diajukan Buhlul membuat Khalifah Harun al-Rasyid tercekik, sehingga pengawal menegur Buhlul. “Engkau telah melukai hati Amirul Mukminin!” Bentak mereka. Ternyata, tidak demikian dengan sikap Khalifah Harun al-Rasyid. Ia berkata, “Biarkan dia.” Buhlul melanjutkan perkataannya sambil menuding para pengawal, “Sebenarnya al-Rasyid ini rusak karena ulah kalian dan orang-orang seperti kalian.”

Khalifah kemudian berkata, “Aku ingin memberikan tali kasih (hadiah) untukmu.” Buhlul menjawab, “Tidak, kembalikan saja semua itu kepada orang-orang yang hartanya telah kau ambil.” Khalifah Harun al-Rasyid kemudian bertanya, “Lantas, apa keperluanmu datang ke sini?” Buhlul menjawab, “Aku ingin agar engkau tidak melihatku dan aku tidak melihatmu.” Lalu, ia berlari sambil membawa tongkatnya diiringi dengan ucapan, “Sungguh, engkau termasuk orang yang ternama di muka bumi ini. Para hamba telah mendekat kepadamu. Kemudian, apakah gerangan yang terjadi? Bukankah engkau akan mati dan dikubur di dalam tanah? Kemudian peninggalanmu akan dibagi-bagi di antara ahli warismu.”

Tentunya Anda telah menyimak kisah Khalifah Harun al-Rasyid dan Buhlul di atas. Apakah Anda telah mendapatkan hikmah di balik kisah itu? Ya, pasti. Saya yakin Anda telah mendapatkan pelajaran penting dari kisah di atas. Setiap pembaca boleh jadi menangkap nilai-nilai yang berbeda antara satu dengan yang lain. Namun satu hal yang pasti, bahwa kisah di atas menegaskan sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kita, yakni, bahwa kekayaan yang paling hakiki adalah ketika seseorang tidak pernah bergantung kepada harta atau materi yang ia miliki. Tumpukan harta atau materi hanya sebaga sarana baginya untuk meraih kekayaan batin yang tidak mudah digapai oleh setiap orang, yakni cinta dan keridhaan Allah Swt.

Rasulullah Saw bersabda: “Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sesungguhnya adalah kaya akan jiwa.”[1]

Buhlul, dalam kisah di atas, adalah orang kaya sebagaimana yang dimaksud dalam sabda Rasulullah ini. Ia tidak pernah menggantungkan hidupnya pada tumpukan materi. Relung jiwanya telah dipenuhi Allah dengan kekayaan batin berupa cinta dan keridhaan-Nya, sehingga ia lepas dari belenggu hal-hal yang bersifat materi. Seseorang yang memiliki kekayaan batin, maka imannya menjadi sangat kokoh, Islam menjadi ruh kehidupannya, ihsan perilakunya, murni tauhidnya, banyak amal salehnya, selalu hidup dalam ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hatinya lepas dari ketergantungan kepada sesama makhluk. Orang yang memiliki sifat-sifat ini akan menjalani hidup tanpa beban. Batinnya memiliki kesadaran yang sangat kuat bahwa hidup yang ia jalani hakikatnya adalah arus takdir yang telah ditetapkan Allah untuknya, dan ia hanya mengalir sesuai dengan arus takdir itu.

Wallahu a'lam


[1] HR Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Read More
      edit

Thursday, August 15, 2019

Published August 15, 2019 by with 0 comment

Kekayaan yang Bersifat Lahir

Kekayaan adalah sesuatu yang bisa diusahakan manusia untuk mendapatkannya. Dengan kekayaan, seseorang bisa memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Kebanyakan orang memaknai kekayaan sebagai kumpulan harta benda. Banyaknya simpanan uang di bank, perhiasan yang mahal, rumah dan kendaraan mewah, serta berbagai kepemilikan yang bersifat materi lainnya, sering kali dijadikan standar untuk mengukur kekayaan seseorang.

Setiap manusia pada dasarnya menginginkan kekayaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan di dalam hidupnya. Pada hakikatnya, itu adalah hal yang wajar. Namun terkadang untuk merealisasikan keinginan itu, manusia sering kali didorong oleh motif-motif rendah, yakni semata-mata berorientasi duniawi dan ragawi. Akibatnya, dalam setiap usaha yang dilakukan, yang ada di benaknya adalah menghimpun kekayaan sebanyak-banyaknya dan meraup keuntungan sebesar-besarnya, tanpa mengindahkan hukum-hukum Allah yang berlaku atas dirinya.

Mencari dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya tidaklah dilarang oleh agama, asalkan dilakukan dengan cara-cara yang halal dengan niat menjadikan harta itu sebagai jalan untuk memperoleh ridha Allah Swt. Jika tidak dengan cara yang demikian, maka harta kekayaan bisa menjadi fitnah bagi seseorang, yang menyebabkannya terjebak dalam satu lingkaran yang di dalamnya setiap detik dari hidup yang dijalaninya hanya untuk mengumpulkan harta, bermegah-megahan dengannya, dan menggandrunginya, sehingga tak tersisa sedikit pun waktu baginya untuk memikirkan urusan akhirat.

Harta kekayaan bisa menjadi fitnah besar yang diturunkan Allah Swt untuk umat manusia. Harta juga menjadi bencana besar yang dapat melalaikan manusia dari mengingat akhirat; lebih menyibukkan dunia yang fana dan melalaikan manusia untuk urusan akhirat yang kekal. Oleh karena itu, Rasulullah Saw telah memperingatkan dalam beberapa sabda beliau berikut ini:

“Sesungguhnya bagi tiap-tiap umat itu ada fitnah, dan sesungguhnya fitnah bagi umatku adalah harta.”[1]

“Jangan membuat tempat menimbun kekayaan yang akan menyebabkanmu gandrung pada dunia.”[2]

“Tiadalah dua serigala yang lapar dilepas dalam segerombolan kambing yang lebih merusak melebihi pengrusakan sifat rakusnya seseorang kepada harta kekayaan dan kedudukan terhadap agamanya.”[3]

Ketahuilah, orang yang hatinya telah gandrung pada dunia niscaya lenyap sifat ikhlas dari dirinya. Apa pun yang ia lakukan di kehidupan ini akan selalu berorientasi pamrih materi, dan lupa pada kebutuhan menggapai cinta dan keridhaan Allah. Oleh karena itu, jika saat ini terlintas di hati Anda untuk memiliki dunia, maka berusahalah menggapainya. Namun, hendaklah tidak mengisi setiap sudut jiwa dengan persoalan dunia. Sediakan ruang yang lebih luas di hati Anda untuk Tuhan, sehingga apa pun yang Anda peroleh di kehidupan dunia ini bisa menjadi jalan bagi Anda untuk menggapai keridhaan-Nya dan membuka pintu yang luas bagi kebahagiaan hidup Anda di akhirat kelak.

Wallahu a'lam


[1] HR Imam Turmudzi.
[2] HR Imam Turmudzi.
[3] HR Imam Turmudzi.
Read More
      edit