Showing posts with label Syarah Al-Hikam. Show all posts
Showing posts with label Syarah Al-Hikam. Show all posts

Thursday, April 8, 2021

Published April 08, 2021 by with 0 comment

Aneka Ragam Jenis 'Amal

Syaikh Ibnu Athaillah as-Sakandari mengatakan:

تَنَوَّعَتْ أَجْنَاسُ الْأَعْمَالِ لَتَنَوُّعِ وَارِدَاتِ الْأَحْوَالِ.

Beranekaragamnya jenis ‘amal perbuatan adalah karena bermacam-macamnya kondisi spiritual yang datang di dalam hati.

Beranekaragamnya jenis ‘amal perbuatan itu adalah karena bermacam-macamnya kondisi yang datang pada hati seorang murīd.

Sesungguhnya di antara macamnya murīd itu ada yang bisa menghadirkan hatinya (merasakan nikmatnya ibadah) dengan gemar mendirikan shalat; ada yang gemar berpuasa; ada yang gemar menyebarkan ilmu nāfi‘ (yang bermanfaat); juga ada yang gemar membaca al-Qur’ān. Hal yang demikian itu disebabkan berbeda-bedanya wārid (sesuatu yang datang pada hati, berupa bisikan-bisikan yang terpuji, kehadirannya bukan karena disengaja) dari Allah di dalam hati seorang murīd. Yang mana, kesemuanya itu terjadi ketika murīd sudah tidak lagi berada pada bimbingan seorang guru. Jika masih dalam bimbingan guru, seorang murīd harus mengikuti apa yang diperintahkan gurunya, ia tidak boleh melaksanakan apa yang dikatakan hatinya sendiri jika tidak mendapat izin gurunya, dan murīd juga tidak diperkenankan mengamalkan wārid orang lain.

Wallahu a'lam

Read More
      edit

Thursday, February 4, 2021

Published February 04, 2021 by with 0 comment

Ma'rifat Itu Karunia Allah


إِذَا فُتِحَ لَكَ وِجْهَةٌ مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَ هُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ أَلَمْ تَرَ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَ الْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ وَ أَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ.

“Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma‘rifat (mengenal-Nya), maka jangan hiraukan soal amalmu yang masih sedikit. Sebab Tuhan tidak membukakannya, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma‘rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedangkan amal perbuatanmu adalah hadiah darimu untuk-Nya, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu.”

Ketahuilah wahai murīd, bahwasanya ma‘rifat billāh adalah akhir atau puncak dari segala tujuan dan harapan, oleh karena itu, Syaikh berkata:

 إِذَا فُتِحَ لَكَ وِجْهَةٌ مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ

“Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma‘rifat (mengenal-Nya), maka jangan hiraukan soal amalmu yang masih sedikit.”

Jika pintu ma‘rifat sudah dibukakan untukmu (wahai murīd), maka tak perlu engkau mempedulikan ‘amalmu yang masih sedikit.

Sesungguhnya seorang murīd atau sālik tidak berkuasa dalam hal memperbanyak ‘amal ibadah, juga tidak bisa menyingkap tabir yang menghalanginya dari Allah. Dengan demikian, ketika salah satu pintu ma‘rifat sudah dibukakan untuknya, seperti sakit, sehingga ibadahnya menjadi berkurang, maka pada waktu ibadahnya berkurang karena sakit tersebut, jangan merasa sedih akan banyaknya ibadah yang terlewat. Sebab, dengan sakit tersebut bisa membuka pintu ma‘rifat, seakan mengetahui bahwa Allah itu hadir dan melihatnya, ia sadar bahwa tidak ada yang bisa melakukan hal tersebut kecuali Allah. Itu lebih utama daripada beberapa ibadah badaniyyah, sebab tujuan dari memperbanyak ‘amal (ibadah) adalah untuk mengharapkan ma‘rifat Allah, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyadari bahwa terbukanya pintu ma‘rifat itu menunjukkan tercapainya ma‘rifat, maka terkadang sedikitnya ‘amal sebab sakit itu menunjukkan sesuatu yang lebih utama.

Dengan demikian, ketika seorang murīd mencapai salah satu tangga ma‘rifat, dengan mengetahui datangnya sakit, itu lebih baik daripada masa sehatnya. Karena, dengan kehadiran masa sakitnya, maka di dalam hatinya muncul rasa benci terhadap dunia dan rela akan kematian, merindukan pertemuan dengan Tuhan, dan mengetahui bahwa Allah itu melakukan sesuatu sesuai yang dikehendaki-Nya. Pada akhirnya, ia menjadi tahu akan kelemahan dirinya dan mengetahui kenikmatan telah diciptakannya dirinya. Jika sudah demikian halnya, maka jangan bersusah hati akan sedikitnya ‘amal badaniyyah.

 فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَ هُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ

“Sebab Tuhan tidak membukakannya, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu.”

Karena sesungguhnya Allah itu tidak akan membukanya kecuali hendak memperkenalkan diri kepadamu.

Sesungguhnya Allah itu tidak akan menurunkan penyakit kepadamu, kecuali untuk memperkenalkan diri kepadamu, menampakkan sifat-sifatNya kepadamu, menampakkan asmā’-asmā’Nya kepadamu dan tidak ragu lagi bahwa perkenalan-Nya kepadamu itu lebih utama daripada ‘amal badaniyyah atau ‘amal zhāhir(mu).

 أَلَمْ تَرَ  أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَ الْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ وَ أَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ.

“Tidakkah kau ketahui bahwa ma‘rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedangkan ‘amal perbuatanmu adalah hadiah darimu untuk-Nya, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu.”

Tidakkah engkau mengerti bahwa ta‘arruf dengan Allah itu semata-mata anugerah dari Allah untukmu dan ibadah itu merupakan bentuk hadiah darimu untuk-Nya, maka lebih mulia manakah hadiahmu kepada Allah daripada anugerah-Nya kepadamu?

Sesungguhnya ta‘arruf itu adalah pemberian anugerah Allah dan ibadah itu bentuk hadiahmu kepada-Nya, maka tidak diragukan lagi bahwa pemberian anugerah Tuhan itu jauh lebih utama dan lebih mulia walaupun lebih sedikit dari apa yang kau hadiahkan. Karena hadiah dari seorang hamba itu merupakan hal yang tidak berguna (tidak ada nilainya). Alhasil, sedikitnya ‘amal ibadah yang disertai ma‘rifat itu lebih utama daripada banyaknya ‘amal tapi tidak disertai ma‘rifat.

Read More
      edit

Monday, January 25, 2021

Published January 25, 2021 by with 0 comment

Agar Cahaya Hatimu Tidak Padam


لَا
يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوْعِ الْمَوْعُوْدِ وَ إِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ لِئَلَّا يَكُوْنَ ذلِكَ قَدْحًا فِيْ بَصِيْرَتِكَ وَ إِخْمَادًا لِنُوْرِ سَرِيْرَتِكَ

Jangan sampai kamu ragu terhadap janji Allah karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, meskipun telah tertentu (tiba) masanya. Supaya tidak menyalahi pandangan mata hatimu atau memadamkan cahaya sirr di hatimu.”


Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

لَا يُشَكِّكَنَّكَ فِي الْوَعْدِ عَدَمُ وُقُوْعِ الْمَوْعُوْدِ وَ إِنْ تَعَيَّنَ زَمَنُهُ.

Jangan sampai engkau ragu terhadap janji Allah karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu, meskipun telah tiba masanya.

Janganlah engkau meragukan janji Allah sebab tidak terlaksananya apa yang dijanjikan, walaupun sudah ditentukan waktunya. Jika Allah menjanjikan sesuatu untukmu lewat mimpi, lisan malaikat atau ilhām Rahmānī, kemudian tidak terwujud, maka janganlah engkau ragu, walaupun waktunya sudah ditetapkan.

 لِئَلَّا يَكُوْنَ ذلِكَ قَدْحًا فِيْ بَصِيْرَتِكَ وَ إِخْمَادًا لِنُوْرِ سَرِيْرَتِكَ

Supaya tidak menyalahi pandangan mata hatimu atau memadamkan cahaya sirr di hatimu.”

Supaya tidak mengaburkan pandangan mata hatimu atau memadamkan cahaya yang ada di lubuk hatimu.

Jika seorang murīd mengalami khāthir Rahmānī atau khāthir malikī akan terjadinya sesuatu, lalu sesuatu tersebut tidak terjadi, maka hendaklah ia tidak merasa ragu, akan tetapi hendaklah ia mengetahui tingkatan adabnya di hadapan Allah dan meyakinkan hatinya akan kebenaran janji itu. Barangsiapa seperti penggambaran ini, maka ia adalah ‘ārif billāh. 

Wallāhu a‘lam.

Catataan Tambahan:

Secara bahasa “sarīrah” berarti sesuatu yang dirahasiakan di dalam hati. Akan tetapi, menurut kaum sufi, istilah sirr dinyatakan sebagai barang lembut yang dititipkan di dalam hati manusia. Seperti halnya ruh yang dasar-dasarnya musyāhadah mahabbah, maka sirr adalah tempat musyāhadah dan hati tempat makrifat. Sirr, menurut mereka, adalah “raja pengawas” sedangkan sirr-nya sirri atau rahasianya rahasia adalah sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh selain al-Ḥaqq. Sirr lebih lembut daripada ruh, sementara ruh lebih mulia daripada hati. Kaum sufi mengatakan: sirr bebas dari belenggu, perubahan, jejak-jejak dan bekas-bekas. Sirr merupakan sesuatu yang terpelihara dan tertutup antara hamba dan al-Haqq dalam ahwāl-nya. Abul-Qāsim ‘Abd-ul-Karīm Hawāzin al-Qusyairī an-Naisābūrī, ar-Risālat-ul-Qusyairiyyah, Al-Maktubah al-‘Ashriyyah, cet. ke-1, Libanon, 2001, hal. 88.

Al-Khawāthir (bisikan) adalah informasi atau inspirasi yang mendatangi hati sanubari. Terkadang kedatangannya melalui malaikat (ilhām), syaithan (waswas), bisikan-bisikan nafsu (hawājis) atau langsung dari Allah (naqrat-ul-khāthir). Jika dari malaikat, maka dinamakan ilham; jika dari nafsu, maka dinamakan angan-angan atau kecemasan; jika dari syaithan, maka dinamakan waswas; dan jika dari Allah, maka dinamakan inspirasi yang paling benar (haqq atau haqīqah). Dikutip dari “diktat tashawwuf” oleh KH. Moch. Djamaluddin Achmad, Sekolah Tinggi Islam Bani Fattah Tambakberas Jombang, 2011, hal. 47) 

Read More
      edit

Tuesday, January 19, 2021

Published January 19, 2021 by with 0 comment

Bukan Karena Doamu, Tapi Karena Anugerah Allah

 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

مَا الشَّأْنُ وُجُوْدُ الطَّلَبِ، إِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُرْزَقَ حُسْنَ الْأَدَبِ.

Bukanlah tujuan utama itu tercapainya suatu permohonan, akan tetapi tujuan yang utama adalah diberikannya engkau sebuah tata krama yang baik.

Yakni, sesuatu yang paling indah menurut ahli kebenaran itu bukanlah tercapainya suatu permohonan pada Allah ketika mempunyai hajat pada sesuatu, tidak meminta pada selain-Nya, akan tetapi yang paling indah menurut mereka adalah engkau meminta semua kebutuhanmu kepada Allah, jangan engkau meminta pada selain-Nya. 

Permintaan yang engkau buat jangan hanya bertujuan pada tercapainya keinginanmu itu saja, akan tetapi permohonanmu kepada Allah itu juga untuk menunjukkan penghambaanmu kepada-Nya, dengan melaksanakan dan meyakini secara benar, sifat rubūbiyyah Allah. 

Dengan kata lain, hal demikian ini adalah sebagai bentuk tata krama yang bagus dalam melaksanakan adab dalam berdoa. Jika harapanmu tercapai, maka jangan berkeyakinan bahwa ketercapaian harapan itu sebab doamu, akan tetapi sebab karunia (fadhl) dan pilihan Allah semata.  

Wallāhu a‘lam.

Read More
      edit

Thursday, December 31, 2020

Published December 31, 2020 by with 0 comment

Susah Hatimu karena Tidak Memahami-Nya

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

إِنَّمَا يُؤْلِمُكَ الْمَنْعُ بِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيْهِ.

Sesungguhnya yang menjadikanmu bersusah hati karena tidak adanya pemberian, itu karena engkau tidak memahami pemberian Allah (kepadamu yang sebenarnya).

Ketika engkau meminta suatu perkara dunia, lalu Allah tidak mengabulkannya, hatimu menjadi susah, itu disebabkan karena engkau tidak memahami kehendak Allah. Jika engkau paham, engkau akan bahagia. Tenangkan dirimu saat permintaanmu tidak dikabulkan. Saat permintaanmu tidak dikabulkan, pahamilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki agar engkau mendekatkan diri kepada-Nya dan selalu menyandarkan hatimu ke haribaan-Nya, jika sudah begitu engkau akan menjadi kekasih Allah. Dan, sesungguhnya ketika Allah mengasihi atau mencintai hamba-Nya, niscaya Dia akan menghalangi dunia darinya dan menjauhkannya dari dunia.

Sebagai perumpamaan, apakah engkau tidak mengetahui, bahwa seorang ayah yang sangat mencintai dan mengasihi anaknya, niscaya akan membawa anaknya pada tukang bekam agar badannya menjadi sembuh? Apakah engkau tidak mengetahui, bahwa seorang ibu yang menyayangi anaknya, pasti akan mencegah anaknya dari mengonsumsi makanan yang berbahaya bagi kesehatan anaknya? Apakah engkau tidak mengetahui bahwa tabib yang mengobatimu yang berbelas-kasih terhadapmu, pasti akan mencegahmu dari mengonsumsi makanan yang tidak patut engkau makan karena penyakitmu tadi? Padahal, belas-kasih Allah terhadap hamba-Nya itu melebihi belas-kasih seorang ayah ataupun ibu terhadap putra-putrinya.

Rasūlullāh Saw pernah menyaksikan seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya. Lalu Nabi bersabda kepada para sahabat yang hadir pada waktu itu: “Apakah sang ibu ini tega jika anaknya dimasukkan ke dalam api?” Lalu para sahabat menjawab: “Tidak akan tega wahai Rasūl.” Lalu Nabi bersabda: “Allah itu lebih berbelas-kasih terhadap hamba-Nya yang mu’min daripada belas-kasih perempuan ini kepada putranya, akan tetapi Allah memberimu rasa perih dan sakit karena Allah menaruh fadhal dan kenikmatan-Nya di dalam rasa pedih dan sakit tersebut.

Syaikh Abū al-Hasan asy-Syādzilī berkata:

Ketahuilah, sesungguhnya ketika Allah tidak memberimu, itu bukan karena membencimu, tapi karena sangat belas kasih terhadapmu. Maka tidak memberi itulah yang (hakikatnya) dinamakan memberi.” 

Pahamilah!

Read More
      edit

Wednesday, December 30, 2020

Published December 30, 2020 by with 0 comment

Agar Engkau Mengenal-Nya

مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ وَ مَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِيْ كُلِّ ذلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَ مُقْبِلٌ بِوُجُوْدِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ.

Ketika Allah memberikan sebuah pengabulan kepadamu, Allah memperlihatkan sifat kebaikan-Nya dan sifat dermawan-Nya. Ketika Allah tidak memberikan pengabulan kepadamu, Allah memperlihatkan sifat Qahhar-Nya (memaksa) kepadamu, agar engkau tahu bahwa suatu ketika Allah tidak berkenan memberimu, maka ketika Allah tidak memberikan pengabulan kepadamu itu karena hendak menunjukkan (memperkenalkan) diri kepadamu, dan ketika Allah memberikan perkara kedua (memberi pengabulan) itu karena hendak menemuimu dengan sifat belas-kasihNya kepadamu (agar engkau mengenal-Nya dan mengharap kepada-Nya)”.

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh menuturkan tentang luasnya pemahaman ketika tidak diberi (dikabulkannya doa), melalui perkataan beliau:

 مَتَى أَعْطَاكَ أَشْهَدَكَ بِرَّهُ.

Ketika Allah memberikan sebuah pengabulan kepadamu, Allah memperlihatkan sifat kebaikan-Nya dan sifat dermawan-Nya.

Ketahuilah, bahwa sekiranya Allah telah memberimu, maka janganlah engkau berpaling dari-Nya.

وَ مَتَى مَنَعَكَ أَشْهَدَكَ قَهْرَهُ، فَهُوَ فِيْ كُلِّ ذلِكَ مُتَعَرِّفٌ إِلَيْكَ، وَ مُقْبِلٌ بِوُجُوْدِ لُطْفِهِ عَلَيْكَ.

Ketika Allah tidak memberikan pengabulan kepadamu, Allah memperlihatkan sifat Qahhar-Nya (memaksa) kepadamu, agar engkau tahu bahwa suatu ketika Allah tidak berkenan memberimu, maka ketika Allah tidak memberikan pengabulan kepadamu itu karena hendak menunjukkan (memperkenalkan) diri kepadamu, dan ketika Allah memberikan perkara kedua (memberi pengabulan) itu karena hendak menemuimu dengan sifat belas-kasihNya kepadamu (agar engkau mengenal-Nya dan mengharap kepada-Nya)”.

Alhasil, hal yang dituntut dari seorang hamba adalah, mengenal Tuhannya beserta sifat-sifatNya. Seorang hamba tidak bisa mengenal Tuhannya kecuali dengan pengetahuan yang diberikan Tuhan kepadanya. Allah mengenalkan diri-Nya pada hamba-Nya dengan cara memberi anugerah ataupun tidak memberikannya. Tujuannya, agar seorang hamba mengingat-Nya dalam kondisi apapun. Sebagai perumpamaan, seorang yang mengajarkan tatakrama pada anaknya atau budaknya, terkadang orang tersebut harus memukul atau memberi sesuatu yang disukai, agar sang anak mengenal ayahnya, dan sang hamba mengenal tuannya. Pahamilah masalah ini!

 

 

Read More
      edit

Thursday, December 3, 2020

Published December 03, 2020 by with 0 comment

Pemberian Allah adalah Yang Terbaik


مَتَى فُتِحَ لَكَ بَابُ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ عَادَ الْمَنْعِ عَيْنَ الْعَطَاءِ

 

Ketika dibuka pintu kepahaman untukmu tentang arti sebuah pencegahan (tidak memberimu perkara dunia), maka bisa jadi tidak diberinya (perkara dunia) itu adalah hakikat pemberian”.

 

Syaikh Sholeh Darat berkata:

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

 

مَتَى فُتِحَ لَكَ بَابُ الْفَهْمِ فِي الْمَنْعِ عَادَ الْمَنْعِ عَيْنَ الْعَطَاءِ

 

Ketika dibuka pintu kepahaman untukmu tentang arti sebuah pencegahan (tidak memberimu perkara dunia), maka bisa jadi tidak diberinya (perkara dunia) itu adalah hakikat pemberian”.

 

Ketika engkau tidak dianugerahi harta dunia, hendaknya engkau menyadari dan memahami bahwa tidak diberinya harta dunia itu adalah wujud kasih sayang Allah terhadapmu. Karena Allah sudah mengetahui keadaan dirimu bahwa kefakiranmu itu lebih baik untukmu, sebab jika hal itu tidak baik, Allah tidak akan memberikanmu kefakiran. Dan Allah Swt bersifat belas kasih terhadap hamba-Nya.

 

Disebutkan dalam sebuah hadits bahwa salah satu sahabat yang bernama Tsa‘labah yang sangat fakir dan beliau menjadi pelayan Rasūlullāh Saw, tidak pernah lepas dari shalat berjama’ah bersama Rasūl, suatu hari beliau berkata pada Rasūl: “Ya Rasūlullāh, hendaklah engkau memohonkan kepada Allah agar rezekiku menjadi luas.”

 

Kemudian Rasūl menjawab: Wahai Tsa‘labah kefakiranmu itu lebih baik untukmu. Kemudian Tsa‘labah memintanya lagi kepada Rasūl, dan Rasūl menjawab: Wahai Tsa‘labah kefakiranmu itu lebih baik untukmu. Tsa‘labah mengulang-ulang permintaannya kepada Rasūl berkali-kali. Hingga akhirnya Rasūlullāh pun mendoakan sesuai permintaan Tsa‘labah. Rezeki Tsa‘labah menjadi lapang, akan tetapi ia tidak lagi istiqāmah shalat berjamā‘ah. Seiring berjalannya waktu, harta bendanya semakin berlimpah, ia menjadi ingkar untuk membayar kewajiban zakat. Pada akhirnya ia menjadi orang yang munafik, sampai-sampai mati dalam keadaan munafik. Allah Swt dan Rasūlullāh Saw tidak mau menerima taubat Tsa‘labah, maka ia menjadi seperti Qārūn.

 

Oleh karena itu, jangan merasa bahagia dengan bertambahnya hartamu, sementara ibadahmu semakin berkurang.

 

Wallahu a’lam

Read More
      edit

Wednesday, December 2, 2020

Published December 02, 2020 by with 0 comment

Hakikat Anugerah Allah

رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ، وَ رُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ.

 

Terkadang Allah memberimu harta dunia tapi tidak memberimu pertolongan untuk ibadah, dan terkadang Allah tidak memberimu harta dunia tapi memberimu pertolongan untuk beribadah”.

 

KH. Sholeh Darat berkata: 

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

 

رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ، وَ رُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ.

 

Terkadang Allah memberimu harta dunia tapi tidak memberimu pertolongan untuk ibadah, dan terkadang Allah tidak memberimu harta dunia tapi memberimu pertolongan untuk beribadah”.

 

Maka dengan tidak diberikannya perkara dunia kepadamu menunjukkan bahwa Allah sedang menganugerahimu perkara akhirat. Begitulah hakikat pemberian agung yang diberikan Allah kepadamu, walaupun secara lahiriah (harta dunia) Allah tidak memberikannya.

 

Janganlah engkau melihat sebuah pertolongan pada hal ihwal apa yang tampak saja (kekayaan, misalnya), tetapi lihatlah pada hakikatnya juga, yakni keistiqamahanmu dalam beribadah kepada-Nya.

 

Wallahu a’lam

 

Read More
      edit

Friday, June 19, 2020

Published June 19, 2020 by with 0 comment

Hakikat Pemberian Allah

رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ، وَ رُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ.
 
Terkadang Allah memberimu harta dunia tapi tidak memberimu pertolongan untuk ibadah, dan terkadang Allah tidak memberimu harta dunia tapi memberimu pertolongan untuk beribadah”.
 
KH. Sholeh Darat bertakata: 
Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:
 
رُبَّمَا أَعْطَاكَ فَمَنَعَكَ، وَ رُبَّمَا مَنَعَكَ فَأَعْطَاكَ.
 
Terkadang Allah memberimu harta dunia tapi tidak memberimu pertolongan untuk ibadah, dan terkadang Allah tidak memberimu harta dunia tapi memberimu pertolongan untuk beribadah.”
 
Maka dengan tidak diberikannya perkara dunia untukmu menunjukkan bahwa Allah sedang menganugerahimu perkara akhirat. Begitulah (hakikat) pemberian agung yang diberikan Allah kepadamu, walaupun secara lahiriah (harta dunia) Allah tidak memberikannya. Janganlah engkau melihat sebuah pertolongan pada hal ihwal apa yang tampak saja (kekayaan, misalnya), tetapi lihatlah pada hakikatnya juga (yakni keistiqamahanmu dalam beribadah).
Read More
      edit

Monday, April 20, 2020

Published April 20, 2020 by with 0 comment

Jangan Hentikan Doamu

 
لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَ فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ
 
Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau sungguh-sungguh dalam berdoa, itu menyebabkanmu patah harapan. Sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang Ia kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu, pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.
 
KH. Sholeh Darat berkata:  
Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:
 
لَا يَكُنْ تَأَخُّرُ أَمَدِ الْعَطَاءِ مَعَ الْإِلْحَاحِ فِي الدُّعَاءِ مُوْجِبًا لِيَأْسِكَ
 
Janganlah kelambatan masa pemberian Tuhan kepadamu, padahal engkau sungguh-sungguh dalam berdoa, itu menyebabkanmu patah harapan.
 
Janganlah lamanya masa pemberian (Tuhanmu kepadamu), padahal engkau telah bersungguh-sungguh dalam berdoa, itu menjadikanmu berputus asa dalam berdoa dan berputus asa dalam dikabulkannya doamu. Ketika engkau memohon kepada Allah agar berhasil dalam suatu perkara, lantas tidak berhasil, maka janganlah hal tersebut menjadikan engkau memutuskan doamu dan jangan berkeyakinan bahwa Allah tidak mau mengabulkan doamu. Janganlah doamu untuk meminta tercapainya sebuah tujuan menjadikanmu musyrik, sebab Allah sudah berjanji akan mengabulkan setiap orang yang berdoa. Oleh karena itu Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:
 
فَهُوَ ضَمِنَ لَكَ الْإِجَابَةَ فِيْمَا يَخْتَارُهُ لَكَ لَا فِيْمَا تَخْتَارُ لِنَفْسِكَ وَ فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ يُرِيْدُ لَا فِي الْوَقْتِ الَّذِيْ تُرِيْدُ
 
Sebab Allah telah menjamin menerima semua doa dalam apa yang Ia kehendaki untukmu, bukan menurut kehendakmu, pada waktu yang ditentukan-Nya, bukan pada waktu yang engkau tentukan.
 
Pada hakikatnya, Allah itu sudah menjamin akan mengabulkan doa-doamu, menurut apa yang Ia pilihkan untukmu, bukan menurut apa yang engkau pilihkan untuk dirimu sendiri, pada waktu yang sudah Ia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.
 
Allah adalah Dzat yang mengabulkan doa-doa hamba-Nya, sebab Allah telah berfirman:
 
اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ.
 
….Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.. (QS. al-Mu’min [40]: 60).
 
Pengabulan tersebut menurut apa yang telah Allah pilihkan, bukan menurut apa yang engkau pilih, karena engkau tidak mengetahui apa yang bermanfaat untukmu dan apa yang madharat bagimu. Terkadang engkau meminta luasnya rezeki dan memohon dikaruniai anak karena engkau mengiranya bermanfaat, tetapi kemudian engkau tidak diberi rezeki dan anak seperti yang engkau pinta tersebut. Boleh jadi, ketidakterkabulnya permohonanmu tersebut, karena Allah sudah mengetahui jika engkau diberi rezeki yang lapang, akan membahayakan atau memberi madharat pada agamamu. Atau jika engkau dikaruniai anak, engkau lantas berbuat maksiat. Maka tidak dikabulkannya doamu itu berarti sudah dikabulkan. Pahamilah! Allah mengabulkan permohonan hamba-Nya pada waktu yang dikehendaki-Nya bukan yang engkau inginkan, pengabulan yang Allah berikan itu menurut fadhal-Nya, bukan karena menuruti keinginanmu.
Read More
      edit

Friday, March 27, 2020

Published March 27, 2020 by with 0 comment

Tanda Butanya Mata Hatimu

اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَ تَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ
 
Kesungguhanmu untuk mencapai sesuatu yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, dan (disertai) keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanatkan (ditugaskan) kepadamu, itu membuktikan butanya mata hatimu.
 
KH. Sholeh Darat berkata:  
Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:
 
اِجْتِهَادُكَ فِيْمَا ضُمِنَ لَكَ وَ تَقْصِيْرُكَ فِيْمَا طُلِبَ مِنْكَ دَلِيْلٌ عَلَى انْطِمَاسِ الْبَصِيْرَةِ مِنْكَ
 
Kesungguhanmu untuk mencapai sesuatu yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, dan (disertai) keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanatkan (ditugaskan) kepadamu, itu membuktikan butanya mata hatimu.
 
Kesungguhanmu meraih apa yang telah dijamin oleh Allah untukmu, dan kelalaianmu melaksanakan apa yang dituntut Allah darimu, itu merupakan bukti butanya mata hatimu. Rajin dalam mencari rezeki dan teledor dalam beribadah, itu menunjukkan butanya mata hatimu. Karena Allah Swt sudah menanggung rezeki untukmu, apakah kalian semua tidak mendengar firman Allah:
 
وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لاَ تَحْمِلُ رِزْقَهَا، اللهُ يَرْزُقُهَا وَ إِيَّاكُمْ
 
Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. (QS.al-‘Ankabūt [29]: 60).
 
Dan juga ayat yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kita semua untuk beribadah, Allah berfirman:
 
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَ الْإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُوْنَ
 
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku... (QS. adz-Dzāriyāt [51]: 56).
 
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
 
Dan orang yang bersungguh-sungguh dalam (beribadah) kepada-Ku, maka sungguh Aku akan menunjukkan kalian jalan menuju kepada-Ku…. (QS. al-‘Ankabūt [29]: 69).
 
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلاَّ مَا سَعَى
 
Sesungguhnya tidak ada satupun yang dimiliki manusia kecuali pahala dari apa yang dikerjakan. (QS. an-Najm [53]: 39).
 
Alhasil, barangsiapa yang disibukkan pada hal yang sudah ditanggung oleh Allah dan malah meninggalkan perkara yang diperintahkan oleh-Nya, maka amat bodohlah orang tersebut, dan sungguh ia benar-benar melupakan Allah. Bukankah kewajiban seorang hamba adalah menyibukkan diri pada apa yang diperintahkan, serta meninggalkan apa yang sudah ditanggung oleh Tuhannya?
 
Tidakkah engkau renungkan, jika Allah saja memberikan rezeki kepada orang yang ahli berbuat kekufuran, maka tidakkah Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang beriman dan berbuat ketaatan?
 
Maka jelaslah, bahwa perkara rezeki itu sudah ditanggung (untuk kalian) dan perkara ibadah itu dituntut (atas kalian) untuk bersungguh-sungguh (melaksanakannya).
 
Ketahuilah! Sesungguhnya seorang hamba tidak boleh melecehkan Tuhannya dalam suatu perkara apapun. Boleh jadi, perkara yang engkau senangi itu terkadang buruk menurut Allah, sebaliknya, perkara yang tidak engkau senangi itu malah menjadi suatu kebaikan bagi dirimu.
 
Allah berfirman:
 
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ، وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ
 
Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu. (QS. al-Baqarah [2]: 216).
Read More
      edit

Sunday, March 15, 2020

Published March 15, 2020 by with 0 comment

Istirahatkan Pikiranmu

أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لاَ تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
 
Istirahatkan dirimu atau pikiranmu dari kesibukan mengatur kebutuhan duniamu. Sebab apa yang sudah dijamin diselesaikan oleh selainmu, tidak usah engkau sibuk memikirkannya.
 
KH. Sholeh Darat berkata: 
Sejatinya, perkara rezeki sudah diatur oleh Allah semenjak engkau belum ada. Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:
 
أَرِحْ نَفْسَكَ مِنَ التَّدْبِيْرِ
 
Istirahatkan dirimu atau pikiranmu dari kesibukan mengatur kebutuhan duniamu.
 
Istirahatkanlah dirimu dari memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Yakni jangan banyak berangan-angan dan memikirkan hal-hal yang belum terjadi, seperti halnya memikirkan makan apa untuk hari esok atau bulan depan, karena Allah sudah mengira-ngirakan rezeki untukmu jauh sebelum engkau ada, begitu juga ajalmu, nikmat, dan cobaan untukmu. Belum tentu apa yang engkau pikirkan besok akan terjadi, sehingga pikiran dan angan-angan itu tidak berguna dan sia-sia belaka.
 
Tidak pernahkah engkau berpikir, dulu sebelum engkau ada, engkau pun tidak pernah memikirkan dan tidak meminta kepada Allah untuk mewujudkanmu, lalu Allah berkehendak untuk menampakkanmu dengan kehendak-Nya sendiri, bukan dengan adanya permintaanmu. Allah menampakkanmu dengan kehendak-Nya sendiri melalui tulang rusuk kedua orang tuamu, lalu Allah memindahkan ke dalam kandungan ibumu, mulai dari segumpal darah selama 40 hari, lalu menjadi segumpal daging selama 40 hari, lalu Allah membentukmu menjadi laki-laki atau perempuan selama 40 hari dan memberinya ruh, sehingga menjadi sebuah janin yang membutuhkan makan dan minum. Kemudian Allah menjadikan darah haid sebagai makanan dan minuman janin tersebut, dan Allah menetapkan ajal, rezeki, cobaan dan nikmat untuknya, begitu pula keberuntungan dan musibah atau kegagalan.
 
Kemudian Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu (lahir), engkau pun berkeinginan untuk makan dan minum, saat itu engkau sangat lemah dan tidak berdaya untuk mengunyah. Sehingga Allah menjadikan air susu ibumu sebagai makanan dan minuman supaya engkau mampu bertahan. Engkau menjadi beban yang teramat menyusahkan, akan tetapi Allah menaruh rasa belas kasih pada hati kedua orang tuamu. Sehingga mereka mau merawatmu dengan sungguh-sungguh dan penuh kasih sayang. Mereka mengayun menimangmu dan menyiapkan kebutuhanmu, mulai engkau bayi sampai engkau besar. Lalu Allah memberi engkau kecerdasan, memberi akal sesuai kadarnya, memberi iman, ilmu dan lainnya.
 
Apakah semua itu diperoleh sebab ikhtiyār dan permohonanmu kepada Allah? Atau karena angan-angan dan pemikiranmu? 
 
Tidak! Semua itu terjadi atas kehendak qadhā’ qadar dan belas kasih Allah. Jika begitu halnya, maka apalah guna engkau ikut serta mengangankan, memikirkan, dan mengira-ngirakan? Karena orang yang ikut serta memikirkan perkara yang bukan menjadi urusannya itu tidak ada gunanya. Oleh karena itu, Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:
 
فَمَا قَامَ بِهِ غَيْرُكَ عَنْكَ لَا تَقُمْ بِهِ لِنَفْسِكَ
 
Sebab apa yang sudah dijamin diselesaikan oleh selainmu, tidak usah engkau sibuk memikirkannya.
 
Apa yang sudah diurus untukmu oleh Tuhanmu (Allah), janganlah engkau turut mengurusnya.
Apa yang sudah ditanggung oleh Allah untukmu, apakah itu dalam hal ihwal rezekimu serta lainnya, maka engkau jangan ikut serta mengurusnya, karena Allah berfirman:
 
وَ مَا مَنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللهِ رِزْقُهَا.
 
Tidak ada satu binatang melatapun di bumi ini kecuali Allah sudah menanggung rezekinya.... (Hūd [11]: 6).
 
Andaikan seorang raja dunia sudah menanggung kebutuhan duniawi selama hidupmu, dia memberimu sebuah bukti berupa surat yang di dalamnya ada tanda tangan raja itu sendiri, bahwa ia benar-benar sudah menanggung makanan dan pakaian untukmu sepanjang hidupmu, maka tidakkah engkau akan benar-benar mau mempercayainya dengan adanya surat dari raja tersebut?
 
Nah, bagaimana bila yang menjamin dan menanggungnya adalah raja dari semua raja yang menguasai langit dan bumi, lebih-lebih Dia sudah menurukan sebuah surat melalui kitab suci-Nya (al-Qur’ān). Lalu apakah engkau tidak mempercayai-Nya dan engkau masih saja memikir-mikirkan masalah pangan dan sandangmu, dalam artian, tidak mempercayai janji Allah? Maka dengan adanya imanmu yang seperti ini, sungguh amat hina dirimu. Jikalau engkau mau mempercayai janji raja dunia yang lemah tapi tidak mau mempercayai janji Allah, Dzat yang menguasai langit dan bumi, maka sungguh telah hilang keimanan pada dirimu, maka renungkanlah nasehat ini, wallāhu a‘lam.
 
Ketahuilah  wahai saudaraku sekalian, sesungguhnya sesuatu yang bisa menjadikan hilangnya tadbīr (memikirkan suatu hal yang belum terjadi atas dasar keinginan nafsu dan syahwat) dan ikhtiyār adalah melihat pada 10 perkara:
 
Pertama, ketahuilah bahwa Allah sudah mengatur urusanmu sebelum engkau ada.
 
Kedua, engkau akan mengetahui bahwasanya tadbīr yang engkau lakukan itu karena engkau tidak mengetahui kebaikan Allah padamu. Seorang mukmin pasti tahu bahwa meskipun dia tidak men-tadbīr urusan dirinya, Allah pasti memberikan yang terbaik baginya. Apakah engkau tidak mendengar firman Allah di dalam al-Qur’ān?
 
وَ مَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ.
 
….dan barangsiapa yang berserah diri kepada Allah maka Allah-lah Dzat yang mencukupinya…. (QS. ath-Thalāq [65]: 3).
 
Maka ketika engkau ingin mengurus suatu kebaikan untuk dirimu maka janganlah engkau mengurusnya lagi, akan tetapi hanya berserah dirilah kepada Allah.
 
Ketiga, ketahuilah bahwa sesungguhnya ketentuan (qadar) Allah itu tidak berjalan sesuai tadbir-mu, bahkan kebanyakan hal yang terjadi pada dirimu itu adalah sesuatu yang tidak pernah engkau pikirkan dan rencanakan.
 
Keempat, ketahuilah bahwasanya Allah-lah yang menguasai segala kerajaan; 7 langit, 7 bumi, ‘arsy, kursy, dan tidak ada satupun yang ikut serta berkuasa. Kesemuanya itu tunduk pada apa yang diperintahkan Allah Swt dan berserah diri pada tadbīr Allah, maka lebih besar manakah antara kepala manusia dan langit beserta bumi seisinya? Sehingga engkau tidak mau menerima tadbīr Allah dan engkau masih saja ikut serta mengurus dirimu.
 
Kelima, engkau sudah mengetahui bahwa engkau adalah milik Allah, jika engkau sudah dimiliki Allah maka dirimu bukan lagi milikmu dengan dalil bahwa engkau tidak bisa membuat kesembuhan pada dirimu sendiri. Sehingga, sesuatu yang bukan menjadi milikmu maka tidak layak bagimu untuk mengurusnya, karena engkau akan meng-ghashab, sebab memerintah yang bukan milikmu. Adapun sesuatu yang engkau miliki maka kepemilikan itu hanya menurut hukum syara‘, bukan menurut hukum haqīqī. Maka pahamilah!
 
Keenam, hendaknya engkau ketahui bahwa engkau ini hanya bertamu kepada Allah. Karena semua dunia ini adalah ibarat “desa”-Nya Allah, dan engkau itu hanya beristirahat di dalamnya, sekadar bertamu kepada Allah. Adapun hak-hak tamu adalah tidak perlu ikut mengurus makanan apa yang hendak dimakan, bahkan jangan ber-ikhtiyār untuk membuat hidangan sendiri karena pemilik rumah pasti sudah mengatur hidangannya. Begitu pula jika yang didatangi (dikunjungi) adalah raja yang amat kaya raya, maka tidak layak bagimu untuk ikut serta mengurusnya hingga mencapai tiga hari. Karena sabda Rasūlullāh Saw:
 
الضِّيَافَةُ ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ
 
Hidangan tamu itu selama tiga hari.
 
Engkau bertamu kepada Allah Swt, sedang satu hari menurut Allah sama dengan seribu tahun menurut perhitungan harimu. Allah berfirman:
 
وَ إِنَّ يَوْمًا عِنْدَ رَبِّكَ كَأَلْفِ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّوْنَ.
 
Sesungguhnya satu hari menurut Allah itu sama halnya seribu tahun menurut perhitungan hari kalian…. (QS. al-Hajj [22]: 47).
 
Maksudnya, jika engkau hidup selama tiga ribu tahun, maka Allah akan memberimu hidangan (rezeki) seumur hidupmu, tanpa kurang sesuatu apapun. Dan bila umurmu tidak sampai tiga ribu tahun, maka Allah akan menyempurnakan hidangan tersebut di akhirat kelak, dengan menetapkanmu di surga atas fadhal Allah. Wallāhu a‘lam. Pahamilah!
 
Ketujuh, hendaknya engkau merenungkan firman Allah yang berbunyi:
 
اللهُ لَا إِلهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ.
 
Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia, Yang Hidup Kekal lagi Terus-menerus mengurus (makhluk-Nya)…” (QS. al-Baqarah [2]: 255).
 
Allah adalah Dzat yang mengurus hamba-Nya baik di dunia maupun di akhirat, di dunia dengan memberi rezeki dan di akhirat dengan memberi pahala dan pembalasan (amal perbuatannya). Maka, jika engkau sudah mengetahui bahwa Allah bersifat Qayyūm (Maha Mengurus makhluk-Nya) maka berserah dirilah kepada-Nya!
 
Kedelapan, hendaklah engkau disibukkan dengan beribadah kepada Allah sampai ajal menjemputmu, Allah berfirman:
 
وَ اعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنُ.
 
Beribadah atau sembahlah Tuhanmu hingga engkau menghadapi kematian…. (QS. al-Hijr [15]: 99).
 
Ketika engkau tersibukkan oleh ibadah maka engkau tidak akan berangan-angan dan ber-tadbīr untuk dirimu sendiri. Wallāhu a‘lam.
 
Kesembilan, sesungguhnya engkau sudah mengetahui bahwa engkau adalah hamba Allah, dan hak-hak hamba adalah hendaknya tidak ikut serta mengurus dan mengatur sebagaimana tuannya. Akan tetapi, kewajibannya adalah melayani apa yang diperintahkan sang majikan, majikannya yang mengatur pemberian. Tidakkah engkau mendengar firman Allah di dalam al-Qur’ān?
 
وَ أْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَ اصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ.
 
(Wahai Muammad) Perintahkanlah keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah di dalamnya (perkara shalat). Aku tidak meminta rezeki darimu (untuk memberi rezeki kepada keluargamu) akan tetapi Aku-lah yang memberimu (dan keluargamu) rezeki….. (QS. Thāhā [20]: 132).
 
Hal ini berarti tetaplah melayani majikanmu (Allah) dan majikanmu yang akan menyiapkan atau mengurus sandang panganmu.
 
Kesepuluh, sesungguhnya engkau tidak mengetahui tentang akhir suatu perkara dan engkau tidak bisa memperkirakannya. Engkau menganggap suatu perkara itu bermanfaat, namun nyatanya membahayakan, engkau anggap berbahaya tapi nyatanya bermanfaat.
 
Ketahuilah, sesungguhnya meninggalkan tadbīr dan ikhtiyār serta mau menerima atau rela dengan tadbīr Tuhanmu itu adalah ibadah yang paling utama. Sesungguhnya musibah yang paling besar adalah ikut campur mengatur dengan ikhtiyār dan tadbīr-nya sendiri. Musibah putra Nabi Nuh as. yang mati dalam keadaan kafir, adalah sebab mengikuti tadbīr-nya sendiri dan menjauh dari tadbīr Allah. Dan juga kafirnya Iblis itu sebab mengikuti tadbīr-nya sendiri dan tidak mau menerima tadbīr Allah.
Read More
      edit