Showing posts with label Ta'limul Muta'allim. Show all posts
Showing posts with label Ta'limul Muta'allim. Show all posts

Wednesday, September 18, 2019

Published September 18, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (10)

وَيَنْبَغِى لِأَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ لاَيُذِلَّ نَفْسَهُ بِالطَّمَعِ فِى غَيْرِ مَطْمَعٍ، وَيَتَحَرَّزَ عَمَّا فِيْهِ مَذَلَّةُ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَيَكُوْنَ مُتَوَاضِعًا. وَالتَّوَاضُعُ بَيْنَ التَّكَبُّرِ وَالْمَذَلَّةِ وَالْعِفَّةُ كَذَلِكَ يُعْرَفُ ذَلِكَ فِى كِتَابِ اْلأَخْلاَقِ

Hendaknya seorang ulama tidak menghinakan dirinya dengan menginginkan sesuatu yang tidak pantas didambakan, menjaga dirinya dari segala sesuatu yang dapat merendahkan ilmu dan para ulama, serta bersikap rendah hati. Perbedaan antara sikap rendah hati dan sombong, demikian pula tentang perbedaan antara harga diri dan kehinaan dapat diketahui di buku-buku tentang akhlak.

أَنْشَدَ الشَّيْخُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ اْلأُسْتَاذُ رُكْنُ اْلإِسْلاَمِ الْمَعْرُوْفُ بِاْلأَدِيْبِ الْمُخْتَارِ رَحِمَهُ اللهُ شِعْرًا لِنَفْسِهِ:

Syaikh al-Imam Yang Agung Ustadz Ruknul Islam yang terkenal sebagai penyair yang handal menuturkan gubahan syairnya:

إِنَّ الـتَّوَاضُـعَ مِـنْ خِـصَـالِ الْمُـتَّقِى ٭ وَبِهِ التَّقِىُّ إِلَى الْمَـعَالِى يَرْتَقِى
وَمِنَ الْعَجَائِبِ عُجْبُ مَنْ هُوَ جَاهِلُ ٭ فِى حَالِهِ أَهْوَ السَّعِيْدُ أَمِ الشَّقِى
أَمْ كَـيْـفَ يُخْــتَمْ عُـمْـرُهُ أَوْ رُوْحُــهُ ٭ يَوْمَ الـنَّوَى مُـتَسَفِّلٌ أَوْ مُرْتَقِى
وَالْـكِـــبْـرِيَـاءُ لِـرَبِّـنَـا صِــفَـةٌ بِــــهِ ٭ مَـخْـصُـوْصَةٌ فَتَجَـنِّبَنْهَا وَاتَّقِى

Sesungguhnya tawadhu termasuk sifat orang yang bertakwa * Dengannya seorang yang bertakwa mencapai derajat yang tinggi

Termasuk mengherankan sifat ujub orang yang tidak mengetahui * Tentang dirinya apakah ia termasuk orang yang selamat atau celaka

Atau bagaimana umurnya atau ruhnya berakhir * Di hari kematian apakah ia orang yang jatuh atau yang naik

Kesombongan adalah sifat milik Tuhan kita * Khusus bagi-Nya, maka hindarilah dan jauhilah kesombongan


قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ لِأَصْحَابِهِ: عَظِّمُوْا عَمَائِمَكُمْ وَوَسِّعُوْا أَكْمَامَكُمْ. وَإِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ لِئَلاَّ يُسْتَخَفَّ بِالْعِلْمِ وَأَهْلِهِ

Abu Hanifah rahimahullah berkata kepada para sahabatnya, “Besarkanlah surban kalian dan luaskanlah lengan baju kalian.” Beliau mengatakan demikian agar orang-orang tidak merendahkan ilmu dan para ulama.

وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَحْصُلَ كِتَابَ الْوَصِيَّةِ الَّتِى كَتَبَهَا أَبُوْ حَنِيْفَةَ لِيُوْسُفَ بْنِ خَالِدٍ السِّمْتِىِّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ عِنْدَ الرُّجُوْع إِلَى أَهْلِهِ، يَجِدُهُ مَنْ يَطْلُبُهُ. وَكَانَ أُسْتَاذُنَا شَيْخُ اْلإِمَامُ بُرْهَانُ اْلأَئِمَّةِ عَلِىُّ بْنُ أَبُوْ بَكْرٍ قَدَّسَ اللهُ رُوْحَهُ الْعَزِيْزَ أَمَرَنِى بِكِتَابَتِهِ عِنْدَ الرُّجُوْعِ إِلَى بَلَدِىْ وَكَتَبْتُهُ وَلاَبُدَّ لِلْمُدَرِّسِ وَالْمُفْتِى فِى مُعَامَلاَتِ النَّاسِ مِنْهُ

Hendaknya seorang murid yang hendak kembali ke keluarganya berusaha mendapatkan surat wasiat yang ditulis oleh Abu Hanifah kepada Yunus bin Khalid As-Simti, dan yang bisa mendapatkannya hanyalah orang yang mau mencarinya. Dahulu guru kami Syaikh al-Imam Ali bin Abu Bakar (semoga Allah menyucikan ruhnya yang mulia) menyuruhku menulis surat ini ketika aku hendak kembali ke daerahku, dan akupun menulisnya. Selain itu hendaknya wasiat ini dipergunakan oleh para guru dan mufti dalam pergaulan mereka dengan orang lain.
Read More
      edit

Wednesday, September 4, 2019

Published September 04, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (9)

أَنْشَدَنَا الشَّيْخُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ اْلأُسْتَاذُ قِوَامُ الدِّيْنِ حَمَّادُ بْنُ إِبْرَاهِيْمَ بْنُ إِسْمَاعِيْلَ الصَّفَّارِ اْلأَنْصَارِىُّ إِمْلاَءً لِأَبِى حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى شِعْرًا:

Syaikh Imam yang Agung Ustadz Qiwamuddin Hammad bin Ibrahim bin Ismail Ash Shafar Al Anshari menuturkan kepada kami bait gubahan Abu Hanifah rahimahullah:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِلْمَعَادِ ٭ فَازَ بِفَضْلٍ مِنَ الرَّشَادِ
فَـيَالِخُسْـرَانِ طَالِـبِيْـهِ ٭ لِـنَيْلِ فَـضْلٍ مِنَ الْعِبَادِ

Barangsiapa yang mencari ilmu untuk akhiratnya * Ia akan mendapat banyak petunjuk
Betapa ruginya orang yang mencarinya * Dengan tujuan memperoleh kedudukan di hati manusia

اللَّهُمَّ إِلاَّ إِذَا طَلَبَ الْجَاهَ لِلْأَمْرِ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْىِ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتَنْفِيْذِ الْحَقِّ وَإِعْزَازِ الدِّيْنِ لاَ لِنَفْسِهِ وَهَوَاهُ، فَيَجُوْزُ ذَلِكَ بِقَدْرِ مَا يُقِيْمُ بِهِ اْلأَمْرَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّهْىَ عَنِ الْمُنْكَرِ

Tetapi bila ia mencari kedudukan itu dengan tujuan untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, membela kebenaran dan memuliakan agama, bukan untuk kepentingan pribadi, maka hal itu diperbolehkan sekedar untuk menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang munkar.

وَيَنْبَغِىْ لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَتَفَكَّرَ فِىْ ذَلِكَ، فَإِنَّهُ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ بِجَهْدٍ كَثِيْرٍ، فَلاَيَصْرِفُهُ إِلَى الدُّنْيَا الْحَقِيْرَةِ وَالْقَلِيْلَةِ الْفَانِيَةِ، شِعْرُ:

Hendaknya seorang penuntut ilmu memikirkan hal ini karena ia menunutu ilmu dengan susah payah, jangan sampai ia mengarahkannya pada tujuan duniawi yang hina dan fana, seperti yang disebutkan dalam sebuah syair:

هِىَ الـدُّنْيَا أَقَـلُّ مِـنَ الْـقَـلِيْلِ ٭ وَعَاشِقُهَا أَذَلُّ مِنَ الذَّلِيْلِ
تُصِمَّ بِسِحْرِهَا قَوْمًا وَتُعْمِى ٭ فَـهُمْ مُـتَحَيِّرُوْنَ بِلاَ دَلِيْلِ

Ialah dunia barang yang paling sedikit dari yang sedikit * Orang yang asyik kepadanya lebih hina dari orang hina
Dengan tipu dayanya ia membuat tuli dan buta sekelompok orang * Mereka dalam keadaan bingung tanpa ada pembimbing
Read More
      edit

Saturday, August 31, 2019

Published August 31, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (8)

وَأَنْشَدَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ الْأَجَلُّ بُرْهَانُ الدِّيْنِ صَاحِبُ الْهِدَايَةِ شِعْرًا لِبَعْضِهِمْ:

Syaikh al-Imam yang agung Burhanuddin penulis kitab al-Hidayah membawakan bait syair gubahan salah seorang ulama:

فَـَسادٌ كَـبِيْرٌ عَـالِمٌ مُـتَهَتِّـكٌ ٭ وَأَكْـبَرُ مِنْهُ جَاهِلٌ مُتَنَسِّكٌ
هُمَا فِتْنَةٌ فِى الْعَالَمِيْنَ عَظِيْمَةٌ ٭ لِمَنْ بِهِمَا فِى دِيْنِهِ يَتَمَسَّكُ

Merupakan kerusakan yang parah seorang alim yang lancang * Dan yang lebih parah darinya orang bodoh yang pura-pura rajin ibadah
Keduanya fitnah yang besar di alam semesta * Bagi orang yang berpedoman pada keduanya dalam urusan agama

وَيَنْوِى بِهِ الشُّكْرَ عَلَى نِعْمَةِ الْعَقْلِ وَصِحَّةِ الْبَدَنِ، وَلاَ يَنْوِى بِهِ إِقْبَالَ النَّاسِ اِلَيْهِ، وَلاَ اسْتِجْلاَبَ حُطَامِ الدُّنْيَا وَالْكَرَامَةَ عِنْدَ السُّلْطَانِ وَغَيْرِهِ

Seorang murid berniat dalam menuntut ilmu untuk mensyukuri nikmat akal dan tubuh yang sehat, bukan berniat dengannya untuk mendapatkan perhatian orang lain atau memperkaya diri dengan materi duniawi atau untuk memperoleh kemuliaan di hadapan penguasa, atau yang lainnya.

وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنُ رَحِمَهُ اللهُ: لَوْ كَانَ النَّاسُ كُلُّهُمْ عَبِيْدِىْ، لَأَعْتَقْتُهُمْ وَتَبَرَّأْتُ عَنْ وَلَائِهِمْ

Muhammad bin al-Hasan rahimahullah berkata: “Andaikan seluruh manusia menjadi budakku, pasti akan aku bebaskan mereka dan aku akan melepas seluruh hak wala’ (warisan dari budak) mereka.”

مَنْ وَجَدَ لَذَّةَ الْعِلْمِ وَالْعَمَلِ بِهِ قَلَّمَا يَرْغَبُ فِيْمَا عِنْدَ النَّاسِ

Hal ini disebabkan orang yang dapat merasakan lezatnya ilmu dan nikmatnya mengamalkan ilmu jarang sekali menginginkan apa yang dimiliki orang lain.
Read More
      edit

Friday, August 23, 2019

Published August 23, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (7)

ثُمَّ لاَبُدَّ لَهُ مِنَ النِّيَّةِ فِى زَمَانِ تَعَلُّمِ الْعِلْمِ إِذِ النِّيَّةُ هِىَ اْلأَصْلُ فِى جَمِيْعِ اْلأَحْوَالِ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ: إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ

Seorang murid harus berniat di masa belajarnya, karena niat adalah inti dari segala sesuatu, sebagaimana sabda Nabi ‘alaihish shalatu wassalam: “Sesungguhnya amal perbuatan tergantung dari niatnya.” (Hadits Shahih)

وَعَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَةِ أَعْمَالِ الدُّنْيَا وَيَصِيْرُ بِحُسْنِ النِّيَّةِ مِنْ أَعْمالِ اْلآخِرَةِ، وَكَمْ مِنْ عَمَلٍ يَتَصَوَّرُ بِصُوْرَةِ أَعْمالِ اْلآخِرَةِ ثُمَّ يَصِيْرُ مِنْ أَعْمَالِ الدُّنْيَا بِسُوْءِ النِّيَّةِ

Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Berapa banyak amal perbuatan yang berupa amalan duniawi menjadi amalan akhirat karena niat yang baik, berapa banyak amalan yang kelihatannya seperti amalan akhirat menjadi amalan duniawi karena niat yang buruk.”

وَيَنْبَغِى أَنْ يَنْوِىَ الْمُتَعَلِّمُ بِطَلَبِ الْعِلْمِ رِضَا اللهِ تَعَالَى وَالدَّارَ اْلآخِرَةِ وَإِزَالَةَ الْجَهْلِ عَنْ نَفْسِهِ وَعَنْ سَائِرِ الْجُهَّالِ وَإِحْيَاءَ الدِّيْنِ وَإِبْقَاءَ اْلإِسْلاَمِ، فَإِنَّ بَقَاءَ اْلإِسْلاَمِ بِالْعِلْمِ وَلاَيَصِحُّ الزُّهْدُ وَالتَّقْوَى مَعَ الْجَهْلِ

Hendaknya seorang pelajar berniat dalam menuntut ilmu adalah untuk mencari ridha Allah, bekal akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain, menghidupkan agama dan menegakkan Islam, karena Islam akan tegak dengan ilmu, selain itu tidak dibenarkan zuhud dan takwa yang disertai dengan kebodohan.
Read More
      edit

Tuesday, August 20, 2019

Published August 20, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (6)

وَأَمَّا تَفْسِيْرُ الْعِلْمِ فَهُوَ صِفَةٌ يَتَجَلَّى بِهَا لِمَنْ قَامَتْ هِىَ بِهِ الْمَذْكُوْرُ وَالْفِقْهُ: مَعْرِفَةُ دَقَائِقِ الْعِلْمِ قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ: الْفِقْهُ مَعْرِفَةُ النَّفْسِ مَا لَهَا وَمَا عَلَيْهَا وَقَالَ: مَا الْعِلْمُ إِلَّا لِلْعَمَلِ بِهِ، وَالْعَمَلُ بِهِ تَرْكُ الْعَاجِلِ لِلْآجِلِ

Adapun definisi ilmu adalah sifat yang melekat pada seseorang yang memiliki gelar di bidangnya. Fiqih adalah pengetahuan tentang seluk beluk ilmu disertai cara pembenahan. Imam Abu Hanifah rahmatullah ‘alaihi berkata: “Fiqih adalah kesadaran diri tentang hak dan kewajiban.” Beliau juga berkata: “Ilmu itu hanya untuk diamalkan, sedangkan yang dimaksud mengamalkan di sini adalah meninggalkan sesuatu yang fana demi yang akan datang.”

فَيَنْبَغِى لِلْإِنْسَانِ أَنْ لاَيَغْفُلَ عَنْ نَفْسِهِ وَمَا يَنْفَعُهَا وَمَا يَضُرُّهَا فِى أُوْلاَهَا وَأُخْرَاهَا فَيَسْتَجْلِبُ مَا يَنْفَعُهَا وَيَجْتَنِبُ عَمَّا يَضُرُّهَا كَيْلاَ يَكُوْنَ عَقْلُهُ وَعِلْمُهُ حُجَّةً عَلَيْهِ فَيَزْدَادَ عُقُوْبَةً، نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ سَخَطِهِ وَعِقَابِهِ

Jadi, hendaknya seseorang tidak mengabaikan dari dirinya apa yang bermanfaat dan apa yang mudharat baginya di dunia dan akhiratnya, agar ia dapat mengambil segala yang bermanfaat untuk dirinya dan menjauhi segala yang mudharat baginya, supaya akal dan ilmunya tidak menjadi tuntutan atasnya hingga semakin berat hukuman Allah atasnya, kami berlindung kepada Allah dari kemurkaan dan hukuman-Nya.

وَقَدْ وَرَدَ فِى مَنَاقِبِ الْعِلْمِ وَفَضَائِلِهِ آيَاتٌ وَأَخْبَارٌ صَحِيْحَةٌ مَشْهُوْرَةٌ لَمْ نَشْتَغِلْ بِذِكْرِهَا كَيْلاَ يَطُوْلَ الْكِتَابُ

Keutamaan ilmu telah diriwayatkan oleh berbagai ayat dan hadits-hadits shahih yang terkenal, kami sengaja tidak menyebutkannya agar kitab ini tidak terlalu panjang pembahasannya.
Read More
      edit

Sunday, July 28, 2019

Published July 28, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (5)

وَأَمَّا حِفْظُ مَا يَقَعُ فِى بَعْضِ اْلأَحَايِيْنِ فَفَرْضٌ عَلَى سَبِيْلِ الْكِفَايَةِ، إِذَا قَامَ بِهِ الْبَعْضُ فِىْ بَلْدَةٍ سَقَطَ عَنِ الْبَاقِيْنَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِى الْبَلْدَةِ مَنْ يَقُوْمُ بِهِ اِشْتَرَكُوْا جَمِيْعًا فِى الْمَأْثَمِ، فَيَجِبُ عَلَى اْلإِمَامِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِذَلِكَ وَيَجْبُرَ أَهْلَ الْبَلْدَةِ عَلَى ذَلِكَ
 
Adapun mempelajari ilmu yang jarang dibutuhkan hukumnya adalah fardhu kifayah. Bila di suatu daerah telah ada yang melakukannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Tetapi bila di daerah itu tidak ada yang melakukannya maka semuanya ikut menanggung dosa. Maka wajib bagi seorang pemimpin untuk memerintahkan mereka mempelajarinya, bahkan bila perlu memaksa mereka untuk itu.
 
فَقِيْلَ بِأَنَّ عِلْمَ مَا يَقَعُ عَلَى نَفْسِهِ فِىْ جَمِيْعِ اَلأَحْوَالِ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ لاَ بُدَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ ذَلِكَ، وَعِلْمَ مَا يَقَعُ فِى بَعْضِ اْلأَحَايِيْنِ بِمَنْزِلَةِ الدَّوَاءِ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِىْ بَعْضِ اْلأَوْقَاتِ
 
Telah dikatakan bahwa ilmu yang dibutuhkan di setiap keadaan ibarat makanan yang harus dikonsumsi oleh setiap orang, sedangkan ilmu yang dibutuhkan hanya kadang-kadang saja ibarat obat yang dibutuhkan pada waktu sakit saja.
 
وَعِلْمَ النُّجُوْمِ بِمَنْزِلَةِ الْمَرَضِ، فَتَعَلَّمُهُ حَرَامٌ لِأَنَّهُ يَضُرُّ وَلاَيَنْفَعُ، وَالْهَرَبُ مِنْ قَضَاءِ اللهِ تَعَالَى وَقَدَِرهِ غَيْرُ مُمْكِنٍ
 
Sedangkan ilmu nujum ibarat penyakit, mempelajarinya adalah haram karena ia berbahaya dan tidak bermanfaat, sementara melarikan diri dari ketetapan dan takdir Allah adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
 
فَيَنْبَغِى لِكُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَشْتَغِلَ فِىْ جَمِيْعِ أَوْقَاتِهِ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى، وَالدُّعَاءِ، وَالتَّضَرُّعِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَالصَّدَقَاتِ الدَّافِعَةِ لِلْبَلاَءِ، وَيَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ لِيَصُوْنَهُ اللهُ تَعَالَى عَنِ الْبَلاَءِ وَاْلآفَاتِ، فَإِنَّ مَنْ رُزِقَ الدُّعَاءَ لَمْ يُحْرَمِ اْلإِجَابَةَ، فَإِنْ كَانَ الْبَلاَءُ مُقَدَّرًا يُصِيْبُهُ لاَمَحَالَةَ وَلَكِنْ يُيَسِّرَهُ اللهُ عَلَيْهِ وَيَرْزُقُهُ الصَّبْرَ بِبَرَكَةِ الدُّعَاءِ
 
Seyogyanya setiap muslim memanfaatkan seluruh waktunya untuk berdzikir kepada Allah, berdoa, merendahkan diri, membaca al-Qur’an, bersedekah untuk menolak bala’ dan memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan dunia akhirat. Sesungguhnya barangsiapa yang diilhami untuk berdoa niscaya akan diijabah. Seandainya ia telah ditimpa musibah, Allah akan menenangkannya dan akan memberinya kesabaran berkat doa itu.
 
اللَّهُمَّ إِذَا تَعَلَّمَ مِنَ النُّجُوْمِ قَدْرَمَا يَعْرِفُ بِهِ الْقِبْلَةَ وَأَوْقَاتِ الصَّلاَةِ فَيَجُوْزُ ذَلِكَ
 
Tetapi bila tujuan mempelajari ilmu nujum (baca: ilmu falak) itu untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat, maka dibolehkan.
 
وَأَمَّا تَعَلُّمُ عِلْمُ الطِّبِّ فَيَجُوْزُ، لِأَنَّهُ سَبَبٌ مِنَ اْلأَسْبَابِ، فَيَجُوْزُ تَعَلُّمُهُ كَسَائِرِ اْلأَسْبَابِ فَقَدْ تَدَاوَى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Adapun mempelajari ilmu kedokteran diperbolehkan, karena ia termasuk salah satu jenis pekerjaan, maka diperbolehkan mempelajarinya sebagaimana keahlian-keahlian lainnya. Bahkan Nabi Saw pun berobat. 
 
وَقَدْ حُكِىَ عَنِ الشَّافِعِىِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمُ الْفِقْهِ لِلْأَدْيَانِ وَعِلْمُ الطِّبِّ لِلْأَبْدَانِ، وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ بُلْغَةُ مَجْلِسٍ
 
Disebutkan bahwa Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata, “Ilmu itu ada dua: ilmu fiqih untuk agama dan ilmu kedokteran untuk badan, yang selain itu hanyalah tambahan di majelis.”
Read More
      edit

Friday, July 26, 2019

Published July 26, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (4)

وَكَذَلِكَ فِى سَائِرِ اْلأَخْلاَقِ نَحْوَ الْجُوْدِ، وَالْبُخْلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْجُرْأَةِ، وَالتَّكَبُّرِ، وَالتَّوَاضُعِ، وَالْعِفَّةِ، وَاْلأِسْرَافِ، وَالتَّقْتِيْرِ وَغَيْرِهَا، فَإِنَّ الْكِبْرَ، وَالْبُخْلَ، وَالْجُبْنَ، وَاْلإِسْرَافَ حَرَامٌ، وَلاَ يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ عَنْهَا إِلاَّ بِعِلْمِهَا وَعِلْمِ مَا يُضَادُّهَا، فَيُفْتَرَضُ عَلَى كُلِّ إِنْسَانٍ عِلْمُهَا
 
Begitu juga sifat-sifat lainya seperti dermawan, kikir, pengecut, kurang ajar, sombong, rendah hati, mulia, boros dan sebagainya. Sesungguhnya sifat sombong, pelit, pengecut dan boros tidak diperbolehkan, namun tidak ada jalan untuk menjaga diri darinya kecuali dengan mempelajarinya dan hal-hal yang berlawanan dengannya. Maka setiap manusia diwajibkan mempelajarinya.
 
وَقَدْ صَنَّفَ السَّيِّدُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ الشَّهِيْدُ نَاصِرُ الدِّيْنِ أَبُو الْقَاسِمِ كِتَابًا فِى اْلأَخْلاَقِ، وَنِعْمَ مَا صَنَّفَ فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ حفْظُهَا
 
As-Sayyid al-Imam al-Ajal asy-Syahid Nashiruddin Abul Qasim telah menulis buku tentang akhlak, sebuah karya yang apik dan layak dihafal oleh setiap muslim.
Read More
      edit

Thursday, July 25, 2019

Published July 25, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (3)

وَشَرَفُ الْعِلْمِ لاَ يَخْفَى عَلَى أَحَدٍ إِذْ هُوَ مُخْتَصٌّ بِاْلإِنْسَانِيَّةِ لِأَنَّ جَمِيْعَ الْخِصَالِ سِوَى الْعِلْمِ يَشْتَرِكُ فِيْهَا اْلإِنْسَانُ وَسَائِرُ الْحَيَوَانَاتِ كَالشَّجَاعَةِ وَالْجُرْأَةِ وَالْقُوَّةِ وَالْجُوْدِ وَالشَّفَقَةِ وَغَيْرِهَا سِوَى الْعِلْمِ
 
Keutamaan ilmu tidak asing lagi bagi siapapun karena ilmu hanyalah dikhususkan bagi manusia, sedangkan sifat-sifat lainnya juga dimiliki oleh manusia dan binatang, seperti keberanian, kekuatan, kemurahan hati, kasih sayang dan sifat-sifat selain ilmu.
 
وَبِهِ أَظْهَرَ اللهُ تَعَالَى فَضْلَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمِ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ وَأَمَرَهُمْ بِالسُّجُوْدِ لَهُ
 
Allah Ta'ala mengangkat derajat Nabi Adam as di atas para malaikat dengan ilmu, dan Dia memerintahkan mereka agar bersujud kepada Nabi Adam as.
 
وَإِنَّمَا شَرَفُ الْعِلْمِ بِكَوْنِهِ وَسِيْلَةً اِلَى وَالتَّقْوَى الَّتِي يَسْتَحِقُّ بِهَا الْكَرَامَةَ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى وَالسَّعَادَةَ اْلأَبَدِيَّةَ كَمَا قِيْلَ لِمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ شِعْرٌ
 
Ilmu menjadi mulia karena ia adalah perantara menuju ketakwaan yang mana karenanya seseorang berhak mendapat kemuliaan di sisi Allah Ta’ala dan kebahagiaan yang abadi, sebagaimana yang dikatakan kepada Muhammad bin al-Hasan bin Abdillah dalam sebuah syair:
 
تَعَـلَّـمْ فَــإِنَّ الْـعِلْـمَ زَيْـنٌ لِأَهْــلِــهِ            وَفَــضْـلٌ وَعِــنْـوَانٌ لِـكُـلِّ الْمَـــحَامِـدِ
وَكُــنْ مُـسْتَـفِـيْدًا كُـلَّ يَـومٍ زِيَـادَةً            مِنَ الْعِـلْمِ وَاسْـبَحْ فِى بُحُـوْرِ الْفَوَائِـدُ
تَـفَـقَّـهْ فَإِنَّ الْـفِــقْـهَ أَفْــضَـلُ قَائِـدٍ            اِلَى الْــبِرِّ وَالتَّـقْـوَى وَأَعْـدَلُ قَـاصِـدٍ
هُوَ الْعِلْمُ الْهَادِى اِلَى سَنَنِ الْهُدَى             هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِى مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ
فَـإِنَّ فَـقِيْــهًـا وَاحِــدًا مُــتَـوَرِّعًــا            أَشَـدُّ عَـلَى الشَّـيْطَـانِ مِنْ أَلْـفِ عَابِدٍ
 
Belajarlah! Sebab ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya ** Keutamaan dan tanda segala perbuatan terpuji
 
Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu ** Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna
 
Belajarlah ilmu fiqih, karena fiqih adalah pemimpin terbaik ** Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa, ilmu paling lurus untuk dipelajari 
 
Dialah ilmu yang membimbing kepada jalan kebenaran ** Dialah benteng pelindung dari segala kesengsaraan
 
Sungguh seorang faqih yang wara’ ** lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah
Read More
      edit

Sunday, July 21, 2019

Published July 21, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (2)

فَصْلٌ : فِى مَاهِيَةِ الْعِلْمِ وَالْفِقْهِ وَفَضْلِهِ
 
Pasal 1 : Hakikat Ilmu dan Fiqih serta Keutamaannya
 
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ
 
Rasulullah Saw bersabda,“Menuntut ilmu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan”.
 
اِعْلَمْ، بِأَنَّهُ لاَ يُفْتَرَضُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ طَلَبُ كُلِّ عِلْمٍ، بَلْ يُفْتَرَضُ عَلَيْهِ طَلَبُ عِلْمِ الْحَالِ كَمَا يُقَالُ: أَفْضَلُ الْعِلْمِ عِلْمُ الْحَالِ وَأَفْضَلُ الْعَمَلِ حِفْظُ الْحَالِ
 
Ketahuilah bahwa tidak diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk mencari seluruh ilmu, namun yang diwajibkan atasnya adalah mencari ilmu yang sesuai dengan keadaan. Dikatakan, “Sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang sesuai dengan keadaan, dan sebaik-baik amal perbuatan adalah menjaga keadaan.”
 
وَيُفْتَرَضُ عَلَى الْمُسْلِمِ طَلَبُ عِلْمِ مَا يَقَعُ فِى حَالِهِ فِى أَىِّ حَالٍ كَانَ. فَإِنَّهُ لاَ بُدَّ لَهُ مِنَ الصَّلاَةِ فَيُفْتَرَضُ عَلَيْهِ عِلْمُ مَا يَقَعُ لَهُ فِى صَلاَتِهِ بِقَدْرِ مَا يُؤَدِّىْ بِهِ فَرْضَ الصَّلاَةِ
 
Diwajibkan atas setiap muslim mencari ilmu yang sesuai dengan keadaan yang ia alami, misalkan bila ia harus menunaikan shalat, maka wajib baginya untuk mempelajari ilmu yang cukup untuk menunaikan kewajiban shalat.
 
وَيَجِبُ عَلَيْهِ عِلْمُ مَا يَقَعُ لَهُ بِقَدْرِ مَا يُؤَدِّىْ بِهِ الْوَاجِبَ. لِأَنَّ مَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى إِقَامَةِ الْفَرْضِ يَكُوْنُ فَرْضًا، وَمَا يُتَوَسَّلُ بِهِ إِلَى إِقَامَةِ الْوَاجِبِ يَكُوْنُ وَاجِبًا. وَكَذَالِكَ فِى الصَّوْمِ وَالزَّكَاةِ إِنْ كَانَ لَهُ مَالٌ، وَالْحَجِّ إِنْ وَجَبَ عَلَيْهِ. وَكَذَالِكَ فِى الْبُيوْعِ إِنْ كَانَ يَتَّجِرُ
 
Setiap muslim wajib mempelajari atau mengetahui rukun maupun syarat amalan ibadah yang akan dikerjakannya untuk memenuhi kewajiban tersebut. Karena sesuatu yang menjadi perantara untuk melakukan kewajiban, maka mempelajari perantara (wasilah) tersebut hukumnya wajib. Ilmu agama adalah wasilah untuk mengerjakan kewajiban agama. Maka, mempelajari ilmu agama hukumnya wajib. Misalnya ilmu tentang puasa, zakat bila berharta, haji jika sudah mampu, dan ilmu tentang jual beli jika berdagang.
 
قِيْلَ لِمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنَ رَحِمَهُ اللهُ أَلاَ تُصَنِّفُ كِتَابًا فِى الزُّهْدِ، قَالَ صَنَّفْتُ كِتَابًا فِى الْبُيُوْعِ، يَعْنِى الزَّاهِدُ مَنْ يَتَحَرَّزُ عَنِ الشُّبُهَاتِ وَالْمَكْرُوْهَاتِ فِى التِّجَارَاتِ
 
Muhammad bin Al-Hasan pernah ditanya mengapa beliau tidak menyusun kitab tentang zuhud, beliau menjawab, “Aku telah mengarang sebuah kitab tentang jual beli.” Maksud beliau adalah yang dikatakan zuhud ialah menjaga diri dari hal-hal yang syubhat dan makruh dalam berdagang.
 
وَكَذَلِكَ يَجِبُ فِى سَائِرِ الْمُعَامَلاَتِ وَالْحِرَفِ وَكُلُّ مَنِ اشْتَغَلَ بِشَيْئٍ مِنْهَا يُفْتَرَضُ عَلَيْهِ عِلْمُ التَّحَرُّزِ عَنِ الْحَرَامِ فِيْهِ، وَكَذَلِكَ يُفْتَرَضُ عَلَيْهِ عِلْمُ أَحْوَالِ الْقَلْبِ مِنَ التَّوَكُّلِ وَاْلإِنَابَةِ وَالْخَشْيَةِ وَالرِّضَى فَإِنَّهُ وَاقِعُ فِى جَمِيْعِ اْلأَحْوَالِ
 
Demikian pula pada setiap pekerjaan lainnya. Maka, siapa saja yang berkecimpung di salah satu pekerjaan itu wajib atasnya mengetahui ilmu yang dapat menjaganya dari hal-hal yang diharamkan. Setiap orang juga harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan keadaan hati seperti tawakal, pasrah, takut dan ridha. Sebab semua itu terjadi pada segala keadaan.
Read More
      edit

Friday, July 19, 2019

Published July 19, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (1)

Muqadimah
 
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
 
Dengan menyebut asma Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
 
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى فَضَّلَ بَنِى آدَمَ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ عَلَى جَمِيْع الْعَالَمِ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ يَنَابِيْعِ الْعُلُوْمِ وَالْحِكَمِ
 
Segala puji bagi Allah yang telah mengangkat harkat derajat manusia dengan ilmu dan amal, atas seluruh alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah atas Nabi Muhammad, pemimpin seluruh umat manusia, dan semoga pula tercurah atas keluarga dan para sahabatnya yang menjadi sumber ilmu dan hikmah.
 
وَبَعْدُ، فَلَمَّا رَأَيْتُ كَثِيْرًا مِنْ طُلاَّبِ الْعلْمِ فِى زَمَانِنَا يَجِدُّوْنَ إِلَى الْعِلْمِ وَلاَيَصِلُوْنَ اَوْ مِنْ مَنَافِعِهِ وَثَمْرَاتِهِ وَهِىَ الْعَمَلُ بِهِ وَالنَّشْرُ يُحْرَمُوْنَ لِمَا أَنَّهُمْ أَخْطَأُوْا طَرَائِقَهُ وَتَرَكُوْا شَرَائِطَهُ، وَكُلُّ مَنْ أَخْطَأَ الطَّرِيْقَ ضَلَّ، وَلاَ يَنَالُ الْمَقْصُوْدَ قَلَّ أَوْ جَلَّ، أَرَدْتُ وَأَحْبَبْتُ أَنْ أُبَيِّنَ لَهُمْ طَرِيْقَ التَّعَلُّمِ عَلَى مَا رَأَيْتُ فِى الْكُتُبِ وَسَمِعْتُ مِنْ أَسَاتِيْذِى أُوْلِى الْعِلْمِ وَالْحِكَمِ، رَجَاءَ الدُّعَاءَ لِى مِنَ الرَّاغِبِيْنَ فِيْهِ، الْمُخْلَصِيْنَ بِالْفَوْزِ وَالْخَلاَصِ فِى يَوْمِ الدِّيْنِ، بَعْدَ مَا اسْتَخَرْتُ اللهَ تَعَالَى فِيْهِ
 
Kalau aku perhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka tidak mendapat manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengamalan dari ilmu tersebut dan menyebarkannya. Hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan. Karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu, aku ingin menjelaskan kepada para santri cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang aku baca dan menurut nasihat para guruku yang ahli ilmu dan hikmah. Dengan harapan semoga orang-orang yang tulus ikhlas mendoakanku sehingga aku mendapatkan keuntungan dan keselamatan di akhirat. Begitu doaku dalam istikharah ketika akan menulis kitab ini.
 
وَسَمَّيْتُهُ: تَعْلِيْمُ الْمُتَعَلِّمِ طَرِيْقَ الْتَعَلُّمِ، وَجَعَلْتُهُ فُصُوْلاً:

Kitab ini kuberi nama Ta’limul Muta’allim Thariqat Ta’allum,yang terdiri dari tiga belas pasal:
 
    فَصْلٌ : فِى مَاهِيَةِ الْعِلْمِ وَالْفِقْهِ وَفَضْلِهِ
 
Pertama, menerangkan tentang hakikat ilmu, fiqih dan keutamaannya
 
   فَصْلٌ : فِى النِّيَّةِ فِى حَالِ التَّعَلُّمِ
 
Kedua, menerangkan tentang niat dalam mencari ilmu
 
فَصْلٌ : فِى اخْتِيَارِ الْعِلْمْ وَالْأُسْتَاذِ وَالشَّرِيْكِ وَالثَّبَاتِ
 
Ketiga, menerangkan tentang cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan.
 
فَصْلٌ : فِى تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ
 
Keempat, menerangkan tentang cara menghormati ilmu dan guru
 
فَصْلٌ : فِى الْجِدِّ وَالْمُوَاظَبَةِ وَالْهِمَّةِ
 
Kelima, menerangkan tentang kesungguhan dalam mencari ilmu, beristiqamah dan cita-cita yang luhur
 
فَصْلٌ : فِى بِدَايَةِ السَّبَقُ وَقَدْرِهِ وَتَرْتِيْبِهِ
 
Keenam, menerangkan tentang ukuran dan urutannya
 
فَصْلٌ : فِى التَّوَكُّلِ
 
Ketujuh, menerangkan tentang tawakal
 
فَصْلٌ : فِى وَقْتِ التَّحْصِيْلِ
 
Kedelapan, menerangkan tentang waktu belajar ilmu
 
فَصْلٌ : فِى الشَّفَقَةِ وَالنَّصِيْحَةِ
 
Kesembilan, menerangkan tentang saling mengasihi dan saling menasehati
 
   فَصْلٌ : فِى الْإِسْتِفَادَةِ
 
Kesepuluh, menerangkan tentang mencari tambahan ilmu pengetahuan
 
فَصْلٌ : فِى الْوَرَعِ
 
Kesebelas, menerangkan tentang bersikap wara’ ketika menuntut ilmu
 
فَصْلٌ : فِيْمَا يُوْرِثُ الْحِفْظَ وَ النِّسْيَانَ
 
Kedua belas, menerangkan tentang hal-hal yang dapat menguatkan hapalan dan yang melemahkannya
 
فَصْلٌ : فِـيْمَـا يَجْـلِبُ الـرِّزْقَ وَمَا يَمْـنَعُهُ وَمَا يَزِيْـدُ فِى الْعُـمْـرِ وَمَا يَنْقُصُ
 
Ketiga belas, menerangkan tentang hal-hal yang mempermudah datangnya rizki dan yang dapat mencegahnya, hal-hal yang dapat memperpanjang dan mengurangi umur
 
وَمَا تَوْفِيْقِى إِلاَّ بِاللهِ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيْبُ
 
Tidak ada penolong kecuali Allah, hanya kepada-Nya aku berserah diri, dan kehadirat-Nya aku kembali.
Read More
      edit