Showing posts with label Nashaihul Ibad. Show all posts
Showing posts with label Nashaihul Ibad. Show all posts

Tuesday, February 9, 2021

Published February 09, 2021 by with 0 comment

Tanda-tanda Ma'rifat kepada Allah

Ada dikatakan dalam sebuah ungkapan:

حَرَكَةُ الطَّاعَةِ دَلِيْلُ الْمَعْرِفَةِ، كَمَا أَنَّ حَرَكَةَ الْجِسْمِ دَلِيْلُ الْحَيَاةِ

"Perbuatan seseorang dalam menjalankan ketaatan menunjukkan adanya ma'rifat (didalam dirinya), sebagaimana gerakan badan menunjukkan adanya kehidupan."

وَالْمَعْنَى أَنَّ إِتْيَانَ الْعَبْدِ الطاَّعَةَ لِلَّهِ تَعَالَى عَلَامَةُ عَلَى مَعْرِفَتِهِ لِلَّهِ، فَإِذَا كَثُرَتِ الطَّاعَةُ كَثُرَتِ الْمَعْرِفَةِ، وَإِذَا قَلَّتْ قَلَّتْ، لِأَنَّ الظَّاهِرَ مِرْآةُ الْبَاطِنِ

Ma'rifat adalah mengenal Dzat Allah lebih dekat dengan segala bentuk keagungan, kebesaran, dan kekuasan-Nya. Apabila seseorang berbuat ketaatan kepada Allah, maka hal itu menunjukkan tentang adanya pengetahuan tentang Dzat Alah di dalam dirinya. Dan apabila semakin banyak dalam berbuat ketaatan, maka semakin dalam pula pengetahuannya akan Dzat Allah. Sebaliknya, apabila ia jarang dalam berbuat ketaatan, maka hal itu berarti tidak adanya kema'rifatan di dalam dirinya. Karena perbuatan lair itu merupakan cermin dari sikap batinnya.       

Read More
      edit

Friday, January 8, 2021

Published January 08, 2021 by with 0 comment

Mendekat kepada Allah dan Menjauh dari Manusia

Ada dikatakan dalam sebuah ungkapan:

مَنْ كَانَ بِالطَّاعَةِ عِنْدَ اللهِ قَرِيْبًا كَانَ بَيْنَ النَّاسِ غَرِيْبًا

"Barangsiapa yang dengan amal ketaatan merasa dekat dengan Allah, maka ia akan merasa asing saat berada di antara manusia." 

أي مَنِ اسْتَأْنَسَ بِاشْتِغَالِ طَاعَةِ اللهِ تَعَالَى صَارَ مُسْتَوْحِشًا عَنِ النَّاسِ

Maksudnya adalah barangsiapa yang merasakan betapa manis dan nikmatnya ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta'ala maka ia tidak merasa nyaman lagi bersama manusia.

والله أعلم بالصواب

 

Read More
      edit

Saturday, December 5, 2020

Published December 05, 2020 by with 0 comment

Antara yang Berilmu dan Bodoh

Ada dikatakan dalam sebuah ungkapan:

لَا غُرْبَةَ لِلْفَاضِلِ وَلَا وَطَنَ لِلْجاهِلِ

"Tiada keterasingan bagi orang yang memiliki keutamaan (ilmu), dan tiada tempat tinggal bagi orang yang bodoh."

أي الْمُتَّصِفُ بِالْعِلْمِ وَالْعَمَلِ كَانَ مُكْرَمًا مُعَظَّمًا عِنْدَ النَّاِس فِى أَيِّ بَلَدٍ كَانَ، فَكَانَ كُلُّ بَلَدٍ عِنْدَهُ وَطَنًا وَلَوْكَانَ غَرِيْبًا، وَالْجَاهِلُ بِخِلَافٍ ذَلِكَ

 
Maksudnya adalah orang yang berilmu dan senang beramal akan senantiasa dimuliakan dan dihormati oleh manusia di mana pun ia berada. Baginya semua tempat terasa seperti tempat tinggalnya sendiri meskipun ia sebenarnya pendatang di situ. Sedangkan orang yang bodoh akan merasakan hal yang sebaliknya.  
 
Wallahu a'lam
Read More
      edit

Sunday, November 29, 2020

Published November 29, 2020 by with 0 comment

Cara Menyempurnakan Akal

Ada dikatakan dalam sebuah ungkapan:

 إِكْمَالُ الْعَقْلِ اِتِّبَاعُ رِضْوَانِ اللهِ تَعَالَى وَاجْتِنَابُ سَخَطِهِ

"Kesempurnaan akal dapat diraih dengan mengikuti hal-hal yang diridhai Allah dan menjauhi hal-hal yang mengundang kemurkaan-Nya."

أي فَخِلَافُ ذَلِكَ جُنُوْنٌ

Maknanya adalah menyempurnakan akal dengan cara-cara yang bertentangan dengan cara tersebut adalah sebuah kegilaan, yakni tidak mungkin akan menghasilkan akal yang sempurna, justru sebaliknya, akan membawa kepada kehancuran.

Wallahu a'lam

Read More
      edit

Saturday, November 21, 2020

Published November 21, 2020 by with 0 comment

Menaati Perintah Allah dan Menjauhi Larangan-Nya


أَوْحَي إِلَى بَعْضِ الْأَنْبِيَاءِ

Allah Swt telah mewahyukan kepada sebagian nabi : 

أَطِعْنِيْ فِيْمَا أَمَرْتُكَ وَلَا تَعْصِنِىْ فِيْمَا نَصَحْتُكَ

"Taatilah Aku di dalam apa yang Aku perintahkan kepadamu dan janganlah mendurhakai-Ku di dalam apa yang Aku nasehatkan padamu."

أي فِيْمَا دَعَوْتُكَ إِلَى مَا فِيْهِ الصَّلَاحُ وَنَهَيْتُكَ عَمَّا فِيْهِ الْفَسَادُ

Maknanya adalah di dalam setiap hal yang Allah perintahkan kamu mengamalkannya terdapat kebaikan bagimu, sedangkan di dalam apa-apa yang Allah mencegahmu darinya terdapat hal-hal yang bisa membawamu kepada kehancuran. 

Wallahu a'lam

 

Read More
      edit

Wednesday, September 9, 2020

Published September 09, 2020 by with 0 comment

Hati yang Lembut dan Pikiran yang Jernih


Ada ungkapan yang menyatakan:

مَنْ تَرَكَ الذُّنُوْبَ رَقَّ قَلْبُهُ، وَمَنْ تَرَكَ الْحَرَامَ وَأَكَلَ الْحَلاَلَ صَفَتْ فِكْرَتُهُ

"Barangsiapa yang meninggalkan perbuatan dosa maka lembutlah hatinya, dan barangsiapa meninggalkan yang haram untuk memakan makanan yang halal maka jernihlah pikirannya." 

Hati yang lembut adalah hati yang dengan tulus menerima nasihat agama, mencernanya, kemudian melaksanakannya dengan khusyuk. Sedangkan pikiran yang jernih adalah pikiran yang dengan baik mampu memahami bahwa seluruh yang tercipta ini menjadi bukti akan Keesaan dan Kemahakuasaan Allah, yang akan membangkitka kembali manusia setelah kematiannya nanti. 

Hal semacam ini dapat dipahami dengan memikirkan dan menghayati bahwa Allah menciptakan manusia dari setetes air mani di dalam rahim, kemudian diubah menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging, kemudian dari situ diciptakan daging, tulang, urat dan berbagai persendian, lalu dilengkapi dengan pendengaran, penglihatan dan seluruh anggota badan. Barulah setelah itu ditentukan suatu proses yang memudahkan janin itu lahir dari rahim ibu yang mengandungnya. 

Bayi itu kemudian diilhami untuk menghisap air susu ibunya. Pada waktu itu gigi sang bayi belum tumbuh, kemudian ditumbuhkan. Pada usia 7 tahun gigi itu ditanggalkan, lalu ditumbuhkan kembali dengan gigi-gigi yang baru. Allah menjadikan perilaku yang berbeda-beda dari kecil hingga dewasa, dan sejak dewasa sampai tua. Dibuat pula oleh Allah keadaan di mana ia sehat dan sakit, dapat tidur untuk istirahat, lalu bangun kembali. Demikian pula rambut dan kukunya. Ada yang rontok lalu tumbuh kembali.

Demikian pula siang dan malam, saling kejar mengejar dan bergurlir silih berganti. Juga matahari, bulan, bintang, awan dan hujan, semuanya datang kemudian pergi untuk datang kembali. Rembulan terbit seperti sabit, semakin membesar hingga purnama, kemudian mengecil kembali. Gerhana matahari dan bulan menyurutkan cahaya yang kemudian bersinar kembali. Bumi pun seperti itu. Semula dalam keadaan kering, kemudian menghijau, kering kembali, dan menghijau lagi. Begitulah seterusnya hingga saat yang ditentukan Allah tiba. 

Tuhan Yang Maha Kuasa membuat proses perubahan dan pergantian seperti itu. Bila yang Dia mampu melakukan hal itu tentulah Dia kuasa untuk menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan binasa di permukaan bumi. Dan, saat itu pasti akan tiba.

Bagi hamba-hamba Allah hendaklah banyak merenung dan memikirkan berbagai fenomena itu. Agar semakin kuat keimanannya terhadap adanya kebangkitan kembali setelah mati. Ia harus mengimani bahwa Allah akan membangkitkannya kembali lalu memberinya keadilan sesuai dengan amal perbuatannya.

Dan pada akhirnya, berdasarkan kadar iman yang dimiliknya, seorang hamba akan berusaha sekuat tenaga untuk senantiasa menjunjung tinggi segala perintah Allah dan menjauh dari segala larangan-Nya.

Wallahu A'lam 
Read More
      edit

Tuesday, August 25, 2020

Published August 25, 2020 by with 0 comment

Akal dan Hawa Nafsu

Dalam sebuah ungkapan dikatakan:

طُوْبَى لِمَنْ كَانَ عَقْلُهُ أَمِيْرًا وَهَوَاهُ أَسِيْرًا، وَوَيْلٌ لِمَنْ كَانَ هَوَاهُ أَمِيْرًا وَعَقْلُهُ أَسِيْرًا

"Berbahagialah orang yang selalu di bawah bimbingan akalnya, sedangkan hawa nafsunya berada dalam kendalinya. Dan celakalah orang yang selalu di bawah bimbingan hawa nafsunya, sedangkan akalnya diam tak mampu berbuat apa-apa."

Yang dimaksud orang yang mengutamakan akal daripada hawan nafsunya adalah orang yang selalu mengutamakan kehendak akalnya yang lurus. Sedangkan hawa nafsu yang selalu mengarahkannya untuk berbuat yang bertentangan dengan syara' diam terkendali. Sungguh berbahagia orang yag hidupnya seperti itu.

Namun sebaliknya, benar-benar celaka orang yang dikendalikan oleh hawa nafsunya. Sementara akalnya sama sekali tak bisa difungsikan untuk bertafakur kepada Allah Ta'ala. Akalnya terkekang, sedangkan hawa nafsunya menjadi penguasa atas dirinya. 

Wallahu 'alam
Read More
      edit

Sunday, August 23, 2020

Published August 23, 2020 by with 0 comment

Antara Syahwat dan Kesabaran

Ada ungkapan yang menyatakan:

إِنَّ الشَّهْوَةَ تُصَيِّرُ الْمُلُوْكَ عَبِيْدًا، وَالصَّبْرَ يُصَيِّرُ الْعَبِيْدَ مُلُوْكًا؛ أَلاَ تَرَى إِلَى يوُْسُفَ وَزُلَيْخَا؟

"Sesungguhnya syahwat bisa mengubah seorang raja menjadi hamba, dan kesabaran bisa mengubah seorang hamba menjadi raja. Tidakkah engkau menyimak kisah Yusuf dengan Zulaikha?"

Syahwat adalah kecintaan atau kesukaan. Padahal, barangsiapa yang mencintai sesuatu maka ia akan menjadi hamba sesuatu yang dicintainya itu. 

Sedangkan kesabaran adalah ketabahan, yang dengannya seseorang akan bisa mencapai apa yang dia dambakan. 

Perhatikanlah kisah Yusuf dan Zulaikha. Zulaikha sangat menyukai Yusuf. Namun Yusuf dengan penuh kesabaran selalu bisa keluar dari bujuk rayu Zulaikha. Akhirnya, Yusuf yang pada awalnya adalah seorang hamba terangkat derajatnya menjadi raja.

Wallahu a'lam
Read More
      edit

Saturday, August 15, 2020

Published August 15, 2020 by with 0 comment

Rusaknya Hati dan Lisan

Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra ketika menafsirkan firman Allah:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ - الروم: ٤١

"Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan..." (QS. Ar-Rum: 41)

Beliau berkata:

الْبَرُّ هُوَ اللِّسَانُ، وَالْبَحْرُ هُوَ الْقَلْبُ؛ فَإِذَا فَسَدَ اللِّسَانُ بَكَتْ عَلَيْهِ النُّفُوْسُ، وَإِذَا فَسَدَ الْقَلْبُ بَكَتْ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ

"Daratan adalah lisan, sedangkan lautan maksudnya adalah hati; apabila lisan rusak maka orang-orangpun akan menangisinya, sedang bila hati yang rusak maka malaikat menangisinya." 

Rusaknya lisan itu di antara bentuknya adalah memaki, sedangkan di antara bentuk rusaknya hati adalah bersikap riya (pamer).

Ada yang mengatakan:

الحكمة فى أن اللسان واحد تنبيه للعبد فى أنه لا ينبغى أن يتكلم إلاّ فيما يهمّه وفى خيرٍ

Hikmah ditetapkannya lisan seseorang itu hanya satu adalah sebagai pengingat agar tidak berbicara kecuali dalam masalah yang dirasa penting dan baik.

Ada pula yang berkata:

لأنّ اللسان الذاكر بكل لغات كان ذكره للمذكور الواحد وهو الله تعالى، وكذلك القلب بخلاف نحو العين والأذن فإنه يتعدّد، قيل لأن الحاجة إلى السمع والبصر أكثر من الحاجة إلى الكلام اه. وإنما شبّه القلب بالبحر لشدة عُمْقه واتساعه

Bahwasanya lisan yang bisa berbicara dengan berbagai bahasa itu seharusnya hanya menuju kepada Dzat Yang Maha Tunggal, yaitu Allah Ta'ala. Demikian pula hati, juga diciptakan hanya satu; hal ini berbeda dengan mata, telinga dan yang lainnya, yang diciptakan berbilang (lebih dari satu). Hal ini dikarenakan keperluan untuk mendengar dan melihat lebih banyak daripada keperluan berbicara. Adapun hati disamakan dengan lautan karena sama-sama sangat dalam dan luas.

والله أعلم بالصواب

Read More
      edit

Tuesday, August 11, 2020

Published August 11, 2020 by with 0 comment

Orang yang Tak Mengenal Allah dan Dirinya Sendiri

Disebutkan oleh sebagian hukama:

 مَنْ تَوَهَّمَ أَنَّ لَهُ وَلِيًّا أَوْلَى مِنَ اللهِ قَلَّتْ مَعْرِفَتُهُ بِاللهِ، وَمَنْ تَوَهَّمَ أَنَّ لَهُ عَدُوًّا أَعْدَى مِنْ نَفْسِهِ قَلَّتْ مَعْرِفَتُهُ بِنَفْسِهِ

 
"Barangsiapa yang menyangka bahwa ia memiliki penolong yang lebih utama selain Allah, maka itu menunjukkan betapa sedikitnya pengenalannya terhadap Allah, dan barangsiapa yang menyangka bahwa ia memiliki musuh yang lebih kejam dari nafsunya, maka itu menunjukkan betapa sedikitnya pengenalannya terhadap dirinya sendiri."    

Yang dimaksud hukama adalah orang yang mengenal penyakit hati dan bagaimana cara mengobatinya. Mereka adalah wali-wali Allah. 

Makna dari ungkapan ini adalah barangsiapa yang menyangka ada penolong yang lebih dekat untuknya dan lebih banyak pertolongannya selain Allah Swt, maka berarti ia benar-benar tidak mengenal Allah Ta'ala. Dan, barangsiapa yang mengira ada musuhnya yang lebih kuat dan lebih kejam dibandingkan nafsunya sendiri, yang selalu mendorongnya untuk melakukan kejahatan, maka berarti ia benar-benar tak mengenal dirinya sendiri.

 والله أعلم بالصواب

Read More
      edit

Monday, August 3, 2020

Published August 03, 2020 by with 0 comment

Keinginan Ahli Ma'rifat dan Ahli Zuhud

Ada keterangan yang menyebutkan:

هَمُّ العَارِفِ الثَّنَاءُ وَهَمُّ الزَّاهِدِ الدُّعَاءُ، لِأَنَّ هَمَّ الْعَارِفِ رَبُّهُ وَهَمَّ الزَاهِدِ نَفْسُهُ


"Keinginan ahli ma'rifat itu adalah memuji, sedangkan keinginan ahli zuhud itu adalah berdoa, karena yang diinginkan orang yang arif adalah Allah, sedangkan yang diinginkan orang yang zuhud adalah dirinya."

Orang yang arif menghabiskan hari-harinya untuk mengagungkan sifat-sifat Allah subhanahu wata'ala. Sedangkan orang yang zuhud, selain berdoa ia juga senantiasa mendekatkan dirinya kepada Allah demi untuk mendapatkan kebaikan dari-Nya.

Orang yang arif tidak pernah memikirkan pahala dan surga yang akan didapatkannya, ia hanya memikirkan tentang keagungan Tuhannya. Sedangkan orang yang zuhud selalu mencari untuk kemaslahatan dirinya. Jadi, perbedaan di antara keduanya adalah bahwa zuhud tujuannya tidak lain adalah bagaimana caranya ia mendapatkan pahala dan surga serta keinikmatan di dalamnya. Sedangkan orang yang arif tujuannya adalah bagaimana caranya agar ia terhindar dari segala macam bentuk penghalangan (tirai) antara dirinya dengan Allah Ta'ala.

والله أعلم بالصواب

Read More
      edit

Sunday, May 31, 2020

Published May 31, 2020 by with 0 comment

Jangan Remehkan Dosa Kecil

Disebutkan oleh sebagian Hukama, yakni para aulia Allah:

لاَ تَحْقِرُوْا الذُّنُوْبَ الصِّغَارَ، فَإِنَّهَا تَتَشَعَّبُ مِنْهَا الذُّنُوْبُ الْكِبَارُ

"Janganlah meremehkan dosa-dosa kecil, karena dari situlah munculnya dosa-dosa besar."

Yang dimaksud meremehkan dosa-dosa kecil adalah menyebut atau menghitungnya sebagai sesuatu yang kecil, padahal berapa banyak murka Allah itu justru muncul pada dosa-dosa kecil.
 
Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
 
لاَ صَغِيْرَةَ مَعَ اْلإِصْرَارِ، وَلاَ كَبِيْرَةَ مَعَ اْلإِسْتِغْفَارِ

"Tidak ada dosa kecil bila dilakukan terus menerus, dan tidak ada dosa besar bila senantiasa diiringi dengan permohonan ampun kepada Allah (istighfar)."
 
Maknanya adalah bahwa dosa kecil yang terus menerus dikerjakan akan menjadi dosa besar. Bagaimana tidak, adanya kehendak melakukan terus menerus suatu dosa telah menyebabkannya menjadi besar, karena kehendak (niat) berbuat dosa itu sendiri adalah perbuatan dosa. 
 
Adapun makna istighfar dalam hadits tersebut adalah bertaubat dengan memenuhi segala macam syarat dan aturannya, karena dengan cara seperti itu Allah akan menghapus resiko dari perbuatan jahat walaupun kejahatan yang besar.
 
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam ad-Dailami dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, dengan susunan membalik anak kalimat yang belakang menjadi di depan.
Read More
      edit

Sunday, May 17, 2020

Published May 17, 2020 by with 0 comment

Yang Tertawa dan Menangis

Sebagian kalangan Zahid (Ahli Zuhud) berkata:

مَنْ أَذْنَبَ ذَنْبًا وَهُوَ يَضْحَكُ، فَإِنَّ اللهَ يُدْخِلُهُ النَّارَ وَهُوَ يَبْكِى؛ وَمَنْ أَطَاعَ وَهُوَ يَبْكِى، فَإِنَّ اللهَ يُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ وَهُوَ يَضْحَكُ
 
"Barangsiapa yang melakukan perbuatan dosa dan dia tertawa, maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka dalam keadaan menangis; dan barangsiapa yang menjalankan ketaatan dan dia menangis, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga dalam keadaan tertawa."
 
Zahid (Ahli Zuhud) adalah:
 
الَّذِيْنَ احْتَقَرُوا الدُّنْيَا وَلَمْ يُبَالُوْا بِهَا، بَلْ أَخَذُوْا مِنْهَا قَدْرَ ضَرُوْرَتِهِمْ

Orang-orang yang tidak terlalu mementingkan dunia dan tidak begitu peduli terhadapnya, yang mengambil dunia hanya sebatas kebutuhan mereka saja. 
 
Maksud nasehat ini adalah orang yang bangga berbuat dosa maka akan masuk ke neraka dengan penuh penyesalan, karena penyiksaan yang teramat pedih. Orang yang seperti ini pada hakikatnya telah melakukan dua buah dosa, yakni perbuatan dosa itu sendiri dan dosa karena bangga berbuat dosa.
 
Sebaliknya, orang yang taat kepada Allah dengan penuh rasa penyesalan atas dosa-dosanya yang telah lalu dan merasa takut akan mendapatkan siksa sehingga menyebabkannya menangis, kelak akan masuk surga dalam keadaan gembira. Orang yang seperti ini pada hakikatnya telah berbuat dua bentuk kebajikan sekaligus, yakni kebajikan dalam bentuk perbuatan taat itu sendiri dan kebajikan dalam wujud penyesalannya terhadap dosa yang telah dia lakukan.   
Read More
      edit

Friday, May 15, 2020

Published May 15, 2020 by with 0 comment

Kemaksiatan Karena Syahwat dan Karena Kesombongan

Imam Sufyan ats-Tsauri radhiyallahu 'anhu, beliau adalah guru Imam Malik, pernah berkata:

كُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ شَهْوَةٍِ فَإِنَّهُ يرُْجَي غُفْرَانُهَا، وَكُلُّ مَعْصِيَةٍ عَنْ كِبْرٍ فَإِنَّهُ لاَ يُرْجَي غُفْرَانُهَا. لِأَنَّ مَعْصِيَةَ إِبْلِيْسَ كَانَ أَصْلُهَا مِنَ الْكِبْرِ وَ زَلَّةَ سَيِّدِنَا آدَم كَانَ أَصْلُهَا مِنَ الشَّهْوَةِ
 
"Kemaksiatan yang timbul karena dorongan syahwat masih bisa diharapkan ampunannya, sedangkan kemaksiatan yang timbul karena kesombongan tak bisa diharapkan ampunannya. Karena kemaksiatan iblis itu asalnya adalah kesombongan, sedangkan ketergelinciran Nabi Adam berasal dari syahwat."
 
Yang dimaksud dengan syahwat adalah:
 
اِشْتِيَاقِ النَّفْسِ إِلَى شَيْءٍ
 
Keinginan nafsu terhadap sesuatu.
 
Sedangkan yang dimaksud dengan sombong adalah:
 
دَعْوَى الْفَضْلِ
 
Merasa diri lebih utama.
 
Nah, iblis berbuat maksiat, yakni dengan menentang perintah Allah untuk bersujud kepada Adam adalah karena merasa dirinya lebih utama daripada Nabi Adam 'alaihis salam. Sedangkan kemaksiatan Nabi Adam 'alaihis salam, yakni melanggar larangan makan buah khuldi adalah semata-mata karena dorongan nafsu. Iblis tak dapat diampuni, sedangkan Nabi Adam 'alaihis salam memperoleh ampunan Allah Ta'ala.   
Read More
      edit

Wednesday, May 13, 2020

Published May 13, 2020 by with 0 comment

Keberuntungan dan Kerugian yang Tiada Terhingga

عَنِ اْلأَعْمَشِ، اِسْمُهُ سُلَيْمَانُ بْنُ مِهْرَانَ الْكُوْفِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: مَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ التَّقْوَى كَلَّتِ اْلأَلْسُنُ عَنْ وَصْفِ رِبْحِ دِيْنِهِ، وَمَنْ كَانَ رَأْسُ مَالِهِ الدُّنْيَا كَلَّتِ اْلأَلْسُنُ عَنْ وَصْفِ خُسْرَانِ دِيْنِهِ
 
Dari al-A'masy, namanya adalah Sulaiman bin Mihran al-Kufi radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Barangsiapa bermodalkan ketakwaan, maka lisan akan lelah menghitung keuntungan agamanya. Dan barangsiapa yang yang bermodalkan harta benda dunia, maka lisan akan letih menghitung kerugian agamanya."
 
وَالْمَعْنَى مَنْ تَمَسَّكَ عَلَى التَّقْوَى بِامْتِثَالِ أَوَامِرِ اللهِ تَعَالَى وَاجْتِنَابِ الْمَعَاصِى بِأَنْ أَسَّسَ أَفْعَالَهُ بِمُوَافِقَاتِ الشَّرْعِ فَلَهُ حَسَنَاتٌ كَثِيْرَةٌ لاَ تُحْصَى
 
Maknanya adalah barangsiapa yang berpegang kepada prinsip-prinsip ketakwaan, yaitu dengan menjalankan hal-hal yang diperintahkan Allah Ta'ala dan menjauhi berbagai kemaksiatan dengan senantiasa menyelaraskan amal perbuatannya dengan syariat, maka baginya kebaikan yang sangat banyak. 
 
وَمَنْ تَمَسَّكَ عَلَى أُمُوْرٍ مُخَالِفَاتٍ لِلشَّرْعِ فَلَهُ سَيِّئَاتٌ كَثِيْرَةٌ عَجَزَتِ اْلأَلْسُنُ عَنْ ذَلِكَ بِالْعَدَدِ
 
Dan barangsiapa yang berpegang kepada perkara-perkara yang menyelisihi syariat, maka baginya keburukan yang sangat banyak, yang lisan pun takkan mampu untuk menghitungnya.
Read More
      edit

Tuesday, May 12, 2020

Published May 12, 2020 by with 0 comment

Ciri Orang yang Mulia dan yang Bijaksana

Yahya bin Mu'adz radhiyallahu 'anhu berkata:

مَا عَصَى اللهَ كَرِيْمٌ، وَلاَ آثرَ الدُّنْيَا عَلَى اْلآخِرَةِ حَكِيْمٌ
 
"Orang yang mulia takkan bermaksiat kepada Allah, dan orang yang bijaksana takkan lebih  mengutamakan dunia atas akhirat."
 
Yang dimaksud orang yang mulia dalam ungkapan di atas adalah:
 
حَمِيْدُ الْفِعَالِ، وَهُوَ مَنْ يُكْرِمُ نَفْسَهُ بِالتَّقْوَى وَبِاْلإِحْتِرَاسِ عَنِ الْمَعَاصِى
 
Orang yang terpuji amal perbuatannya, yakni orang yang memuliakan dirinya dengan ketakwaan dan mencegah dirinya dari berbagai perbuatan maksiat kepada Allah.
 
Sedangkan yang dimaksud orang yang bijaksana dalam ungkapan di atas adalah:
 
مُصِيْبٌ فِى أَفْعَالِهِ، وَهُوَ مَنْ يَمْنَعُ نَفْسَهُ مِنْ مُخَالَفَةِ عَقْلِهِ السَّلِيْمِ

Orang yang benar amal perbuatannya, yakni orang yang mencegah dirinya menyelisihi akal sehatnya.
Read More
      edit
Published May 12, 2020 by with 0 comment

Yang Menuju Surga dan Neraka

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَرَّمَ وَجْهَهُ: مَنْ كَانَ فِىْ طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَتِ الْجَنَّةُ فِىْ طَلَبِهِ، وَمَنْ كَانَ فِىْ طَلَبِ الْمَعْصِيَةِ كَانَتِ النَّارُ فِىْ طَلَبِهِ
 
Dari 'Ali radhiyallahu 'anhu wa karrama wajhahu, beliau berkata: "Barangsiapa mencari ilmu, maka surgalah yang dia cari. Dan barangsiapa yang mencari maksiat, maka nerakalah yang dia cari."

أي مَنِ اشْتَغَلَ فِى الْعِلْمِ النَّافِعِ الَّذِىْ لاَ يَجُوْزُ لِلْبَالِغِ الْعَاقِلِ جَهْلُهُ كَانَ فِى الْحَقِيْقَةِ طَالِبًا لِلْجَنَّةِ وَلِرِضَا اللهِ تَعَالَى
 
Maksudnya adalah barangsiapa yang mencari ilmu yang bermanfaat, yakni ilmu yang orang dewasa dan berakal wajib mengetahuinya, maka hakikat pencariannya itu adalah surga dan keridhaan Allah Ta'ala.

وَمَنْ كَانَ مُرِيْدًا لِلْمَعْصِيَةِ كَانَ فِى الْحَقِيْقَةِ طَالِبًا لِلنَّارِ وَلِسُخْطِ اللهِ تَعَالَى
 
Dan barangsiapa yang mengharapkan kemaksiatan, maka hakikat pencariannya itu adalah neraka dan kemurkaan Allah Ta'ala.
Read More
      edit

Sunday, May 10, 2020

Published May 10, 2020 by with 0 comment

Penyebab Gelapnya Hati dan Bersinarnya Hati

Dari 'Utsman ra, beliau menyatakan:

هَمُّ الدُنْيَا ظُلْمَةٌ فِى الْقَلْبِ، وَهَمُّ اْلآخِرَةِ نُوْرٌ فِى الْقَلْبِ
 
"Keprihatinan terhadap dunia adalah kegelapan bagi hati, sedangkan keprihatinan terhadap akhirat adalah sinar bagi hati."
 
أي الْحُزْنُ فِى اْلأُمُوْرِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِالدُّنْيَا صَارَ مُظْلِمًا فِى الْقَلْبِ، وَالْحُزْنُ فِى اْلأُمُوْرِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِاْلآخِرَةِ صَارَ مُنَوِّرًا لِلْقَلْبِ
 
Maksudnya adalah menyusahkan hati terhadap hal-hal yang berkaitan dengan perkara dunia menjadi sebab gelapnya hati, sedangkan menyusahkan hati terhadap hal-hal yang berhubungan dengan urusan akhirat menjadi sebab bersinarnya hati.
 
اللَّهُمَّ لاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلغَ عِلْمِنَا

"Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan dunia sebagai kepentingan terbesar kami, dan jangan pula menjadikannya sebagai puncak capaian ilmu kami."
Read More
      edit

Wednesday, May 6, 2020

Published May 06, 2020 by with 0 comment

Kebaikan Abu Bakar dan Umar ra

Dinukil dari Syaikh Abdul Mu'thiy As-Samlawiy, bahwa diriwayatkan dari Umar ra, sesungguhnya Nabi Saw bertanya kepada Jibril:

صِفْ لِيْ حَسَنَاتِ عُمَرَ، فَقَالَ: لَوْكَانَتِ الْبِحَارُ مِدَادًا وَالشَّجَرُ أَقْلاَماً لَمَا حَصَرْتُهَا، فَقَالَ: صِفْ لِيْ حَسَنَاتِ أَبِى بَكْرٍ، فَقَالَ: عُمَرُ حَسَنَةٌ مِنْ حَسَنَاتِ أَبِى بَكْرٍ
 
"Kemukakanlah kepadaku tentang kebaikan Umar. Lalu Jibril menjawab: Andaikan lautan menjadi tinta dan pepohonan menjadi pena niscaya aku tak dapat menghitung kebaikannya. Nabi bertanya lagi: Kemukakanlah kepadaku kebaikan Abu Bakar. Jibril menjawab: Umar itu sendiri adalah kebaikan di antara kebaikan-kebaikannya Abu Bakar."
 
Juga disebutkan:
 
عِزُّ الدُّنْيَا بِالْمَالِ وَعِزُّ اْلآخِرَةِ بِصَالِحِ اْلأَعْمَالِ

"Keluhuran dunia dapat dicapai dengan harta, sedangkan keluhuran akhirat dapat dicapai dengan amal saleh."
 
Dengan demikian, tidaklah menjadi kuat dan maslahat urusan dunia kecuali dengan harta; sebagaimana halnya tidak menjadi kuat dan maslahat urusan akhirat kecuali dengan amal saleh.
Read More
      edit

Tuesday, May 5, 2020

Published May 05, 2020 by with 0 comment

Mereka Seperti Orang Tenggelam

Dari Abu Bakar As-Shiddiq ra, beliau mengatakan:
 
مَنْ دَخَلَ الْقَبْرَ بِلاَ زَادٍ فَكَأَنَّمَا رَكِبَ الْبَحْرَ بِلاَ سَفِيْنَةٍ

"Barangsiapa masuk kubur tanpa bekal, maka sama halnya ia melintasi laut tanpa perahu."
 
Dia pun akan tenggelam, kecuali yang diselamatkan oleh Allah Swt. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw berikut:
 
مَا الْمَيِّتُ فِي قَبْرِهِ إِلاَّ كَالْغَرِيْقِ الْمُغَوِّثِ
 
"Tidaklah mayit di dalam kuburnya melainkan seperti orang tenggelam yang membuutuhkan pertolongan."
Read More
      edit