Lahir
KH Abdul Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid. Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya. Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal.
“Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang.
KH Abdul Hamid lahir pada tahun 1333 H (bertepatan dengan 1914 atau 1915 M) di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya di dukuh Sumurkepel, desa Sumbergirang. Sebuah pedukuhan yang terletak di tengah kota kecamatan Lasem. Begitu lahir, bayi itu diberi nama Abdul Mu’thi. Itulah nama kecil beliau hingga remaja, sebelum berganti menjadi Abdul Hamid. Abdul Mu’thi kecil biasa dipanggil “Dul” saja. Tapi, seringkali panggilan ini diplesetkan menjadi “Bedudul” karena kenakalannya. Mu’thi memang tumbuh sebagai anak yang lincah, extrovert, dan nakal.
“Nakalnya luar biasa,” tutur KH. Hasan Abdillah Glenmore, adik sepupu beliau. Tapi nakalnya Mu’thi tidak seperti anak-anak sekarang: yang sampai mabuk-mabukan atau melakukan perbuatan asusila. Nakalnya Mu’thi adalah kenakalan bocah yang masih dalam batas wajar, tapi untuk ukuran anak seorang kiai dipandang “luar biasa”. Sebab, sehari-hari dia jarang di rumah. Hobinya adalah bermain sepak bola dan layang-layang.
Beliau
bisa disebut bolamania alias gila sepak bola, dan ayahandanya tak bisa
membendung hobi ini. Karena banyak bermain, ngajinya otomatis kurang teratur
walaupun bukan ditinggalkan sama sekali. Dia mengaji kepada KH Ma’shum
(ayahanda KH Ali Ma’shum,
Jogjakarta) dan KH Baidhawi, dua “pentolan” ulama Lasem. Ketika mulai beranjak
remaja, dia mulai gemar belajar kanuragan
(semacam ilmu kesaktian).
Belajarnya cukup intensif sehingga mencapai
taraf ilmu yang cukup tinggi. “Sampai bisa menangkap babi jadi-jadian,” tutur
KH Zaki Ubaid Pasuruan. Meski begitu, sejak kecil
ia sudah menunjukkan tanda-tanda bakal menjadi wali atau, setidaknya, orang
besar. Ketika diajak kakeknya, KH. Muhammad Shiddiq (Jember), pergi haji, Mu’thi bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Pada
saat haji itulah
namanya diganti menjadi Abdul Hamid.
Pendidikan
Pada usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, KH Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya untuk meredam kenakalannya. Dia tidak lama di pondok ini. Satu atau satu setengah tahun kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan. Pondok pimpinan KH Dimyathi ini cukup besar dan berwibawa. Dari pondok ini terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH Ali Ma’shum, Jogjakarta (mantan Rais Am PBNU), KH Masduqi Lasem, KH Abdul Ghofur Pasuruan, KH Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi.
Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Dia tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.
Pada usia sekitar 12-13 tahun, Hamid dikirim ayahandanya, KH Abdullah Umar, ke Pondok Kasingan, Rembang. Maksud ayahandanya untuk meredam kenakalannya. Dia tidak lama di pondok ini. Satu atau satu setengah tahun kemudian dia pindah ke Pondok Tremas, Pacitan. Pondok pimpinan KH Dimyathi ini cukup besar dan berwibawa. Dari pondok ini terlahir banyak kiai besar. Di antaranya adalah KH Ali Ma’shum, Jogjakarta (mantan Rais Am PBNU), KH Masduqi Lasem, KH Abdul Ghofur Pasuruan, KH Harun Banyuwangi, dan masih banyak lagi.
Walaupun kegemarannya bermain sepak bola masih berlanjut, di pesantren ini beliau mulai mendapat gemblengan ilmu yang sebenarnya. Uang kiriman orangtua yang hanya cukup untuk dipakai makan nasi thiwul tidak membuatnya patah arang. Dia tetap betah tinggal di sana sampai 12 tahun, hingga mencapai taraf keilmuan yang tinggi di berbagai bidang.
Menikah
Setelah 12 tahun belajar agama di Pondok Tremas, tokoh kita itu dipinang oleh pamandanya, KH Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nafisah. Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH Muhammad Shiddiq, supaya mengambil Hamid sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut.
Setelah 12 tahun belajar agama di Pondok Tremas, tokoh kita itu dipinang oleh pamandanya, KH Achmad Qusyairi, untuk dikawinkan dengan putrinya, Nafisah. Konon, Kiai Achmad pernah menerima pesan dari ayahandanya, KH Muhammad Shiddiq, supaya mengambil Hamid sebagai menantu mengingat keistimewaan-keistimewaan yang tampak pada pemuda tersebut.
Antara lain, saat pergi haji dulu, dia bisa berjumpa
dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sayang, sang kakek tak sempat
melihat pernikahan itu karena lebih dulu dipanggil Sang Mahakuasa. Seperti
disebut dalam surat undangan, akad nikah akan
dilangsungkan pada 12 September 1940 M, bertepatan dengan 9 Sya’ban 1359 H,
selepas Zhuhur
pukul 1 di Masjid Jami’ (sekarang Masjid Agung al-Anwar) Pasuruan.
Namun,
rencana tinggal rencana. Pada waktu yang ditentukan, para undangan sudah
berkumpul di Masjid Jami’, namun rombongan penganten pria tak kunjung muncul
hingga jam menunjuk pukul 2. Terpaksa acara melompat ke sesi berikutnya, yaitu
walimah di rumah Kiai Achmad Qusyairi di Kebonsari, di kompleks Pesantren
Salafiyah. Di sana kembali orang-orang dibuat menunggu.
Ternyata, rombongan penganten pria baru datang sore hari, setelah acara walimah rampung dan para undangan pulang semua. “Anu, pengantin kuajak mampir ke makam (para wali),” kata Kiai Ma’shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan. Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan. Sejak itu, Haji Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya.
Ternyata, rombongan penganten pria baru datang sore hari, setelah acara walimah rampung dan para undangan pulang semua. “Anu, pengantin kuajak mampir ke makam (para wali),” kata Kiai Ma’shum, yang dipercaya menjadi kepala rombongan. Apa boleh buat, akad nikah pun dilangsungkan tanpa kehadiran undangan, dan hanya disaksikan para handai tolan. Sejak itu, Haji Abdul Hamid tinggal di rumah mertuanya.
Lima
atau enam tahun kemudian, Kiai Achmad pindah ke Jember, lalu pindah ke
Glenmore, Banyuwangi. Tinggallah kini Kiai Hamid bersama istrinya harus
berjuang secara mandiri mengarungi samudera kehidupan dalam biduk rumah tangga
yang baru mereka bina. Untuk menghidupi diri dan keluarga, Kiai Hamid berusaha
apa saja. Dari jual beli sepeda, berdagang kelapa dan kedelai sampai menyewa
sawah dan berdagang sparepart dokar.
Hari-hari
mereka adalah hari-hari penuh keprihatinan. Makan nasi dengan krupuk atau tempe
panggang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. Terkadang, sarung yang sudah
menerawang (karena usang) masih dipakai (dengan dilapisi kain serban supaya
warna kulitnya tidak kelihatan). Tapi, Kiai Hamid tak kenal putus asa, terus
berusaha dan berusaha. Kala itu beliau belum terlibat dalam kegiatan Pesantren
Salafiyah, meski tinggal di kompleks pesantren.
Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri dua orang yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain. Sekitar 1951, sepeninggal KH Abdullah ibn Yasin yang jadi pengasuh Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir.
Di tengah hidup prihatin itu, beliau mulai punya santri dua orang yang ditempatkan di sebuah gubuk di halaman rumah. Beliau juga mulai menggelar pengajian di berbagai desa di kabupaten Pasuruan: Rejoso, Ranggeh dan lain-lain. Sekitar 1951, sepeninggal KH Abdullah ibn Yasin yang jadi pengasuh Pondok Salafiyah, beliau dipercaya sebagai guru besar pondok, sementara KH Aqib Yasin, adik Kiai Abdullah, menjadi nazhir.
Meski
demikian, secara de facto, beliaulah yang memangku pondok itu, mengurusi segala
tetek bengek sehari-hari, day to day karena Kiai Aqib yang muda itu, masih
belajar di Lasem.
Mendirikan
Pesantren
Kiai
Hamid benar-benar berangkat dari titik nol dalam membina Pondok Salafiyah.
Sebab, saat itu tidak ada santri. Para santri sebelumnya tidak tahan dengan disiplin
tinggi yang diterapkan Kiai Abdullah.
Walaupun
tak ada promosi, satu demi satu santri mulai berdatangan. Prosesnya sungguh
natural, tanpa rekayasa. Perkembangannya memang tidak bisa dibilang melesat
cepat, tapi gerak itu pasti. Terus bergerak dan bergerak hingga kamar-kamar
yang ada tidak mencukupi untuk para santri dan harus dibangun yang baru; hingga
jumlah santrinya mencapai ratusan orang, memenuhi ruang-ruang pondok yang
lahannya tak bisa diperluas lagi karena terhimpit rumah-rumah penduduk; hingga
pada akhirnya, terdorong oleh perkembangan zaman, fasilitas baru pun perlu
disediakan, yaitu madrasah klasikal.
Perkembangan
fenomenal terjadi pada pribadi beliau. Dari semula hanya dipanggil “haji” lalu
diakui sebagai “kiai”, pengakuan masyarakat semakin membesar dan membesar.
Tamunya semakin lama semakin banyak. Terutama setelah wafatnya Habib Ja’far Assegaf (wali terkemuka Pasuruan waktu itu yang
jadi guru spiritualnya) sekitar 1954, sinarnya semakin membesar dan membesar.
Kiai Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf — meminjam istilah Gus Mus — “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang). Ketika Kiai Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi.
Kiai Hamid sendiri mulai diakui sebagai wali beberapa tahun kemudian, sekitar awal 1960-an. Pengakuan akan kewalian itu kian meluas dan meluas, hingga akhirnya mencapai taraf — meminjam istilah Gus Mus — “muttafaq ‘alaih” (disepakati semua orang, termasuk di kalangan mereka yang selama ini tak mudah mengakui kewalian seseorang). Ketika Kiai Hamid mulai berkiprah di Pasuruan, tak sedikit orang yang merasa tersaingi.
Terutama
ketika beliau menggelar pengajian di kampung-kampung. Maklumlah, beliau seorang
pendatang. Ada kiai setempat yang menuduh beliau mencari pengaruh, dan
menggerogoti santri mereka. Padahal, Kiai Hamid mengajar di sana atas
permintaan penduduk setempat. Ibarat kata pepatah Jawa “Becik ketitik, ala
ketara”, lambat laun beliau dapat menghapus kesan itu.
Bukan
dengan rekayasa atau “politik pencitraan” yang canggih, melainkan dengan
perbuatan nyata. Dengan tetap berjalan lurus, dan terutama dengan sikap
tawadhu’, kehadiran beliau akhirnya dapat diterima sepenuhnya. Bahkan mereka
menaruh hormat pada beliau justru karena sikap tawadhu’ itu. Beliau memang
rendah hati (tawadhu’). Kalau menghadiri suatu acara, beliau memilih duduk di
tempat “orang-orang biasa”, yaitu di belakang, bukan di depan.
“Kiai
Hamid selalu ndepis (menyembunyikan diri) di pojok,” kata Kiai Hasan Abdillah.
Beliau bersikap hormat pada siapapun. Dari yang miskin sampai yang kaya, dari
yang jelata sampai yang berpangkat, semua dilayaninya, semua dihargainya.
Misalnya, bila sedang menghadapi banyak tamu, beliau memberikan perhatian pada
mereka semua. Mereka ditanyai satu per satu sehingga tak ada yang merasa
disepelekan.
“Yang
paling berkesan dari Kiai Hamid adalah akhlaknya: penghargaannya pada orang,
pada ilmu, pada orang alim, pada ulama. Juga tindak tanduknya,” kata mantan Menteri Agama, Prof. Dr. Mukti Ali, yang
pernah menjadi junior sekaligus anak didiknya di Pesantren Tremas. Beliau
sangat hormat pada ulama dan habaib. Di depan mereka, sikap beliau layaknya
sikap seorang santri kepada kiainya.
Bila
mereka bertandang ke rumahnya, beliau sibuk melayani. Misalnya, ketika Sayyid Muhammad ibn Alwi al-Maliki, seorang ulama kondang Mekah, bertamu,
beliau sendiri yang mengambilkan suguhan, lalu mengajaknya bercakap sambil
memijatinya. Padahal tamunya itu lebih muda usia. Sikap tawadhu’ itulah, antara
lain, rahasia “keberhasilan” beliau.
Karena
sikap ini beliau bisa diterima oleh berbagai kalangan, dari orang biasa sampai
tokoh. Para kiai tidak merasa tersaingi, bahkan menaruh hormat ketika melihat
sikap tawadhu’ beliau yang tulus, yang tidak dibuat-buat. Derajat beliau pun
meningkat, baik di mata Allah maupun di mata manusia. Ini sesuai dengan sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam,
“Barangsiapa bersikap tawadhu’, Allah akan mengangkatnya.”
Karomah
Sebelum menjadi kyai, semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama asli Kyai Hamid) banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkhalwat. Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.
Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.
Sebelum menjadi kyai, semasa beliau mondok di Termas, Abdul Hamid (nama asli Kyai Hamid) banyak melakukan suluk tarekat secara sirri. Seperti sering pergi ke gunung dekat pondok Termas untuk melakukan khalwat dan dzikir. Tapi kalau ada orang datang, ia pura-pura mantheg (mengetapel) agar orang tidak tahu bahwa dia sedang berkhalwat. Amalan wirid juga sering beliau baca disela-sela aktifitasnya sebagai seorang santri. Bahkan, ketika sering diajak begadang untuk mencari jangkrik, Kyai Hamid segera membaca wirid ketika teman-temannya tidak melihatnya.
Lambat laun, aktifitas suluk Kyai Hamid dengan dzikir sirri (qalbi) dan membaca awrad semakin intens dilakukan di kamar Pondok. Bahkan diceritakan, semakin hari, Kyai Hamid semakin jarang keluar dari kamar untuk melakukan dzikir dan wirid tarekat tersebut. Sampai-sampai, kawan-kawannya menggodanya dengan mengunci pintu kamar dari luar.
Salah
satu karomah Kiai Abdul Hamid yang dipercaya warga Pasuruan adalah bisa berada
di tempat lain dengan wujud serupa. Hal ini
terjadi saat Habib Baqir Mauladdawilah bertandang ke pesantrennya. Sang Habib
yang pernah berguru dengan al-Ustadzul Imam Al-Habr al-Quthb al-Habib
Abdulqadir bin Ahmad Bilfaqih diberikan ilmu untuk bisa melihat sesuatu yang
gaib.
Pada suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui Kiai Abdul Hamid. Ketika itu di tempat KH Abdul Hamid banyak sekali orang yang datang untuk meminta doa atau keperluannya yang lain. Setelah bertemu Habib Baqir merasa kaget. Ternyata orang yang terlihat seperti KH Abdul Hamid sejatinya bukanlah sang Kiai . Karena yang ditemuinya adalah sesosok gaib yang menyerupai. Kemudian Habib Baqir mencari di manakah sebetulnya KH Abdul Hamid yang asli berada.
Setelah diselidiki dengan ilmu kanuragan Habib Baqir terkejut karena sang kiai tersebut tengah berada di Tanah Suci Mekkah. Karomah KH Abdul Hamid juga pernah ditunjukkan terhadap seorang Habib sepuh yang datang kepadanya, karena sang Habib menanyakan kemana sang Kiai pergi ketika digantikan oleh sesosok gaib yang menyerupainya.
Pada suatu kesempatan datanglah Habib Baqir menemui Kiai Abdul Hamid. Ketika itu di tempat KH Abdul Hamid banyak sekali orang yang datang untuk meminta doa atau keperluannya yang lain. Setelah bertemu Habib Baqir merasa kaget. Ternyata orang yang terlihat seperti KH Abdul Hamid sejatinya bukanlah sang Kiai . Karena yang ditemuinya adalah sesosok gaib yang menyerupai. Kemudian Habib Baqir mencari di manakah sebetulnya KH Abdul Hamid yang asli berada.
Setelah diselidiki dengan ilmu kanuragan Habib Baqir terkejut karena sang kiai tersebut tengah berada di Tanah Suci Mekkah. Karomah KH Abdul Hamid juga pernah ditunjukkan terhadap seorang Habib sepuh yang datang kepadanya, karena sang Habib menanyakan kemana sang Kiai pergi ketika digantikan oleh sesosok gaib yang menyerupainya.
KH Hamid
tidak menjawab, hanya langsung memegang Habib sepuh tersebut. Seketika itu
kagetlah Habib sepuh tadi, melihat suasana di sekitar mereka berubah menjadi
bangunan masjid yang sangat megah. Subhanallah, ternyata Habib sepuh tadi
dibawa oleh Kiai Hamid
mendatangi Masjidil Haram.
Salah satu karomah lainnya yaitu ketika Asmawi, salah
seorang santrinya harus melunasi utang kepada panitia pembangunan masjid yang
sudah jatuh tempo. Besarnya Rp300.000, cukup besar untuk ukuran
waktu sekitar tahun 70-an. Dia
tidak tahu dari mana
uang sebanyak itu bisa
didapat dalam waktu singkat. Karenanya, dia hanya bisa menangis, malu kalau
sampai ditagih. Akhirnya dia mengadukan hal tersebut kepada Kiai Hamid. Kemudian dengan lembut sang Kiai yang lantas
menyuruh Asmawi menggoyang pohon kelengkeng yang tumbuh di halaman depan rumah
Pak Kiai. Di sana ada dua pohon kelengkeng. “Kumpulkan daun-daun yang gugur itu
dan bawa kemari,” kata Kiai Hamid. Setelah menerima daun-daun kelengkeng itu,
Kial Hamid memasukkannya ke dalam saku baju. Ketika ditarik keluar, di
tangannya tergenggam uang kertas. Kemudian dia menyuruh Asmawi melakukan hal
sama tapi pada pohon kelengkeng yang lainnya.
Dengan cara yang sama pula, daun kelengkeng itu berubah menjadi uang kertas. Setelah dihitung Asmawi, jumlahnya Rp225.000. Masih kurang Rp75.000. Tiba-tiba datang seorang tamu menyerahkan uang tunai Rp75.000 kepada Kiai Hamid, lalu uang itu diserahkan ke Asmawi.
Lain lagi yang dialami Said Ahmad, santri lainnya. Dia justru seolah ingin menguji kewalian Kiai Hamid yang telah kesohor. Said Ahmad ingin tahu, apakah Kiai tahu bahwa dia ingin diberi makan olehnya.Ketika sampai di pesantren milik sang kiai, kebetulan saat salat Isya sudah masuk. Dia pun ikut shalat berjamaah.
Dengan cara yang sama pula, daun kelengkeng itu berubah menjadi uang kertas. Setelah dihitung Asmawi, jumlahnya Rp225.000. Masih kurang Rp75.000. Tiba-tiba datang seorang tamu menyerahkan uang tunai Rp75.000 kepada Kiai Hamid, lalu uang itu diserahkan ke Asmawi.
Lain lagi yang dialami Said Ahmad, santri lainnya. Dia justru seolah ingin menguji kewalian Kiai Hamid yang telah kesohor. Said Ahmad ingin tahu, apakah Kiai tahu bahwa dia ingin diberi makan olehnya.Ketika sampai di pesantren milik sang kiai, kebetulan saat salat Isya sudah masuk. Dia pun ikut shalat berjamaah.
Usai
shalat, dia tidak langsung pulang, melainkan menunggu sampai jamaah pulang
semua. Lampu teras rumah Kiai Hamid pun sudah dipadamkan, pertanda pemilik
rumah siap-siap beristirahat. Dengan demikian, dia pikir, niatnya berhasil,
yaitu bahwa keinginannya untuk ditawari makan oleh Kiai tidak diketahui.
Lalu dia
pun melangkahkan kaki meninggalkan masjid. Ternyata dari rumah Kiai Hamid ada
yang melambaikan tangan kepadanya. Dengan langkah ragu, dia pun mendekatinya.
Ternyata tuan rumah sendiri yang memanggilnya. “Makan di sini ya,” kata Kiai
Hamid sambil senyum. Dia pun diajak masuk ke ruang tengah. Di sana hidangan
sudah tersaji. “Maaf, lauknya seadanya,” kata Kiai santai. “Sampeyan tidak
bilang-bilang, sih.” Said tersindir. Dan sejak itu dia percaya, Kiai Hamid
adalah wali.
Suatu
ketika ada seseorang meminta nomer togel ke Kyai Hamid. Oleh Kyai Hamid diberi
dengan syarat jika dapat togel maka uangnya harus dibawa kehadapan Kyai Hamid.
Maka orang tersebut benar-benar memasang nomer pemberian Kyai Hamid dan menang.
Saran ditaati uang dibawa kehadapan Kyai Hamid. Oleh kyai uang tersebut
dimasukan ke dalam bejana dan disuruh melihat apa isinya. Terlihat isinya darah
dan belatung. Kyai Hamid berkata “tegakah saudara memberi makan anak istri
saudara dengan darah dan belatung?” Orang tersebut menangis dan bertobat.
Pada suatu saat orde baru ingin mengajak Kyai Hamid masuk partai pemerintah. Kyai Hamid menyambut ajakan itu dengan ramah dan menjamu tamunya dari kalangan birokrat. Ketika surat persetujuan masuk partai pemerintah itu disodorkan bersama pulpennya, Kyai Hamid menerimanya dan menandatanganinya. Anehnya pulpen tak bisa keluar tinta, diganti polpen lain tetap tak mau keluar tinta. Akhirnya Kyai Hamid berkata: “Bukan saya yang gak mau tanda tangan, tapi bolpointnya gak mau”. Itulah Kyai Hamid dia menolak dengan cara yang halus dan tetap menghormati siapa saja yang bertamu kerumahnya.
Wafat
Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).
Kiai Hamid, seperti para wali lainnya, adalah tiang penyangga masyarakatnya. Tidak hanya di Pasuruan tapi juga di tempat-tempat lain. Beliau adalah sokoguru moralitas masyarakatnya. Beliau adalah cermin (untuk melihat borok-borok diri), beliau adalah teladan, beliau adalah panutan. Beliau dipuja, di mana-mana dirubung orang, ke mana-mana dikejar orang (walaupun beliau sendiri tidak suka, bahkan marah kalau ada yang mengkultuskan beliau).
Bagaimanapun beliau manusia biasa (Rasulullah pun manusia biasa), yang harus merasakan kematian. Sabtu 9 Rabiul Awal 1403 H, bertepatan dengan 25 Desember 1982 M, menjadi awal berkabung panjang bagi msyarakat muslim Pasuruan, dan muslim di tempat lain. Hari itu, saat ayam belum berkokok, hujan tangis memecah kesunyian di rumah dalam kompleks Pesantren Salafiyah.
Setelah jatuh anfal beberapa hari sebelumnya dan sempat dirawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Surabaya karena penyakit jantung yang akut, beliau menghembuskan nafas terakhir. Inna lillahi wa inna lillahi raji’un. Umat pun menangis. Pasuruan seakan terhenti, bisu, oleh duka yang dalam. Puluhan, bahkan ratusan ribu orang berduyun-duyun membanjiri Pasuruan. Memenuhi relung-relung Masjid Agung Al-Anwar dan alun-alun kota, memadati gang-gang dan ruas-ruas jalan yang membentang di depannya. Mereka, dalam gerak serentak, di bawah komando seorang imam, KH. Ali Ma’shum Jogjakarta, mengangkat tangan “Allahu Akbar” empat kali dalam salat janazah yang kolosal. Allahumma ighfir lahu warhamhu, ya Allah ampunilah dosanya dan rahmatilah dia.
0 comments:
Post a Comment