Showing posts with label Terapi Makrifat. Show all posts
Showing posts with label Terapi Makrifat. Show all posts

Friday, June 11, 2021

Published June 11, 2021 by with 0 comment

Qalbu Seorang Mukmin (Bagian Pertama)

Qalbu ibarat sebuah pohon, bila disiram dengan air ketaatan buahnya akan tampak jelas. Maka akan membuahkan penjagaan. Telinga akan membuahkan perhatian terhadap al-Qur’ān dan ‘ilmu. Lidah akan membuahkan dzikir dan ucapan yang baik. Kedua tangan dan kaki akan membuahkan ‘amal-‘amal kebajikan, taat, serta sikap mau membantu orang. Sementara bila qalbu kering, buahnya akan rontok dan manfaatnya hilang.

Oleh karena itu, kalau qalbu sudah kering perbanyaklah berdzikir. Kunjungilah majelis orang-orang wara‘ dan bijak. Jangan seperti orang sakit yang berkata: “Saya tak mau berobat. Nanti juga akan sembuh sendiri. Pasti lama-kelamaan sakitnya juga hilang.” Orang seperti ini harus dinasihati dengan mengatakan: “Engkau baru bisa sembuh kalau mau bertobat. Tak ada jaminan penyakitnya akan hilang sebelum berusaha mencari sebab.”

Perjuangan memang tidak manis. Ia disertai oleh ujung-ujung panah dan pertumpahan darah. Berjuanglah melawan nafsu agar ia mau taat. Itulah yang disebut dengan jihād terbesar.

Qalbu ibarat cermin, sedangkan nafsu seperti asap atau uap. Setiap kali asap itu menempel di cermin, cermin itu pun akan menghitam sehingga kejernihan dan keindahannya pudar. Qalbu yang lemah tak ubahnya seperti cermin milik orang tua renta yang sudah tak punya perhatian untuk membersihkannya. Ia abaikan cermin itu dan tak pernah lagi ia pakai sehingga wajahnya pun tak karuan.

Sebaliknya, qalbu yang mengenal Allah seperti cermin milik pengantin wanita yang cantik. Setiap hari ia bersihkan cermin tersebut dan ia pakai sehingga tetap bening dan mengkilat.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Qalbu manusia lebih bergolak daripada kuali yang sedang mendidih di atas api”. Betapa banyak orang mu’min yang qalbunya kadang menyatu dengan Allah tetapi sebentar kemudian berpisah. Betapa banyak ahli ibadah yang menghabiskan malamnya dalam taat kepada Allah, tetapi ketika matahari menyingsing ia tak ingat lagi pada-Nya. oleh karena itu, Rasūlullāh s.a.w. berdoa: “Yā Mutsabbit-al-qulūbi wal-abshār, tsabbit qalbi ‘alā dīnika wa thā‘atika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu dan pandangan. Teguhkan qalbuku ini di atas agama dan ketaatan pada-Mu).

Bersambung...

Read More
      edit

Wednesday, February 24, 2021

Published February 24, 2021 by with 0 comment

Yang Dungu dan Yang Bodoh

Ketahuilah, yang disebut dungu adalah orang yang ditinggal mati ayahnya lalu ia menangis, meratap, bersedih, dan merasa kecewa atasnya. Sementara dalam saat yang sama ia tidak menangisi pembangkangannya pada Allah. Seolah-olah kondisinya itu mengatakan: “Aku menangisi kepergian sesuatu yang telah membuatku lalai dari Tuhan.” Padahal, semestinya ia menyerah pasrah pada ketentuan Allah. Selain harus ridha dan sabar dalam menerima ujian tersebut lalu bergembira seraya mendekatkan diri pada Tuhan lantaran Dia telah mengambil sesuatu yang selama ini menyebabkan ia lalai dari-Nya. Allah berfirman: “Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan (bagi kalian). Sementara di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (ath-Taghābun [64]: 15).

Sungguh buruk engkau wahai manusia kalau uban sudah tampak sementara pikiranmu tetap masih seperti anak-anak. Ia tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, tak memahami apa yang Allah inginkan, dan tak mengetahui hikmah-Nya dalam mengujimu di dunia ini.

Bila benar-benar berakal, engkau seharusnya menganggap musibah dalam urusan agama jauh lebih berbahaya dan lebih hebat ketimbang musibah dunia. Tangisilah dirimu sebelum kau ditangisi saat matimu nanti. Sesungguhnya istri, anak, dan teman tidaklah menangisimu di saat engkau mati. Tetapi, sebetulnya mereka sedang menangisi kepentingan dan kebutuhan mereka yang hilang karena kepergianmu. Kalau saja engkau kurang dibutuhkan atau tidak begitu penting, pasti tak ada yang menangisimu. Justru sebaliknya, mereka akan berbangga dan merasa lapang. Karena itu, sebelum ditangisi, tangisilah dirimu di dunia ini. katakan pada dirimu: “Sudah sepantasnya aku meratapi maksiat dan ketidaktaatanku pada Tuhan sebelum aku ditangisi orang.”

Zaid ibn Arqam r.a. menceritakan bahwa suatu ketika seorang lelaki bertanya kepada Rasūlullāh s.a.w.: “Wahai Rasūlullāh, bagaimana caranya aku menghindar dari neraka?” Beliau menjawab: “Dengan linangan kedua air matamu. Sesungguhnya kedua mata yang menangis karena takut pada Allah takkan tersentuh api neraka selamanya.” (H.R. Ibn Abid-Dunyā dan al-Ashbaḥānī).

Wahai manusia, bila engkau tak memiliki sikap wara‘ dan takut yang bisa menghalangimu dari berbuat maksiat, tangisilah dirimu di kala sendiri. Letakkanlah debu di atas kepalamu karena Nabi s.a.w. bersabda: “Siapa yang tak memiliki rasa wara‘ yang bisa menghalanginya dari maksiat kepada Allah ketika sendirian, maka Allah pun sama sekali tiada peduli dengan ‘amalnya.”

Apakah menurutmu kemuliaan akhlāq seseorang diukur dari kesopanannya dalam berbicara, kesantunannya dalam bergaul, dan kedermawanannya pada manusia, sementara hak-hak Allah diabaikan dan aturan-Nya dilanggar? Tidak. Itu bukanlah akhlāq yang mulia, tetapi merupakan bentuk kemunāfiqan, penipuan, dan manipulasi. Engkau baru dianggap mempunyai akhlāq yang baik dan adab yang mulia bila engkau menjaga hak-hak Allah, melaksanakan hukum-hukumNya, mematuhi semua perintah-Nya, menjauhi segala larangan-Nya.

Menurut Abū Dzarr r.a. Nabi s.a.w. bersabda: “Wahai Abū Dzarr, yang disebut akal adalah mengatur, yang disebut watak adalah menjaga diri (dari dosa), dan yang disebut kebanggaan adalah berakhlāq mulia.” (H.R. Ibn Hibban dalam kitab Shahih-nya).

Siapa yang menahan diri untuk tidak melakukan maksiat kepada Allah, lalu menunaikan hak-hakNya, mengagungkan dan melaksanakan perintah-Nya, berarti ia memiliki akhlāq luhur dan berjiwa mulia. Allah berfirman: “Siapa yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempatnya.” (an-Nāzi‘āt [79]: 40-41).

Sungguh buruk dan dungu kalau engkau mampu menunaikan hak-hak manusia, berbuat baik kepada mereka, tetapi tidak menunaikan hak-hak Tuhan, Pencipta sekaligus Majikanmu, serta tidak menjalin hubungan yang baik dengan-Nya.

Read More
      edit

Monday, February 22, 2021

Published February 22, 2021 by with 0 comment

Maksiat Adalah Musibah

Orang yang mendapat musibah sejatinya bukanlah yang ditinggal mati anaknya atau kehilangan harta, keluarga, dan kekasihnya. Tetapi, yang sebenarnya tertimpa musibah adalah orang yang dihantam oleh dosa, diserang oleh syahwat, dan ditimpuk oleh berbagai kesalahan sehingga ia seperti kulit yang lapuk dan usang. Inilah orang yang sesungguhnya memperoleh musibah dan patut diberi ungkapan bela sungkawa.

Ia habiskan waktu mudanya untuk meraih semua kenikmatan. Ia habiskan umurnya untuk segala yang terlarang. Janganlah menganggap bahwa yang berduka dan mendapat musibah adalah mereka yang tertawan, terkena penyakit, dilanda kemiskinan, atau sedang dipenjara. Bahkan, bisa jadi semua itu justru membuat mereka bisa menjalin kedekatan dengan Allah sehingga memperoleh ampunan dan ridha-Nya. adakalanya kesembuhan itu datang setelah meminum obat yang pahit. Dan adakalanya pula kebaikan itu datang lewat jalan keburukan.

Yang sebenarnya ditimpa musibah adalah mereka yang bermaksiat kepada Allah dan tidak bertobat dari dosa. Ia masukkan kotoran maksiat ke dalam kerajaan yang bersih ini. Ia penuhi neraka dosa dalam qalbunya hingga datang kematian sedangkan ia hanya bisa menatap tanpa membawa dunia ataupun akhirat. Itu betul-betul merupakan kerugian yang nyata. Banyak sekali orang yang membelanjakan harta dan uangnya di jalan Allah. Namun, yang mau mengorbankan jiwanya guna meraih ridha Allah amatlah sedikit.

Apabila engkau ditanya tentang siapakah yang pantas diratapi, jawablah bahwa yang patut diratapi adalah seorang hamba yang Allah karuniai kesehatan dan kekayaan, lalu menghabiskan keduanya untuk bermaksiat kepada Allah, membuat kerusakan di muka bumi, dan menurut hawa nafsunya sendiri.

Bila engkau tidur dalam kondisi bermaksiat dan mencampuradukkan antara yang baik dan yang jahat, semua itu akan kau lihat dalam mimpi. Karena itu, hendaklah engkau tidur dalam keadaan suci dan bertobat, serta memperbanyak istighfār. Dengan begitu, qalbumu akan segera dimasuki oleh cahaya iman, engkau pun akan menyaksikan keajaiban dalam mimpimu, serta Allah akan melindungimu dari segala bisikan setan.

Abu Umamah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa memasuki tempat tidurnya dalam keadaan suci seraya mengingat Allah hingga kantuk tiba, maka jika di waktu malam ia bangun lalu meminta kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah, niscaya Allah akan memberinya.” (H.R. at-Tirmidzi dalam Shahīh-nya).

Sebaliknya, siapa yang pada siang harinya bermaksiat dan melakukan perbuatan tak berguna, pada malamnya ia akan lalai dari Allah. Sungguh keliru kalau orang meratapi kepergian istri, suami, anak, atau orang tuanya. Tetapi, yang sesungguhnya perlu diratapi adalah kalau mereka tidak bertakwa kepada Allah, tidak takut dengan-Nya, serta tidak memiliki rasa cinta kepada-Nya.

Ketahuilah, yang seharusnya paling perlu ditangisi adalah akalmu. Akal tersebut kering sebagaimana tumbuhan hijau dan tanaman mengalami kekeringan. Padahal dengan akal, seseorang bisa hidup bersama Allah dan bersama manusia. Ia hidup bersama manusia dengan akhlaknya, dan bisa hidup bersama Allah dengan mengikuti syariat-Nya. Rasulullah s.a.w. bersabda: “Siapa yang tak menjaga diri ketika sudah beruban, tidak malu dengan aibnya, serta tidak takut kepada Allah di dunia, Allah pun tidak butuh padanya.”
Read More
      edit

Thursday, February 18, 2021

Published February 18, 2021 by with 0 comment

Menghindari Tipuan Dunia Sebelum Akhir yang Buruk Tiba

Wahai hamba Allah, ketahuilah bahwa yang paling mengkhawatirkan kalau engkau terjatuh dalam sū’-ul-khātimah (akhir yang buruk). Itu bisa terjadi disebabkan oleh padamnya cahaya iman yang ada dalam qalbumu akibat kelamnya maksiat. Artinya, dosa telah bertumpuk di atas dosa tanpa sempat tobat sehingga qalbu menjadi hitam dan gelap gulita. Tak ubahnya seperti bunga mawar putih yang ditutupi oleh debu dan tanah. Rasūlullāh  s.a.w. bersabda: “Apabila seorang mukmin melakukan dosa, ada noda hitam di dalam qalbunya. Apabila ia bertobat, menyesal, dan meminta ampunan, terhapuslah noda hitam tadi. Namun, kalau ia menambah dosa bertambah pula noda hitam tersebut hingga akhirnya menutupi qalbu. Itulah yang dimaksud dengan ar-rān (kotoran) yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’ān: “Sekali-kali tidak (janganlah demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka, tetapi kalbunya tertutup ar-rān (noda hitam) karena apa yang mereka perbuat.” (H.R. at-Tirmidzī).

Wahai saudaraku, janganlah meremehkan ‘amal ketaatan sedikitpun. Waspadalah terhadap hawa nafsu yang ada di dalam dirimu sendiri. Pasalnya, ia merupakan musuh yang paling utama. Nafsu takkan berpisah dengan pemiliknya sampai mati. Adapun syaithan barangkali akan berpisah dengan engkau tatkala Ramadhān tiba. Sebab, di saat Ramadhān, Allah merantai semua setan dan jinn yang jahat. Tetapi, saat itu engkau mungkin masih menyaksikan ada orang yang membunuh atau melakukan dosa di bulan Ramadhān. Tentu saja itu berasal dari nafs-ul-ammārah bis-sū’ (yang memerintahkan kepada keburukan). Apabila nafsumu telah condong pada maksiat, ingatkanlah ia dengan siksa Allah. Kalau kemudian engkau terputus hubungan dengan Allah, itu karena maksiat yang kau lakukan.

Madu yang beracun tentu tak akan diminum walaupun terasa manis. Sebab, engkau tahu di dalamnya terdapat bahaya yang mengancam kesehatan tubuh. Demikian pula dengan dosa, walaupun ia nikmat, tetapi harus ditinggalkan karena bisa membuat seseorang terputus dari Allah. Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Dunia itu terasa manis dan rindang.” Tetapi, dalam hadits yang lain beliau mengatakan: “Dunia itu laksana bangkai yang menjijikkan.” Artinya, dunia terasa manis dan rindang dalam pandangan orang-orang yang lalai. Sebaliknya, dunia laksana bangkai menjijikkan dalam pandangan orang-orang yang mulia dan berakal. Dunia manis dan rindang dalam pandangan jiwa yang jahat, tetapi bangkai menjijikkan dalam pandangan qalbu yang bersih. Dunia itu diibaratkan manis dan rindang sebagai peringatan bagi manusia, tetapi diibaratkan bangkai menjijikkan agar manusia tidak tamak kepadanya.

Karena itu, janganlah tertipu dengan manisnya dunia sebab ia pahit akhirnya. Ada yang berkata: “Dunia adalah bangkai, sementara pemangsanya adalah anjing-anjing.”

Dunia dengan segenap isinya berkata:
“Waspadalah, waspadalah dari kekuatan dan sifat kerasku!
Jangan engkau terpedaya oleh senyumku
Ucapanku menggelikan, sementara sikapku membuat tangisan.”

Dunia terasa manis dan rindang dalam pandangan orang-orang yang lalai. Sebaliknya, dunia laksana bangkai menjijikkan dalam pandangan orang-orang yang mulia dan berakal. Dunia manis dan rindang dalam pandangan jiwa yang jahat, tetapi bangkai menjijikkan dalam pandangan qalbu yang bersih.

Bila seorang hamba berbangga dengan ketaatannya, lalu menyombongkan akhlaq dan ‘ilmunya, merasa mulia dengan ibadahnya, meminta dihargai oleh manusia, sementara ia sendiri tidak menghargai mereka, maka ia termasuk orang sombong yang ‘ujub. Dikhawatirkan ia terjerumus pada sū’-ul-khātimah. Na‘ūdzu billāh.

Kemudian bila seorang hamba terjerumus ke dalam maksiat atau meninggalkan kewajiban, lalu ia menangis, menyesal, sering mengunjungi orang shāliḥ, senantiasa mendatangi majelis para ‘ulamā’, juga menundukkan diri di hadapan Tuhan disertai pengakuan atas kesalahan dan penyimpangannya, memohon maaf dan ampunan-Nya, serta bersegera melakukan ‘amal shāliḥ guna menghapus dosanya, maka orang tersebut bisa diharapkan mendapatkan ḥusn-ul-khātimah dan ada kemungkinan tobatnya diterima.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Ada tiga hal yang merusak: merasa ‘ujub (bangga) dengan dirinya sendiri, sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti.”

Read More
      edit

Saturday, February 13, 2021

Published February 13, 2021 by with 0 comment

Istighfar Membersihkan Dosa

Jika ingin selamat dalam kehidupan dunia ini, jauhilah dosa, yang terang-terangan maupun yang samar. Janganlah beristighfār atas dosa tersebut lalu kembali melakukannya. Perumpamaan orang yang banyak melakukan dosa sekaligus istighfār seperti orang yang banyak meminum obat, tapi juga sering meminum racun. Orang itu patut dinasihati dengan berkata: “Bisa jadi sebelum sempat meminum obat engkau sudah mati terlebih dahulu. Bisa jadi ajal menjemput setelah engkau berbuat dosa padahal engkau belum sempat bertobat. Sehingga engkau pun mati dalam keadaan bermaksiat dan berdosa. Sungguh ini merupakan bahaya besar.”

Siapa yang tidak menjauhi perbuatan terlarang, percuma ia melakukan kewajiban. Ia ibarat orang yang sedang sakit. Selama ia tidak menahan diri dari semua makanan dan tak melakukan diet, percuma ia meminum obat. Ia juga seperti orang yang membersihkan pakaiannya sementara ia jatuhkan dirinya dalam kubangan lumpur. Mana mungkin bisa bersihkan pakaiannya. Berbeda halnya jika ia menjauhkan pakaian tadi dari lumpur dan menjaganya secara baik, ia akan bisa membersihkan pakaian tersebut secara mudah.

Dalam pandangan mereka yang mempunyai ketajaman mata hati dan mereka yang wara‘, dosa itu adalah seperti bangkai yang dimakan anjing. Bagaimana pendapatmu apabila engkau melihat seseorang sedang menggigit bangkai tersebut? Tidakkah engkau merasa jijik dan risih?

Demikianlah kondisi orang yang jatuh dalam kubangan dosa dan tidak bertobat. Ia sama seperti orang yang sedang menggigit bangkai yang kotor lagi menjijikkan. Kalau orang yang berpakaian kotor saja tidak pantas untuk duduk bersama para raja dan pemimpin, bagaimana dengan orang yang mulutnya najis dan kotor. Pantaskah ia menghampiri Tuhan? Apakah orang yang najis karena memakan barang harām layak bermunājat kepada Tuhan?

Demikian pula dengan dirimu. Engkau menghampiri Allah dalam keadaan kotor karena maksiat. Engkau memakan, melihat, dan melakukan sesuatu yang haram, serta menyembunyikan keburukan. Lalu engkau menganggap dirimu sudah sampai kepada Tuhan? Anggapan tersebut sama sekali tidak benar.

Orang yang melakukan penyimpangan, terjerumus dalam dosa, dan mengerjakan perbuatan terlarang berarti telah menganiaya qalbunya, mengotori jiwanya, dan mengurangi kadar keimanannya.

Wahai saudaraku, ketika engkau tidak bertobat dalam keadaan sehat, barangkali Allah akan mengujimu dengan berbagai penyakit dan musibah agar bersih dari dosa. Itu ibarat pakaian yang dicuci dengan air dan disetrika dengan listrik. Dengan begitu diharapkan pakaian tadi bebas dari kotoran, serta kembali bersih dan suci.

Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah akan menguji kalian dengan ujian sebagaimana kalian menguji emas dengan api. Ada yang berupa emas murni. Begitulah kondisi orang yang terlindung dari syubhat. Tetapi, ada pula yang ternyata berupa tembaga. Itulah orang yang gagal menerima ujian.” (H.R. ath-Thabrānī).

Keimanan yang tertanam dalam qalbu ibarat pohon rindang yang tertancap di tanah. Jika ia tidak mendapat pengairan dan pupuk yang cukup, lalu ditimpa panas dan kekeringan, serta diterpa hama padang pasir, maka pohon tersebut menjadi kering dan daun-daunnya berguguran. Sehingga ia pun hanya bisa dimanfaatkan untuk kayu bakar.

Begitu pula dengan pohon keimanan. Apabila terputus dari perbuatan taat dan ‘amal shālih, lalu ia diterpa angin dosa dan maksiat, pohon keimanan itupun mengering, tak bisa berproduksi, tidak kukuh, atau malah akan mati dan musnah. Karena itu, siapa hendak melaksanakan kewajiban agama, ia harus meninggalkan semua perbuatan yang terlarang serta menutup pintu-pintu dosa dan maksiat.

Siapa meninggalkan sesuatu yang makrūh, akan dibantu meraih berbagai kebaikan. Sedangkan siapa meninggalkan yang mubāḥ, Allah akan membukakan untuknya pintu ketaatan, menolongnya dalam mengerjakan kewajiban, memberinya kelapangan, membukakan peluang baginya merasakan kehadiran Tuhan, dan mencerahkan cahaya keimanan dalam qalbunya. Semua itu tampak pada seluruh anggota badannya, gerakan jiwanya, ucapan lisannya, serta tanda-tanda keimanan terpantul jelas dari raut wajahnya. Orang yang dipersiapkan mendapat kedudukan mulia, Allah tak rela bila ia duduk di tempat sampah.

An-Nu‘mān ibn Basyīr r.a. mendengar Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Yang halāl itu jelas. Yang harām juga jelas. Antara keduanya ada sesuatu yang syubhat yang tak diketahui oleh sebagian besar orang. Siapa yang meninggalkan barang syubhat, bersihlah kehormatan dan agamanya. Sementara siapa yang terjatuh dalam syubhat, maka ia seperti penggembala yang memelihara ternaknya di sekitar tempat terlarang, besar peluang ia terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki wilayah terlarang. Dan wilayah terlarang milik Allah adalah semua yang diharāmkan. Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik, semua anggota badannya akan menjadi baik. Tetapi, jika segumpal daging itu rusak, semua anggota badannya juga menjadi rusak.” (H.R. al-Bukhārī).

Ketahuilah bahwa yang bisa membuatmu malu pada hari kiamat nanti adalah harta yang kau peroleh lewat cara ḥarām atau kau belanjakan pada sesuatu yang ḥarām. Sungguh yang dikhawatirkan atas dirimu kalau engkau melakukan perbuatan dosa terus-menerus sehingga Allah membinasakan mereka secara berangsur-angsur (istidrāj). Allah berfirman: “Kami akan membinasakan mereka secara berangsur-angsur dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (al-A‘rāf [7]: 182).

Wahai manusia yang mengaku beriman, bertaqwālah kepada Allah dan jagalah agamamu sebagaimana engkau menjaga pendengaran dan penglihatanmu. Jauhilah dosa sebagaimana engkau menjauhi penyakit yang mematikan dan bakteri yang membinasakan. Janganlah engkau mendekat kepadanya lalu mengandalkan tobat. Sebab, menjaga diri lebih baik daripada mengobati.

Siapa meninggalkan sesuatu yang makrūh, akan dibantu meraih berbagai kebaikan. Sedangkan siapa meninggalkan yang mubāh, Allah akan membukakan untuknya pintu ketaatan, menolongnya dalam mengerjakan kewajiban, memberinya kelapangan, membukakan peluang baginya merasakan kehadiran Tuhan, dan mencerahkan cahaya keimanan dalam qalbunya.

Bisa jadi Allah menjatuhkanmu pada dosa guna mengeluarkan benih kesombongan dan ujub dari dirimu. Sebab, adakalanya seseorang melakukan shalat dua rakaat kemudian mengandalkan shalat tersebut dan merasa ‘ujub dengannya. Atau adakalanya ia berhaji ke Baitullāh lalu merasa yakin dengan hajinya tersebut. Inilah kebaikan yang terbingkai oleh kejahatan. Sebaliknya, bisa jadi seseorang terperosok ke dalam dosa lalu ia merasa hina dan bersalah. Inilah kejahatan yang terbingkai oleh kebaikan.

Read More
      edit

Thursday, February 11, 2021

Published February 11, 2021 by with 0 comment

Bahaya Meremehkan Dosa

Ketahuilah saudaraku, yang paling dikhawatirkan atas dirimu adalah bila engkau sudah menganggap remeh dosa, memandang ringan dosa-dosa kecil, dan tidak segera bertobat setelah berbuat maksiat.

Barangkali engkau takut terhadap dosa-dosa besar sehingga mencemaskan balasannya, lalu menjauh darinya, serta segera bertobat ketika melakukannya. Selanjutnya engkau meremehkan dosa kecil dan tidak bertobat darinya karena dianggap sepele. Engkau tidak berusaha untuk menghindarinya dan terbiasa melakukannya.

Sikap inilah yang paling membahayakan agama seorang mukmin. Sebab, ia bisa berkata dalam hatinya: “Apa sih yang aku lakukan? Aku tidak membunuh, tidak berzina, dan tidak meminum minuman keras. Yang kulakukan cuma perbuatan sepele yang tak ada nilainya.”

Engkau seperti orang yang sedang diserang singa pemangsa, tapi kemudian diselamatkan oleh Allah. Namun, setelah itu sekitar lima puluh serigala membinasakannya atau sekitar ribuan tawon menyerangnya hingga mati. Allah berfirman: “Kalian menyangka hal itu sepele, padahal di sisi Allah sangat bernilai.” (an-Nūr [24]: 15).

Dosa besar terbilang kecil jika dibandingkan dengan kemurahan Allah. Namun, dosa kecil tersebut bila dilakukan terus-menerus bisa membesar. Racun, walaupun kecil dan sedikit, tetap saja ia bisa membunuh. Dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus tak ubahnya seperti percikan api. Bila percikan api itu diremehkan, ia bisa membakar seluruh kota. Namun, kalau cepat-cepat ditangani dan diperhatikan, ia akan cepat padam meskipun dengan segelas air saja. Ada sebuah pepatah yang berbunyi: “Sebagian besar api berasal dari percikan-percikannya.”

Wahai hamba Allah, bila hendak melakukan maksiat kepada Allah carilah tempat yang tak terlihat oleh-Nya. Carilah juga kekuatan selain Allah yang bisa membantumu. Hanya, sayang sekali engkau takkan menemukannya. Sebab segala sesuatu merupakan karunia-Nya dan segala sesuatu ada dalam kekuasaan-Nya: “Milik Allah segala yang di langit dan di bumi, yang berada di antara keduanya serta yang berada di bawah tanah.” (Thāhā [20]: 6).

Karena itu, sungguh aneh engkau wahai hamba Allah. Pantaskah engkau mengambil nikmat Allah lalu bermaksiat dengan nikmat itu? Pantaskah engkau tinggal di dalam kerajaan-Nya lalu menentang perintah-Nya? Bahkan, engkau melakukan pelanggaran yang bermacam-macam. Kadang membicarakan orang, kadang mencela orang, melihat yang bukan maḥramnya, memakan sesuatu yang ḥarām, dan seterusnya.

Bangunan yang kau dirikan selama tujuh puluh tahun kau hancurkan dalam sekejap saja. Wahai manusia yang menghancurkan ketaatan, wahai manusia yang menyia-nyiakan kebaikan, yang merusak kebajikan, yang menenggelamkan dirinya dalam kubangan syahwat dan membakar dirinya dalam api maksiat, sungguh tepat kalau saja kau pergunakan hal itu dalam hal yang mubah dan kau hidupkan dengan amal saleh. Tidakkah Dzāt yang kau perlakukan secara buruk – tapi Dia memperlakukan secara lembut – layak kau cintai? Tidakkah Dzāt yang kau perlakukan secara jahat – tapi Dia memperlakukanmu dengan kasih sayang dan kemurahan – patut ditaati? Tidakkah Dzāt yang secara terang-terangan kau musuhi – tapi Dia mengampuni dan memaafkanmu – patut dijadikan tempat kembali? Ketahuilah wahai manusia, kemiskinan dan kefakiran yang menimpamu sengaja diberikan agar engkau mau berdoa kepada-Nya. Juga, musibah yang menimpamu tidak lain dimaksudkan agar engkau memperhatikan keberadaan-Nya, serta memperbanyak dzikir, doa, dan munajat kepada-Nya.

Wahai saudaraku, bersikaplah kepada Allah layaknya anak kecil kepada ibunya. Bila sang ibu memukul dan menghinakannya, tetap saja anak itu kembali padanya. Bila ia terkena musibah atau sesuatu yang tak disenangi, ia merengek pada ibunya. Yang ia kenal hanyalah ibunya. Ia tak pernah meminta pertolongan pada kekuatan lain selain ibunya. Allah berfirman: “Siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya. Sesungguhnya Allah berkuasa untuk melakukan kehendak-Nya dan Allah telah menetapkan ukuran atas segala sesuatu.” (ath-Thalāq [65]: 3).

Read More
      edit

Monday, February 8, 2021

Published February 08, 2021 by with 0 comment

Maksiat dan Kehinaan Hamba

Wahai manusia, engkau masih tetap mempunyai nilai di sisi Allah kecuali jika telah bermaksiat. Apabila berbuat maksiat, engkau sama sekali tak bernilai di sisi-Nya. Allah berfirman: “Siapa yang dihinakan Allah, tiada lagi yang bisa memuliakannya. Sungguh Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (al-Ḥajj [22]: 18).

Kalau Allah telah memilihmu sebagai seorang hamba yang mengabdi pada rubūbiyyah-Nya, Allah takkan memutuskan hubungan tersebut dengan menjerumuskanmu pada maksiat. Sebab, ketaatan adalah hubungan, sedangkan maksiat adalah pemutusan.

Seandainya engkau bernilai di sisi Allah tentu Allah takkan mencampakkanmu pada dzāt selain-Nya. Misalnya saja buah. Engkau akan menjaga buah tersebut dalam keranjangmu. Tetapi, kalau engkau sudah memakannya, bijinya akan dibuang di jalan tanpa peduli di mana engkau membuangnya. Engkau menjaga buah tersebut karena ia bernilai bagimu, sedangkan bijinya kau buang karena dianggap tak bernilai. Demikian pula dengan orang yang melakukan maksiat. Ia tidak bernilai di sisi Allah. Adapun seorang hamba yang taat, Allah akan menjaga dan memeliharanya. Allah berfirman: “Hamba-hambaKu tak bisa engkau (syetan) kuasai. Cukuplah Tuhan menjadi Pembela mereka.” (al-Isrā’ [17]: 65).

Maksiat menyertakan kehinaan. Apakah engkau mengira bila berbuat maksiat engku akan dimuliakan? Sama sekali tidak. Kemuliaan itu terkait dengan ketaatan, sementara kehinaan terkait dengan kemaksiatan. Taat kepada Allah akan menghasilkan cahaya, kemuliaan, kebahagiaan, ketersingkapan hijāb, dan petunjuk. Allah berfirman: “Mereka yang mengikuti petunjuk akan Allah beri tambahan petunjuk dan Allah beri ketaqwāan.” (Muhammad [47]: 17).

Sebaliknya, maksiat membawa kegelapan, kemalangan, kesesatan, dan ketertutupan dari Allah. Yang menghalangi untuk menyaksikan dan mengetahui semua hakikat yang ada adalah karena engkau melanggar batas yang Allah tetapkan, sibuk dengan dunia, berpaling dari-Nya, enggan untuk mengabdi kepada-Nya, serta karena engkau meremehkan syarī‘at-Nya. Allah berfirman: “Siapa yang mengabaikan perintah-Ku sesungguhnya akan mendapat kehidupan yang sempit dan akan Kami kumpulkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thāhā [20]: 124).

Read More
      edit

Monday, February 1, 2021

Published February 01, 2021 by with 0 comment

Perumpamaan Bagi Pelaku Maksiat

Orang yang melakukan maksiat sama seperti kumbang yang hidup di kotoran. Jika ada bunga mawar di dekatnya ia bisa mati karena tidak tahan dengan aromanya. Sebagian manusia mempunyai perhatian seperti kumbang tadi atau berpikiran seperti kupu-kupu. Kupu-kupu sering kali terbang menceburkan dirinya ke api sehingga terbakar. Demikian pula denganmu wahai ahli maksiat. Engkau melemparkan diri ke api maksiat secara sengaja sehingga api maksiat tersebut memakan amal-amal perbuatan baikmu. Karena itu, Allah melarang kita melakukan hal tersebut. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tak pernah mendurhakai perintah Allah serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrīm [66]: 6)

Wahai manusia, mengapa engkau makan hanya untuk hidup dan engkau hidup hanya untuk makan. Kalau cuma itu arah dan tujuan hidupmu, berarti engkau tidak jauh berbeda dengan tempat makan hewan, bahkan dengan hewannya sendiri engkau mempunyai banyak kesamaan. Sebab hewan hidup di dunia ini untuk makan, bekerja, beristirahat dan tidur. Alangkah ruginya kalau umur hanya disia-siakan untuk itu saja.

Ketahuilah, kuda yang paling cepat adalah kuda yang kurus. Karena itu, hendaknya engkau bertekad: “Malam ini aku tidak boleh banyak makan agar badanku ringan untuk ibadah.” Kalau ada makanan, selalu engkau mendatanginya seolah-olah ia kekasih yang lama tak jumpa sehingga akhirnya pencernaanmu pun menjadi sakit.

Ketika Allah tak menghendaki kebaikan bagi seseorang
Semua nasihat dan petuah untuknya menjadi sia-sia.

Allah berfirman: 

وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Siapa yang hendak Allah sesatkan, engkau pun tak mungkin bisa mengelakkan apa pun yang datang dari Allah.” (QS. al-Mā’idah [5]: 41).

Engkau sungguh berada dalam kehinaan. Seringkali kau rendahkan dan kau campakkan dirimu pada tempat kebinasaan. Engkau perosokkan dirimu dengan maksiat dan perbuatan dosa.

Wahai hamba Allah, betapa engkau sangat menjaga dan memelihara tubuhmu, sementara agama bagimu begitu sepele. Seandainya ada yang berkata bahwa makanan ini mengandung racun pasti engkau menjauhinya walaupun ia sangat lezat. Bahkan, kalaupun mereka bersumpah bahwa makanan tadi tidak beracun, engkau tetap akan menghindarinya dan tidak mempercayai mereka. Lebih dari itu, walau tempat makanan beracun tadi telah dicuci berkali-kali lalu didekatkan kepadamu, engkau masih merasa risih dan tak mau mengambil makanan dari tempat tersebut. Mengapa sikap semacam itu tidak kau terapkan pada agamamu? Dengan demikian engkau menjaganya seperti menjaga tubuhmu, serta menjauhkannya dari racun maksiat dan dosa.

Siapa melanggar perintah-perintah Allah, niscaya kedudukannya sangat hina di sisi-Nya. Siapa berani melakukan dosa kecil, pasti akan jatuh ke dalam dosa besar. Orang yang meremehkan dosa kecil, maka sikapnya itu  akan menggiringnya untuk melakukan dosa besar.

Allah berfirman: 

وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (QS. al-An‘ām [6]: 151). 

Ketahuilah bahwa perbuatan maksiat bisa mengotori dan melemahkan agama seseorang, serta mengurangi kualitasnya. Rasūlullāh Saw bersabda: “Perbaruilah iman kalian!” Kemudian ada yang bertanya: “Wahai Rasūlullāh, bagaimana caranya kami memperbarui iman?” Beliau pun menjawab: “Perbanyaklah membaca lā ilāha illā Allāh.” (HR Imam Ahmad dan ath-Thabrānī).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa jika seorang mu’min lalai untuk mengingat Allah lalu terjerumus ke dalam maksiat, maka debu maksiat tersebut akan menempel pada imannya. Imannya terlumuri noda maksiat dan melemah akibat perbuatan dosa. Tentu saja tidak setiap kotoran bisa dibersihkan dengan air. Ada kotoran yang baru bisa bersih dengan api, seperti kotoran yang menempel di emas. Demikian pula dengan orang-orang yang bermaksiat. Apabila meninggal tanpa sempat bertobat, mereka tidak bisa masuk ke dalam surga kecuali kalau sudah dibersihkan oleh api neraka.

Seandainya manusia mengetahui pengaruh dan akibat dosa, entah di dunia maupun di akhirat, pastilah ia sangat malu kepada Tuhannya. Ia akan berlari meninggalkan dosa itu sebagaimana ia lari meninggalkan serangan penyakit berbahaya. Andaikata ia meyakini bahwa dirinya ada dalam genggaman Tuhan, tak mungkin ia menghadap Tuhannya dengan membawa maksiat. Maksiat itu hanya terjadi kalau ia lalai dan hatinya buta. Siapa mengetahui hakikat iman, niscaya menjauhi dosa.

Wallahu a'lam bish-showab

Read More
      edit

Saturday, January 30, 2021

Published January 30, 2021 by with 0 comment

Dampak Buruk Maksiat


Perbuatan maksiat terwujud dalam berbagai bentuk perilaku. Mengingkari janji, mengurai ikatan kasih, lebih mengutamakan makhluk ketimbang Allah, menuruti hawa nafsu, melepaskan rasa malu, dan melaksanakan sesuatu yang dibenci Allah adalah di antara contoh-contoh maksiat. Maksiat-maksiat itu menimbulkan dampak-dampak lahiriah yang buruk, yakni kotornya anggota badan, keruhnya mata, kesatnya hati, lalai dan malas dalam ibadah, tidak menjaga kehormatan-Nya, memenuhi selera syahwat, serta hilangnya kesenangan untuk berbuat taat.

Sedangkan dampak batiniahnya adalah tertutupnya qalbu, kerasnya watak nafsu, senangnya jiwa menuruti syahwat, tidak nikmatnya ketaatan, redupnya cahaya hati, berkuasanya hawa nafsu, serta munculnya keragu-raguan, kealpaan terhadap tempat kembali, kelalaian untuk menghisab diri, dan kerasnya siksa di hari nanti.

Perubahan nama dan julukan pada seseorang yang melakukan maksiat seharusnya sudah cukup untuk menjauhkan seseorang dari maksiat. Bila menjalankan ketaatan, engkau disebut muhsin (orang yang berbuat baik), sedangkan bila berpindah pada perbuatan maksiat sebutanmu berganti menjadi musi’ dan mu‘ridh (orang yang berbuat jahat dan orang yang ingkar). Ini baru pergantian nama dan sebutan. Lalu bagaimana dengan perubahan pengaruh dan dampaknya? Ia mengganti manisnya taat dengan manisnya maksiat, mengganti nikmatnya ibadah dengan nikmatnya syahwat. Ini baru pergantian dampak dan pengaruh, bagaimana lagi dengan pergantian sifat? Setelah di sisi Allah engkau digambarkan memiliki sifat-sifat mulia, maka ia berbalik memiliki sifat-sifat tercela.

Lalu bagaimana pula dengan pergantian martabat dan kedudukan? Tadinya engkau tergolong sebagai orang shālih, kini menjadi orang-orang rusak. Tadinya engkau termasuk orang bertaqwā, kini menjadi orang fasik.

Bila dosa dan maksiat begitu terbuka di depanmu dan begitu mudah untuk kau lakukan, berlindunglah pada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Teteskanlah air mata penyesalan, minumlah cawan kesedihan, taburkanlah debu di atas kepalamu, nyaringkan tangisanmu di depan Sang Kekasih, serta bermunājatlah kepada Allah di keheningan malam, lalu ucapkan: ‘Wahai Tuhanku, pindahkan aku dari hinanya maksiat kepada kemuliaan taat!” Sesudah itu, bergabunglah di majelis-majelis para ‘ālim ‘ulamā’ dan orang-orang shālih, kunjungilah kuburan mereka yang telah mati, perbanyaklah membaca al-Qur’ān, bersedekahlah kepada fakir miskin, dan sering-seringlah berdoa dengan membaca: “Allāhumma irhamnī yā arham-ar-rāhimīn (Ya Allah, Yang Maha Pengasih, kasihilah aku)”.

Saat melakukan maksiat, imanmu ibarat matahari yang sedang terkena gerhana atau seperti lampu penerang yang kau tutupi dengan kain penutup berwarna hitam. Dengan begitu walaupun sinarnya ada, tetapi tak tampak karena terhalang oleh penutup tadi. Demikian pula dengan kondisi imanmu. Ia ada dalam qalbu, tetapi tertutupi maksiat dan dosa. Allah berfirman: “Tidak, janganlah berbuat demikian! Hati mereka telah kotor karena perbuatan yang mereka lakukan.” (QS. al-Muthaffifīn [83]: 14). Dalam ayat lain, Allah berfirman: “Siapa yang melakukan dosa dan dosanya itu kemudian mengelilinginya, maka ia termasuk calon penghuni neraka. Ia kekal di dalamnya.” (QS. al-Baqarah [2]: 81).

Wallahu a'lam 

Read More
      edit

Thursday, January 28, 2021

Published January 28, 2021 by with 0 comment

Antara Orang Bahagia dan Orang Sengsara

Karakter orang yang akan memetik kebahagiaan (ahl-us-sa‘ādah) sangat berbeda dengan karakter orang yang akan mengenyam kesengsaraan (ahl-usy-syaqāwah). Allah berfirman: “Tidaklah sama antara penghuni neraka dan penghuni surga. Penghuni surgalah yang beruntung.” (al-Ḥasyr [59]: 20). Karakter mereka bisa dilihat dari kecenderungan jiwa mereka masing-masing. Orang yang akan bahagia adalah yang ketika melihat orang lain sedang berada dalam maksiat secara lahir dan batin akan mengingkari perbuatannya. Dalam hati, ia berdoa dan meminta kepada Allah agar orang tersebut diampuni dan diterima tobatnya – selain itu ia juga berdoa agar orang tersebut dibimbing untuk taat. Semua itu muncul karena iba dan kasihan. Seakan-akan orang yang bermaksiat tadi sedang berada dalam musibah dan perlu dikasihani.

Sedangkan orang yang bakal sengsara adalah yang secara lahir mengingkari orang yang berbuat dosa, tetapi hatinya senang dan ingin agar keburukan orang tadi diketahui banyak orang. Bahkan, kadangkala ia rusak kebormatan orang tersebut dan ia jatuhkan martabatnya. Hatinya terus melaknat dan mencaci.

Padahal, orang mu’min harus selalu memberikan nasihat kepada saudaranya di saat sendiri jauh dari pantauan orang dan ia tutup aib saudaranya itu di hadapan manusia. Lalu ia pun membimbingnya untuk kembali meniti jalan yang benar.

Akan tetapi, calon orang sengsara berbuat sebaliknya. Bila melihat orang sedang bermaksiat, ia acuhkan orang tersebut seraya menutup pintu. Lalu ia sebarlauskan kesalahannya sehingga orang lain mengetahui. Orang semacam ini mempunyai mata bātin yang tidak bercahaya dan qalbu yang tidak bersih. Tentu saja ia dimurkai dan jauh dari Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang senang dengan tersiarnya perbuatan keji di kalangan orang-orang beriman, mereka akan mendapat siksa yang pedih di dunia maupun di akhirat. Allah mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (an-Nūr [24]: 19).

Wahai saudaraku, jika engkau ingin menguji kecerdasan dan bāthin seseorang, coba sebutkan kehidupan orang lain yang sedang tidak bersamamu di hadapannya. Kemudian perhatikan dengan seksama bagaimana tanggapannya. Bisa jadi orang tadi membicarakan keburukannya, menyebutkan aib-aibnya, serta mengingkari kebaikannya dengan berkata: “Tak usah dipedulikan. Dia itu begini dan begitu.” Ia jatuhkan martabat orang tersebut, ia makan dagingnya, ia cela dan ia sebutkan keburukannya. Bila itu yang ia ungkapkan, ketahuilah bahwa bāthin orang tadi sedang rusak, qalbunya sedang sakit, tidak mengenal Allah, tidak termasuk orang shāliḥ atau faqīh yang bersih.

Jika yang terjadi sebaliknya, yaitu ia justru menyebut kebajikan orang yang sedang dibicarakan, memuliakan kebaikannya, mengangkat martabatnya di hadapanmu, atau menyebut keburukannya tapi tetap berpikir positif sehingga memposisikannya pada kebaikan dengan berkata: “Barang kali ia lupa.” “Barang kali ia mempunyai alasan yang tidak kita ketahui,” atau ungkapan sejenis lainnya dengan maksud menutupi atau menjaga kehormatannya. (41). Jika itu yang ia ungkapkan pada setiap tempat dan pada sebagian besar pembicaraannya dengan kebanyakan orang, ketahuilah bahwa ia termasuk orang yang bahagia. Batinnya hidup, jiwanya bersih, dan qalbunya suci. Ia juga tergolong orang yang ‘ārif, mempunyai pemahaman agama yang luas, serta memiliki ḥikmah.

Seorang muslim selayaknya betul-betul menjaga kehormatan saudaranya sesama muslim. Rasūlullāh s.a.w. bersabda: “Siapa menutupi aib saudaranya sesama muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia maupun ia akhirat. Allah juga akan menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (H.R. Muslim).

Orang akan sengsara bila selalu menganiaya manusia, mengambil hak-hak mereka, serta menjatuhkan kehormatan mereka. Sementara orang akan bahagia bila selalu menjaga diri dan merasa cukup. Ia tidak mau menganiaya sesama hamba, selalu berpegang pada kebenaran sekaligus membelanya. Ia juga senantiasa memelihara rahasia manusia, menutupi aib mereka, dan menonjolkan kebaikan mereka.

Wahai saudaraku, bila engkau mampu mengisi hari-harimu tanpa menganiaya seorang hamba berarti engkau tergolong orang yang bahagia. Bahkan, bila engkau tidak menganiaya diri sendiri dalam hubungan antara engkau dan Allah, serta tidak menyalahi perintah-Nya, maka sempurnalah kebahagiaanmu dari semua sisi. Karena itu, tundukkan pandanganmu, jagalah pendengaranmu, istiqāmahlah dalam melakukan hal itu, serta peliharalah kebahagiaan besar tersebut hingga engkau berjumpa dengan Allah seraya membawa īmān. Sekali lagi janganlah menganiaya seorang hamba karena itu merupakan kegelapan di hari kemudian.

Orang yang bahagia adalah orang yang memiliki pengetahuan agama dan ma‘rifat. Yaitu, yang mengenal Allah lewat Kitāb-Nya, bertawakkal kepada-Nya, serta hidup dengan pertolongan-Nya. Allah pun mencukupi kebutuhannya dan melenyapkan sesuatu yang merisaukannya. Ia lebih sibuk dengan perintah Allah daripada mengurus apa yang sudah dijamin oleh-Nya. Pasalnya, ia yakin bahwa Allah tak mungkin membiarkannya dan tak mungkin menahan karunia-Nya. Karena itu, ia selalu merasa lapang serta berada dalam taman kepasrahan yang bulat kepada Tuhan. Sehingga Allah pun mengangkat derajatnya, menyempurnakan cahayanya, mencukupkan nikmatnya, serta menganugerahkan karunia dan kemurahan-Nya pada orang tersebut. Allah berfirman: “Siapa yang ber‘amal shāliḥ, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia dalam keadaan berīmān, niscaya Kami akan memberikan padanya kehidupan yang baik. Sungguh Kami juga akan memberi ganjaran kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka lakukan.” (an-Naḥl [16]: 97)

Orang yang bahagia adalah orang yang bekerja untuk negeri akhirat, memahami perintah dan larangan-Nya, sekaligus meng‘amalkannya. Ia jauh lebih menyenangi sesuatu yang kekal ketimbang dunia yang fanā’. Allah berfirman: “Katakanlah, hendaknya hanya dengan karunia dan rahmat Allah-lah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Yūnus [10]: 58).

Orang yang bahagia adalah yang qalbunya bersinar dan larut dalam ketaatan kepada Tuhannya. Ia berpaling dari dunia, ia tidak menjadikannya sebagai tanah air, dan tidak menganggapnya sebagai tempat kediaman. Namun, ia arahkan perhatiannya kepada Allah. Ia mengabdikan diri pada Tuhannya, meminta tolong kepada-Nya, menjadikan dunia sebagai sarana untuk kehidupan akhiratnya, dan menjadikan hidupnya sebagai bekal untuk matinya: “Siapa yang menghendaki negeri akhirat, lalu ia berusaha untuknya sedang ia dalam keadaan mu’min, maka usahanya itu niscaya diberi ganjaran.” (al-Isrā’ [17]: 19).

Allah berfirman: “Adapun orang-orang yang bahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (Hud [11]: 108).

Read More
      edit

Friday, January 22, 2021

Published January 22, 2021 by with 0 comment

Mensyukuri Karunia Allah

Betapa banyak karunia yang Allah berikan. Betapa banyak pertolongan yang Allah ulurkan – yang melebihi ibu yang sangat mengasihi. Semenjak kecil engkau sudah dipelihara dan diberi baju yang paling bagus oleh ibumu. Jika baju tersebut kotor, sang ibu akan melepaskannya guna diganti dengan baju lain yang bersih. Baju yang kotor tadi itupun lalu dicuci. Makan, minum, istirahat, dan tidurmu begitu ia perhatikan. Sementara engkau sendiri tidak mengetahui apa yang ia perbuat.

Demikian pula keadaanmu ketika hadir di kerajaan dunia ini. Semua kebutuhanmu telah Allah siapkan. Semua sarana yang membuatmu tenteram juga Allah sediakan. Allah berfirman: “Dia telah menyediakan untuk kalian seluruh yang di langit dan di bumi. Sungguh di dalamnya terdapat tanda-tanda kekuasaan bagi kaum yang mau berfikir.” (QS. al-Jātsiyah [45]: 13). Allah juga berfirman: “Semua nikmat yang ada padamu berasal dari Allah.” (QS. an-Nahl [16]: 53).

Ketika akalmu lemah, tak menyadari baju yang dipakai, dan tak mengetahui nikmat lahir dan bāthin yang ada padamu, maka keadaanmu tersebut sama seperti anak kecil yang dikenakan baju paling bagus dan paling indah oleh ibunya. Si anak tentu saja tidak sadar dan tak mengetahui nilainya. Bahkan, bisa jadi baju itu dikotorinya atau dirobeknya. Melihat hal tersebut sang ibu pun dengan segera memakaikan baju lain agar auratnya tak terlihat orang. Lalu ia cuci baju yang kotor tadi dan ia jahit yang robek sementara si anak tak mengetahui karena akalnya memang masih lemah.

Wahai hamba Allah, Allah pun telah memakaikan baju makrifat, baju tauhid, baju cinta, baju īmān, baju Islām, dan baju kemuliaan. Allah juga telah menyiapkan seluruh alam ini untukmu agar engkau menyucikan-Nya, mensyukuri-Nya, dan menyembah-Nya. Allah berfirman: “Dia telah memberi kalian semua yang kalian minta. Jika kalian menghitung nikmat Allah, pastilah kalian tak dapat menghitungnya. Sungguh manusia sangat zhalim dan ingkar.” (QS. Ibrāhīm [14]: 34).

Karena itu, peliharalah semua baju tersebut. Jangan mengotorinya dengan maksiat dan jangan merobeknya dengan dosa. Akan tetapi, jaga dan peliharalah ia dengan senantiasa bersyukur, taat, dan memuji-Nya. Allah berfirman: “Allah telah memaklumatkan, Jika kalian bersyukur, niscaya Aku tambah (nikmat padamu). Tetapi, jika kalian ingkar, sungguh siksa-Ku begitu pedih.” (QS. Ibrāhīm [14]: 7).

Ketahuilah, siapa yang membersihkan bajunya dari kotoran, niscaya Allah senantiasa memeliharanya. Sebetulnya setiap jengkal tanah bisa dijadikan sebagai tempat sujūd, hanya saja engkau kemudian melumurinya dengan dosa. Ia juga menampakkan berbagai keindahan, hanya saja engkau mengeruhkannya dengan maksiat. Allah berfirman: “Tidakkah kamu lihat orang-orang yang menukar nikmat Allah dengan kekufuran dan menempatkan kaumnya ke tempat kebinasaan. Yaitu neraka jahannam; mereka masuk ke dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat tinggal.” (QS. Ibrāhīm [14]: 28-29).

Perhatikan, wahai manusia, apa yang telah engkau perbuat dan apa yang telah Allah perbuat kepadamu sejak lahir sampai saat ini. Engkau akan menyadari bagaimana Dia senantiasa memberikan kemurahan, kebaikan, maaf, dan pengampunan. Namun, coba engkau renungkan apa yang telah kau perbuat kepada-Nya. Yang ada hanyalah pembangkangan, kemaksiatan, kekufuran, penyimpangan, dan ketidakpatuhan. Kalau ada yang mengasihimu karena ketaatanmu padanya, itu hal biasa dan lumrah. Tetapi, yang luar biasa, ada Dzāt yang selalu mengasihimu padahal engkau selalu menentang dan membangkang pada-Nya.

Sebagian orang ‘ārif selalu menundukkan kepala ketika meminum air dingin karena malu kepada Allah. Bahkan, kadangkala mereka meneteskan air mata karena menyadari nikmat yang Allah berikan sementara mereka merasa tak bisa berbuat banyak untuk mensyukuri-Nya. Mereka hanya mampu berucap: “Inilah bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.”
 
Wallahu a'lam bish-showab

 

Read More
      edit

Wednesday, January 20, 2021

Published January 20, 2021 by with 0 comment

Merasakan Manisnya Ketaatan

Wahai orang yang hidup tetapi sebetulnya mati, engkau keluar dari dunia tanpa pernah mencicipi sesuatu yang paling nikmat di dalamnya, yaitu munajat dan dialog dengan Allah Ta'ala, serta turunnya berbagai rahmat atasmu. Engkau habiskan malam dengan tidur di atas kasur seperti mayat yang sedang terbujur. Tak pernah engkau merenungkan ibadah dan kebesaran-Nya. Qalbumu tak diisi dengan membaca wahyu-Nya. Ruhmu juga tak pernah dibuat bahagia dengan menyendiri bersama-Nya.
 

Wahai saudaraku, apabila engkau tak bisa bangun malam dan shalat tahajjud, lalu kau pergunakan saat tersebut untuk kesibukan dunia, maka mohonlah pertolongan Allah. Ucapkanlah: “Wahai Tuhan Pemilik Kemuliaan, wahai Rasūlullah, aku telah kehilangan kesempatan untuk memperoleh kekayaan yang diperoleh mereka yang bahagia berupa nikmatnya munajat, tulusnya cinta, manisnya taat, indahnya dzikir dan tenteramnya qalbu dengannya. Allah berfirman: 
 
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
 
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan qalbu mereka tenteram dengan berdzikir pada Allah. Bukankah dengan berdzikir pada Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra‘d [13]: 28).

Wahai saudaraku, janganlah engkau keluar dari dunia ini dalam keadaan tidak pernah mencicipi manisnya cinta kepada Allah dan nikmatnya ketaatan. Manisnya cinta tidak terdapat dalam makanan atau minuman. Sebab, hal seperti itu dapat dirasakan juga oleh orang kafir maupun binatang melata. Namun, manisnya cinta itu baru dapat kau rasakan ketika engkau mengabdi dan menaati-Nya, mengerjakan perintah-Nya, menjaga aturan-aturan-Nya, mengorbankan jiwa, harta dan anak untuk membela agama-Nya, mempertahankan syarīat-Nya, serta terus-menerus mengingat-Nya. Dengan begitu, engkau akan ikut serta bersama para malaikat yang suci dalam mengabdi, menaati, dan mengkhusyū‘kan hati pada-Nya.

Ketahuilah bahwa ruhani yang suci ibarat baju putih yang bersih. Ia hanya ternodai oleh cipratan nafsu. Apabila sudah terperosok ke dalam larangan dan keburukan dunia, ia takkan bisa menghampiri Tuhan dan tak bisa merasakan nikmatnya cinta pada-Nya. Pasalnya, Allah tak bisa didekati oleh mereka yang berlumuran dengan kotoran maksiat. Karena itu, bersihkan qalbumu dari aib, niscaya Allah membukukan pintu kegaiban.

Wahai saudaraku, andai saja engkau menaati Majikanmu dan melaksanakan semua perintah-Nya sebagaimana budak menaati dan melaksanakan perintah tuannya. Dalam keadaan tersebut, pasti sang tuan menyenangi budaknya karena ia taat dan melayaninya secara konsisten tanpa pernah membangkang. Tetapi, mengapa engkau tidak bersikap demikian pada Majikan atau Tuhanmu. Engkau merasa berat untuk taat, enggan beribadah, asal-asalan dalam mengabdi, dan ingin cepat-cepat selesai.

Bagaimana andaikata penglihatan yang kau pakai untuk melihat keindahan makhluk – tidak untuk melihat aib dirimu sendiri – diganti dengan kebutaan. Allah berfirman: “Adapun orang yang melampaui batas dan mementingkan kehidupan dunia, maka sungguh neraka jahimlah tempatnya.” (QS. an-Nazi'at [79]: 37-39).

Ketahuilah bahwa di antara kemurahan Allah padamu, Dia telah menyingkap aib dirimu sendiri, sehingga dengan demikian engkau bisa mengenali, menghindari dan menutupinya dari pandangan manusia. Sementara mereka tak mengetahuinya sehingga Allah tak mempermalukanmu di hadapan makhluk-Nya. Apabila Allah telah mencintaimu, Dia akan membuat para sahabatmu berpaling darimu sehingga engkau pun tidak sibuk dengan mereka. Selain itu, Dia juga akan memutuskan hubunganmu dengan makhluk agar engkau kembali kepada-Nya dengan segenap perasaan dan hati yang khusyu'. Seringkali dirimu diminta untuk taat, tetapi hatimu senantiasa merasa berat karena memang tidak mencintai ketaatan. Karena itu, yang pertama kali harus kau lakukan adalah mengobati qalbumu. Apabila telah sembuh, nikmat cinta pun akan datang dengan sendirinya. Manisnya maksiat yang dulu dirasakan akan ditemukan pada ketaatan. Allah berfirman:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ

“Namun Allah telah membuatmu senang kepada iman dan Dia menjadikan iman itu indah dalam hatimu. Allah juga membuatmu benci kepada kekufuran, kefasiqan, dan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. al-Hujurat [49]: 7).

Wahai saudaraku, apabila engkau sudah lemah dalam beribadah, hiasilah ibadah tersebut dengan rasa takut, tunduk, tangis dan hina di hadapan Allah dalam shalatmu. Siapa yang menyadari bahwa dirinya sebentar lagi akan meninggalkan dunia, pastilah ia bergegas menyiapkan bekal. Siapa yang menyadari bahwa kebaikan orang lain tak sanggup menolong, pastilah bersungguh-sungguh dalam mengerjakan kebaikan. Siapa yang berbelanja tanpa perhitungan pastilah akan mengalami kerugian. Padahal usia adalah modal berharga. Anggota badan yang kering dari ketaatan hanya akan patah seperti pohon yang sudah kering, ia hanya layak dibakar. Jika cerdas dan pintar, engkau tentu akan lebih memperhatikan hak-hak Allah ketimbang keinginan dirimu sendiri. Rasulullah Saw bersabda: “Tiga hal yang siapa mengalaminya niscaya ia merasakan manisnya iman: 1). Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari yang lain; 2). Mencintai seseorang karena Allah; 3). Benci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke api neraka.” (HR Imam al-Bukhari dari Anas ra).

Ketahuilah bahwa bila engkau mendapat pertolongan Allah, ketaatan yang sedikit pun akan bermanfaat, sedangkan bila engkau tidak mendapat pertolongan-Nya ketaatan yang banyak pun takkan berguna. Jikalau hijab terbuka, engkau akan menyadari bahwa segala sesuatu sedang bertasbih kepada Allah: “Langit yang tujuh dan bumi beserta isinya bertasbih kepada-Nya. Sungguh segala sesuatu bertasbih dengan memuji-Nya. Hanya saja kalian tak memahami tasbih mereka. Dia Maha Pemurah lagi Maha Pengampun.” (QS. al-Isra’ [17]: 44). Namun celakanya, kekurangan dan ḥijab itu justru berasal darimu. Karena itu, tak ada yang patut dicela kecuali dirimu sendiri.

 Wallahu a'lam bish-showab

Read More
      edit

Saturday, January 16, 2021

Published January 16, 2021 by with 0 comment

Ikhlas

Siapa menghendaki akhir yang baik, ia perlu menyiapkan awal yang baik. Siapa menghendaki surga, ia pun harus ikhlas dalam beramal. Serta siapa yang jujur kepada Allah, pasti Allah akan menjauhkannya dari gangguan para musuh, melindunginya dari kejahatan, membantu kehidupannya, menunjukinya pada amal yang baik dan benar. Allah berfirman: “Orang-orang yang mengikuti petunjuk pasti diberi Allah tambahan petunjuk dan diberi sifat taqwā.” (Muḥammad [47]: 17).

Wahai saudaraku, jangan sekali-kali engkau iri hati kecuali pada seorang hamba yang telah diberi pakaian takwa dan telah mencicipi lezatnya ikhlas. Itulah kehidupan yang menyenangkan. Betapa indahnya ketika seseorang tinggal bersama kekasihnya tanpa ada yang mendampingi. Jika kemudian ia ingin diketahui dan disaksikan orang, berarti cintanya tidak jujur. Jika seseorang ingin kondisinya diketahui orang lain, berarti ia telah tertipu. Syaddād ibn ‘Aws ra mendengar Rasūlullāh Saw bersabda: “Siapa berpuasa karena riyā’ berarti telah berbuat syirik. Siapa melakukan shalat karena riyā’ berarti telah berbuat syirik. Serta siapa bersedekah karena riyā’ berarti telah berbuat syirik.” (HR Imam al-Baihaqī).

Namun, ibadah yang disertai hawa nafsu memang akan menjadi ringan dilakukan, sementara ibadah yang tidak disertai hawa nafsu menjadi sangat berat. Betapa beratnya ibadah yang dikerjakan tanpa dilihat orang. Sebaliknya, betapa ringannya sebuah ibadah dilakukan ketika dilihat, dipuji, dan disanjung oleh orang.

Contoh yang paling jelas adalah ketika engkau melakukan haji sunnah – sesudah yang wājib – sekian puluh kali. Itu takkan memberatkanmu. Tetapi, kalau ada yang menganjurkanmu untuk bersedekah sebanyak ongkos haji tersebut kepada para fakir miskin atau untuk pembangunan masjid, engkau menjadi bakhil dan merasa berat. Sebab, berhaji disaksikan dan diketahui banyak orang. Di sinilah hawa nafsu bermain. Karena sering berhaji, engkau bisa menjadi orang terkenal. Sementara bersedekah adalah perbuatan rahasia dan tak diketahui banyak orang sehingga tiada yang bisa dibanggakan.

Demikian pula ketika engkau menuntut ilmu tidak karena Allah. Dalam kondisi tersebut engkau mampu belajar semalam suntuk. Nafsu dan keinginanmu menjadi terpuaskan. Tapi, kalau engkau disuruh untuk shalat malam dua rakaat, itu akan terasa berat sebab dalam dua rakaat yang kau lakukan itu nafsumu tidak mendapat tempat. Sementara dengan membaca dan belajar, nafsumu mendapat tempat karena bisa membanggakan ilmu yang kau miliki di hadapan orang. Oleh karena itu, aktivitas membaca dan belajar itu pun menjadi ringan. Hal-hal seperti itu tentu saja adalah kerugian yang nyata.

Dari Maḥmūd ibn Labīd ra diriwayatkan bahwa Rasūlullāh Saw pernah bersabda: “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik yang paling kecil.” Para sahabat pun bertanya: “Apa syirik terkecil itu wahai Rasūlullāh?” Beliau menjawab: “Riyā’”.

Ketika membalas semua amal perbuatan manusia, Allah berkata: “Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin agar amal kalian dilihat mereka di dunia. Apakah mereka mampu memberikan balasan?” (HR Imam Aḥmad).

Wahai saudaraku, lakukanlah amal-amal shālih secara rahasia – sehingga hanya engkau dan Allah yang mengetahuinya. Upayakan agar jangan ada yang melihatnya. Jadikan amal tersebut sebagai amal yang tulus hanya untuk Allah, sehingga engkau bisa mendapatkannya dalam timbangan amal kebaikanmu di hari kiamat kelak. Allah berfirman: “Pada hari ketika tiap-tiap jiwa mendapati hasil segala perbuatan baiknya berada di hadapannya.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 30).

Jauhilah perasaan bangga dan ingin dilihat orang. Sebab, nafsu sangat senang bila sebuah amal disebut-sebut dan dipuji. Jangan sampai menghapus amal yang dengan susah payah kau lakukan. Juga, jangan kau pergunakan dirimu pada suatu maksiat. Rasūlullāh Saw bersabda: “Siapa memakai pakaian ketenaran, Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat.” (HR Imam Aḥmad, Abū Dāūd, dan Ibn Mājah dengan sanad hasan. Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar secara marfū‘)

Abaikanlah nafsu rendahan dan keinginan yang lemah. Sebaliknya, perhatikanlah kadar, pahala, dan imbalan yang Allah berikan atas sebuah perbuatan. Jiwa merupakan permata berharga yang harus kau pergunakan untuk melakukan amal terbaik. Mungkinkah orang melemparkan permata berharga ke tempat sampah? Mengapa engkau berjuang memperbaiki aspek lahiriah dengan mengabaikan rusaknya batin? Engkau persis seperti orang berpenyakit kusta. Ia memakai baju baru dari sutra, tetapi dari dalam tetap tercium bau busuk yang tidak enak. Apabila melihat penampilan lahiriahnya engkau akan terpesona. Namun, apabila menyingkap apa yang ada di baliknya, pasti engkau merasa jijik. Engkau hanya sibuk membenahi apa yang terlihat oleh orang, tidak membenahi qalbu yang menjadi milik Tuhan. Allah berfirman: “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, lakukanlah ‘amal shālih dan jangan menyekutukan Tuhan dengan siapa pun juga.” (al-Kahf [18]: 110).

Wahai manusia yang hanya mau memakan nasi dari beras yang sudah disaring bersih, saringlah amalmu dari segala jenis riyā’ dan bersihkan dari perasaan ingin dikenal orang. Dengan demikian, yang tersisa dari amalmu adalah yang betul-betul ikhlas. Sedangkan lainnya mesti dibuang.

Wahai saudaraku, engkau harus memperbagus amal bukan memperbanyaknya. Sebab amal yang banyak tanpa dibarengi kualitas dan keikhlasan seperti baju yang banyak tapi murah harganya. Sementara amal yang sedikit jika berkualitas dan sempurna seperti sedikit baju yang mahal harganya.

Amal yang ikhlas laksana mutiara. Bentuknya kecil, tetapi mahal nilainya. Orang yang qalbunya sibuk bersama Allah lalu ia bisa mengalahkan hawa nafsu dan fitnah yang muncul secara tepat, maka orang tersebut lebih baik daripada mereka yang banyak melakukan shalat dan puasa sementara qalbunya sakit, terisi oleh keinginan untuk dikenal dan keinginan mendapat kenikmatan.

Ada yang berpendapat bahwa yang menjadi perhatian orang zuhud adalah bagaimana memperbanyak amal, sedangkan perhatian orang ‘ārif (yang mengenal Allah) adalah bagaimana memperbaiki keadaan jiwa dan mengarahkan qalbu hanya kepada Allah semata.

Wallahu a'lam bish-showab

Read More
      edit

Thursday, January 14, 2021

Published January 14, 2021 by with 0 comment

Mendekati Allah untuk Mencinta

Wahai hamba Allah, sering kali engkau menunjukkan rasa cinta dan kedekatanmu pada makhlūk. Tetapi, engkau sangat jarang menunjukkan rasa cinta pada Allah Swt. Seandainya dibukakan bagimu pintu untuk mencintai Allah, pasti engkau akan menyaksikan berbagai keajaiban dan mendapat ridha-Nya. Rasa cinta kepada Allah dapat dibuktikan dengan menunjukkan ketaatan pada-Nya, melaksanakan shalat dua rakaat di malam hari, membaca al-Qur’ān, menjenguk orang sakit, menyalatkan jenazah, bersedekah kepada kaum fakir miskin, membantu saudara muslim lainnya, mengadakan kegiatan yang baik, menyebarkan ilmu, ataupun membuang duri dari jalan.

Pedang tak bisa dipakai berperang kecuali dengan bantuan lengan yang kuat. Demikian pula amal shalih. Ia membutuhkan seorang mukmin yang ikhlas dalam mengerjakannya. Ibadah paling ringan yang bisa kau pakai guna menunjukkan rasa cinta kepada Allah adalah berdzikir secara tulus. Sebab, dzikir itu bisa dikerjakan meskipun oleh orang yang sudah tua, oleh orang sakit yang tak bisa berdiri, rukuk dan sujud, oleh pekerja yang sibuk dengan tugasnya, ataupun oleh orang malas yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Allah berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ

“Apabila kalian telah menunaikan shalat, berdzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring.” (QS. an-Nisa' [4]: 103).

Ketahuilah bahwa siapa yang mengarahkan cintanya pada Allah, Allah juga akan menebarkan kemurahan padanya: “Orang-orang yang berbuat baik akan mendapat kebaikan (yang setara) pula bahkan melebihi.” Tetapi, aneh bila seseorang lebih bersahabat dan lebih mencintai hawa nafsunya – padahal ia merupakan sumber malapetaka – ketimbang bersahabat dan mencintai Allah. Padahal Allah merupakan sumber kebaikan. Siapa yang benar-benar ingin berjalan menuju Allah, hendaknya mempunyai tekad yang kuat.

Bila muncul pertanyaan, bagaimana caranya “bersahabat” dengan Allah? Jawabannya, bersahabat dengan siapa pun ada kiatnya. Bersahabat dengan Allah adalah dengan mengerjakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, dan bertawakkal kepada-Nya dalam setiap urusan. Bersahabat dengan kedua malaikat (Raqib dan ‘Atid) adalah dengan mendiktekan berbagai amal kebaikan. Bersahabat dengan al-Qur’an dan Sunnah adalah dengan mengamalkan isinya. Bersahabat dengan langit adalah dengan merenungkannya. Serta bersahabat dengan bumi adalah dengan mengambil pelajaran dari yang ada di dalamnya. Persahabatan tidak harus dengan melihat dan menyaksikan.

Jadi, makna persahabatan dengan Allah adalah bersahabat dengan semua karunia dan nikmat-Nya. Bersahabat dengan nikmat-Nya adalah bersyukur. Bersahabat dengan ujian-Nya adalah bersabar. Bersahabat dengan perintah-Nya adalah menghormati dan menunaikan. Bersahabat dengan larangan-Nya adalah menjauhi. Bersahabat dengan ketaatan adalah bersikap ikhlas. Dan bersahabat dengan al-Qur’an adalah merenungkan. Kalau seorang hamba melakukan hal itu, berarti ia telah menjalin persahabatan dengan Allah. Bila persahabatan terwujud, kedekatan pun akan didapat.

Oleh karena itu, wahai saudaraku jangan sampai matahari terbit lagi sementara engkau belum memperlakukan Allah sebagaimana teman yang tulus, setia dan cinta. Oleh karena itu, bersedekahlah setiap hari walaupun dengan seperempat dirham sehingga Allah mencatatkanmu dalam kelompok orang yang senang bersedekah. Bacalah al-Qur’an setiap hari walaupun hanya satu ayat agar Allah mencatatkanmu dalam kelompok orang yang senang membacanya. Serta lakukanlah shalat malam walaupun hanya dua raka‘at agar Allah mencatatmu dalam kelompok orang yang senang mengisi malam (qiyām-ul-lail).

Jangan sampai berbuat salah dengan berkata: “Bagaimana mungkin orang yang mempunyai makanan pas-pasan akan bersedekah?” Allah berfirman: 

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu, memberi infaq menurut kemampuannya. Adapun orang yang terbatas rezekinya, hendaklah mengeluarkan infak dengan apa yang Allah berikan. Allah tak memaksa seseorang kecuali sesuai kadar kemampuannya. Kelak Allah akan memberi kemudahan seusai kesulitan.” (QS.ath-Thalāq [65]: 7).

Orang miskin yang diberi sedekah tak ubahnya seperti sosok yang sedang membantumu membawa perbekalanmu menuju akhirat. Oleh karena itu, mintalah mereka untuk membawakannya agar pada hari kiamat engkau bisa mendapatkannya.

Kadangkala seseorang dikirim untuk memberimu berbagai nikmat. Hanya saja, engkau sedang bingung, tidak sadar dan tidak bersyukur. Engkau seperti bayi dalam buaian yang setiap kali diayun ia tertidur. Sebab, setiap kali ditambah rezekimu, engkau tambah berpaling. Andaikata seorang penguasa mengirim baju untukmu, mungkin engkau hanya berterima kasih dan memujinya. Oleh karena itu, engkau harus cepat berpindah kepada Tuhan yang telah menganugerahkan segala kenikmatan. Tinggalkanlah mereka yang tak sanggup memberi manfaat kepada yang lain.

Wallahu a'lam bish-shawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read More
      edit

Monday, January 11, 2021

Published January 11, 2021 by with 0 comment

Mendekati Allah untuk Meminta

Wahai hamba Allah, bila engkau meminta kepada Allah di saat dekat dengan-Nya, mintalah agar Dia memperbaiki semua yang ada pada dirimu. Berdoalah: “Ya Allah, perbaiki semua keadaanku!” Mintalah kepada Allah agar Dia memperbaiki keadaanmu disertai perasaan ridha terhadap semua ketetapan-Nya. Yakni, dengan kepasrahan dan sikap rela terhadap semua qadhā’ dan qadar-Nya.

Engkau adalah seorang hamba yang linglung jika saat diminta kembali kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, engkau justru lari dari-Nya dengan berbuat maksiat. Lari dari Allah ditandai dengan perbuatan-perbuatan jahat, tindakan pelanggaran, keinginan menyimpang dan niat yang salah. Bila engkau lalai dalam salat, menyia-nyiakan puasa, mengeluhkan karunia Allah dan mencintai dunia, berarti engkau telah lari dari Allah. Sebab hawa nafsu telah membuatmu berani pada-Nya, yakni menentang-Nya. Engkau sudah berpaling dari Allah kala engkau condong pada indahnya dunia, terbuai dengannya, sibuk memikirkannya, serta lupa pada dahsyatnya hari akhirat. 

Allah berfirman: “Janganlah kamu membelalakkan kedua matamu (terkagum-kagum) dengan apa yang Kami berikan pada merkea sebagai perhiasan kehidupan dunia. Hal itu untuk menguji mereka. Sedangkan rezeki Tuhanmu jauh lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thahā [20]: 131).

Allah telah menakdirkan sehat dan sakit, kaya dan miskin, serta senang dan sedih bagimu. Maksudnya adalah agar engkau kembali pada-Nya dan mengetahui semua sifat-Nya. Sehingga ketika lapang engkau bisa bersyukur dan ketika sulit engkau bisa pasrah dan bersabar.

Wahai manusia, berapa kali engkau hinakan dirimu dengan berdiri di hadapan makhlūk, meminta bantuan dan pertolongan mereka? Berapa kali mereka merasa keberatan dengan permintaanmu, bermuka masam, serta menghinamu? Sementara engkau tidak pernah sekali pun kembali pada Majikan-mu, tidak pernah meminta kebutuhanmu pada-Nya, serta tidak pernah menghadap-Nya secara khusyū', berdoa secara jujur dan memohon secara tulus.

Wahai hamba Allah, jika engkau menghendaki kemuliaan, janganlah berharap pada makhlūk. Tetapi tambatkan asa dan harapanmu pada Allah, serta tampakkan kebutuhanmu yang mendesak kepada-Nya. Sebab, Allah mengabulkan doa orang yang sedang terdesak. Dia bisa melenyapkan bahaya, dan merasa senang jika diminta oleh hamba-Nya. Siapa yang meminta kepada makhlūk, tidak kepada Tuhan dan Tuannya, ia akan menjadi sangat hina.

Dirimu begitu setia dan terbuai dengan makhlūk, sedangkan kepada Allah engkau malah acuh dan menjauh. Engkau tergolong bodoh kalau terus-menerus menemui makhlūk karena ingin mendapat hartanya, sementara engkau tinggalkan pintu Dzat Pemberi rezeki Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh. Pantaskah engkau meminta pada makhlūk yang fakir, lalu meninggalkan Allah Yang Maha Kaya? Jika ingin mendapat berbagai karunia, tunjukkan kepapaan dan kebutuhanmu pada-Nya, serta jangan sekali-kali mengandalkan kekuatan siapa pun yang berada di sekitarmu.

Bila engkau ingin mendapat bagian seperti yang Allah berikan kepada para wali-Nya dan bila engkau ingin hidup mulia, mintalah kebutuhanmu pada Allah, arahkan keinginanmu pada-Nya, serta sibuklah dengan-Nya. 

Allah berfirman: “Siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. ath-Thalāq [65]:3).

Ibn ‘Abbas r.a. berkata: “Pada suatu hari, ketika aku berada di belakang Nabi Saw beliau bersabda: “Wahai anak muda, jagalah (hak-hak) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, pasti Allah akan memperhatikanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah pada Allah. Jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah pada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat ini berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, hal itu takkan terwujud kecuali dengan takdir-Nya. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, hal itu takkan berhasil kecuali dengan takdīr-Nya. Pena sudah kering dan lembaran pun sudah dilipat.” (HR at-Tirmidzī dan menurutnya sanad hadits ini shahih).

Saya mendengar Abul-‘Abbās al-Mursī berkata: “Demi Allah, aku tidak melihat kemuliaan kecuali saat manusia tidak membutuhkan makhlūk dan saat ia bisa menjaga diri dari harta mereka.” Perhatikanlah selalu firman Allah: “Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, untuk Rasūl-Nya, serta milik orang-orang yang beriman.” (al-Munāfiqūn [63]: 8). Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada kaum mu’min adalah ketika ia menambatkan kebutuhan dan keyakinannya pada Allah, tidak pada yang lain.

Wahai saudaraku, Allah telah memakaikan padamu pakaian iman dan menghiasimu dengan perhiasan makrifat. Oleh karena itu, hendaknya engkau malu kepada Allah apabila lalai dan lupa – sehingga condong pada dunia lalu meminta kebaikan orang.

Alangkah buruk andai seorang mu’min meminta kebutuhannya pada makhlūk padahal ia mengetahui keesaan Allah dan mendengar firman-Nya: “Bukankah Allah mencukupi hamba-Nya.” (QS. az-Zumar [39]: 36).

Allah berfirman: “Wahai orang-orang beriman penuhilah janjimu.” Di antara janji yang engkau buat adalah bahwa engkau tidak akan meminta kebutuhanmu kecuali kepada Allah, serta tidak akan bertawakkal kecuali kepada-Nya. Allah berfirman: “Hanya kepada Allah hendaknya kaum mukmin bertawakal.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 160).

Sebaik-baik permintaan seorang hamba kepada Tuhannya adalah memohon agar diberi sikap istiqāmah bersama-Nya. Allah berfirman: “Tunjukilah kami jalan yang lurus (istiqāmah).” (QS. al-Fātihah [1]: 6).

Mintalah selalu petunjuk dan sikap istiqāmah. Yaitu, dengan senantiasa bersama Allah di setiap keadaan dalam naungan ridha-Nya. Yaitu dalam naungan ajaran Nabi Saw, seperti yang Allah firmankan: “Terimalah semua yang diajarkan Rasūl dan jauhilah semua yang dilarangnya. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh hukuman Allah sangat hebat.” (QS. al-Hasyr [59]: 7).

Orang yang sedang berjalan menuju Allah dan mendekatkan diri dengan ibadah ibarat orang yang sedang membuat sumur di dalam tanah sedikit demi sedikit hingga menemukan lubang. Setelah melakukan usaha dan perjuangan panjang, akhirnya sumur itupun memancarkan air. Adapun orang yang “ditarik mendekat” seperti orang yang sedang menginginkan air lalu tiba-tiba awan dari langit menurunkan hujan sehingga ia pun mengambil air tersebut sesuai dengan kebutuhannya tanpa harus bersusah payah. Artinya, Allah telah menarik orang tersebut kepada-Nya.

Syaikh Abul-Hasan asy-Syādzilī bercerita: “Pada suatu saat, aku tinggal di pedalaman selama tiga hari. Ketika itu, tak ada makanan yang bisa disantap. Tiba-tiba beberapa orang Nashrānī lewat di depanku. Mereka melihatku sedang bersandar. Lalu mereka berucap: “Orang itu ulamanya kaum muslim.” Kemudian mereka letakkan di atas kepalaku sepotong makanan lalu pergi. “Sungguh ajaib. Bagaimana mungkin rezekiku datang lewat perantara musuh, bukan lewat perantaraan para kekasih,” kataku ketika itu. Tiba-tiba ada suara menjawab: “Orang yang hebat bukanlah yang diberi rezeki lewat para kekasih, tetapi lewat musuh.”

Wallahu a'lam bish-shawab

 

Read More
      edit

Monday, January 4, 2021

Published January 04, 2021 by with 0 comment

Taubat adalah Karunia Allah

Wahai manusia, apabila Allah bermurah hati kepadamu dengan memberikan kesempatan untuk bertaubat, sungguh hal itu merupakan salah satu bentuk karunia-Nya untukmu. Allah Swt berfirman:

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Allah menerima taubat mereka supaya mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taubah [9]: 118).

Apabila engkau telah berbuat dosa selama 70 tahun, lalu engkau bertaubat pada satu waktu, maka terhapuslah dosa-dosamu selama itu. Rasūlullāh Saw bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tak mempunyai dosa.” (HR Ibn Mājah dan Ath-Thabrānī).

Ketika seorang mukmin mengingat dosanya ia akan bersedih, sementara setiap kali mengingat amal ketaatannya ia bergembira. Luqmān al-Hakīm pernah berkata: “Seorang mukmin mempunyai dua qalbu. Yang satu berharap, yang satunya lagi merasa cemas. Di satu sisi ia berharap amalnya diterima, di sini lain cemas kalau-kalau amalnya ditolak.” Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang cemas, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. al-Mu’minūn [23]: 60).

Ada yang berpendapat bahwa seandainya rasa cemas seorang mukmin ditimbang dengan harapannya, niscaya akan seimbang. Siapa yang ingin qalbunya bersambung kepada Allah hendaknya ia melakukan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Wahai mukmin, basuhlah qalbumu dengan menyesali kesempatan yang telah hilang. Siapa yang melakukan maksiat dan terjerumus ke dalam perbuatan haram, meskipun ia menceburkan diri ke tujuh lautan tetap takkan bersih darinya. Kecuali, bila ia bertaubat secara tulus kepada Allah.

Seseorang bertanya kepada Rābi‘ah al-Adawiyah: “Aku telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila aku bertaubat, akankah Allah mengampuninya?” Rābi‘ah menjawab: “Tidak. Tetapi apabila Dia mengampunimu, maka engkau akan bertaubat.”

Wahai manusia, apakah engkau mengiira obat yang engkau telan terasa manis? Jika engkau tidak bisa menahan pahitnya, engkau takkan mendapat kesembuhan. Oleh karena itu, segeralah bertaubat dan jangan menoleh pada manisnya maksiat. Apabila hawa nafsumu mulai condong pada syahwat, harta, jabatan, dan pujian orang, hendaknya engkau bergegas lari menuju Allah dan memohon pertolongan-Nya, pasti Dia akan menyelamatkanmu. Allah berfirman:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) seorang pemberi peringatan yang nyata untuk kalian.” (QS. adz-Dzāriyāt [51]: 50).

Jika engkau ditanya, siapakah orang mukmin itu, jawablah bahwa orang mukmin adalah yang bisa melihat aib dirinya lalu berusaha mengobatinya serta tidak menuduh orang lain memiliki aib. Jika engkau ditanya, siapakah orang yang hina, katakan bahwa orang yang hina adalah yang menuduh orang lain bersalah serta merasa dirinya benar. Rasūlullāh Saw bersabda: “Berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri sehingga lupa dengan aib orang lain.”

Wahai saudaraku, hendaknya engkau konsisten dalam bertaubat. Jika taubatmu diterima – yang tandanya engkau merasa lapang ketika melakukan ketaatan serta cenderung pada negeri akhirat – bergembiralah dan bersyukurlah kepada Allah atas karunia-Nya. Namun, jika taubatmu belum diterima – yang tandanya engkau masih menikmati maksiat dan masih merasa senang dengannya – minta tolonglah kepada Allah dan ucapkanlah:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Wahai Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan tidak menyayangi kami, pastilah kami termasuk golongan orang-orang yang rugi.” (QS. al-A‘rāf [7]: 23).

Wahai hamba, masukilah jalan yang bisa membuatmu dekat kepada Allah. Basuhlah qalbumu dengan menyesali dosa di masa lalu. Dengan begitu, mudah-mudahan engkau termasuk dalam golongan orang yang bertaubat dan didekatkan kepada surga yang penuh nikmat. Allah berfirman:

“Surga itu didekatkan dan tidak jauh dari orang-orang yang bertakwa. Inilah janji Allah bagi setiap hamba yang patuh kepada Allah dan memelihara kewajiban. Yaitu yang takut kepada Allah walaupun tidak melihat-Nya dan datang menghadap Allah dengan hati yang sangat khusyuk. Masukilah surga itu dengan damai. Itulah kehidupan yang kekal. Di dalamnya mereka bisa memperoleh apa saja yang mereka kehendaki dan di sisi Kami terdapat tambahannya.” Qāf [50]: 31-35).  

Wallahu a'lam

Read More
      edit