Showing posts with label Tawassul. Show all posts
Showing posts with label Tawassul. Show all posts

Friday, March 18, 2022

Published March 18, 2022 by with 0 comment

Ulama Salaf dan Tawassul

1 . Imam Sufyan bin Uyainah (w. 198 H/813 M)

Beliau adalah guru dari Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama terkemuka lainnya. Beliau berkata:

رَجُلاَنِ صَالِحَانِ يُسْتَسْقَى بِهِمَا: ابْنُ عَجْلاَنَ وَ يَزِيْدُ بْنُ يَزِيْدَ بْنِ جَابِرٍ  

“Ada dua orang laki-laki shalih yang dapat menurunkan hujan dengan bertawassul dengan mereka berdua, yakni: Ibnu ‘Ajlan dan Yazid bin Yazid bin Jabir.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam kitab al-‘Ilal wa Ma’rifat al-Rijal [1/163-164])

2. Imam Abu Hanifah (w. 150 H/767 M)

Ketika berziarah ke Madinah, beliau berdiri di hadapan makam Rasulullah Saw seraya berkata:

يَا أَكْرَمَ الثَّقَلَيْنِ يَا كَنْزَ الْوَرَى -- جُدْلِيْ بِجُوْدِكَ وَارْضَنِيْ بِرِضَاكَ

أَنَا طَامِعٌ فِي الْجُوْدِ مِنْكَ وَلَمْ يَكُنْ -- لِأَبِيْ حَنِيْفَةَ فِي اْلأَنَامِ سِوَاكَا

“Wahai yang termulia di antara manusia dan jin dan sebaik-baik makhluk -- berilah aku kemurahanmu dan ridhailah aku dengan ridhamu.”

“Aku merindukan kemurahan darimu – engkaulah satu-satunya harapan Abu Hanifah.”

Ucapan beliau ini disebutkan dalam kitab Fath al-Qadir. (Lihat: Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani, al-Ziyarat al-Nabawiyyah, h. 56)

3. Imam Malik (w. 179 H/ 795 M)

Diriwayatkan bahwa Khalifah Abu Ja’far al-Manshur bertanya kepada Imam Malik, “Wahai Abu Abdillah, apakah aku akan menghadap kiblat dan berdoa, atau aku menghadap Rasulullah Saw? Imam Malik menjawab:

وَلِمَ تَصْرِفُ وَجْهَكَ عَنْهُ؟ وَهُوَ وَسِيْلَتُكَ وَوَسِيْلَةُ أَبِيْكَ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، بَلِ اسْتَقْبِلْهُ وَاسْتَشْفِعْ بِهِ فَيُشَفِّعُهُ اللهُ فِيْكَ

“Mengapa engkau palingkan wajahmu dari beliau, sedangkan beliau adalah wasilahmu dan wasilah ayahmu Nabi Adam a.s. hingga hari kiamat. Hadapkan wajahmu kepada beliau, mohonlah syafaat kepada Allah dengan bertawassul dengan beliau, sehingga Allah akan menerima syafaatnya dan mengabulkan doamu.” (Lihat: al-Hafizh al-Qadhi ‘Iyadh, al-Syifa, dengan sanad yang shahih)

4. Imam Syafi’i (w. 204 H/ 819 M)

Beliau berkata:

إِنِّيْ لَأَتَبَرَّكُ بِأَبِيْ حَنِيْفَةَ وَأَجِيْءُ إِلَى قَبْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ يَعْنِيْ زَائِرًا، فَإِذَا عَرَضَتْ لِيْ حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَأَتَيْتُ إِلَى قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ الْحَاجَةَ عِنْدَهُ، فَمَا تَبْعُدُ عَنِّيْ حَتَّى تُقْضَى

“Aku selalu bertabarruk dengan Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dengan berziarah setiap hari. Apabila aku mempunya hajat, maka aku menunaikan shalat dua rakaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku segera dikabulkan.” (Lihat: al-Hafizh al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad [1/123] dengan sanad shahih)

5. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H/ 855 M)

Beliau berkata tentang keshalihan Imam Shafwan bin Sulaim al-Madani (w. 132 H/ 750 M):

هَذَا رَجُلٌ يُنْزَلُ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ بِذِكْرِهِ

“Ini adalah laki-laki yang dapat menurunkan hujan dari langit dengan menyebut namanya (yakni dengan bertawassul menyebut namanya).” (Lihat: al-Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal [13/186]; al-Hafizh Adz-Dzahabi, Tadzkirat al-Huffazh [1/134]; al-Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib [4/373]; dan al-Hafizh al-Suyuthi, Thabaqat al-Huffazh h. 61)

Wallahu a'lam

Read More
      edit

Friday, November 22, 2019

Published November 22, 2019 by with 0 comment

Dalil-dalil Tawassul (3)

Untuk membaca bagian kedua dari pembahasan ini silakan klik di sini.

6. Ucapan al-Harits bin Hassan al-Bakri ra

Al-Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dalam al-Musnad dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Hafizh Ibn Hajar (Fathul Bari, 8/578), bahwa al-Harits bin Hassan al-Bakri ra berkata kepada Rasulullah Saw:

أَعُوْذُ بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ أَنْ أَكُوْنَ كَوَافِدِ عَادٍ
 
"Aku berlindung kepada Allah dan Rasul-Nya dari menjadi seperti utusan kaum 'Ad (utusan yang justru menghancurkan kaumnya sendiri yang mengutusnya)." (Musnad Ahmad, 15388)

Hadits ini menunjukkan dibolehkannya ber-tawassul dan ber-istighatsah meskipun dengan lafal isti'adzah (memohon perlindungan). Dalam haidts ini al-Harits bin Hassan al-Bakri ra memohon perlindungan kepada Allah karena Allah adalah yang dmintai perlindungan secara hakiki (al-musta'adz bihi 'ala annahu al-sabab). Rasulullah Saw tidak mengafirkannya, tidak memusyrikkannya bahkan tidak mengingkarinya sama sekali, padahal kita tahu bahwa Rasulullah Saw tidak akan mendiamkan perkara mungkar sekecil apapun. Dalam hadits ini Rasulullah Saw tidak mengatakan: "Engkau telah musyrik karena memohon perlindungan kepadaku." 

7. Hadits Abdullah ra

عَنْ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: حَيَاتِي خَيْرٌ لَكُمْ تُحْدِثُوْنَ وَيُحْدَثُ لَكُمْ، وَوَفَاتِيْ خَيْرٌ لَكُمُ تُعْرَضُ عَلَيَّ أَعْمَالُكُمْ، فَمَا رَأَيْتُ مِنْ خَيْرٍ حَمِدْتُ اللهَ عَلَيْهِ، وَمَا رَأَيْتُ مِنْ شَرٍّ اسْتَغْفَرْتُ لَكُمْ

  "Diriwayatkan dari Abdullah, Nabi Saw bersabda, "Hidupku adalah kebaikan bagi kalian dan matiku adalah kebaikan bagi kalian. Ketika aku hidup kalian melakukan banyak hal lalu dijelaskan hukumnya melalui aku. Matiku juga kebaikan bagi kalian, diberitahukan amal perbuatan kalian. Jika aku melihat amal perbuatan kalian baik maka aku memuji Allah karenanya. Dan jika aku melihat amal perbuatan kalian buruk, maka aku memohonkan ampun untuk kalian kepada Allah."

Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bazzar dalam Musnad-nya (Kasyf al-Atsar, [1/397]). Al-Hafizh al-'Iraqi mengatakan dalam Tharh al-Tatsrib (3/297), sanad hadits ini jayyid. Al-Hafizh al-Haitsami mengatakan dalam Majma' al-Zawaid (9/24), para perawinya adalah para perawi hadits shahih. Al-Hafizh al-Suyuthi menilai hadits ini shahih dalam Khashaish al-Kubra (2/281). Bahkan al-Hafizh al-Sayyid Abdulla al-Shiddiq al-Ghummari al-Hasani menulis risalah khusus mengenai hadits ini berjudul "Nihayat al-Amal fi Syarh wa Tashhih Hadits 'Ardh al-A'mal".

Hadits di atas menunjukkan bahwa meskipun Rasulullah Saw sudah meninggal, beliau tetap bermanfaat bagi umatnya seperti bisa mendoakan dan memohonkan ampun kepada Allah untuk umatnya. Oleh karena itu, dibolehkan ber-tawassul dan ber-istighatsah dengannya, memohon didoakan oleh beliau meskipun beliau sudah meninggal dunia.

8 Hadits Ibn Umar ra

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّهُ خَدِرَتْ رِجْلُهُ فَقِيْلَ لَهُ: أُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاِس إِلَيْكَ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ، فَكَأَنَّمَا نَشِطَ مِنْ عِقَالٍ
 
"Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra, bahwa suatu ketika kaki beliau terkena mati rasa, maka salah seorang yang hadir mengatakan kepada beliau, "Sebutlah orang yang paling engkau cintai!" Lalu Ibn Umar berkata, "Ya Muhammad." Maka seketika itu kaki beliau sembuh."

Hadits ini shahih diriyatkan oleh Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (hal. 324), al-Hafizh Ibrahim al-Harbi dalam Gharib al-Hadits (2/673-674),al-Hafizh Ibn al-Sunni dalam 'Amal al-Yaum wa al-Lailah (hal. 72-73), dan dianjurkan untuk diamalkan oleh Ibn Taimiyah dalam kitabnya al-Kalim al-Thayyib (hal. 88)

Hadits di atas menunjukkan bahwa sahabat Abdullah bin Umar ra melakukan tawassul dan istighatsah dengan menggunakan redaksi nida' (memanggil) "يا محمد" yang artinya: أدركني بدعائك يا محمد (tolonglah aku dengan doamu kepada Allah wahai Muhammad). Hal ini dilakukan setelah Rasulullah Saw wafat. Sehingga hadits ini menunjukkan bahwa ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan Rasulullah Saw setelah beliau wafat meskipun dengan menggunakan redaksi nida' (memanggil), yang berarti nida' al-mayyit (memanggil seorang nabi atau wali yang telah meninggal) bukanlah termasuk musyrik.

Bersambung...  
 
Read More
      edit

Monday, November 18, 2019

Published November 18, 2019 by with 0 comment

Dalil-dalil Tawassul (2)

Untuk membaca bagian pertama dari pembahasan ini silakan klik di sini.
 
3. Hadits Abu Sa'id al-Khudri ra

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى الصَّلَاةِ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِحَقِّ السَّائِلِينَ عَلَيْكَ وَأَسْأَلُكَ بِحَقِّ مَمْشَايَ هَذَا فَإِنِّي لَمْ أَخْرُجْ أَشَرًا وَلَا بَطَرًا وَلَا رِيَاءً وَلَا سُمْعَةً وَخَرَجْتُ اتِّقَاءَ سُخْطِكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ فَأَسْأَلُكَ أَنْ تُعِيذَنِي مِنْ النَّارِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ أَقْبَلَ اللَّهُ عَلَيْهِ بِوَجْهِهِ وَاسْتَغْفَرَ لَهُ سَبْعُونَ أَلْفِ مَلَكٍ

Dari Abu Sa'id al-Khudri ra, berkata: "Rasulullah Saw bersabda: "Barangsiapa yang keluar dari rumahnya untuk melakukan shalat di masjid kemudian ia berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan derajat orang-orang yang berdoa kepada-Mu (baik yang masih hidup ataupun sudah meninggal) dan dengan derajat langkah-langkahku ketika berjalan ini, sesungguhnya aku keluar rumah bukan untuk menunjukkan sikap angkuh dan sombong, juga bukan karena riya' dan sum'ah, aku keluar rumah untuk menjauhi murka-Mu dan mencaari ridha-Mu, maka aku memohon kepada-Mu, selamat aku dari api neraka dan ampunilah dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau," maka Allah akan meridhainya dan tujuh puluh ribu malaikat memohonkan ampun baginya."
 
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (10729), Ibnu Majah (770), Ibnu al-Sunni dalam 'Amal al-Yaum wa al-Laylah, al-Thabarani dalam al-Du'a, al-Baihaqi dalam al-Da'awat al-Kabir, dan lainnya. Sanad hadits ini dinilai hasan oleh al-Hafizh al-Dimyathi dalam al-Matjar al-Rabih, al-Hafizh al-Maqdisi sebagaimana dikemukakan oleh muridnya al-Hafizh al-Mundziri dalam al-Targhib wa al-Tarhib, al-Hafizh al-'Iraqi (725-806 H/1325-1403) dalam al-Mughni, al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Nataij al-Afkar, dan lain-lain. Bahkan al-Hafizh al-Bushiri berkata dalam Mishbah al-Zujajah (1/99) bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah di dalam Shahih-nya sehinga dapat disimpulkan bahwa hadits ini shahih menurut Ibnu Khuzaimah.
 
Hadist ini menunjukkan dibolehkannya ber-tawassul dengan orang saleh, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Karena kata as-saa'iliin dalam hadits tersebut bersifat umum, mencakup mereka yang masih hidup ataupun sudah meninggal. Dalam hadist ini pula Nabi Saw mengajarkan untuk menggabungkan antara tawassul dengan al-dzawat wa al-fadhilah (seorang nabi atau wali dan orang saleh) dan tawassul dengan amal saleh. Beliau tidak membedakan antara keduanya, tawassul jenis pertama hukumnya boleh dan yang kedua juga boleh. Dalam hadits ini, tawassul dengan al-dzawat al-fadhilah ada pada redaksi بحق السائلين عليك dan tawassul dengan amal saleh ada pada redaksi بحق ممشاي هذا إليك 

Hadits ini dinilai hasan oleh para hafizh seperti al-Hafizh al-Dimyathi, al-Maqdisi, al-'Iraqi, al-Hafizh Ibn Hajar dan lain-lain, bahkan al-Imam Ibn Khuzaimah menilainya shahih.

4. Hadits tentang Manaqib Fathimah binti Asad

Fathiman binti Asad adalah ibunda Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. Ketika Fathiman binti Asad meninggal dunia, Rasulullah Saw menggali liang lahatnya dengan tangannya. Beliau mengeluarkan tanah dengan tangannya. Setelah selesai, Rasulullah Saw masuk ke dalam liang kubur, lalu tidur miring sambil berdoa:

اللهُ الَّذِيْ يُحْيِيْ وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ، اِغْفِرْ لِأُمِّيْ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَسَدٍ، ولَقِّنْهَا حُجَّتَهَا، وَوَسِّعْ عَلَيْهَا مُدْخَلَهَا، بِحَقِّ نَبِيِّكَ وَالْأَنْبِيَاءِ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِيْ، فَإِنَّكَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ

"Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dia Maha Hidup lagi tidak akan mati, ampunilah ibuku Fathimah binti Asad, tuntunlah jawabannya, luaskanlah tempat bersemayamnya engan derajat nabi-Mu dan nabi-nabi sebelumku, sesungguhnya Engkau lebih pengaih dari yang pengasih."

Lalu Nabi Saw menyalatinya dengan bertakbir empat kali. Beliau memasukkannya ke dalam liang bersama Abbas dan Abu Bakar al-Shiddiq. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Thabarani dalam al-Mu'jam al-Kabir (24/352) dan al-Mu'jam al-Ausath (1/152), dan al-Hafizh Abu Nu'aim dalam Hilyat al-Auliya' (3/121). Menurut al-Hafizh al-Haitsami, dalam sanadnya terdapat Ruh bin Shalah, perawi yang dinilai tsiqah oleh Ibn Hibban dan al-Hakim, namun ia memiliki kelemahan. Sedangkan perawi-perawi yang lain termasuk perawi hadits shahih. Karena itu, hadits ini dinilai hasan.

Hadits ini menunjukkan kebolehan ber-tawassul dengan orang yang masih hidup dan orang yang sudah meninggal dunia. Kebolehan ber-tawassul dengan oang yang masih hidup ada pada redaksi بحق نبك (dengan derajat nabi-Mu yang masih hidup) dan kebolehan ber-tawassul dengan orang yang sudah meninggal dunia ada pada redaksi selanjutnya والأنبياء من قبلي (dan dengan derajat nabi-nabi sebelumku yang sudah meninggal dunia).

5. Hadits Ibn Abbas ra

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ لِلَّهِ ملَائِكَةً فِي الْأَرْضِ سِوَى الْحَفَظَةِ يَكْتُبُوْنَ مَا يَسْقُطُ مِنْ وَرَقِ الشَّجَرِ، فَإِذَا أَصَابَ أَحَدَكُمْ عَرَجَةٌ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَلْيُنَادِ أُعِيْنُوْا عِبَادَ اللهِ

"Diriwayatkan dari Ibn Abbas ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda, "Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat di bumi selain malaikat hafazhah yang menulis daun-daun yang berguguran, maka jika kalian ditimpa kesulitan di suatu padang maka hendaklah mengatakan: "Tolonglah aku wahai para hamba Allah." 

Hadits ini  diriwayatkan oleh al-Bazzar (Kasyf al-Astar,4/33-34). al-Hafizh al-Haitsami dalam Majma' al-Zawaid (10/132) berkata: "Para perawi hadits ini dapat dipercaya."

Hadits ini menunjukkan dibolehkannya meminta tolong dan ber-istighatsah dengan selain Allah, yaitu orang-orang saleh meskipun tidak di hadapan mereka dengan redaksi nida' (memanggil). al-Imam al-Nawawi setelah menyebutkan riwayat Ibn al-Sunni dalam kitabnya al-Adzkar mengatakan:

"Sebagian guruku yang sangat alim pernah menceritakan bahwa pernah suatu ketika hewan tunggangannya lepas dan beliau mengetahui hadits ini, lalu beliau mengucapkannya, maka seketika hewan tunggangannya itu berhenti berlari. Saya pun suatu ketika bersama jamaah kemudian terlepas seekor binantang mereka dan mereka bersusah payah berusaha menangkapnya dan tidak berhasil. Kemudian saya mengatakannya, dan seketika binatang tersebut berhenti tanpa sebab kecuali ucapan tersebut."

al-Hafizh al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu'ab al-Iman dari Abdullah putra al-Imam Ahmad bin Hanbal, yang berkata: "Saya mendengar ayahku berkata, "Suatu ketika saya menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Di suatu perjalanan saya tersesat tidak mengetahui arah. Lalu aku berkata, "Hai hamba-hamba Allah, tunjukkanlah aku jalan." Aku terus mengucapkannya sampai akhirnya aku menemukan jalan yang benar."

Kedua kisah di atas menunjukkan bahwa mengucapkan tawassul dan istighatsah tersebut adalah amalan para ulama ahli hadits dan yang lainnya.

Bersambung...  
Read More
      edit