Kisah
Melenyapkan Bisul
Dari
hadits Muhammad Ibnu Uqbah dari Syurahbil dari kakeknya Abdurrahman, dari
bapaknya yang berkata, “Aku mendatangi Rasulullah SAW karena bisul yang ada di
telapak tanganku.
Aku
berkata kepada Nabi, “Wahai Nabi Allah, bisul ini telah menghalangiku dari bertempur
di jalan Allah dan menyakitkanku ketika aku memegang kendali kuda.”
Maka
Rasulullah SAW pun bersabda, “Mendekatlah kepadaku.”
Aku
pun mendekat. Kemudian beliau membuka dan meniup telapak tanganku. Setelah itu
beliau meletakkan tangannya di atas bisul itu sambil menepuk-nepuknya. Maka
pada saat itu juga bisulku lenyap tanpa bekas.”
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam Thabrani
dan dinukil oleh al-Hafizh al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid, juz 8
halaman 298.
Kisah Muadz ra dan Lengannya yang Putus
Di
tengah berkecamuknya perang Badar, Muadz bin Amr bin al-Jamuh ra mendapatkan
tebasan pedang di pundaknya dari Ikrimah bin Abu Jahal.
Kemudian
Muadz bercerita, “Tebasan pedang itu memutuskan lenganku, namun masih
tergantung di badanku karena ada sedikit kulit yang tidak putus. Maka kuselipkan
lenganku itu di balik punggungku dan aku terus berperang di sepanjang hari itu.
Akan tetapi lama kelamaan gerakanku menjadi terganggu karena keadaan lenganku
itu. Maka kuhentakkan lengan itu hingga menjadi lepas dari tempatnya.”
Setelah itu, sebagaimana yang diceritakan
kembali oleh Qadhi Iyadh dari Ibnu Wahab dalam kitab al-Mawahib, Muadz
membawa lengannya yang lepas itu kepada Rasulullah SAW. Beliau kemudian
meletakkan tangan yang sudah lepas itu ke tempatnya semula dan meludahinya.
Seketika itu juga lengan Muadz kembali tersambung seperti sedia kala.
Kisah
ini diriwayatkan oleh al-Zarqani dan disandarkan kepada Ibnu Ishaq, dan di
antaranya sanadnya terdapat al-Hakim.
Meminta Tolong kepada Nabi SAW
untuk Menolak Bencana
Ada banyak hadits yang menerangkan
tawassul pada sahabat dengan Nabi SAW ketika mereka mengalam musim kemarau yang
berkepanjangan. Dan di antaranya adalah sebagai berikut:
Suatu
ketika, seorang Arab Badui memanggil-manggil Nabi SAW sewaktu beliau
menyampaikan khutbah Jumat.
“Wahai
Rasulullah, telah musnah harta benda kami karena kami tidak berdaya untuk
mencegahnya. Maka berdoalah kepada Allah untuk kami, agar Dia menurunkan
hujan,” kata Arab Badui itu.
Maka
Rasulullah SAW pun berdoa sehingga hujan turun dari langit.
Pada hari Jumat berikutnya, Arab Badui itu
datang lagi dan berkata, “Harta benda kami porak poranda, rumah kami roboh,
hewan ternah kami mati disebabkan oleh derasnya air hujan, sedangkan kami tidak
dapat berbuat apa-apa.”
Maka
Rasulullah SAW pun berdoa sehingga hujan hanya turun di sekitar kota Madinah.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari
dalam kitab Istisqa’, pada Bab “Permintaan Rakyat kepada Imam untuk
Melaksanakan Shalat Istisqa’ ketika Terjadi Bencana Kekeringan.” Imam Abu Dawud
juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang baik dari Aisyah ra. Imam
Baihaqi juga meriwayatkan hadits ini dalam kitab Dalail al-Nubuwwah
dengan rangkaian sanad yang bersumber dari Anas ra, yang di dalamnya disebutkan
bahwa Arab Badui setelah menyampaikan keluh kesahnya kemudian berkata, “Maka
tidak ada lagi tempat kami bergantung kecuali kepadamu, duhai Rasulullah. Dan
hendak ke mana lagi manusia bergantung kecuali kepada Rasulullah?” Riwayat mengenai hadits ini juga dapat
dilihat dalam kitab Fath al-Bari, jilid 2 halaman 495.
Perhatikanlah
bagaimana para sahabat secara majazi telah menisbatkan pertolongan dan manfaat
kepada Rasulullah SAW. Demikian pula dengan orang Badui itu sewaktu ia
mengatakan, “Tidak ada lagi tempat kami bergantung kecuali kepadamu, duhai
Rasulullah.” Namun Rasulullah SAW tidak memusyrikkannya, karena penisbatan
kepada Nabi di sini tidaklah bersifat hakiki, melainkan idhafi (relatif).
Mungkin
Anda bertanya, “Apakah tindakan Nabi SAW itu disebabkan beliau tidak mengerti
firman Allah yang memerintahkan agar manusia hanya bergantung kepada Allah
SWT?”
Jawabnya,
tentu saja beliau mengerti akan ayat tersebut karena ia diturunkan kepada
beliau. Namun ketahuilah bahwa makna hakiki dari tempat bergantung yang
diharapkan dapat menolong dan memberi manfaat, hanyalah Allah SWT dan para
Rasul-Nya, bukan yang lain selain Allah dan para Rasul-Nya itu.
Mengapa
para Rasul itu dikatakan termasuk sebagai tempat bergantung? Karena mereka
adalah kelompok pertama yang dapat dijadikan sebagai perantara (wasilah)
kepada Allah SWT. Mereka juga merupakan kelompok yang doanya paling didengar
oleh Allah dalam memenuhi berbagai kebutuhan dan hajat umatnya.
Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW
begitu terkesan dengan ucapan si Arab Badui dalam kisah di atas, hingga beliau
bersegera memenuhi harapannya dengan berdoa kepada Allah SWT. Beliau
tidak lagi menunda harapan Arab Badui itu hingga Allah mengabulkannya.
Semoga
shalawat dan salam tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW.