Saturday, March 19, 2022

Published March 19, 2022 by with 0 comment

Jangan Mendahului Puasa Ramadhan Sehari atau Dua Hari

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهْ وَسَلَّمَ: "لاَ تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلاَ يَوْمَيْنِ، إِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا، فَلْيَصُمْهُ". مُتَّفَقٌ عَلَيْه

Dari Abu Hurairah ra, beliau berkata: Rasulullah Saw bersabda: "Janganlah kamu mendahului puasa Ramadhan dengan puasa sehari dan jangan pula dengan puasa dua hari, kecuali bagi orang yang biasa melakukan puasa tertentu, maka hendaklah dia melakukan puasanya." (Muttafaq ‘alaih)

Penjelasan:

Nabi Saw melarang melakukan puasa sebelum Ramadhan sebagai langkah berhati-hati, karena ibadah puasa itu berkaitan dengan ru’yah (melihat anak bulan atau hilal). Barangsiapa mendahuluinya dengan berpuasa sehari atau dua hari dengan niat berhati-hati, maka dia melakukan satu perbuatan yang menentang hukum syariat Islam. Akan tetapi dibolehkan berpuasa sebelum Ramadhan bagi orang yang mempunyai kebiasaan berpuasa, kemudian kebiasaannya itu bertepatan dengan hari tersebut. 

Larangan ini bertujuan supaya amalan sunnah tidak bercampur dengan amalan fardhu, di samping agar tidak ditambahkan ke dalam Ramadhan perkara-perkara yang tidak termasuk di dalamnya, seperti yang biasa dikerjakan oleh ahli kitab. Larangan ini menunjukkan hukum haram. Oleh karena itu, diharamkan melakukan puasa dengan niat puasa Ramadhan sebagai langkah berjaga-jaga.

Namun hal ini dikecualikan bagi orang yang mempunyai kebiasaan berpuasa, maka ia boleh melakukan puasa menurut kebiasaannya itu. Misalnya ia biasa melakukan puasa al-dahr (sehari puasa sehari tidak sepanjang tahun) atau biasa melakukan puasa Senin dan Kamis atau puasa yang lainnya, maka ia dibolehkan melakukan puasa pada hari itu demi memelihara kebiasaannya, karena amalan yang paling disukai oleh Allah adalah amal yang dilakukan secara terus menerus. 

Fiqih Hadits

1. Dilarang berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan dengan alasan sebagai langkah berjaga-jaga karena hal itu sama artinya dengan menentang ketetapan syariat Islam dan mencampuradukkan antara hal sunnah dengan fardhu.

2. Anjuran untuk melaksanakan ibadah dan amal kebaikan yang biasa dilakukan oleh seseorang secara berkesinambungan.

3. Boleh melakukan puasa yang biasa dilakukan seseorang, meskipun puasa menurut kebiasaannya itu bertepatan dengan sehari atau dua hari sebelum Ramadhan. 

4. Makruh melakukan puasa sunnah dalam sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan.

Read More
      edit

Friday, March 18, 2022

Published March 18, 2022 by with 0 comment

Ulama Salaf dan Tawassul

1 . Imam Sufyan bin Uyainah (w. 198 H/813 M)

Beliau adalah guru dari Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama terkemuka lainnya. Beliau berkata:

رَجُلاَنِ صَالِحَانِ يُسْتَسْقَى بِهِمَا: ابْنُ عَجْلاَنَ وَ يَزِيْدُ بْنُ يَزِيْدَ بْنِ جَابِرٍ  

“Ada dua orang laki-laki shalih yang dapat menurunkan hujan dengan bertawassul dengan mereka berdua, yakni: Ibnu ‘Ajlan dan Yazid bin Yazid bin Jabir.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam kitab al-‘Ilal wa Ma’rifat al-Rijal [1/163-164])

2. Imam Abu Hanifah (w. 150 H/767 M)

Ketika berziarah ke Madinah, beliau berdiri di hadapan makam Rasulullah Saw seraya berkata:

يَا أَكْرَمَ الثَّقَلَيْنِ يَا كَنْزَ الْوَرَى -- جُدْلِيْ بِجُوْدِكَ وَارْضَنِيْ بِرِضَاكَ

أَنَا طَامِعٌ فِي الْجُوْدِ مِنْكَ وَلَمْ يَكُنْ -- لِأَبِيْ حَنِيْفَةَ فِي اْلأَنَامِ سِوَاكَا

“Wahai yang termulia di antara manusia dan jin dan sebaik-baik makhluk -- berilah aku kemurahanmu dan ridhailah aku dengan ridhamu.”

“Aku merindukan kemurahan darimu – engkaulah satu-satunya harapan Abu Hanifah.”

Ucapan beliau ini disebutkan dalam kitab Fath al-Qadir. (Lihat: Sayyid Muhammad al-Maliki al-Hasani, al-Ziyarat al-Nabawiyyah, h. 56)

3. Imam Malik (w. 179 H/ 795 M)

Diriwayatkan bahwa Khalifah Abu Ja’far al-Manshur bertanya kepada Imam Malik, “Wahai Abu Abdillah, apakah aku akan menghadap kiblat dan berdoa, atau aku menghadap Rasulullah Saw? Imam Malik menjawab:

وَلِمَ تَصْرِفُ وَجْهَكَ عَنْهُ؟ وَهُوَ وَسِيْلَتُكَ وَوَسِيْلَةُ أَبِيْكَ آدَمَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، بَلِ اسْتَقْبِلْهُ وَاسْتَشْفِعْ بِهِ فَيُشَفِّعُهُ اللهُ فِيْكَ

“Mengapa engkau palingkan wajahmu dari beliau, sedangkan beliau adalah wasilahmu dan wasilah ayahmu Nabi Adam a.s. hingga hari kiamat. Hadapkan wajahmu kepada beliau, mohonlah syafaat kepada Allah dengan bertawassul dengan beliau, sehingga Allah akan menerima syafaatnya dan mengabulkan doamu.” (Lihat: al-Hafizh al-Qadhi ‘Iyadh, al-Syifa, dengan sanad yang shahih)

4. Imam Syafi’i (w. 204 H/ 819 M)

Beliau berkata:

إِنِّيْ لَأَتَبَرَّكُ بِأَبِيْ حَنِيْفَةَ وَأَجِيْءُ إِلَى قَبْرِهِ كُلَّ يَوْمٍ يَعْنِيْ زَائِرًا، فَإِذَا عَرَضَتْ لِيْ حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَأَتَيْتُ إِلَى قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ الْحَاجَةَ عِنْدَهُ، فَمَا تَبْعُدُ عَنِّيْ حَتَّى تُقْضَى

“Aku selalu bertabarruk dengan Abu Hanifah dan mendatangi makamnya dengan berziarah setiap hari. Apabila aku mempunya hajat, maka aku menunaikan shalat dua rakaat, lalu aku datangi makam beliau dan aku memohon hajat itu kepada Allah di sisi makamnya, sehingga tidak lama kemudian hajatku segera dikabulkan.” (Lihat: al-Hafizh al-Khatib al-Baghdadi, Tarikh Baghdad [1/123] dengan sanad shahih)

5. Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H/ 855 M)

Beliau berkata tentang keshalihan Imam Shafwan bin Sulaim al-Madani (w. 132 H/ 750 M):

هَذَا رَجُلٌ يُنْزَلُ الْقَطْرُ مِنَ السَّمَاءِ بِذِكْرِهِ

“Ini adalah laki-laki yang dapat menurunkan hujan dari langit dengan menyebut namanya (yakni dengan bertawassul menyebut namanya).” (Lihat: al-Hafizh Abu al-Hajjaj al-Mizzi, Tahdzib al-Kamal [13/186]; al-Hafizh Adz-Dzahabi, Tadzkirat al-Huffazh [1/134]; al-Hafizh Ibnu Hajar, Tahdzib al-Tahdzib [4/373]; dan al-Hafizh al-Suyuthi, Thabaqat al-Huffazh h. 61)

Wallahu a'lam

Read More
      edit

Sunday, March 13, 2022

Published March 13, 2022 by with 0 comment

Aqiqah untuk yang Sudah Meninggal Dunia

Aqiqah hukumnya adalah sunnah. Demikian pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama, termasuk di dalamnya dari kalangan madzhab Syafi'i. Kesunnahan untuk melakukan aqiqah oleh orangtua untuk anak akan tetap ada sehingga anak itu baligh. Jika sudah baligh maka selesai sudah kesunnahan itu karena usia baligh dipandang sebagai saat di mana seorang anak sudah bisa mandiri dan tidak terikat dengan orangtuanya. Saat seperti itu si anak boleh untuk mengaqiqahi dirinya sendiri.

Disebutkan dalam Fatwa Syabakah Islamiyah:

وقال الشافعي: إن أخرت إلى البلوغ، سقطت عمن كان يريد أن يعق عنه، لكن إن أراد هو أن يعق عن نفسه، فعل

Imam Syafi'i mengatakan, jika aqiqah tertunda sampai anak itu baligh, maka telah gugur tanggung jawab orang yang mengaqiqahinya. Akan tetapi jika dia ingin mengaqiqahi dirinya sendiri, boleh dilakukannya. (Fatwa Syabakah Islamiyah, no. 16868).

Anak Meninggal Dunia, Sunnah Diaqiqahi?

Lalu, bagaimana seandainya anak yang dilahirkan itu meninggal dunia, apakah sunnah diaqiqahi? Madzhab Syafi'i memilih pendapat yang mengatakan sunnah, sekalipun ada yang mengatakan tidak sunnah. 

Imam Nawawi dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab mengutip pernyataan Imam Rafi'i sebagai berikut:

لو مات المولود بعد اليوم السابع بعد التمكن من الذبح، فوجهان حكاهما الرافعي: (اصحهما) يستحب ان يعق عنه، (والثاني) يسقط بالموت -- المجموع شرح المهذب: ٤٣٢/٨

"Jika anak yang telah dilahirkan meninggal setelah berusia tujuh hari dari kelahiran dan setelah adanya kemampuan untuk menyembelih aqiqah, maka di sini ada dua pendapat sebagaimana disampaikan Imam Rafi’i. Pertama dan ini yang paling sahih, disunahkan untuk mengaqiqahi anak tersebut. Kedua, akikah gugur dengan meninggalnya anak tersebut." (al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab: 8/432)

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menguatkan pendapat yang mengatakan sunnah mengaqiqahi anak sekalipun ia meninggal dunia setelah dilahirkan. Beliau berkata:

يسن، سنة مؤكدة أن يعق عن الولد بعد تمام انفصاله وإن مات بعده على المعتمد في المجموع -- تحفة المحتاج في شرح المنهاج، ٣٧٠/٩

"Sunnah, yakni sunnah muakkad, mengaqiqahi anak yang telah lahir dengan sempurna meskipun setelah itu ia meninggal dunia, sebagaimana yang dipilih dalam kitab al-Majmu'." (Tuhfah al-Minhaj, 9/370)

Kebanyakan ulama fiqih sepakat bahwa kelahiran anak merupakan sebab pelaksanaan aqiqah, sehingga meskipun anak telah meninggal, maka hal itu tidak menggugurkan kesunnahan melakukan akikah untuknya.

Aqiqah untuk Orangtua yang Sudah Meninggal Dunia, Sunnahkah?

Dalam masalah ini sama kedudukannya dengan kurban atas nama orangtua yang sudah meninggal dunia. Dalam madzhab Syafi'i dibolehkan dengan syarat ada wasiat dari yang bersangkutan. Artinya, jika ada wasiat dari orangtua untuk mengaqiqahi dirinya, maka dibolehkan. Jika tidak, maka tidak dibolehkan. Di antara ulama-ulama madzhab Syafi'i yang mensyaratkan adanya wasiat itu adalah Syekh Zakariya al-Anshari, Syekh al-Khatib as-Syirbini, Imam Al-Baghawi dan lainnya.

Syekh Al-Khatib As-Syirbini menyatakan:

 قَالَ: (وَلَا) تَضْحِيَةَ (عَنْ مَيِّتٍ إِنْ لَمْ يُوصِ بِهَا) لِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى [النجم: 39]، فَإِنْ أَوْصَى بِهَا جَازَ 

“Tidak boleh kurban atas nama mayit bila semasa hidupnya ia tidak mewasiatkannya, karena firman Allah yang artinya ‘Bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya’ (an-Najm ayat 39). Bila ia mewasiatkannya, maka boleh.” (Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfadhil Minhaj, 4/292).

Namun ada satu pendapat dari ulama madzhab Syafi'i yang membolehkan meskipun tanpa adanya wasiat, karena ia termasuk sedekah. Ini merupakan pendapat Imam Abu al-Hasan al-Abbadi. Disebutkan dalam kitab al-Majmu' sebagai berikut:

وَأَمَّا -- التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ فَقَدْ أَطْلَقَ أَبُوالْحَسَنِ الْعَبَّادِيُّ جَوَازَهَا لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ وَالصَّدَقَةُ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُ هُوَتَصِلُ إلَيْهِ بِالْإِجْمَاعِ

Adapun berkurban untuk orang yang sudah meninggal dunia maka Abu al-Hasan al-Abbadi membolehkannya secara mutlak karena termasuk sedekah. Sedang sedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sah, bermanfaat untuknya, dan pahalanya bisa sampai kepadanya sebagaimana ketetapan ijma para ulama. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, 8/406).

Namun demikian, dalam madzhab Syafi'i pendapat Imam Abu al-Hasan al-Abbadi ini bukanlah pendapat yang kuat dan tidak merupakan pendapat resmi dalam madzhab Syafi'i.

Demikianlah. Semoga bermanfaat.

Wallahu a'lam 


Read More
      edit
Published March 13, 2022 by with 0 comment

Ziarah Kubur dan Adab-adabnya


a. Hadits tentang Ziarah Kubur

Hadits Buraidah ra riwayat Imam Muslim, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim dan Turmudzi:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ، فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ، فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ

Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh aku telah melarang kalian ziarah kubur, dan (sekarang) telah diizinkan kepada Muhammad untuk berziarah kubur ibunya, maka ziarahlah kalian ke kubur, karena ziarah kubur itu dapat mengingatkan akhirat.”

b. Pengertian Ziarah Kubur

Ziarah artinya datang untuk bertemu. Kubur artinya tempat untuk menguburkan manusia. Dengan demikian ziarah kubur adalah: mendatangi (menziarahi) seseorang yang telah dikuburkan (dikebumikan) di dalam kubur.

Mengapa mendatangi orang yang sudah dikubur itu disebut ziarah? Berikut jawaban Syekh Ibnul Qayyim Jauziyah dalam kitab ar-Ruh:

وَيَكْفِيْ فِيْ هَذَا تَسْمِيَّةُ الْمُسْلِمِ عَلَيْهِمْ زَائِرًا، وَلَوْلاَ أَنَّهُمْ يَشْعُرُوْنَ بِهِ لَمَّا صَحَّ تَسْمِيَّتُهُ زَائِرًا فَإِنَّ الْمُزَوَّرَ إِنْ لَمْ يَعْلَمْ بِزِيَارَةِ مَنْ زَارَهُ لَمْ يَصِحْ أَنْ يُقَالَ زَارَهُ، هَذَا هُوَ الْمَعْقُوْلُ مِنَ الزِّيَارَةِ عِنْدَ جَمِيْعِ اْلأَمَمِ

“Cukup sudah keterangan di atas, untuk menamakan seorang yang mengucapkan salam kepada mereka disebuta zair (orang yang berziarah), jika saja mereka (penghuni kubur) tidak merasa dengan datangnya seorang yang mengucapkan salam maka tidak disebut zair, karena orang yang diziarahi apabila tidak mengetahui orang yang menziarahi, maka tidak bisa dikatakan ia telah menziarahi (mendatangi)nya, inilah yang masuk akal dari arti ziarah menurut semua umat.”  

Beliau juga menjelaskan:

وَالسَّلَفُ مُجَمَّعُوْنَ عَلَى هَذَا وَقَدْ تَوَاتَرَتْ الآثَارُ عَنْهُمْ بِأَنَّ الْمَيِّتَ يَعْرِفُ زِيَارَةَ الْحَيِّ لَهُ وَيَسْتَبْشِرُ بِهِ، قَالَ أَبُو بَكْرٍِ عَبْدُ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ بْنُ أَبِى الدُّنْيَا فِي كِتَابِ الْقُبُوْرِ، بَابِ مَعْرِفَةِ الْمَوْتَى بِزِيَارَةِ اْلأَحْيَاءِ ... عَنْ عَائِشَةَ رَضِىَ اللهُ تَعَالَى عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللهِ : مَا مِنْ رَجُلٍ يَزُوْرُ قَبْرَ أَخِيْهِ وَيَجْلِسُ عِنْدَهُ إِلاَّ اِسْتَأْنَسَ بِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ حَتَّى يَقُوْمَ     

“Ulama salaf telah sepakat atas semua ini, dan atsar-atsar dari mereka telah mutawatir, bahwasanya mayit mengetahui ziarahnya orang hidup kepadanya dan ia merasa senang dan gembira atas ziarah itu. Abu Bakar, (yakni) Abdullah bin Muhammad bin Ubaidillah bin Abid Dun-ya dalam kitabnya al-Kubur, bab orang mati mengetahui ziarahnya orang hidup, meriwayatkan ... dari Aisyah ra ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Tidaklah seorang lelaki yang menziarahi kubur saudaranya dan duduk di samping (makam)nya, kecuali ia merasa senang atas (ziarahnya) itu dan ia akan membalas salamnya sampai lelaki tersebut berdiri.”  

c. Hukum Ziarah Kubur Bagi Laki-laki

Imam Nawawi dalam al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, V/281, berkata:

أَمَّا اْلأَحْكَامُ فَاتَّفَقَتْ نُصُوْصُ الشَّافِعِيُّ وَاْلأَصْحَابُ عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ لِلرِّجَالِ زِيَارَةُ الْقُبُوْرِ، وَهُوَ قَوْلُ الْعُلَمَاءِ كَافَّةً، نَقَلَ الْعَبْدَرِيُّ فِيْهِ إِجْمَاعَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Adapun hukum ziarah kubur, maka telah sepakat nash-nash Imam Syafi’i dan para pengikut (ashab)-nya bahwa ziarah kubur disunnahkan bagi laki-laki, ini adalah pendapat seluruh ulama, bahkan Imam al-Abdari menyebutnya sebagai telah disepakati (ijma’) ulama...”

d. Hukum Ziarah Kubur Bagi Perempuan

Hadits Aisyah ra, diriwayatkan Imam Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْتُ : كَيْفَ أَقُولُ لَهُمْ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ قُولِي السَّلاَمُ عَلَى أَهْلِ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَيَرْحَمُ اللهُ الْمُسْتَقْدِمِينَ مِنَّا وَالْمُسْتَأْخِرِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ

Dari Aisyah ra yang berkata, “Aku bertanya, “Bagaimana aku berkata kepada mereka ya Rasulallah?” Beliau Saw menjawab, “Katakanlan: “Assalaamu ‘alaa ahlid diyaari...” (Semoga keselamatan tercurah bagi penduduk kampung orang-orang mukmin dan muslim ini. Dan semoga Allah memberi rahmat kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang kemudian, dan kami insyaallah akan menyusul kalian semua).”

Hadits Aisyah ra, diriwayatkan Imam al-Hakim dan Baihaqi:

أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تَزُوْرُ قَبْرَ عَمِّهَا حَمْزَةَ كُلَّ جُمْعَةٍ فَتُصَلِّى وَتَبْكِى عِنْدَهُ

“Bahwasanya Fathimah binti Rasulullah Saw menziarahi kubur pamannya Hamzah setiap hari Jumat. Ia mendoakan dan menangis di sisinya.”

Hadits Anas bin Malik ra, riwayat Imam Bukhari, Muslim, Nasa’i, Turmudzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Dari Anas bin Malik ra berkata, “Nabi Saw pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka beliau berkata, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” Wanita itu berkata, “Menjauhlah engkau dariku, karena engkau tidak mengalami musibah seperti yang menimpaku.” Wanita itu tidak mengetahui jika yang menasehati itu adalah Nabi Saw. Lalu dikatakan padanya, “Sesungguhnya orang tadi adalah Nabi Saw.” Wanita itu kemudian mendatangi rumah Nabi  Saw dan ia tidak menemukan penjaga pintu. (Setelah bertemu) ia berkata, “(Maaf), tadi aku tidak mengenalmu.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya sabar itu pada kesempatan pertama (saat datang musibah).”

Berdasarkan dalil-dalil di atas maka perempuan dibolehkan melakukan ziarah kubur, asalkan tidak terjadi di dalamnya hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt. Sedangkan untuk ziarah ke makam Rasulullah Saw atau ke makam para aulia Allah, dihukumi sunnah.  

e. Hukum Bepergian untuk Ziarah Kubur

Sebagian orang ada yang mengharamkan melakukan perjalanan untuk ziarah. Hal itu terjadi karena mereka salah paham dengan hadits berikut:

وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ، إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى وَمَسْجِدِيْ

“Dan jangan mengencangkan pelana (melakukan perjalanan jauh) kecuali untuk mengunjungi tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku (Masjid Nabawi)." (HR Bukhari)

Hadits tersebut tidaklah melarang untuk melakukan perjalaan dengan tujuan ziarah kubur. Yang dilarang di dalam hadits tersebut adalah melakukan perjalanan menuju masjid-masjid selain Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi, dengan pemahaman bahwa di masjid yang dituju itu ada keutamaan untuk shalat di dalamnya. Padahal tidak ada masjid yang memiliki keutamaan selain tiga masjid yang disebutkan Nabi Saw dalam hadits riwayat Imam Bukhari di atas. Artinya, di masjid mana pun kita shalat di dunia ini maka pahala dan keutamaannya sama, kecuali di tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjidil Aqsha dan Masjid Nabawi. 

Imam Jalaluddin As-Suyuthi berkata:

وَالْمُرَادُ أَنَّ الْفَضِيْلَةَ التَّامَّةِ إِنَّمَا هِيَ فِيْ شَدِّ الرِّحَالِ إِلَى هَذِهِ الثَّلاَثَةِ خَاصَّةً، وَهَذَ الَّذِيْ إِخْتَارَهُ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالْمُحَقِّقُوْنَ

“Maksud dari hadits tersebut adalah sungguh fadhilah yang sempurna hanya terdapat dalam perjalanan ke tiga masjid ini. Inilah pendapat yang dipilih oleh Imam Haramain dan muhaqqiqin.” (Lihat: Ad-Dibaj ‘ala Muslim, Juz III, h. 387)

Bahkan Imam al-Ghazali berkata:

وَالْحَدِيْثُ إِنّمَا وَرَدَ فِي الْمَسَاجِدِ وَلَيْسَ فِيْ مَعْنَاهَا الْمَشَاهِدُ، لِأَنَّ الْمَسَاجِدَ بَعْدَ الْمَسَاجِدِ الثَّلَاثَةِ مُتَمَاثِلَةٌ

“Dan hadits tersebut hanya menjelaskan tentang masjid saja dan tidak mencakup masyahid (makam dan petilasan), karena masjid-masjid selain ketiga masjid tersebut (fadhilahnya) sama.” (Lihat: Ihya’ ‘Ulumiddin, Juz II h. 332)

Dalam sebuah hadits tentang kisah kematian Nabi Musa yang diceritakan Nabi Saw. Di akhir cerita, Nabi Muhammad bersabda kepada para sahabat:

فَلَوْ كُنْتُ ثَمَّ لَأَرَيْتُكُمْ قَبْرَهُ إِلَى جَانِبِ الطَّرِيْقِ عِنْدَ الْكَثِيْبِ الْأَحْمَرِ

"Seandainya aku ke sana, pasti akan aku tunjukkan kepada kalian keberadaan kuburnya yang ada di pinggir jalan di bawah tumpukan pasir merah." (HR Bukhari)

Dari sejumlah keterangan ini dapat dipahami bahwa tidak dilarang bagi kita untuk melakukan perjalanan dalam rangka ziarah kubur, termasuk dalam rangka ziarah makam para wali.

f. Adab-adab Ziarah Kubur

1. Mengucapkan salam

عَنْ بُرَيْدَةَ قَالَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُهُمْ إِذَا خَرَجُوْا إِلَى الْمَقَابِرِ فَكَانَ قَائِلُهُمْ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

Rasulullah Saw mengajarkan kepada mereka apa yang mesti mereka kerjakan apabila mereka hendak keluar ziarah kubur, agar mereka mengucapkan: “Semoga keselamatan tercurah bagi penghuni (kubur) dari kalangan orang-orang mukmin dan muslim dan kami insyaAllah akan menyusul kalian semua. Aku memohon kepada Allah bagi kami dan bagi kalian Al 'Afiyah (keselamatan).” (HR Muslim)

2. Melepas alas kaki

وَحَانَتْ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظْرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِيْ فِي الْقُبُوْرِ عَلَيْهِ نَعْلَانِ، فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ، وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ. فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

Dan beliau Saw melihat seseorang yang berjalan di antara kuburan mengenakan dua sandal. Kemudian beliau berkata: "Wahai pemilik dua sandal, lepaskan dua sandalmu!" Kemudian orang tersebut melihat dan ketika ia tahu yang berseru itu Rasulullah Saw, maka ia melepasnya dan membuangnya. (HR Abu Dawud dari Basyir ra)

3. Tidak duduk di atas kuburan

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api, lalu terbakar baju dan kulitnya adalah lebih baik baginya daripada ia harus duduk di atas kuburan.” (HR Muslim)

4. Membaca ayata-ayat al-Qur’an termasuk surat Yasin

عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُوْنَ مَلَكًا، وَاسْتُخْرِجَتْ {لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ} مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ، وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيْدُ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، وَاقْرَءُوْهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

Dari Ma'qil bin Yasar, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an. Delapan puluh malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. {Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum} berasal dari bawah 'Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah jantung Al Qur'an. Tidaklah seseorang membacanya, sedang ia mengharap (ridha) Allah Tabaraka wa Ta'ala dan akhirat, melainkan dosanya akan di ampuni. Bacakanlah surat tersebut terhadap orang-orang yang mati di antara kalian.” (HR Ahmad)

5. Membaca kalimat thayyibah tahlil dan doa

Wallahu a'lam

Read More
      edit

Saturday, March 12, 2022

Published March 12, 2022 by with 0 comment

Apa yang Menghalangimu Beribadah kepada-Ku?

Imam Mujahid berkata, “Pada Hari Kiamat kelak akan ada tiga golongan yang akan dibawa menghadap Allah: Orang kaya, orang sakit dan budak. Allah menanyakan kepada orang kaya, “Apa yang menghalangimu tidak bisa beribadah kepada-Ku?” Dia menjawab, “Engkau telah memperbanyak hartaku sehingga aku terlena dibuatnya.” Lalu didatangkanlah Nabi Sulaiman bin Daud ‘alaihimassalam dengan kerajaannya, lantas Allah bertanya keapdanya lagi, “Siapakah yang lebih sibuk, engkau ataukah dia?” Si kaya itu menjawab, “Dia.” Allah berfirman, “Tapi kesibukannya itu tidak menghalanginya untuk beribadah kepada-Ku.”
 
Lalu orang sakit didatangkan, lantas Allah bertanya kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk beribadah kepada-Ku?” Dia menjawab, “Wahai Tuhanku, aku sibuk dengan (sakit di) tubuhku.” Maka didatangkanlah kepadanya Nabi Ayyub ‘alaihissalam dengan segala macam penyakitrya. Lalu Allah berfirman, “Apakah sakitmu lebih parah daripada sakitnya?” Orang sakit itu menjawab, "Tidak ya Allah, justru sakitnya yang lebih parah." Allah berfirman, “Tapi sakitnya itu tidak menghalanginya untuk tetap beribadah kepada-Ku.” 
 
Imam Mujahid berkata: Kemudian didatangkanlah si budak, lalu Allah bertanya kepadanya, “Apa yang menghalangimu untuk beribadah kepada-Ku?” Dia menjawab, “Aku sibuk melayani majikanku.” Maka didatangkanlah Nabi Yusuf ‘alaihissalam ketika dia menjadi budak, lalu Allah menanyakan kepada si budak ini, “Apakah perbudakan terhadap dirimu yang lebih parah ataukah dia?” Dia menjawab, “Tidak ya Allah, justru perbudakan terhadapnya yang jauh lebih parah.” Maka Allah berfirman, “Tapi itu tidak menghalanginya untuk tetap beribadah kepada-Ku.” 
 
Demikianlah kisah yang disampaikan oleh Imam Mujahid. Suatu saat nanti Allah akan bertanya kepada kita tentang sesuatu yang menghalangi kita dari beribadah kepada-Nya. Lalu, Dia datangkan orang-orang yang lebih berat ujian yang Allah berikan padanya dibandingkan kita, tapi hal itu tidak membuatnya menjadi terhalang dari beribadah kepada Allah Ta’ala.
Read More
      edit

Wednesday, January 19, 2022

Published January 19, 2022 by with 0 comment

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 2

Allah Swt berfirman:
 
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ
 
"Allah, tidak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya."
 
Kata (إله) Ilaah biasa diterjemahkan dengan Tuhan. Ada juga yang berpendapat bahwa kata itu pada mulanya berarti Pencipta, Pengatur dan Penguasa alam raya. Ada banyak ayat al-Qur’an yang dapat mendukung pendapat ini, misalnya QS. al-Anbiya’ [21]: 22: 
 
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
 
"Sekiranya di langit dan di bumi ada llah, yakni Penguasa yang mengatur keduanya, selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa." Dengan demikian, ayat di atas menafikan segala sesuatu yang kuasa mengatur alam raya, kecuali Allah Swt, yang oleh ayat di atas disifati dengan dua sifat yang sempurna yaitu Maha Hidup dan Maha Qayyum.
 
Maha Hidup, adalah yang memiliki sifat hayah/hidup. Hayah adalah kesempurnaan yang sesuai dengan objek yang disifatinya. Demikian tulis pakar tafsir Fakhruddin ar-Razi. Bukankah bumi dihidupkan oleh Allah dengan menumbuhkan tanaman, sedang tumbuhnya tanaman adalah kesempurnaan bumi/tanah. Banyak ulama menandai kehidupan makhluk dengan gerak, rasa dan tahu. Yang tidak bergerak, atau merasa, dan tidak juga tahu — minimal dirinya — maka dia adalah sesuatu yang mati. Hidup itu bertingkat-tingkat. Kehidupan binatang lebih berkualitas daripada kehidupan tumbuhan, antara lain karena gerak binatang lebih leluasa daripada gerak tumbuhan. Manusia berpotensi untuk hidup lebih berkualitas daripada binatang, karena pengetahuannya dapat lebih luas daripada binatang. Hidup ada yang singkat dan ada juga yang lama. Yang lama lebih berpotensi memiliki kehidupan yang lebih berkualitas daripada yang singkat, karena waktunya dapat dia gunakan untuk mengetahui lebih banyak serta bergerak lebih leluasa. Yang memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang penting lagi mulia, hidupnya lebih berkualitas daripada yang mengetahui hal-hal remeh. Allah Yang Maha Hidup, karena Dia mengetahui segala sesuatu, bahkan mengetahui diri-Nya, yang merupakan Dzat Yang Maha Mulia. Allah juga Maha Hidup, karena Dia yang menggerakkan segala sesuatu. Di sisi lain Dia Maha Hidup, karena Dia tidak mengalami kematian, bahkan kantuk, dan Dia Yang memberi hidup seluruh yang hidup. Bukan saja memberi mereka hidup, tetapi Dia juga Qayyum.
 
Kata Qayyum terambil dari kata qawama yang mengandung makna terlaksananya sesuatu secara sempurna dan berkesinambungan. Anda perhatikan makna perintah shalat yang juga menggunakan akar kata yang sama. Allah Qayyum adalah Dia yang mengatur segala sesuatu yang merupakan kebutuhan makhluk, sehingga terlaksana secara sempurna dan berkesinambungan, sedangkan diri-Nya sendiri tidak memerlukan sesuatu untuk wujud dan kesinambungan wujud-Nya.
 
Dirangkaikannya sifat Maha Hidup dan sifat Qayyum, memberi isyarat bahwa hidup yang sebenarnya itu bukan hidup sendiri atau bersifat egoistis, tetapi adalah kemampuan memberi hidup dan sarana kehidupan kepada pihak lain.
 
Wallahu a'lam
 
 
Read More
      edit