Saturday, January 16, 2021

Published January 16, 2021 by with 0 comment

Asap Bakaran Benda Najis

Pertanyaan:
Asap bakaran sate anjing dan babi melekat pada pakaian sampai berubah warnanya. Apakah asap, bau, dan warna itu majis atau tidak?
 
Jawaban:
Hukum asap yang berasal dari sesuatu benda adalah sama dengan benda itu. Jika bendanya najis, maka asapnya pun najis. Dan jika bendanya suci, maka asapnya pun suci. Hukum pakaian yang terkena asap najis adalah mutanajjis. Adapun uap najis, tidak menajiskan pakaian. Perbedaan antara asap dan uap, bahwa asap adalah sesuatu yang naiknya melalui pembakaran, sedangkan uap adalah yang naik tanpa pembakaran. 
 
Orang yang menjemur pakaian di atas tumpukan tahi kuda lalu menguap dari tahi kuda tersebut, maka pakaian itu tidak menjadi mutanajjis. Akan tetapi jika orang membakar tahi kuda, lalu asap tahi kuda itu sampai ke pakaian hingga mewarnainya, maka pakaian itu mutanajjis. Memang dimaafkan asap najis tersebut, tetapi  dengan dua syarat: 
 
1. Benda yang terkena itu tidak basah.
2. Bukan dengan sengaja dilakukan.  
 
Keterangan mengenai hal ini tercantum dalam kitab I'anah ath-Thalibin, Juz 1, halaman 88:
 
"Dan dimaafkan yang sedikit menurut 'urf dari asap najis, yaitu yang menguap dari najis melalui pembakaran api, walaupun sejenis kemenyan yang diletakkan di atas kotoran. Dan sebagian darinya apa yang berlaku pada adat di pemandian-pemandian air panas, maka itu najis. Karena dia itu termasuk daripada bagian-bagian najis, yang dipisahkan oleh api dariadanya, karena kekuatannya. Dan dimaafkan yang sedikit darinya, dengan syarat tidak basah pada tempatnya, dan tidak dengan perbuatannya. Dan jika tidak, maka tidak dimaafkan secara mutlak karena mereka menyamakan asap itu sama dengan bendanya.      

Taudhihul Adillah Jilid 3 halaman 4.
Read More
      edit
Published January 16, 2021 by with 0 comment

Ikhlas

Siapa menghendaki akhir yang baik, ia perlu menyiapkan awal yang baik. Siapa menghendaki surga, ia pun harus ikhlas dalam beramal. Serta siapa yang jujur kepada Allah, pasti Allah akan menjauhkannya dari gangguan para musuh, melindunginya dari kejahatan, membantu kehidupannya, menunjukinya pada amal yang baik dan benar. Allah berfirman: “Orang-orang yang mengikuti petunjuk pasti diberi Allah tambahan petunjuk dan diberi sifat taqwā.” (Muḥammad [47]: 17).

Wahai saudaraku, jangan sekali-kali engkau iri hati kecuali pada seorang hamba yang telah diberi pakaian takwa dan telah mencicipi lezatnya ikhlas. Itulah kehidupan yang menyenangkan. Betapa indahnya ketika seseorang tinggal bersama kekasihnya tanpa ada yang mendampingi. Jika kemudian ia ingin diketahui dan disaksikan orang, berarti cintanya tidak jujur. Jika seseorang ingin kondisinya diketahui orang lain, berarti ia telah tertipu. Syaddād ibn ‘Aws ra mendengar Rasūlullāh Saw bersabda: “Siapa berpuasa karena riyā’ berarti telah berbuat syirik. Siapa melakukan shalat karena riyā’ berarti telah berbuat syirik. Serta siapa bersedekah karena riyā’ berarti telah berbuat syirik.” (HR Imam al-Baihaqī).

Namun, ibadah yang disertai hawa nafsu memang akan menjadi ringan dilakukan, sementara ibadah yang tidak disertai hawa nafsu menjadi sangat berat. Betapa beratnya ibadah yang dikerjakan tanpa dilihat orang. Sebaliknya, betapa ringannya sebuah ibadah dilakukan ketika dilihat, dipuji, dan disanjung oleh orang.

Contoh yang paling jelas adalah ketika engkau melakukan haji sunnah – sesudah yang wājib – sekian puluh kali. Itu takkan memberatkanmu. Tetapi, kalau ada yang menganjurkanmu untuk bersedekah sebanyak ongkos haji tersebut kepada para fakir miskin atau untuk pembangunan masjid, engkau menjadi bakhil dan merasa berat. Sebab, berhaji disaksikan dan diketahui banyak orang. Di sinilah hawa nafsu bermain. Karena sering berhaji, engkau bisa menjadi orang terkenal. Sementara bersedekah adalah perbuatan rahasia dan tak diketahui banyak orang sehingga tiada yang bisa dibanggakan.

Demikian pula ketika engkau menuntut ilmu tidak karena Allah. Dalam kondisi tersebut engkau mampu belajar semalam suntuk. Nafsu dan keinginanmu menjadi terpuaskan. Tapi, kalau engkau disuruh untuk shalat malam dua rakaat, itu akan terasa berat sebab dalam dua rakaat yang kau lakukan itu nafsumu tidak mendapat tempat. Sementara dengan membaca dan belajar, nafsumu mendapat tempat karena bisa membanggakan ilmu yang kau miliki di hadapan orang. Oleh karena itu, aktivitas membaca dan belajar itu pun menjadi ringan. Hal-hal seperti itu tentu saja adalah kerugian yang nyata.

Dari Maḥmūd ibn Labīd ra diriwayatkan bahwa Rasūlullāh Saw pernah bersabda: “Yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik yang paling kecil.” Para sahabat pun bertanya: “Apa syirik terkecil itu wahai Rasūlullāh?” Beliau menjawab: “Riyā’”.

Ketika membalas semua amal perbuatan manusia, Allah berkata: “Pergilah kepada orang-orang yang kalian ingin agar amal kalian dilihat mereka di dunia. Apakah mereka mampu memberikan balasan?” (HR Imam Aḥmad).

Wahai saudaraku, lakukanlah amal-amal shālih secara rahasia – sehingga hanya engkau dan Allah yang mengetahuinya. Upayakan agar jangan ada yang melihatnya. Jadikan amal tersebut sebagai amal yang tulus hanya untuk Allah, sehingga engkau bisa mendapatkannya dalam timbangan amal kebaikanmu di hari kiamat kelak. Allah berfirman: “Pada hari ketika tiap-tiap jiwa mendapati hasil segala perbuatan baiknya berada di hadapannya.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 30).

Jauhilah perasaan bangga dan ingin dilihat orang. Sebab, nafsu sangat senang bila sebuah amal disebut-sebut dan dipuji. Jangan sampai menghapus amal yang dengan susah payah kau lakukan. Juga, jangan kau pergunakan dirimu pada suatu maksiat. Rasūlullāh Saw bersabda: “Siapa memakai pakaian ketenaran, Allah akan memakaikan kepadanya pakaian kehinaan pada hari kiamat.” (HR Imam Aḥmad, Abū Dāūd, dan Ibn Mājah dengan sanad hasan. Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar secara marfū‘)

Abaikanlah nafsu rendahan dan keinginan yang lemah. Sebaliknya, perhatikanlah kadar, pahala, dan imbalan yang Allah berikan atas sebuah perbuatan. Jiwa merupakan permata berharga yang harus kau pergunakan untuk melakukan amal terbaik. Mungkinkah orang melemparkan permata berharga ke tempat sampah? Mengapa engkau berjuang memperbaiki aspek lahiriah dengan mengabaikan rusaknya batin? Engkau persis seperti orang berpenyakit kusta. Ia memakai baju baru dari sutra, tetapi dari dalam tetap tercium bau busuk yang tidak enak. Apabila melihat penampilan lahiriahnya engkau akan terpesona. Namun, apabila menyingkap apa yang ada di baliknya, pasti engkau merasa jijik. Engkau hanya sibuk membenahi apa yang terlihat oleh orang, tidak membenahi qalbu yang menjadi milik Tuhan. Allah berfirman: “Siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, lakukanlah ‘amal shālih dan jangan menyekutukan Tuhan dengan siapa pun juga.” (al-Kahf [18]: 110).

Wahai manusia yang hanya mau memakan nasi dari beras yang sudah disaring bersih, saringlah amalmu dari segala jenis riyā’ dan bersihkan dari perasaan ingin dikenal orang. Dengan demikian, yang tersisa dari amalmu adalah yang betul-betul ikhlas. Sedangkan lainnya mesti dibuang.

Wahai saudaraku, engkau harus memperbagus amal bukan memperbanyaknya. Sebab amal yang banyak tanpa dibarengi kualitas dan keikhlasan seperti baju yang banyak tapi murah harganya. Sementara amal yang sedikit jika berkualitas dan sempurna seperti sedikit baju yang mahal harganya.

Amal yang ikhlas laksana mutiara. Bentuknya kecil, tetapi mahal nilainya. Orang yang qalbunya sibuk bersama Allah lalu ia bisa mengalahkan hawa nafsu dan fitnah yang muncul secara tepat, maka orang tersebut lebih baik daripada mereka yang banyak melakukan shalat dan puasa sementara qalbunya sakit, terisi oleh keinginan untuk dikenal dan keinginan mendapat kenikmatan.

Ada yang berpendapat bahwa yang menjadi perhatian orang zuhud adalah bagaimana memperbanyak amal, sedangkan perhatian orang ‘ārif (yang mengenal Allah) adalah bagaimana memperbaiki keadaan jiwa dan mengarahkan qalbu hanya kepada Allah semata.

Wallahu a'lam bish-showab

Read More
      edit

Friday, January 15, 2021

Published January 15, 2021 by with 0 comment

Peringatan Pertama


الْمَوْعِظَةُ الأُولى

Peringatan Pertama

 

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالى: يَا بْنَ آدَمَ! عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْمَوْتِ كَيْفَ يَفْرَحُ؟

Allah ta‘āberfirman: “Wahai anak-cucu Ādam! Aku heran pada orang yang yakin (yaqīn) akan kematiannya, bagaimana bisa ia masih tetap bergembira?

وَ عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْحِسَابِ كَيْفَ يَجْمَعُ الْمَالَ؟

Aku heran pada orang yang yakin (yaqīn) akan Ḥisāb (perhitungan setiap amalannya), bagaimana bisa ia masih sibuk mengumpulkan hartanya?

وَ عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْقَبْرِ كَيْفَ يَضْحَكُ؟

Aku heran pada orang yang yakin (yaqīn) akan kubur (qubūr), bagaimana bisa ia masih tertawa-tawa?

وَ عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ باِلآخِرَةِ كَيْفَ يَسْتَرِيحُ؟

Aku heran pada orang yang yakin (yaqīn) akan ākhirat, bagaimana bisa ia masih istirahat bersantai-santai?

وَ عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالدُّنْيَا وَ زَوَالِهَا كَيْفَ يَطْمَئِنُّ إِلَيْهَا؟

Aku heran pada orang yang yakin (yaqīn) akan dunia dan kehancurannya, bagaimana bisa ia masih senang padanya?

وَ عَجِبْتُ لِمَنْ هُوَ عَالِمٌ بِاللِّسَانِ جَاهِلٌ بِالْقَلْبِ،

Aku heran pada orang yang ‘ālim dengan lidahnya, (padahal) jāhil qalbunya.

وَ عَجِبْتُ لِمَنْ يَطْهُرُ بِالْمَاءِ وَهُوَ غَيْرُ طَاهِرٍ بِالْقَلْبِ،

Aku heran pada orang yang bersuci dengan air, padahal qalbunya tidak bersih.

وَ عَجِبْتُ لِمَنْ يَشْتَغِلُ بِعُيُوبِ النَّاسِ وَهُوَ غَافِلٌ عَنْ عُيُوبِ نَفْسِهِ،

Aku heran pada orang yang sibuk dengan kekurangan orang lain, padahal ia lalai akan kekurangan dirinya sendiri.

أَوْ لِمَنْ يَعْلَمُ أَنَّ اللهَ تَعَالى مُطَّلِعٌ عَلَيْهِ كَيْفَ يَعْصِيهِ؟

Atau (Aku heran) pada orang yang mengetahui bahwa Allah senantiasa mengawasinya, bagaimana bisa ia terus berbuat durjana terhadap-Nya?

أَوْ لِمَنْ يَعْلَمُ أَنَّهُ يَمُوتُ وَحْدَهُ وَ يَدْخُلُ الْقَبْرَ وَحْدَهُ وَ يُحَاسَبُ وَحْدَهُ كَيْفَ يَسْتَأْنِسُ بِالنَّاسِ،

Atau (Aku heran) pada orang yang mengetahui bahwa ia akan mati sendirian, akan masuk ke qubur sendirian, amalannya akan dihitung sendirian, bagaimana bisa ia berakraban dengan orang lain?

لاَ إِلهَ إِلاَّ أَنَا حَقًّا وَ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدِي وَ رَسُولِي،

Tiada Tuhan melainkan Aku, sebenar-benarnya dan bahwa Muḥammad adalah hamba-Ku dan Rasūl-Ku.

Read More
      edit

Thursday, January 14, 2021

Published January 14, 2021 by with 0 comment

Mendekati Allah untuk Mencinta

Wahai hamba Allah, sering kali engkau menunjukkan rasa cinta dan kedekatanmu pada makhlūk. Tetapi, engkau sangat jarang menunjukkan rasa cinta pada Allah Swt. Seandainya dibukakan bagimu pintu untuk mencintai Allah, pasti engkau akan menyaksikan berbagai keajaiban dan mendapat ridha-Nya. Rasa cinta kepada Allah dapat dibuktikan dengan menunjukkan ketaatan pada-Nya, melaksanakan shalat dua rakaat di malam hari, membaca al-Qur’ān, menjenguk orang sakit, menyalatkan jenazah, bersedekah kepada kaum fakir miskin, membantu saudara muslim lainnya, mengadakan kegiatan yang baik, menyebarkan ilmu, ataupun membuang duri dari jalan.

Pedang tak bisa dipakai berperang kecuali dengan bantuan lengan yang kuat. Demikian pula amal shalih. Ia membutuhkan seorang mukmin yang ikhlas dalam mengerjakannya. Ibadah paling ringan yang bisa kau pakai guna menunjukkan rasa cinta kepada Allah adalah berdzikir secara tulus. Sebab, dzikir itu bisa dikerjakan meskipun oleh orang yang sudah tua, oleh orang sakit yang tak bisa berdiri, rukuk dan sujud, oleh pekerja yang sibuk dengan tugasnya, ataupun oleh orang malas yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Allah berfirman:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ

“Apabila kalian telah menunaikan shalat, berdzikirlah kepada Allah dalam keadaan berdiri, duduk ataupun berbaring.” (QS. an-Nisa' [4]: 103).

Ketahuilah bahwa siapa yang mengarahkan cintanya pada Allah, Allah juga akan menebarkan kemurahan padanya: “Orang-orang yang berbuat baik akan mendapat kebaikan (yang setara) pula bahkan melebihi.” Tetapi, aneh bila seseorang lebih bersahabat dan lebih mencintai hawa nafsunya – padahal ia merupakan sumber malapetaka – ketimbang bersahabat dan mencintai Allah. Padahal Allah merupakan sumber kebaikan. Siapa yang benar-benar ingin berjalan menuju Allah, hendaknya mempunyai tekad yang kuat.

Bila muncul pertanyaan, bagaimana caranya “bersahabat” dengan Allah? Jawabannya, bersahabat dengan siapa pun ada kiatnya. Bersahabat dengan Allah adalah dengan mengerjakan perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, dan bertawakkal kepada-Nya dalam setiap urusan. Bersahabat dengan kedua malaikat (Raqib dan ‘Atid) adalah dengan mendiktekan berbagai amal kebaikan. Bersahabat dengan al-Qur’an dan Sunnah adalah dengan mengamalkan isinya. Bersahabat dengan langit adalah dengan merenungkannya. Serta bersahabat dengan bumi adalah dengan mengambil pelajaran dari yang ada di dalamnya. Persahabatan tidak harus dengan melihat dan menyaksikan.

Jadi, makna persahabatan dengan Allah adalah bersahabat dengan semua karunia dan nikmat-Nya. Bersahabat dengan nikmat-Nya adalah bersyukur. Bersahabat dengan ujian-Nya adalah bersabar. Bersahabat dengan perintah-Nya adalah menghormati dan menunaikan. Bersahabat dengan larangan-Nya adalah menjauhi. Bersahabat dengan ketaatan adalah bersikap ikhlas. Dan bersahabat dengan al-Qur’an adalah merenungkan. Kalau seorang hamba melakukan hal itu, berarti ia telah menjalin persahabatan dengan Allah. Bila persahabatan terwujud, kedekatan pun akan didapat.

Oleh karena itu, wahai saudaraku jangan sampai matahari terbit lagi sementara engkau belum memperlakukan Allah sebagaimana teman yang tulus, setia dan cinta. Oleh karena itu, bersedekahlah setiap hari walaupun dengan seperempat dirham sehingga Allah mencatatkanmu dalam kelompok orang yang senang bersedekah. Bacalah al-Qur’an setiap hari walaupun hanya satu ayat agar Allah mencatatkanmu dalam kelompok orang yang senang membacanya. Serta lakukanlah shalat malam walaupun hanya dua raka‘at agar Allah mencatatmu dalam kelompok orang yang senang mengisi malam (qiyām-ul-lail).

Jangan sampai berbuat salah dengan berkata: “Bagaimana mungkin orang yang mempunyai makanan pas-pasan akan bersedekah?” Allah berfirman: 

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ ۚ لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا ۚ سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا

“Hendaklah orang yang mampu, memberi infaq menurut kemampuannya. Adapun orang yang terbatas rezekinya, hendaklah mengeluarkan infak dengan apa yang Allah berikan. Allah tak memaksa seseorang kecuali sesuai kadar kemampuannya. Kelak Allah akan memberi kemudahan seusai kesulitan.” (QS.ath-Thalāq [65]: 7).

Orang miskin yang diberi sedekah tak ubahnya seperti sosok yang sedang membantumu membawa perbekalanmu menuju akhirat. Oleh karena itu, mintalah mereka untuk membawakannya agar pada hari kiamat engkau bisa mendapatkannya.

Kadangkala seseorang dikirim untuk memberimu berbagai nikmat. Hanya saja, engkau sedang bingung, tidak sadar dan tidak bersyukur. Engkau seperti bayi dalam buaian yang setiap kali diayun ia tertidur. Sebab, setiap kali ditambah rezekimu, engkau tambah berpaling. Andaikata seorang penguasa mengirim baju untukmu, mungkin engkau hanya berterima kasih dan memujinya. Oleh karena itu, engkau harus cepat berpindah kepada Tuhan yang telah menganugerahkan segala kenikmatan. Tinggalkanlah mereka yang tak sanggup memberi manfaat kepada yang lain.

Wallahu a'lam bish-shawab

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read More
      edit

Monday, January 11, 2021

Published January 11, 2021 by with 0 comment

Mendekati Allah untuk Meminta

Wahai hamba Allah, bila engkau meminta kepada Allah di saat dekat dengan-Nya, mintalah agar Dia memperbaiki semua yang ada pada dirimu. Berdoalah: “Ya Allah, perbaiki semua keadaanku!” Mintalah kepada Allah agar Dia memperbaiki keadaanmu disertai perasaan ridha terhadap semua ketetapan-Nya. Yakni, dengan kepasrahan dan sikap rela terhadap semua qadhā’ dan qadar-Nya.

Engkau adalah seorang hamba yang linglung jika saat diminta kembali kepada-Nya dengan melakukan ketaatan, engkau justru lari dari-Nya dengan berbuat maksiat. Lari dari Allah ditandai dengan perbuatan-perbuatan jahat, tindakan pelanggaran, keinginan menyimpang dan niat yang salah. Bila engkau lalai dalam salat, menyia-nyiakan puasa, mengeluhkan karunia Allah dan mencintai dunia, berarti engkau telah lari dari Allah. Sebab hawa nafsu telah membuatmu berani pada-Nya, yakni menentang-Nya. Engkau sudah berpaling dari Allah kala engkau condong pada indahnya dunia, terbuai dengannya, sibuk memikirkannya, serta lupa pada dahsyatnya hari akhirat. 

Allah berfirman: “Janganlah kamu membelalakkan kedua matamu (terkagum-kagum) dengan apa yang Kami berikan pada merkea sebagai perhiasan kehidupan dunia. Hal itu untuk menguji mereka. Sedangkan rezeki Tuhanmu jauh lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Thahā [20]: 131).

Allah telah menakdirkan sehat dan sakit, kaya dan miskin, serta senang dan sedih bagimu. Maksudnya adalah agar engkau kembali pada-Nya dan mengetahui semua sifat-Nya. Sehingga ketika lapang engkau bisa bersyukur dan ketika sulit engkau bisa pasrah dan bersabar.

Wahai manusia, berapa kali engkau hinakan dirimu dengan berdiri di hadapan makhlūk, meminta bantuan dan pertolongan mereka? Berapa kali mereka merasa keberatan dengan permintaanmu, bermuka masam, serta menghinamu? Sementara engkau tidak pernah sekali pun kembali pada Majikan-mu, tidak pernah meminta kebutuhanmu pada-Nya, serta tidak pernah menghadap-Nya secara khusyū', berdoa secara jujur dan memohon secara tulus.

Wahai hamba Allah, jika engkau menghendaki kemuliaan, janganlah berharap pada makhlūk. Tetapi tambatkan asa dan harapanmu pada Allah, serta tampakkan kebutuhanmu yang mendesak kepada-Nya. Sebab, Allah mengabulkan doa orang yang sedang terdesak. Dia bisa melenyapkan bahaya, dan merasa senang jika diminta oleh hamba-Nya. Siapa yang meminta kepada makhlūk, tidak kepada Tuhan dan Tuannya, ia akan menjadi sangat hina.

Dirimu begitu setia dan terbuai dengan makhlūk, sedangkan kepada Allah engkau malah acuh dan menjauh. Engkau tergolong bodoh kalau terus-menerus menemui makhlūk karena ingin mendapat hartanya, sementara engkau tinggalkan pintu Dzat Pemberi rezeki Yang Maha Kuat dan Maha Kokoh. Pantaskah engkau meminta pada makhlūk yang fakir, lalu meninggalkan Allah Yang Maha Kaya? Jika ingin mendapat berbagai karunia, tunjukkan kepapaan dan kebutuhanmu pada-Nya, serta jangan sekali-kali mengandalkan kekuatan siapa pun yang berada di sekitarmu.

Bila engkau ingin mendapat bagian seperti yang Allah berikan kepada para wali-Nya dan bila engkau ingin hidup mulia, mintalah kebutuhanmu pada Allah, arahkan keinginanmu pada-Nya, serta sibuklah dengan-Nya. 

Allah berfirman: “Siapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya.” (QS. ath-Thalāq [65]:3).

Ibn ‘Abbas r.a. berkata: “Pada suatu hari, ketika aku berada di belakang Nabi Saw beliau bersabda: “Wahai anak muda, jagalah (hak-hak) Allah, pasti Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, pasti Allah akan memperhatikanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah pada Allah. Jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah pada Allah. Ketahuilah bahwa seandainya umat ini berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, hal itu takkan terwujud kecuali dengan takdir-Nya. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, hal itu takkan berhasil kecuali dengan takdīr-Nya. Pena sudah kering dan lembaran pun sudah dilipat.” (HR at-Tirmidzī dan menurutnya sanad hadits ini shahih).

Saya mendengar Abul-‘Abbās al-Mursī berkata: “Demi Allah, aku tidak melihat kemuliaan kecuali saat manusia tidak membutuhkan makhlūk dan saat ia bisa menjaga diri dari harta mereka.” Perhatikanlah selalu firman Allah: “Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, untuk Rasūl-Nya, serta milik orang-orang yang beriman.” (al-Munāfiqūn [63]: 8). Di antara kemuliaan yang Allah berikan kepada kaum mu’min adalah ketika ia menambatkan kebutuhan dan keyakinannya pada Allah, tidak pada yang lain.

Wahai saudaraku, Allah telah memakaikan padamu pakaian iman dan menghiasimu dengan perhiasan makrifat. Oleh karena itu, hendaknya engkau malu kepada Allah apabila lalai dan lupa – sehingga condong pada dunia lalu meminta kebaikan orang.

Alangkah buruk andai seorang mu’min meminta kebutuhannya pada makhlūk padahal ia mengetahui keesaan Allah dan mendengar firman-Nya: “Bukankah Allah mencukupi hamba-Nya.” (QS. az-Zumar [39]: 36).

Allah berfirman: “Wahai orang-orang beriman penuhilah janjimu.” Di antara janji yang engkau buat adalah bahwa engkau tidak akan meminta kebutuhanmu kecuali kepada Allah, serta tidak akan bertawakkal kecuali kepada-Nya. Allah berfirman: “Hanya kepada Allah hendaknya kaum mukmin bertawakal.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 160).

Sebaik-baik permintaan seorang hamba kepada Tuhannya adalah memohon agar diberi sikap istiqāmah bersama-Nya. Allah berfirman: “Tunjukilah kami jalan yang lurus (istiqāmah).” (QS. al-Fātihah [1]: 6).

Mintalah selalu petunjuk dan sikap istiqāmah. Yaitu, dengan senantiasa bersama Allah di setiap keadaan dalam naungan ridha-Nya. Yaitu dalam naungan ajaran Nabi Saw, seperti yang Allah firmankan: “Terimalah semua yang diajarkan Rasūl dan jauhilah semua yang dilarangnya. Bertakwalah kepada Allah. Sungguh hukuman Allah sangat hebat.” (QS. al-Hasyr [59]: 7).

Orang yang sedang berjalan menuju Allah dan mendekatkan diri dengan ibadah ibarat orang yang sedang membuat sumur di dalam tanah sedikit demi sedikit hingga menemukan lubang. Setelah melakukan usaha dan perjuangan panjang, akhirnya sumur itupun memancarkan air. Adapun orang yang “ditarik mendekat” seperti orang yang sedang menginginkan air lalu tiba-tiba awan dari langit menurunkan hujan sehingga ia pun mengambil air tersebut sesuai dengan kebutuhannya tanpa harus bersusah payah. Artinya, Allah telah menarik orang tersebut kepada-Nya.

Syaikh Abul-Hasan asy-Syādzilī bercerita: “Pada suatu saat, aku tinggal di pedalaman selama tiga hari. Ketika itu, tak ada makanan yang bisa disantap. Tiba-tiba beberapa orang Nashrānī lewat di depanku. Mereka melihatku sedang bersandar. Lalu mereka berucap: “Orang itu ulamanya kaum muslim.” Kemudian mereka letakkan di atas kepalaku sepotong makanan lalu pergi. “Sungguh ajaib. Bagaimana mungkin rezekiku datang lewat perantara musuh, bukan lewat perantaraan para kekasih,” kataku ketika itu. Tiba-tiba ada suara menjawab: “Orang yang hebat bukanlah yang diberi rezeki lewat para kekasih, tetapi lewat musuh.”

Wallahu a'lam bish-shawab

 

Read More
      edit

Sunday, January 10, 2021

Published January 10, 2021 by with 0 comment

Mengapa Talfiq Dilarang?


Secara bahasa, talfiq artinya melipat. Sedangkan yang dimaksud talfiq secara syar'i adalah mencampuradukkan pendapat seorang ulama dengan pendapat ulama yang lain, sehingga mengakibatkan tidak seorang pun dari para ulama yang dicampur pendapatnya itu membenarkan perbuatan atau amalan tersebut.
 
Di dalam kitab Tanwir al-Qulub, halaman 397, Syaikh Muhammad Amin al-Kurdi mengatakan:

(الْخَامِسُ) عَدَمُ التَّلْفِيْقِ بِأَنْ لَا يُلَفِّقَ فِيْ قَضِيَّةٍ وَاحِدَةٍ إِبْتدَاءً وَلَا دَوَامًا بَيْنَ قَوْلَيْنِ يَتَوَلَّدُ مِنْهُمَا حَقِيْقَةً لَا يَقُوْلُ بِهَا صَاحِبَاهُمَا -- تنوير القلوب، ٣٩٧

"(Syarat kelima dari taqlid) adalah tidak talfiq, yakni tidak mencapur antara dua pendapat dalam satu qadhiyah (masalah), baik sejak awal, pertengahan, dan seterusnya, yang nantinya, dari dua pendapat itu akan menimbulkan satu amaliah yang tak pernah dikatakan oleh orang-orang yang berpendapat tersebut."
 
Singkatnya, talfiq adalah melakukan suatu perbuatan atas dasar hukum yang merupakan gabungan dua madzhab atau lebih.

Contoh Kasus Talfiq

Seseorang berwudhu berdasarkan cara wudhunya dalam madzhab Syafi'i dengan mengusap sebagian (yakni kurang dari seperempat) kepala. Kemudian ia menyentuh kulit perempuan yang bukan mahramnya (ajnabiyyah), dan langsung shalat dengan mengikuti madzhab Hanafi yang mengatakan bahwa menyentuh kulit perempuan yang bukan mahram itu tidak membatalkan wudhu.
 
Nah, perbuatan yang demikian ini disebut talfiq. Ia menggabungkan pendapat Imam Syafi'i dan Imam Hanafi dalam masalah wudhu. Alhasil, kedua orang imam madzhab itu sama-sama tidak mengakui perbuatannya itu sebagai bagian dari pendapat mereka. Sebab, Imam Syafi'i berpendapat bahwa wudhu seseorang menjadi batal manakala ia menyentuh kulit lawan jenisnya yang bukan mahramnya. Di sisi lain, Imam Hanafi memandang tidak sah cara berwudhu yang hanya mengusap sebagian kepala.
 
Contoh Kasus Talfiq Lainnya
 
Seseorang berwudhu dengan mengusap sebagian kepala, atau tidak menggosok-gosok anggota wudhu, karena mengikuti madzhab Syafi'i. Setelah berwudhu ia kemudian menyentuh anjing, lalu menunaikan shalat. Ia mengikuti pendapat Imam Malik yang memandang anjing sebagai hewan yang suci. Dengan menggabungkan dua pendapat imam tersebut, ia beranggapan shalatnya sah. Benarkah? Tidak. Yang terjadi kedua orang imam tersebut justru memandang shalat yang dilakukannya itu batal, tidak sah. 
 
Sebab, menurut Imam Malik wudhu itu harus dengan mengusap seluruh kepala dan juga dengan menggosok anggota wudhu. Sehingga wudhu dengan cara yang ada dalam madzhab Syafi'i itu tidak sah menurut Imam Malik. Sebaliknya, menurut pendapat Imam Syafi'i anjing termasuk najis mughallazhah (najis berat). Ketika menyentuh anjing lalu shalat, maka shalatnya tidak sah. Penggabungan dua pendapat ini mengakibatkan shalat yang dilakukannya menjadi tidak sah.
 
Talfiq semacam ini dilarang oleh agama. Dalam kitab I'anah al-Thalibin, Juz 1 halaman 17, dikatakan:

وَيُمْتَنَعُ التَّلْفِيْقُ فِي مَسْئَلَةٍ كَأَنْ قَلَّدَ مَالِكًا فِي طَهَارَةِ الْكَلْبِ وَالشَّافِعِيَّ فِي بَعْضِ الرَّأْسِ فِي صَلَاةٍ وَاحِدَةٍ -- إعانة الطالبين، ج١ ص١٧

 "Talfiq dalam satu masalah itu dilarang. Seperti mengikuti Imam Malik dalam hal sucinya anjing dan mengikuti Imam Syafi'i dalam kebolehan mengusap sebagian kepala untuk mengerjakan satu shalat." 
 
Perlu dipahami bahwa dilarangnya talfiq dalam satu masalah sebagaimana yang digambarkan di atas agar kita tidak cenderung mencari yang mudah-mudah saja (tatabbu' al-rukhash) sehingga hanya mengambil hal-hal yang ringan, dan pada akhirnya pelarangan ini agar tidak menimbulkan sikap main-main (tala'ub) di dalam hukum agama. 
 

والله أعلم بالصواب

 

 

Read More
      edit