Monday, February 8, 2021

Published February 08, 2021 by with 0 comment

Syarah Bulughul Maram (5)

Hadits No. 5:

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْتَسِلْ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ وَهُوَ جُنُبٌ أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ، وَلِلْبُخَارِيِّ لَا يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي الْمَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لَا يَجْرِي ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ، َوَلِمُسْلِمٍ مِنْهُ وَلِأَبِي دَاوُد : وَلَا يَغْتَسِلُ فِيهِ مِنْ الْجَنَابَةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: “Janganlah seseorang dari kalian mandi di dalam air yang tergenang, sedangkan dia dalam keadaan junub.” Dikeluarkan oleh Imam Muslim. Lafazh yang dikemukakan oleh Imam al-Bukhari seperti berikut: “Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian kencing di dalam air yang tidak mengalir, kemudian mandi di dalam air itu.” Sedangkan menurut riwayat Imam Muslim disebutkan “minhu” yang artinya “kemudian ia mandi dari air itu.” Riwayat yang dikemukakan oleh Imam Abu Dawud sebagaimana berikut: “Dan janganlah seseorang mandi junub di dalamnya (di dalam air yang tidak mengalir).”

Makna Hadits

Hadits ini merupakan salah satu asas yang membahaskan tentang masalah bersuci yang dianjurkan oleh syariat Islam. Melalui hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang orang yang berjunub mandi di dalam air yang tergenang dan tidak mengalir, sebab dengan sering mandi di dalamnya dikhawatirkan akan mengakibatkan air menjadi berubah. Tujuan utama larangan ini adalah menjauhkan diri dari perkara-perkara kotor ketika bertaqarrub (ibadah mendekatkan diri) kepada Allah.

Hadits ini mengandung larangan kencing sekaligus mandi di dalam air yang tidak mengalir. Adapun larangan kencing di dalam air yang tergenang maka ini disimpulkan dari riwayat yang diketengahkan oleh Imam Muslim. Riwayat Imam Muslim mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang kencing dan mandi di dalam air yang tergenang, apabila orang yang bersangkutan dalam keadaan junub. Larangan ini menunjukkan hukum makruh bagi air yang banyak, dan haram bagi air yang jumlahnya sedikit.

Fiqh Hadits

1. Orang yang berjunub dilarang mandi di dalam air yang tergenang (tidak mengalir).

2. Air yang tergenang tidak najis karena orang yang berjunub mandi di dalamnya, sebaliknya ia hanya menghapuskan sifat menyucikannya. Jadi, airnya masih boleh digunakan untuk keperluan lain kecuali untuk menghilangkan hadas dan menghilangkan najis.

3. Dilarang kencing di dalam air yang tergenang, sebab itu akan menyebabkan air menjadi tercemar.

4. Hadits ini membuktikan bahawa air kencing itu najis.
Read More
      edit
Published February 08, 2021 by with 0 comment

Maksiat dan Kehinaan Hamba

Wahai manusia, engkau masih tetap mempunyai nilai di sisi Allah kecuali jika telah bermaksiat. Apabila berbuat maksiat, engkau sama sekali tak bernilai di sisi-Nya. Allah berfirman: “Siapa yang dihinakan Allah, tiada lagi yang bisa memuliakannya. Sungguh Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (al-Ḥajj [22]: 18).

Kalau Allah telah memilihmu sebagai seorang hamba yang mengabdi pada rubūbiyyah-Nya, Allah takkan memutuskan hubungan tersebut dengan menjerumuskanmu pada maksiat. Sebab, ketaatan adalah hubungan, sedangkan maksiat adalah pemutusan.

Seandainya engkau bernilai di sisi Allah tentu Allah takkan mencampakkanmu pada dzāt selain-Nya. Misalnya saja buah. Engkau akan menjaga buah tersebut dalam keranjangmu. Tetapi, kalau engkau sudah memakannya, bijinya akan dibuang di jalan tanpa peduli di mana engkau membuangnya. Engkau menjaga buah tersebut karena ia bernilai bagimu, sedangkan bijinya kau buang karena dianggap tak bernilai. Demikian pula dengan orang yang melakukan maksiat. Ia tidak bernilai di sisi Allah. Adapun seorang hamba yang taat, Allah akan menjaga dan memeliharanya. Allah berfirman: “Hamba-hambaKu tak bisa engkau (syetan) kuasai. Cukuplah Tuhan menjadi Pembela mereka.” (al-Isrā’ [17]: 65).

Maksiat menyertakan kehinaan. Apakah engkau mengira bila berbuat maksiat engku akan dimuliakan? Sama sekali tidak. Kemuliaan itu terkait dengan ketaatan, sementara kehinaan terkait dengan kemaksiatan. Taat kepada Allah akan menghasilkan cahaya, kemuliaan, kebahagiaan, ketersingkapan hijāb, dan petunjuk. Allah berfirman: “Mereka yang mengikuti petunjuk akan Allah beri tambahan petunjuk dan Allah beri ketaqwāan.” (Muhammad [47]: 17).

Sebaliknya, maksiat membawa kegelapan, kemalangan, kesesatan, dan ketertutupan dari Allah. Yang menghalangi untuk menyaksikan dan mengetahui semua hakikat yang ada adalah karena engkau melanggar batas yang Allah tetapkan, sibuk dengan dunia, berpaling dari-Nya, enggan untuk mengabdi kepada-Nya, serta karena engkau meremehkan syarī‘at-Nya. Allah berfirman: “Siapa yang mengabaikan perintah-Ku sesungguhnya akan mendapat kehidupan yang sempit dan akan Kami kumpulkan ia pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (Thāhā [20]: 124).

Read More
      edit

Thursday, February 4, 2021

Published February 04, 2021 by with 0 comment

Ma'rifat Itu Karunia Allah


إِذَا فُتِحَ لَكَ وِجْهَةٌ مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَ هُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ أَلَمْ تَرَ أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَ الْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ وَ أَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ.

“Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma‘rifat (mengenal-Nya), maka jangan hiraukan soal amalmu yang masih sedikit. Sebab Tuhan tidak membukakannya, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah kau ketahui bahwa ma‘rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedangkan amal perbuatanmu adalah hadiah darimu untuk-Nya, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu.”

Ketahuilah wahai murīd, bahwasanya ma‘rifat billāh adalah akhir atau puncak dari segala tujuan dan harapan, oleh karena itu, Syaikh berkata:

 إِذَا فُتِحَ لَكَ وِجْهَةٌ مِنَ التَّعَرُّفِ فَلَا تُبَالِ مَعَهَا إِنْ قَلَّ عَمَلُكَ

“Apabila Tuhan membukakan bagimu suatu jalan untuk ma‘rifat (mengenal-Nya), maka jangan hiraukan soal amalmu yang masih sedikit.”

Jika pintu ma‘rifat sudah dibukakan untukmu (wahai murīd), maka tak perlu engkau mempedulikan ‘amalmu yang masih sedikit.

Sesungguhnya seorang murīd atau sālik tidak berkuasa dalam hal memperbanyak ‘amal ibadah, juga tidak bisa menyingkap tabir yang menghalanginya dari Allah. Dengan demikian, ketika salah satu pintu ma‘rifat sudah dibukakan untuknya, seperti sakit, sehingga ibadahnya menjadi berkurang, maka pada waktu ibadahnya berkurang karena sakit tersebut, jangan merasa sedih akan banyaknya ibadah yang terlewat. Sebab, dengan sakit tersebut bisa membuka pintu ma‘rifat, seakan mengetahui bahwa Allah itu hadir dan melihatnya, ia sadar bahwa tidak ada yang bisa melakukan hal tersebut kecuali Allah. Itu lebih utama daripada beberapa ibadah badaniyyah, sebab tujuan dari memperbanyak ‘amal (ibadah) adalah untuk mengharapkan ma‘rifat Allah, serta mendekatkan diri kepada Allah dengan cara menyadari bahwa terbukanya pintu ma‘rifat itu menunjukkan tercapainya ma‘rifat, maka terkadang sedikitnya ‘amal sebab sakit itu menunjukkan sesuatu yang lebih utama.

Dengan demikian, ketika seorang murīd mencapai salah satu tangga ma‘rifat, dengan mengetahui datangnya sakit, itu lebih baik daripada masa sehatnya. Karena, dengan kehadiran masa sakitnya, maka di dalam hatinya muncul rasa benci terhadap dunia dan rela akan kematian, merindukan pertemuan dengan Tuhan, dan mengetahui bahwa Allah itu melakukan sesuatu sesuai yang dikehendaki-Nya. Pada akhirnya, ia menjadi tahu akan kelemahan dirinya dan mengetahui kenikmatan telah diciptakannya dirinya. Jika sudah demikian halnya, maka jangan bersusah hati akan sedikitnya ‘amal badaniyyah.

 فَإِنَّهُ مَا فَتَحَهَا لَكَ إِلَّا وَ هُوَ يُرِيْدُ أَنْ يَتَعَرَّفَ إِلَيْكَ

“Sebab Tuhan tidak membukakannya, melainkan Ia akan memperkenalkan diri kepadamu.”

Karena sesungguhnya Allah itu tidak akan membukanya kecuali hendak memperkenalkan diri kepadamu.

Sesungguhnya Allah itu tidak akan menurunkan penyakit kepadamu, kecuali untuk memperkenalkan diri kepadamu, menampakkan sifat-sifatNya kepadamu, menampakkan asmā’-asmā’Nya kepadamu dan tidak ragu lagi bahwa perkenalan-Nya kepadamu itu lebih utama daripada ‘amal badaniyyah atau ‘amal zhāhir(mu).

 أَلَمْ تَرَ  أَنَّ التَّعَرُّفَ هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ وَ الْأَعْمَالُ أَنْتَ مُهْدِيهَا إِلَيْهِ وَ أَيْنَ مَا تُهْدِيْهِ إِلَيْهِ مِمَّا هُوَ مُوْرِدُهُ عَلَيْكَ.

“Tidakkah kau ketahui bahwa ma‘rifat itu semata-mata pemberian karunia Allah kepadamu, sedangkan ‘amal perbuatanmu adalah hadiah darimu untuk-Nya, maka di manakah letak perbandingannya antara hadiahmu dengan pemberian karunia Allah kepadamu.”

Tidakkah engkau mengerti bahwa ta‘arruf dengan Allah itu semata-mata anugerah dari Allah untukmu dan ibadah itu merupakan bentuk hadiah darimu untuk-Nya, maka lebih mulia manakah hadiahmu kepada Allah daripada anugerah-Nya kepadamu?

Sesungguhnya ta‘arruf itu adalah pemberian anugerah Allah dan ibadah itu bentuk hadiahmu kepada-Nya, maka tidak diragukan lagi bahwa pemberian anugerah Tuhan itu jauh lebih utama dan lebih mulia walaupun lebih sedikit dari apa yang kau hadiahkan. Karena hadiah dari seorang hamba itu merupakan hal yang tidak berguna (tidak ada nilainya). Alhasil, sedikitnya ‘amal ibadah yang disertai ma‘rifat itu lebih utama daripada banyaknya ‘amal tapi tidak disertai ma‘rifat.

Read More
      edit

Tuesday, February 2, 2021

Published February 02, 2021 by with 0 comment

Peringatan Keempat


الْمَوعِظَةُ الرَّابِعَةُ

Peringatan Keempat

 

يَقُوْلُ اللهُ تَعَالى: يَا بْنَ آدَمَ!

Allah ta‘ā berfirman: “Wahai anak-cucu Ādam!

مَنْ أَصْبَحَ حَزِيْنًا عَلَى الدُّنْيَا،

Barangsiapa bersedih karena urusan duniawinya,

لَمْ يَزْدَدْ مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا،

Maka ia hanya akan semakin jauh dari Allah,

وَ فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَدًّا،

Dan semakin nestapa di dunia,

وَ فِي الآخِرَةِ إِلاَّ جُهْدًا،

Serta menderita kesengsaraan di akhirat.

وَ أَلْزَمَ اللهُ تَعَالى قَلْبَهُ هَمًّا لاَ يَنْقَطِعُ عَنْهُ أَبَدًا،

Allah akan menjadikan hatinya senantiasa dirundung duka yang tidak pernah putus selamanya,

وَ شُغْلاً لاَ يَفْرَغُ عَنْهُ أَبَدًا،

Kesibukan yang tak pernah usai,

وَ فَقْرًا لاَ يَنَالُ غِنًى أَبَدًا،

Kemiskinan yang tidak dapat mencapai kecukupan selamanya,

وَ آمَالاً تَشْغَلُهُ أَبَدًا،

Angan-angan kosong yang senantiasa menyibukkannya,

يَا بْنَ آدَمَ! تَنْقُصُ كُلَّ يَوْمٍ مِنْ عُمْرِكَ وَ أَنْتَ لاَ تَدْرِيْ،

Wahai anak-cucu Adam! Setiap hari usiamu kian berkurang, namun engkau tidak menyadarinya,

وَ آتِيكَ كُلَّ يَوْمٍ بِرِزْقِكَ وَ أَنْتَ لاَ تَحْمَدُ،

Setiap hari, Aku mendatangkan rezeki kepadamu, namun engkau tak pernah memuji-Ku,

فَلاَ بِالْقَلِيْلِ تَقْنَعُ،

Engkau tidak pernah merasa puas dengan (rezeki) yang sedikit,

وَ لاَ بِالْكَثِيْرِ تَشْبَعُ،

Dan tidak pernah kenyang dengan (rezeki) yang banyak,

يَا بْنَ آدَمَ! مَا مِنْ يَوْمٍ إِلاَّ وَ يَأْتِيْكَ رِزْقُكَ مِنْ عِنْدِيْ،

Wahai anak-cucu Ādam, setiap hari rezekimu itu datang dari sisi-Ku,

وَ مَا مِنْ لَيْلَةٍ إِلاَّ وَ يَأْتِيْنِي الْمَلاَئِكَةُ مِنْ عِنْدِكَ بِعَمَلٍ قَبِيْحٍ،

Namun, setiap malam Malaikat datang kepada-Ku membawa (catatan) amal burukmu,

تَأْكُلُ رِزْقِيْ وَ تَعْصِيْنِيْ،

Engkau makan rezeki-Ku, namun engkau bermaksiat pada-Ku,

وَ أَنْتَ تَدْعُوْنِيْ فَاَسْتَجِيْبُ لَكَ،

Engkau berdoa memohon pada-Ku, dan Aku pun mengabulkannya,

وَ خَيْرِيْ إِلَيْكَ نَازِلٌ،

Kebaikan-Ku senantiasa turun ke atasmu,

وَ شَرُّكَ إِلَيَّ وَاصِلٌ،

Namun, hanya keburukanmu yang sampai kepada-Ku,

فَنِعْمَ الْمَوْلى أَنَا لَكَ،

Sebaik-baik majikan adalah Aku terhadapmu,

وَ بِئْسَ الْعَبْدُ أَنْتَ لِيْ،

Sedangkan, engkau adalah seburuk-buruk hamba bagi-Ku,

تَسْتَلُّنِيْ مَا أَعْطَيْتُكَ،

Engkau senantiasa menyia-nyiakan segala apa yang Aku berikan,

وَ اَسْتُرُ عَلَيْكَ سَوْءَةً بَعْدَ سَوْءَةٍ فَصِيْحَةٍ،

Padahal, keburukan demi keburukanmu, Aku tutupi,

وَ أَنَا اَسْتَحْيِيْ مِنْكَ وَ أَنْتَ لاَ تَسْتَحِيْ مِنِّيْ،

Aku malu kepadamu, namun sekalipun engkau tidak pernah merasa malu kepada-Ku,

تَنْسَانِيْ وَ تَذْكُرُ غَيْرِيْ،

Engkau selalu melupakan Aku, namun ingat pada selain-Ku.

وَ تَخَافُ النَّاسَ وَ تَأْمَنُ مِنِّيْ،

Engkau takut pada manusia, namun merasa aman terhadap-Ku,

وَ تَخَافُ مَقْتَهُمْ وَ تَأْمَنُ غَضَبِيْ،

Engkau takut akan kemarahan mereka, namun merasa aman terhadap kemurkaan-Ku.

Read More
      edit

Monday, February 1, 2021

Published February 01, 2021 by with 0 comment

Gusi Berdarah Setelah Wudhu: Batalkah Wudhunya?

Pertanyaan:

Terkadang kita mengalami gusi berdarah setelah wudhu dilakukan. Dalam kondisi seperti itu apakah wudhu kita batal dan harus mengulangnya lagi?

Jawaban:

Menurut ulama Syafi'iyah, keluar darah dari gusi tidak termasuk hal yang membatalkan wudhu. Begitu juga keluar darah dari anggota tubuh lainnya, misalnya keluar darah dari tangan, kaki, dan lainnya selain kubul dan dubur, semuanya tidak membatalkan wudhu.

Oleh karena itu, jika gusi kita berdarah setelah kita melakukan wudhu, maka kita tidak perlu mengulang wudhu lagi. Kita cukup membersihkan darah tersebut dengan cara berkumur dengan air, ditempel dengan kapas dan lainnya.

Dalam kitab al-Mausu'ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah disebutkan sebagai berikut:

اخْتَلَفَ الْفُقَهَاءُ فِي نَقْضِ الْوُضُوءِ أَوْ عَدَمِ نَقْضِهِ بِخُرُوجِ شَيْءٍ مِنَ النَّجَاسَاتِ مِنْ سَائِرِ الْبَدَنِ غَيْرَ السَّبِيلَيْن فَقَال الْمَالِكِيَّةُ وَالشَّافِعِيَّةُ: إِنَّهُ غَيْرُ نَاقِضٍ لِلْوُضُوءِ، وَإِنَّمَا يَلْزَمُ تَطْهِيرُ الْمَوْضِعِ الَّذِي أَصَابَتْهُ النَّجَاسَةُ الْخَارِجَةُ مِنْ سَائِرِ الْبَدَنِ، وَيَبْقَى الْوُضُوءُ إِلاَّ إِذَا انْتَقَضَ بِسَبَبٍ آخَرَ

"Para ulama fiqih berbeda pendapat terkait apakah wudhu batal atau tidak sebab keluarnya najis dari tubuh selain dari dua jalan (kubul dan dubur). Ulama Malikiyah dan Syafi'iyah berpendapat bahwa keluarnya najis (termasuk darah) dari tubuh tidak membatalkan wudhu. Yang wajib hanya menyucikan tempat yang terkena najis yang keluar dari tubuh tersebut, sementara wudhu tetap sah kecuali wudhu batal dengan sebab yang lain."

Dalil yang dijadikan dasar bahwa keluar darah, termasuk darah gusi, tidak membatalkan wudhu adalah hadits yang disebutkan oleh Imam Al-Bukhari berikut:

وَيُذْكَرُ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم  كَانَ فِى غَزْوَةِ ذَاتِ الرِّقَاعِ فَرُمِىَ رَجُلٌ بِسَهْمٍ فَنَزَفَهُ الدَّمُ فَرَكَعَ وَسَجَدَ وَمَضَى فِى صَلاَتِهِ وَقَالَ الْحَسَنُ مَا زَالَ الْمُسْلِمُونَ يُصَلُّونَ فِى جِرَاحَاتِهِمْ وَقَالَ طَاوُسٌ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَلِىٍّ وَعَطَاءٌ وَأَهْلُ الْحِجَازِ لَيْسَ فِى الدَّمِ وُضُوءٌ  وَعَصَرَ ابْنُ عُمَرَ بَثْرَةً فَخَرَجَ مِنْهَا الدَّمُ ، وَلَمْ يَتَوَضَّأْ  وَبَزَقَ ابْنُ أَبِى أَوْفَى دَمًا فَمَضَى فِى صَلاَتِهِ  وَقَالَ ابْنُ عُمَرَ وَالْحَسَنُ فِيمَنْ يَحْتَجِمُ لَيْسَ عَلَيْهِ إِلاَّ غَسْلُ مَحَاجِمِهِ

"Disebutkan dari Jabir bahwa Nabi Saw pada waktu perang Dzatir Riqa’, ada seseorang terkena lemparan anak panah, yang menyebabkan darah mengucur, lalu ia tetap rukuk dan sujud dan meneruskan shalatnya. Al-Hasan berkata: Kaum muslimin tetap mengerjakan shalat dalam keadaan luka-luka. Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’ dan ulama Hijaz berkata: Tidak wajib wudhu karena darah yang keluar. Ibnu Umar memencet jerawatnya, lalu keluar darah, namun beliau tidak berwudhu lagi. Ibnu Abi Aufa dahak dan lendirnya adalah darah, namun beliau tetap melanjutkan shalatnya. Ibnu Umar dan Al Hasan berkata tentang orang yang berbekam, bahwa tidak perlu berwudhu lagi, kecuali hanya mencuci bekas bekamnya saja.

Wallahu a'lam 

Read More
      edit
Published February 01, 2021 by with 0 comment

Perumpamaan Bagi Pelaku Maksiat

Orang yang melakukan maksiat sama seperti kumbang yang hidup di kotoran. Jika ada bunga mawar di dekatnya ia bisa mati karena tidak tahan dengan aromanya. Sebagian manusia mempunyai perhatian seperti kumbang tadi atau berpikiran seperti kupu-kupu. Kupu-kupu sering kali terbang menceburkan dirinya ke api sehingga terbakar. Demikian pula denganmu wahai ahli maksiat. Engkau melemparkan diri ke api maksiat secara sengaja sehingga api maksiat tersebut memakan amal-amal perbuatan baikmu. Karena itu, Allah melarang kita melakukan hal tersebut. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Wahai orang-orang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tak pernah mendurhakai perintah Allah serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-Tahrīm [66]: 6)

Wahai manusia, mengapa engkau makan hanya untuk hidup dan engkau hidup hanya untuk makan. Kalau cuma itu arah dan tujuan hidupmu, berarti engkau tidak jauh berbeda dengan tempat makan hewan, bahkan dengan hewannya sendiri engkau mempunyai banyak kesamaan. Sebab hewan hidup di dunia ini untuk makan, bekerja, beristirahat dan tidur. Alangkah ruginya kalau umur hanya disia-siakan untuk itu saja.

Ketahuilah, kuda yang paling cepat adalah kuda yang kurus. Karena itu, hendaknya engkau bertekad: “Malam ini aku tidak boleh banyak makan agar badanku ringan untuk ibadah.” Kalau ada makanan, selalu engkau mendatanginya seolah-olah ia kekasih yang lama tak jumpa sehingga akhirnya pencernaanmu pun menjadi sakit.

Ketika Allah tak menghendaki kebaikan bagi seseorang
Semua nasihat dan petuah untuknya menjadi sia-sia.

Allah berfirman: 

وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا

“Siapa yang hendak Allah sesatkan, engkau pun tak mungkin bisa mengelakkan apa pun yang datang dari Allah.” (QS. al-Mā’idah [5]: 41).

Engkau sungguh berada dalam kehinaan. Seringkali kau rendahkan dan kau campakkan dirimu pada tempat kebinasaan. Engkau perosokkan dirimu dengan maksiat dan perbuatan dosa.

Wahai hamba Allah, betapa engkau sangat menjaga dan memelihara tubuhmu, sementara agama bagimu begitu sepele. Seandainya ada yang berkata bahwa makanan ini mengandung racun pasti engkau menjauhinya walaupun ia sangat lezat. Bahkan, kalaupun mereka bersumpah bahwa makanan tadi tidak beracun, engkau tetap akan menghindarinya dan tidak mempercayai mereka. Lebih dari itu, walau tempat makanan beracun tadi telah dicuci berkali-kali lalu didekatkan kepadamu, engkau masih merasa risih dan tak mau mengambil makanan dari tempat tersebut. Mengapa sikap semacam itu tidak kau terapkan pada agamamu? Dengan demikian engkau menjaganya seperti menjaga tubuhmu, serta menjauhkannya dari racun maksiat dan dosa.

Siapa melanggar perintah-perintah Allah, niscaya kedudukannya sangat hina di sisi-Nya. Siapa berani melakukan dosa kecil, pasti akan jatuh ke dalam dosa besar. Orang yang meremehkan dosa kecil, maka sikapnya itu  akan menggiringnya untuk melakukan dosa besar.

Allah berfirman: 

وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ

“Janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.” (QS. al-An‘ām [6]: 151). 

Ketahuilah bahwa perbuatan maksiat bisa mengotori dan melemahkan agama seseorang, serta mengurangi kualitasnya. Rasūlullāh Saw bersabda: “Perbaruilah iman kalian!” Kemudian ada yang bertanya: “Wahai Rasūlullāh, bagaimana caranya kami memperbarui iman?” Beliau pun menjawab: “Perbanyaklah membaca lā ilāha illā Allāh.” (HR Imam Ahmad dan ath-Thabrānī).

Hadits tersebut menunjukkan bahwa jika seorang mu’min lalai untuk mengingat Allah lalu terjerumus ke dalam maksiat, maka debu maksiat tersebut akan menempel pada imannya. Imannya terlumuri noda maksiat dan melemah akibat perbuatan dosa. Tentu saja tidak setiap kotoran bisa dibersihkan dengan air. Ada kotoran yang baru bisa bersih dengan api, seperti kotoran yang menempel di emas. Demikian pula dengan orang-orang yang bermaksiat. Apabila meninggal tanpa sempat bertobat, mereka tidak bisa masuk ke dalam surga kecuali kalau sudah dibersihkan oleh api neraka.

Seandainya manusia mengetahui pengaruh dan akibat dosa, entah di dunia maupun di akhirat, pastilah ia sangat malu kepada Tuhannya. Ia akan berlari meninggalkan dosa itu sebagaimana ia lari meninggalkan serangan penyakit berbahaya. Andaikata ia meyakini bahwa dirinya ada dalam genggaman Tuhan, tak mungkin ia menghadap Tuhannya dengan membawa maksiat. Maksiat itu hanya terjadi kalau ia lalai dan hatinya buta. Siapa mengetahui hakikat iman, niscaya menjauhi dosa.

Wallahu a'lam bish-showab

Read More
      edit