Friday, January 8, 2021

Published January 08, 2021 by with 0 comment

Mendekat kepada Allah dan Menjauh dari Manusia

Ada dikatakan dalam sebuah ungkapan:

مَنْ كَانَ بِالطَّاعَةِ عِنْدَ اللهِ قَرِيْبًا كَانَ بَيْنَ النَّاسِ غَرِيْبًا

"Barangsiapa yang dengan amal ketaatan merasa dekat dengan Allah, maka ia akan merasa asing saat berada di antara manusia." 

أي مَنِ اسْتَأْنَسَ بِاشْتِغَالِ طَاعَةِ اللهِ تَعَالَى صَارَ مُسْتَوْحِشًا عَنِ النَّاسِ

Maksudnya adalah barangsiapa yang merasakan betapa manis dan nikmatnya ketaatan dan ibadah kepada Allah Ta'ala maka ia tidak merasa nyaman lagi bersama manusia.

والله أعلم بالصواب

 

Read More
      edit

Wednesday, January 6, 2021

Published January 06, 2021 by with 0 comment

Botol Bekas Minuman Keras

Pertanyaan:

Wajibkah mencuci botol bekas minuman keras?

Jawaban:

Minuman keras atas arak adalah najis. Maka, tempat atau botol di mana pernah diisi najis adalah mutanajjis (terkena najis). Misalkan tempat itu diisi air, sebelum botol itu dibasuh dengan segala syaratnya, maka air menjadi mutanajjis, yang tidak suci dan tidak boleh diminum.

Adapun mencucinya tidak mesti digosok. Sebab arti gosok adalah membasuhnya tujuh kali, yang salah satunya dengan tanah. Karena menggosok yang diwajibkan itu hanya untuk najis mughallazhah saja, yaitu anjing, babi, dan bahan-bahan lain yang berasal dari keduanya. Sedangkan selain itu cukup satu kali saja, hingga hilang 'ain-nya, yaitu bau, rupa, dan rasanya.

Wallahu a'lam bish showab

Read More
      edit

Monday, January 4, 2021

Published January 04, 2021 by with 0 comment

Taubat adalah Karunia Allah

Wahai manusia, apabila Allah bermurah hati kepadamu dengan memberikan kesempatan untuk bertaubat, sungguh hal itu merupakan salah satu bentuk karunia-Nya untukmu. Allah Swt berfirman:

ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian Allah menerima taubat mereka supaya mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. at-Taubah [9]: 118).

Apabila engkau telah berbuat dosa selama 70 tahun, lalu engkau bertaubat pada satu waktu, maka terhapuslah dosa-dosamu selama itu. Rasūlullāh Saw bersabda: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tak mempunyai dosa.” (HR Ibn Mājah dan Ath-Thabrānī).

Ketika seorang mukmin mengingat dosanya ia akan bersedih, sementara setiap kali mengingat amal ketaatannya ia bergembira. Luqmān al-Hakīm pernah berkata: “Seorang mukmin mempunyai dua qalbu. Yang satu berharap, yang satunya lagi merasa cemas. Di satu sisi ia berharap amalnya diterima, di sini lain cemas kalau-kalau amalnya ditolak.” Allah berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang cemas, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. al-Mu’minūn [23]: 60).

Ada yang berpendapat bahwa seandainya rasa cemas seorang mukmin ditimbang dengan harapannya, niscaya akan seimbang. Siapa yang ingin qalbunya bersambung kepada Allah hendaknya ia melakukan semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

Wahai mukmin, basuhlah qalbumu dengan menyesali kesempatan yang telah hilang. Siapa yang melakukan maksiat dan terjerumus ke dalam perbuatan haram, meskipun ia menceburkan diri ke tujuh lautan tetap takkan bersih darinya. Kecuali, bila ia bertaubat secara tulus kepada Allah.

Seseorang bertanya kepada Rābi‘ah al-Adawiyah: “Aku telah sering berbuat dosa dan menjadi semakin tidak taat. Tetapi, apabila aku bertaubat, akankah Allah mengampuninya?” Rābi‘ah menjawab: “Tidak. Tetapi apabila Dia mengampunimu, maka engkau akan bertaubat.”

Wahai manusia, apakah engkau mengiira obat yang engkau telan terasa manis? Jika engkau tidak bisa menahan pahitnya, engkau takkan mendapat kesembuhan. Oleh karena itu, segeralah bertaubat dan jangan menoleh pada manisnya maksiat. Apabila hawa nafsumu mulai condong pada syahwat, harta, jabatan, dan pujian orang, hendaknya engkau bergegas lari menuju Allah dan memohon pertolongan-Nya, pasti Dia akan menyelamatkanmu. Allah berfirman:

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ ۖ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) seorang pemberi peringatan yang nyata untuk kalian.” (QS. adz-Dzāriyāt [51]: 50).

Jika engkau ditanya, siapakah orang mukmin itu, jawablah bahwa orang mukmin adalah yang bisa melihat aib dirinya lalu berusaha mengobatinya serta tidak menuduh orang lain memiliki aib. Jika engkau ditanya, siapakah orang yang hina, katakan bahwa orang yang hina adalah yang menuduh orang lain bersalah serta merasa dirinya benar. Rasūlullāh Saw bersabda: “Berbahagialah orang yang sibuk dengan aibnya sendiri sehingga lupa dengan aib orang lain.”

Wahai saudaraku, hendaknya engkau konsisten dalam bertaubat. Jika taubatmu diterima – yang tandanya engkau merasa lapang ketika melakukan ketaatan serta cenderung pada negeri akhirat – bergembiralah dan bersyukurlah kepada Allah atas karunia-Nya. Namun, jika taubatmu belum diterima – yang tandanya engkau masih menikmati maksiat dan masih merasa senang dengannya – minta tolonglah kepada Allah dan ucapkanlah:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Wahai Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni dan tidak menyayangi kami, pastilah kami termasuk golongan orang-orang yang rugi.” (QS. al-A‘rāf [7]: 23).

Wahai hamba, masukilah jalan yang bisa membuatmu dekat kepada Allah. Basuhlah qalbumu dengan menyesali dosa di masa lalu. Dengan begitu, mudah-mudahan engkau termasuk dalam golongan orang yang bertaubat dan didekatkan kepada surga yang penuh nikmat. Allah berfirman:

“Surga itu didekatkan dan tidak jauh dari orang-orang yang bertakwa. Inilah janji Allah bagi setiap hamba yang patuh kepada Allah dan memelihara kewajiban. Yaitu yang takut kepada Allah walaupun tidak melihat-Nya dan datang menghadap Allah dengan hati yang sangat khusyuk. Masukilah surga itu dengan damai. Itulah kehidupan yang kekal. Di dalamnya mereka bisa memperoleh apa saja yang mereka kehendaki dan di sisi Kami terdapat tambahannya.” Qāf [50]: 31-35).  

Wallahu a'lam

Read More
      edit

Sunday, January 3, 2021

Published January 03, 2021 by with 0 comment

Taubat Sebagai Pembersih Qalbu

Bertaubatlah kepada Allah setiap waktu, karena hal itu dianjurkan dan diperintahkan oleh-Nya. Allah Swt berfirman: “Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman agar kalian beruntung.” (an-Nūr [24]: 31). Taubat merupakan sarana yang menghantarkan seorang hamba menjadi kekasih Allah. Allah berfirman: “Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (al-Baqarah [2]: 222).

Menurut al-A‘azz al-Muzanī ra, Nabi Saw bersabda: “Kadangkala timbul perasaan dalam hatiku. Maka aku beristighfār (memohon ampunan) kepada Allah sehari seratus kali.” (H.R. Muslim). Abū Hurairah ra juga mendengar Rasūlullāh Saw bersabda: “Demi Allah, dalam sehari aku beristighfar dan memohon taubat kepada Allah lebih dari tujuh puluh kali.” (H.R. al-Bukhārī).

Oleh karena itu, usahakanlah untuk senantiasa bertafakkur sepanjang hidupmu. Renungkanlah apa yang telah engkau perbuat pada siang hari. Apabila ternyata engkau menghabiskan siang harimu dalam ketaatan, maka bersyukurlah. Namun, apabila ternyata engkau melakukan maksiat, maka sesalilah serta cepatlah beristighfār dan bertaubat kepada Allah. Tak ada majelis bersama Allah yang paling bermanfaat bagimu selain majelis yang di dalamnya engkau menyesali diri. Jangan menyesali diri sambil tertawa bahagia. Namun, sesalilah dirimu dengan jujur seraya menampakkan wajah muram, disertai qalbu yang sedih, kecewa, dan perasaan hina. Apabila itu engkau lakukan, pasti Allah akan mengganti kesedihanmu dengan keceriaan, kehinaanmu dengan kemuliaan, kegelapanmu dengan cahaya, dan ketertutupan hatimu dengan ketersingkapan (kasyf).

Ketahuilah, seandainya engkau memiliki seorang bawahan yang selalu melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap dirinya sendiri secara jujur, pastilah dirimu tak perlu lagi melakukan evaluasi terhadapnya. Tetapi, kalau ia tidak melakukan hal itu, tentu engkau yang akan mengevaluasi dirinya secara detail dan rinci. Demikian pula halnya kondisimu bersama Allah. Bila engkau selalu melakukan instrospeksi dan mengevaluasi diri, Allah akan memudahkan perhitungan-Nya terhadapmu.

Oleh karena itu, hendaknya engkau tujukan semua amal perbuatanmu untuk Allah. Jangan sekali-kali menyangka bisa melakukan sebuah perbuatan yang lepas dari pengawasan dan perhitungan-Nya. Manakala seorang hamba jatuh ke dalam perbuatan dosa, bersamaan dengan itu qalbunya akan menjadi gelap gulita.

Perbuatan maksiat ibarat api sementara kegelapan ibarat asapnya. Laksana orang yang menyalakan perapian di rumah selama 70 tahun, bukankah rumah tersebut akan menjadi gelap dan hitam? Demikian pula dengan qalbu. Ia akan menjadi gelap karena tumpukan maksiat. Ia baru menjadi bersih dengan taubat kepada Allah. Kehinaan, kegelapan, dan hijab terkait erat dengan maksiat. Jika engkau bertaubat kepada Allah, bekas-bekas dosa itu pun menjadi sirna.

Ketahuilah bahwa taubat merupakan terminal (maqām) pertama. Segala bentuk ibadah baru diterima Allah jika didahului dengannya. Keadaan hamba yang melakukan maksiat sama seperti periuk besi di atas api selama beberapa saat yang makin menghitam warnanya. Jika engkau segera membersihkan periuk tersebut, warna hitam itu akan hilang. Namun, jika engkau biarkan dan justru dipakai berkali-kali untuk memasak tanpa dibersihkan, warna hitamnya akan melekat kuat hingga ia pecah dan rusak. Walaupun dicuci ia takkan bisa kembali. Rasūlullāh Saw bersabda: “Ketika seorang mukmin melakukan sebuah dosa akan ada bintik hitam di qalbunya. Jika ia bertaubat, sadar, dan memohon ampunan, bintik tadi akan terhapus. Namun, jika ia malah menambah dosa bertambah pula bintik hitamnya hingga menutupi qalbu. Itulah kotor yang Allah maksudkan dalam al-Qur’ān: “Sekali-kali jangan pernah berbuat demikian, sebenarnya perbuatan-perbuatan mereka mengotori hati mereka.” (H.R. at-Tirmidzī dan dishahihkan oleh an-Nasā’ī).

Taubatlah yang bisa mencuci hitamnya qalbu sehingga amal-amal saleh bisa tampak terang dan diterima. Oleh karena itu, bertaubatlah kepada Allah selalu. Jika hal tersebut bisa dilakukan, hidup akan menjadi lebih baik. Sebab, taubat merupakan karunia Allah yang diberikan pada hamba-Nya yang dikehendaki. Kadangkala seorang budak yang kurus berhasil melakukan taubat, sementara majikannya sendiri tidak. Kadangkala si istri berhasil, sementara suaminya gagal. Kadangkala yang muda berhasil, sedangkan yang tua gagal. Dan kadangkala pula yang bodoh berhasil, sedangkan yang alim gagal.

Jika engkau berhasil bertaubat, berarti Allah telah mencintaimu. Allah berfirman: “Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (al-Baqarah [2]: 222). Di sini Allah memposisikan dirimu sebagai orang yang dicintai – bukan yang mencintai.

Orang merasa senang dengan sesuatu bila mengetahui kadar dan nilai sesuatu itu. Jika engkau menebarkan intan permata kepada binatang melata, niscaya mereka lebih menyenangi gandum daripada itu semua. Maka, renungkanlah, kira-kira dari kelompok manakah engkau?

Jika bertaubat, engkau termasuk orang yang dicintai Allah. Jika tidak, berarti engkau termasuk orang-orang yang zhalim. Allah berfirman: “Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) kefasikan setelah iman. Dan siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (al-Ḥujurāt [49]: 11)

Siapa bertaubat, ia dapat. Sebaliknya, siapa yang tidak bertaubat, maka ia rugi. Allah berfirman: “Siapa yang taat kepada Allah dan Rasūl-Nya serta merasa takut dan bertaqwā kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (an-Nūr [24]: 52).

Janganlah engkau berputus asa terhadap rahmat Allah dengan berkata: “Sudah berapa kali aku bertaubat dan insaf!” Sebab, orang yang sakit sewajarnya akan terus meminum obat, mengharap hidup, dan menginginkan sehat selama ruh masih dikandung badan tanpa pernah merasa putus asa.

Bila seorang hamba bertaubat, maka rumahnya di surga merasa gembira, demikian juga langit dan bumi, Nabi Saw, serta Allah Swt sendiri. Rasūlullāh Saw bersabda: “Sungguh Allah jauh lebih bahagia karena taubat seorang hamba ketimbang orang yang mengendarai untanya di padang pasir, lalu tiba-tiba untanya tersesat dan menghilang darinya, padahal di atas unta tersebut terdapat makanan dan minuman kepunyaannya. Akhirnya, ia putus asa dan mendatangi sebuah pohon untuk merebahkan diri di bawah naungannya. Ia benar-benar putus asa dengan untanya. Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba unta itu berada di hadapannya. Ia pun segera meraih tali kekangnya. Dan karena amat gembiranya sampai-sampai ia berkata: “Ya Allah, Engkau adalah hambaku sedangkan aku adalah tuhanmu.” Ia salah ucap karena luapan kegembiraannya.” (H.R. Muslim dan muttafaqun ‘alaih).

Suatu ketika Syaikh Abul Hasan asy-Syādzilī bercerita: “Aku pernah ditegur: “Wahai ‘Alī, bersihkan bajumu, dengan pertolongan Allah pastilah ia akan selalu terpelihara.” Aku pun bertanya: “Baju yang mana?” Ia menjawab: “Allah telah memberimu pakaian makrifat, lalu pakaian mahabbah, kemudian pakaian Islām. Siapa yang mengenal Allah, yang lain takkan berarti baginya. Siapa yang mencintai Allah, yang lain menjadi hina dalam pandangannya. Siapa yang mengesakan Allah, ia takkan menyekutukan-Nya. Siapa yang beriman kepada Allah pasti aman dari segala sesuatu. Serta siapa yang berserah diri pada Allah, kecil kemungkinan akan melanggar. Kalaupun melanggar, ia akan cepat memohon ampunan. Dan ketika meminta ampunan, niscaya akan dikabulkan.” Syaikh Abul Hasan lantas berkata: “Dari sanalah aku memahami firman Allah yang berbunyi: “Bersihkanlah bajumu!” (al-Muddatstsir [74]: 4).

Wahai manusia, saat engkau merasa berat untuk melakukan amal ketaatan dan ibadah, saat engkau merasa kerepotan dan tidak mendapat kenikmatan di dalamnya, lalu sebaliknya engkau memandang ringan maksiat dan bahkan merasa nikmat, sehingga engkau pun melakukan maksiat dengan senang; dalam kondisi seperti itu, ketahuilah bahwa engkau belum jujur dalam bertaubat. Dalam qalbumu masih terdapat penyakit. Engkau belum sampai ke tingkat orang yang ikhlas dan bertaubat. Sebab, jika dasarnya benar, cabangnya juga pasti benar. Begitu pun sebaliknya.

Wallahu a'lam

Read More
      edit

Thursday, December 31, 2020

Published December 31, 2020 by with 0 comment

Susah Hatimu karena Tidak Memahami-Nya

Syaikh Ibnu ‘Athā’illāh berkata:

إِنَّمَا يُؤْلِمُكَ الْمَنْعُ بِعَدَمِ فَهْمِكَ عَنِ اللهِ فِيْهِ.

Sesungguhnya yang menjadikanmu bersusah hati karena tidak adanya pemberian, itu karena engkau tidak memahami pemberian Allah (kepadamu yang sebenarnya).

Ketika engkau meminta suatu perkara dunia, lalu Allah tidak mengabulkannya, hatimu menjadi susah, itu disebabkan karena engkau tidak memahami kehendak Allah. Jika engkau paham, engkau akan bahagia. Tenangkan dirimu saat permintaanmu tidak dikabulkan. Saat permintaanmu tidak dikabulkan, pahamilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki agar engkau mendekatkan diri kepada-Nya dan selalu menyandarkan hatimu ke haribaan-Nya, jika sudah begitu engkau akan menjadi kekasih Allah. Dan, sesungguhnya ketika Allah mengasihi atau mencintai hamba-Nya, niscaya Dia akan menghalangi dunia darinya dan menjauhkannya dari dunia.

Sebagai perumpamaan, apakah engkau tidak mengetahui, bahwa seorang ayah yang sangat mencintai dan mengasihi anaknya, niscaya akan membawa anaknya pada tukang bekam agar badannya menjadi sembuh? Apakah engkau tidak mengetahui, bahwa seorang ibu yang menyayangi anaknya, pasti akan mencegah anaknya dari mengonsumsi makanan yang berbahaya bagi kesehatan anaknya? Apakah engkau tidak mengetahui bahwa tabib yang mengobatimu yang berbelas-kasih terhadapmu, pasti akan mencegahmu dari mengonsumsi makanan yang tidak patut engkau makan karena penyakitmu tadi? Padahal, belas-kasih Allah terhadap hamba-Nya itu melebihi belas-kasih seorang ayah ataupun ibu terhadap putra-putrinya.

Rasūlullāh Saw pernah menyaksikan seorang perempuan yang sedang menggendong anaknya. Lalu Nabi bersabda kepada para sahabat yang hadir pada waktu itu: “Apakah sang ibu ini tega jika anaknya dimasukkan ke dalam api?” Lalu para sahabat menjawab: “Tidak akan tega wahai Rasūl.” Lalu Nabi bersabda: “Allah itu lebih berbelas-kasih terhadap hamba-Nya yang mu’min daripada belas-kasih perempuan ini kepada putranya, akan tetapi Allah memberimu rasa perih dan sakit karena Allah menaruh fadhal dan kenikmatan-Nya di dalam rasa pedih dan sakit tersebut.

Syaikh Abū al-Hasan asy-Syādzilī berkata:

Ketahuilah, sesungguhnya ketika Allah tidak memberimu, itu bukan karena membencimu, tapi karena sangat belas kasih terhadapmu. Maka tidak memberi itulah yang (hakikatnya) dinamakan memberi.” 

Pahamilah!

Read More
      edit

Wednesday, December 30, 2020

Published December 30, 2020 by with 0 comment

Cara Mencintai Rasulullah Saw

Mencintai dengan Meneladani

Ketahuilah, engkau baru akan mengdapat kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah Swt  jika mengikuti sunnah Nabi Saw. Sebaliknya, engkau akan diremehkan dan jauh dari Allah jika tidak mengikuti Nabi Saw. Allah berfirman: 

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakan (wahai Muhammad): “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran [3]: 31).

Mengikuti Nabi Saw terwujud dalam dua aspek: lahiriah dan batiniah. Aspek lahiriah berupa shalat, puasa, haji, zakat, jihad di jalan Allah, serta berbagai ibadah lainnya. Sementara aspek batiniah berupa keyakinan akan adanya pertemuan dengan Allah di dalam shalat, disertai kekhusyuan dan perenungan terhadap bacaan-bacaannya. Apabila engkau tengah melakukan amal ketaatan seperti shalat dan membaca al-Qur’an, namun pada saat itu engkau tidak bisa merasakan kehadiran Allah, tidak memiliki rasa takut, tidak berpikir dan tidak bisa merenungi, berarti penyakit batin telah menghinggapi dirimu, entah itu kesombongan, ujub, atau sejenisnya.

Allah Swt berfirman: 

سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ 

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS. al-A‘raf [7]: 146). 

Orang seperti itu tak ubahnya laksana orang yang sedang terserang penyakit demam. Baginya, semua makanan di mulutnya terasa pahit. Ia sama sekali tidak merasakan nikmatnya makanan, bahkan yang mengundang selera dan lezat sekalipun, akibat rasa pahit di mulutnya. Orang seperti tadi takkan bisa merasakan nikmatnya taat kepada Allah.

Lewat lisan Nabi Ibrahīm a.s., Allah juga berfirman: 

فَمَنْ تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي 

“Siapa yang mengikutiku, sesungguhnya ia termasuk golonganku.” (QS. Ibrahim [14]: 36). 

Artinya, siapa yang tak mengikuti jejak Nabi Saw, maka tidak termasuk golongannya. Allah juga menceritakan kisah Nabi Nuh a.s. yang berseru: 

إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي

“Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku.” (QS. Hud [11]: 45). 

Namun Allah kemudian menjawab: 

يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ ۖ 

“Hai Nuh, dia bukanlah termasuk keluargamu. Sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan yang tidak baik.” (QS. Hūd [11]: 46).

Sikap mengikuti menyebabkan seseorang seolah-olah menjadi bagian dari orang yang diikutinya walaupun ia orang asing atau tak mempunyai hubungan kekerabatan dengannya. Misalnya adalah Salman al-Farisi yang oleh Rasulullah Saw dinyatakan: "Salman termasuk keluarga bagi kami." Tentu saja Salman berasal dari Persia dan bukan keturunan Quraisy. Bahkan, ia bekas budak yang diperjualbelikan di pasar. Namun, karena mengikuti Nabi Saw ia lalu dianggap bagian dari keluarga beliau. Demikianlah Nabi Saw mengajari umatnya; sebuah isyarat bahwa amal shalih akan mengangkat pelakunya pada derajat yang tinggi lagi mulia.

Sebagaimana sikap patuh dan taat mengikat jalinan hubungan, sikap membangkang juga menyebabkan putusnya hubungan seperti yang terjadi pada anak Nabi Nuh a.s. Juga seperti yang terjadi pada istri Nabi Nuh dan Nabi Luth sebagaimana dikisahkan Allah: 

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan kedua hamba-Ku yang saleh tetapi keduanya telah mengkhianati suami mereka, maka kedua suaminya tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah dan dikatakan kepada keduanya: “Masuklah kalian berdua ke dalam neraka bersama yang lainnya.” (QS. at-Tahrim [66]: 10).

Kunci segala kebaikan adalah mengikuti Nabi Saw. Ikutilah beliau dengan selalu merasa cukup terhadap segala karunia Allah, bersikap zuhud terhadap milik orang, tidak rakus kepada dunia, serta meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak berguna. Siapa yang Allah bukakan pintu baginya untuk mengikuti Nabi Saw, itu pertanda bahwa ia telah dicintai-Nya. Allah Swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali Imran [3]: 31). 

Bila engkau ingin mendapatkan seluruh kebaikan, berdoalah: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar bisa mengikuti Rasulullah Saw dalam ucapan maupun tindakan.”

Siapa yang memimpikan hal tersebut, hendaknya ia tidak menzalimi para hamba Allah – dalam hal kehormatan ataupun nasab mereka. Dengan demikian, ia akan bisa bergegas menuju Allah. Namun sebaliknya, ia akan terhalang dan terhijab dari Allah bila melakukan kezaliman. Ibaratnya seperti orang yang berhutang, ia akan ditahan karena ada orang yang menuntut haknya.

Bayangkan andai engkau disenangi seorang raja dan berada dekat dengannya. Lalu tiba-tiba seseorang datang menagih hutang – walaupun sedikit – padamu di hadapan raja tadi, memojokkanmu, membuka aibmu, mencelamu, serta merendahkan kehormatanmu di hadapannya.

Lalu bagaimana jika pada hari kiamat engkau datang, sementara ada ratusan ribu orang meminta berbagai macam hutang padamu. Entah yang uangnya pernah diambil, kehormatannya pernah dirusak, dipukul, dicaci dan dimaki, serta lain sebagainya. Bagaimana kira-kira rasanya ketika engkau berdiri di hadapan Sang Raja Diraja, di hadapan Nabi Saw, dan disaksikan oleh semua makhluk?

Nabi Saw bersabda: “Tahukah engkau orang yang rugi?” Para sahabat menjawab: “Orang yang rugi adalah yang tak punya uang dan harta.” Nabi Saw menyanggah: “Orang yang rugi adalah orang yang pada hari kiamat datang membawa shalat, puasa, dan zakat, tapi ia pernah mencaci, merusak kehormataan, memakan harta, menumpahkan darah, dan memukul orang. Sehingga sebagai gantinya, amal kebaikannya diberikan kepada orang-orang teraniaya itu. Apabila amal kebaikannya telah habis sebelum beban kewajibannya terbayar, dosa-dosa mereka diambil dan diberikan padanya sehingga ia dilempar ke neraka.” (HR Imam Muslim dan Imam at-Tirmidzī).

Mencintai dengan Bershalawat

Siapa yang merasa ajalnya telah dekat lalu ia ingin menebus hak-hak Allah Swt yang pernah ia lalaikan, serta ingin melakukan amal-amal shalih, maka hendaknya ia banyak membaca dzikir yang bersifat komprehensif. Sebab, jika hal itu dikerjakan, umur yang pendek pun akan menjadi panjang. Misalnya dengan membaca.

سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ وَ بِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ وَ رِضَا نَفْسِهِ وَ زِنَةَ عَرْشِهِ وَ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ

"Maha Suci Allah Yang Maha Agung disertai pujian pada-Nya sejumlah bilangan makhluk-Nya, sesuai dengan ridha dari-Nya, seberat Arsy-Nya, dan sebanyak tinta (bagi) kata-kataNya."

Juwairiyah binti al-Harits meriwayatkan bahwa Nabi Saw suatu ketika pergi dari sisinya kemudian kembali lagi setelah waktu dhuha. Sementara itu Juwairiyah tetap dalam posisi duduk. Melihat hal tersebut, Nabi pun bertanya: “Engkau masih tetap dalam kondisi seperti yang aku tinggalkan?” “Ya”, jawabnya. Nabi Saw kemudian berkata: “Setelah pergi tadi, aku membaca empat kalimat sebanyak tiga kali. Seandainya ia ditimbang dengan apa yang engkau baca sejak hari ini pasti akan sama nilainya, yaitu: Subhaanallaahi wa bihamdihi, ‘adada khalqihi, wa ridhaa nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimaatih.” (HR Imam Muslim dan Imam Abu Daud).

Orang yang tak kuasa memperbanyak puasa dan melakukan shalat malam juga hendaknya menyibukkan diri dengan bershalawat atas Rasulullah Saw. Seandainya sepanjang hidup engkau melakukan seluruh amal ketaatan, lalu Allah memberikan satu shalawat saja atasmu, tentu satu shalawat tersebut lebih berat dari semua amal ketaatan yang engkau lakukan selama hidup itu. Sebab, engkau bershalawat sesuai dengan kapasitas kemampuanmu, sementara Allah bershalawat sesuai dengan rububiyyah (sifat ketuhanan)-Nya. Ini baru satu shalawat. Lalu, bagaimana jika Allah bershalawat untukmu sebanyak sepuluh kali atas setiap bershalawat satu kali atas Rasul Saw seperti yang diterangkan dalam hadits beliau? Menurut Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat padanya sepuluh kali.” (HR Imam Muslim dan Imam Abu Daud).

Betapa indahnya hidup ini jika engkau isi dengan taat kepada Allah. Yaitu, dengan cara berdzikir pada Allah dan sibuk bershalawat atas Rasulullah Saw di setiap waktu disertai oleh qalbu yang ikhlas, jiwa yang bening, niat yang baik dan perasaan cinta kepada Rasulullah Saw. Allah memerintahkan kita untuk bershalawat atas Nabi Saw: 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah beserta para malaikat-Nya bershalawat atas Nabi Saw. Wahai orang-orang yang beriman, ucapkanlah shalawat dan salam atasnya.” (QS. al-Ahzab [33]: 56).

Wallahu a'lam 

 

 


 

Read More
      edit