Sunday, July 28, 2019

Published July 28, 2019 by with 0 comment

Dalil-Dalil Takhsis Terhadap Hadist “Semua Bid’ah Adalah Sesat” (Bagian Kedua)

3. Hadits Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu
 
وَعَنْ عَلِي رضى الله عنه قَالَ: كَانَ أبُوْ بَكْرٍِ يُخَافِتُ بِصَوْتِهِ إذَا قَرَأ وَكَانَ عُمَرُ يَجْهَرُ بِقِرَاءَتِهِ وَكانَ عَمَّارٌُ إذَا قَرَأ يَأْخُذُ مِنْ هَذِهِ السُّوْرَةِ وَهَذِهِ السُّوْرَةِ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ ِلأبِيْ بَكْرٍِ: [لِمَ تُخَافِتُ؟] قَالَ: إنِّيْ أُسْمِعُ مَنْ أُنَاجِيْ وَقالَ لِعُمَرَ: [لِمَ تَجْهَرُ بِقِرَاءَتِكَ؟] قال: أُفْزِعُ الشَّيْطَانَ وَأُوْقِظُ اْلوَسْنَانَ وَقالَ لِعَمَّارٍِ: [لِمَ تَأْخُذُ مِنْ هَذِهِ السُّوْرَةَ وَهَذِهِ السُّوْرَةِ؟] قال: أتَسْمَعُنِيْ أَخْلِطُ بِهِ مَا لَيْسَ ِمنْهُ؟ قال: [لا] ثُمَّ قال: [فَكُلُّهُ طَيِّبٌ].
 
Artinya: Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Bakar bila membaca al-Qur’an dengan suara lirih. Sedangkan Umar dengan suara keras. Dan Ammar bila membaca al-Qur’an, mencampur surah ini dan surah itu. Kemudian hal itu dilaporkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abu Bakar, “Mengapa kamu membaca dengan suara lirih?” Ia menjawab, “Allah dapat mendengar suaraku walaupun lirih.” Lalu bertanya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar, “Mengapa kamu membaca dengan suara keras?” Umar menjawab, “Aku mengusir setan dan menghilangkan kantuk.” Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Ammar, “Mengapa kamu mencapur surah ini dengan surah itu?” Ammar menjawab, “Apakah engkau pernah mendengarku mencampurnya dengan sesuatu yang bukan al-Qur’an?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Tidak.” Lalu beliau bersabda: “Semuanya baik.” [1]
 
Perhatikanlah hadits ini. Bukankah di dalamnya memperlihatkan tiga orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yakni Abu Bakar, Umar, dan Ammar radhiyallahu ‘anhum telah membuat bid’ah hasanah dalam agama. Mereka telah melakukan ibadah dengan caranya sendiri. Masing-masing mereka telah berijtihad tentang cara membaca al-Qur’an dan hasil ijtihad itu mereka amalkan tanpa terlebih dahulu berkonsultasi dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga orang sahabat ini memiliki cara yang berbeda dalam membaca al-Qur’an, sehingga para sahabat yang lain melaporkan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun beliau ternyata tidak menyalahkannya, justru membenarkan semua amaliah ketiga sahabat itu. 
 
Dari sini dapat disimpulkan bahwa tidak selamanya sesuatu yang belum diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu pasti buruk atau pasti bertentangan dengan Sunnah. Dan kalau mau jujur, cara yang dipakai Ammar bin Yasir radhiyallahu ‘anhu saat membaca al-Qur’an, dengan mencampur ayat atau surah yang satu dengan ayat atau surah yang lain, bersesuaian dengan cara tahlilan yang telah mentradisi di tengah kaum Ahlussunnah wal Jama’ah.
 
4. Hadits ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu
 
عَنْ عَمْرٍِو بْنِ اْلعَصْ رضى الله عنه: اَنَّهُ لَمَّا بُعِثَ فِيْ غَزْوَةِ ذَاتِ السَّلاسِلِ قَالَ: اِحْتَلَمْتُ فِيْ لَيْلَةٍِ بَارِدَةٍِ شَدِيْدَةِ اْلبُرُوْدَةِ فَاَشْفَقْتُ اِنِ اغْتَسَلْتُ اَنْ اَهْلَكَ فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِاَصْحَابِيْ صَلاةَ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلَى الرَّسُوْلِ صلى الله عليه وسلم ذَكَرُوْا لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ: [يَا عَمْرُوْ صَلَّيْتَ بِاَصْحَابِكَ وَاَنْتَ جُنُبٌٌ؟!] فَقُلْتُ: ذَكَرْتُ قَوْلَ الله تعَالَى {وَلا تَقْتُلُوْا اَنْفُسَكُمْ اِنَّ الله كًانَ بِكُمْ رَحِيْمًَا، سورة النساء: ٢٩} فَتَيَمَّمْتُ وَصَلَّيْتُ فَضَحِكَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًَا.
 
Artinya: ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu ketika dikirim dalam peperangan Dzat al-Salasil berkata, “Aku bermimpi basah pada malam yang dingin sekali. Aku mau mandi, tapi takut sakit. Akhirnya aku bertayamum dan menjadi imam shalat Subuh bersama sahabat-sahabatku. Setelah kami datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bertanya, “Hai ‘Amr, mengapa engkau menjadi imam shalat bersama sahabat-sahabatmu sedangkan kamu dalam keadaan junub?” Aku menjawab, “Aku teringat firman Allah: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.”[2] Maka aku bertayamum dan shalat.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum dan tidak berkata apa-apa.” [3]
 
Aturan syari’at dalam keadaan normal bagi orang yang berhadast besar, seperti yang dialami oleh ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu’anhu, adalah mandi. Namun dengan mempertimbangkan keadaan pada waktu itu, secara pribadi ‘Amr bin al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu berijtihad untuk melakukan tayamum saja. Kemudian ia melaksanakan shalat Subuh berjamaah dengan para sahabat yang lain. Ini murni hasil ijtihad ‘Amr tanpa meminta pertimbangan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Saat beliau mengetahui hal itu, ternyata beliau tidak menyalahkannya. Beliau hanya tersenyum tanda persetujuannya atas apa yang dilakukan oleh ‘Amr radhiyallahu ‘anhu. Perhatikanlah! Bukankah ini bid’ah hasanah?
 
Wallahu a’lam


[1] Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (865), berkata al-Hafizh al-Haitsami dalam Majma’ al-Zawaid (2/544), “Rijalnya tsiqat.”
[2] QS. al-Nisa [4]: 29.
[3] Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud (334), Imam Ahmad (17854), Imam al-Daruquthni (12), dinilai shahih oleh Imam al-Hakim (1/177), demikian pula yang disebutkan oleh Adz-Dzahabi, dan lain-lain.
Read More
      edit
Published July 28, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (5)

وَأَمَّا حِفْظُ مَا يَقَعُ فِى بَعْضِ اْلأَحَايِيْنِ فَفَرْضٌ عَلَى سَبِيْلِ الْكِفَايَةِ، إِذَا قَامَ بِهِ الْبَعْضُ فِىْ بَلْدَةٍ سَقَطَ عَنِ الْبَاقِيْنَ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِى الْبَلْدَةِ مَنْ يَقُوْمُ بِهِ اِشْتَرَكُوْا جَمِيْعًا فِى الْمَأْثَمِ، فَيَجِبُ عَلَى اْلإِمَامِ أَنْ يَأْمُرَهُمْ بِذَلِكَ وَيَجْبُرَ أَهْلَ الْبَلْدَةِ عَلَى ذَلِكَ
 
Adapun mempelajari ilmu yang jarang dibutuhkan hukumnya adalah fardhu kifayah. Bila di suatu daerah telah ada yang melakukannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Tetapi bila di daerah itu tidak ada yang melakukannya maka semuanya ikut menanggung dosa. Maka wajib bagi seorang pemimpin untuk memerintahkan mereka mempelajarinya, bahkan bila perlu memaksa mereka untuk itu.
 
فَقِيْلَ بِأَنَّ عِلْمَ مَا يَقَعُ عَلَى نَفْسِهِ فِىْ جَمِيْعِ اَلأَحْوَالِ بِمَنْزِلَةِ الطَّعَامِ لاَ بُدَّ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْ ذَلِكَ، وَعِلْمَ مَا يَقَعُ فِى بَعْضِ اْلأَحَايِيْنِ بِمَنْزِلَةِ الدَّوَاءِ يَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِىْ بَعْضِ اْلأَوْقَاتِ
 
Telah dikatakan bahwa ilmu yang dibutuhkan di setiap keadaan ibarat makanan yang harus dikonsumsi oleh setiap orang, sedangkan ilmu yang dibutuhkan hanya kadang-kadang saja ibarat obat yang dibutuhkan pada waktu sakit saja.
 
وَعِلْمَ النُّجُوْمِ بِمَنْزِلَةِ الْمَرَضِ، فَتَعَلَّمُهُ حَرَامٌ لِأَنَّهُ يَضُرُّ وَلاَيَنْفَعُ، وَالْهَرَبُ مِنْ قَضَاءِ اللهِ تَعَالَى وَقَدَِرهِ غَيْرُ مُمْكِنٍ
 
Sedangkan ilmu nujum ibarat penyakit, mempelajarinya adalah haram karena ia berbahaya dan tidak bermanfaat, sementara melarikan diri dari ketetapan dan takdir Allah adalah hal yang tidak mungkin dilakukan.
 
فَيَنْبَغِى لِكُلِّ مُسْلِمٍ أَنْ يَشْتَغِلَ فِىْ جَمِيْعِ أَوْقَاتِهِ بِذِكْرِ اللهِ تَعَالَى، وَالدُّعَاءِ، وَالتَّضَرُّعِ، وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَالصَّدَقَاتِ الدَّافِعَةِ لِلْبَلاَءِ، وَيَسْأَلُ اللهَ تَعَالَى الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ لِيَصُوْنَهُ اللهُ تَعَالَى عَنِ الْبَلاَءِ وَاْلآفَاتِ، فَإِنَّ مَنْ رُزِقَ الدُّعَاءَ لَمْ يُحْرَمِ اْلإِجَابَةَ، فَإِنْ كَانَ الْبَلاَءُ مُقَدَّرًا يُصِيْبُهُ لاَمَحَالَةَ وَلَكِنْ يُيَسِّرَهُ اللهُ عَلَيْهِ وَيَرْزُقُهُ الصَّبْرَ بِبَرَكَةِ الدُّعَاءِ
 
Seyogyanya setiap muslim memanfaatkan seluruh waktunya untuk berdzikir kepada Allah, berdoa, merendahkan diri, membaca al-Qur’an, bersedekah untuk menolak bala’ dan memohon kepada Allah ampunan dan keselamatan dunia akhirat. Sesungguhnya barangsiapa yang diilhami untuk berdoa niscaya akan diijabah. Seandainya ia telah ditimpa musibah, Allah akan menenangkannya dan akan memberinya kesabaran berkat doa itu.
 
اللَّهُمَّ إِذَا تَعَلَّمَ مِنَ النُّجُوْمِ قَدْرَمَا يَعْرِفُ بِهِ الْقِبْلَةَ وَأَوْقَاتِ الصَّلاَةِ فَيَجُوْزُ ذَلِكَ
 
Tetapi bila tujuan mempelajari ilmu nujum (baca: ilmu falak) itu untuk mengetahui arah kiblat dan waktu-waktu shalat, maka dibolehkan.
 
وَأَمَّا تَعَلُّمُ عِلْمُ الطِّبِّ فَيَجُوْزُ، لِأَنَّهُ سَبَبٌ مِنَ اْلأَسْبَابِ، فَيَجُوْزُ تَعَلُّمُهُ كَسَائِرِ اْلأَسْبَابِ فَقَدْ تَدَاوَى النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Adapun mempelajari ilmu kedokteran diperbolehkan, karena ia termasuk salah satu jenis pekerjaan, maka diperbolehkan mempelajarinya sebagaimana keahlian-keahlian lainnya. Bahkan Nabi Saw pun berobat. 
 
وَقَدْ حُكِىَ عَنِ الشَّافِعِىِّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى أَنَّهُ قَالَ الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمُ الْفِقْهِ لِلْأَدْيَانِ وَعِلْمُ الطِّبِّ لِلْأَبْدَانِ، وَمَا وَرَاءَ ذَلِكَ بُلْغَةُ مَجْلِسٍ
 
Disebutkan bahwa Imam Syafi’i rahimahullahu ta’ala berkata, “Ilmu itu ada dua: ilmu fiqih untuk agama dan ilmu kedokteran untuk badan, yang selain itu hanyalah tambahan di majelis.”
Read More
      edit

Saturday, July 27, 2019

Published July 27, 2019 by with 0 comment

Akhlak Yang Baik

Setiap manusia memiliki bentuk lahir, yaitu jasad; dan bentuk batin, yaitu ruh dan nafsu. Jika bentuk zahirnya indah maka dikatakan fulan hasanul khalqi (bentuknya indah). Jika bentuk batinnya yang indah maka dikatakan fulan hasanul khuluqi (akhlak/pekertinya baik).

Jika Allah Ta'ala mengumpulkan dua keindahan itu maka Allah Ta'ala telah menyempurnakan nikmat-Nya bagi orang tersebut. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

ما حسن الله خلق رجل وخلقه فتطعمه النار أبدا - رواه البيهقي

"Allah tidak memperindah bentuk fisik seseorang dan juga pekertinya, kemudian memberinya api neraka selamanya." (HR Baihaqi)

Tak ada seorang pun yang memiliki dua keindahan ini selain Nabi kita Sayyidina wa Maulana Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah manusia terindah fisiknya dan pekertinya, yang paling awal mengerjakan akhlaqul karimah.  

Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan Nabi 'alayhish shalatu was salam dalam bentuk yang terbaik. Segala jenis kebaikan ada pada diri beliau dan hanya melekat padanya. 

Dan al-Qur'an pun memuji beliau:

وإنك لعلى خلق عظيم

"Dan sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. al-Qalam [68]: 4)

Hasan ibn Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata:

خلقت مبرءا من كل عيب | كأنك قد خلقت كما تشاء

"Baginda diciptakan terbebas dari segala aib | Seakan baginda diciptakan sebagaimana kehendak baginda"

Semoga Allah subhanahu wa ta'ala melimpahkan shalawat dan salam untuknya dan keluarganya, dan semoga Allah ta'ala pun memberikan kemampuan kepada kita untuk mengikutinya secara sempurna, lahir dan batin, dalam segala keadaan/pekerti beliau.

Jika kondisi lahiriyah yang tidak baik maka dikatakan fulan sayi'ul khalqi (fulan berparas jelek). Jika kondisi batin yang rusak dikatakan fulan sayi'ul khuluq (fulan berbudi jelek). Semoga Allah melindungi kita dari akhlak yang tercela dan dari sehala keburukan.

Disarikan dari kitab 'Ajalah as-Sibaq ila Makarim al-Akhlaq karya al-Habib Muhammad ibn Abdullah al-Haddar 


Read More
      edit

Friday, July 26, 2019

Published July 26, 2019 by with 0 comment

Dalil-Dalil Takhsis Terhadap Hadist “Semua Bid’ah Adalah Sesat” (Bagian Pertama)

Berikut akan kami paparkan sejumlah hadits yang mengisyaratkan bahwa tidak semua bid’ah itu sesat, namun ada yang merupakan bid’ah hasanah. Dalil-dalil di bawah inilah yang kemudian menjadikan para ulama berkesimpulan untuk mengakui keberadaan bid’ah hasanah. Karena ternyata ada banyak hal baru dalam urusan agama yang dilakukan para sahabat, bahkan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih berada di tengah-tengah mereka, dan juga dilakukan oleh generasi setelah mereka.
 
Perhatikan dan renungkanlah, semoga Allah memberi pemahaman yang baik bagi kita.
 
1. Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu
 
عَنْ عَبْدِالرَّحْمنِ بْنِ اَبِيْ لَيْلَى قَالَ: كَانَ النَّاسُ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ الله صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلم اِذَا جَاءَ الرَّجُلُ وَقَدْ فَاتَهُ شَيْءٌُ مِنَ الصَّلاةِ اَشَارَ اِليْهِ النَّاسُ فَصَلَّى مَا فَاتَهُ ثُمَّ دَخَلَ فِي الصَّلاةِ ثُمَّ جَاءَ يَوْمًَا مُعَاذٌُ بْنُ جَبَلٍِ فَاَشَارُوْا اِلَيْهِ فَدَخَلَ وَلَمْ يَنْتَظِرْ مَا قَالُوْا فَلَمَّا صَلَّى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ذَكَرُوْا لَهُ ذَلِكَ فَقَالَ لَهُمْ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم [سَنَّ لكُمْ مُعَاذٌُ]. وَفِيْ رِوَايَةِ سيدنا مُعَاذ ْبنُ جَبَلٍِ: [اِنَّهُ قَدْ سَنَّ لكُمْ مُعَاذ فَهَكَذَا فَاصْنَعُوْا].
 
Artinya: “Abdurrahman bin Abi Laila berkata, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bila seseorang datang terlambat beberapa raka’at mengikuti shalat berjamaah, maka orang-orang yang lebih dahulu datang akan memberi isyarat kepadanya tentang raka’at yang telah dijalani, sehingga orang itu akan mengerjakan raka’at yang tertinggal itu terlebih dahulu, kemudian masuk ke dalam shalat berjamaah bersama mereka. Pada suatu hari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu datang terlambat, lalu orang-orang mengisyaratkan padanya tentang jumlah raka’at shalat yang telah dilaksanakan, akan tetapi Mu’adz langsung masuk ke dalam shalat berjamaah dan tidak menghiraukan isyarat mereka, namun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, maka Mu’adz segera mengganti rakaat yang tertinggal itu. Ternyata setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selesai shalat, mereka melaporkan perbuatan Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang berbeda dengan kebiasaan mereka. Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Mu’adz telah membuat cara yang baik buat shalat kalian.’ Dalam riwayat Mu’adz bin Jabbal radhiyallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mu’adz telah memulai cara yang baik buat shalat kalian. Begitulah cara shalat yang harus kalian kerjakan.’” [1]
 
Perhatikanlah bagaimana sikap yang ditunjukkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap perkara baru yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu itu. Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah kepada Mu’adz dan menuduhnya telah berbuat bid’ah yang tak pernah beliau ajarkan? Ternyata tidak. Karena memang cara shalat yang diperlihatkan oleh Mua’dz ini sesuai dengan kaidah shalat berjamaah, yakni makmum mengikuti imam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam justru memuji perbuatan Mu’adz dan meminta kepada para sahabat yang lain untuk mengikuti cara yang dilakukan oleh Mu’adz. Hadits ini menunjukkan kebolehan membuat perkara baru dalam ibadah, seperti shalat atau ibadah lainnya, asalkan bersesuaian dengan tuntunan syara’.
 
2. Hadits Bilal radhiyallahu ‘anhu
 
وَعَنْ اَبِيْ هُرَيْرَة رَضى الله عنهُ اَنَّ نَبِيَّ الله صلى الله عليه وسلم قَالَ ِلبِلالٍ عِنْدَ صَلاةِ الفَجْرِ: [يَا بِلالُ حَدِّثنِيْ بِاَرْجَى عَمَلٍِ عَمِلْتَهُ فِي الاِسْلامِ فَاِنِّيْ سَمِعْتُ دُفَّ نَعْلَيْكَ فِي الجَنَّةِ] قَالَ: مَا عَمِلْتُ عَمَلاًَ اَرْجَي عِنْدِيْ مِنْ اَنِّي لَمْ اَتَطَهَّرْ طَهُوْرًَا فِيْ سَاعَةٍِ مِنْ لَيْلٍِ اَوْ نَهَارٍِ اِلاَّ صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطَّهُوْرِ مَا كُتِبَ لِيْ. وَفِيْ رِوَايَةٍِ: قَالَ لِبِلالٍٍ: [بِمَ سَبَقْتَنِيْ اِلَى الجَنَّةِ؟] قَالَ: مَا اَذَّنْتُ قَطُّ اِلاَّ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَمَا اَصَابَنِيْ حَدَثٌُ قَطُّ اِلاَّ تَوَضَّأْتُ وَرَاَيْتُ اَنَّ الله عَلَيَّ رَكْعَتَيْنِ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم [بِهِمَا] اَيْ نِلْتَ تِلْكَ المَنْزِلَة.
 
Artinya: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Bilal ketika shalat fajar, “Hai Bilal, kebaikan apa yang paling engkau harapkan pahalanya dalam Islam, karena aku telah mendengar suara kedua sandalmu di surga?” Ia menjawab, “Kebaikan yang paling aku harapkan pahalanya adalah aku belum pernah berwudhu’, baik siang maupun malam, kecuali aku melanjutkannya dengan shalat sunat dua raka’at yang aku tentukan waktunya.” Dalam riwayat lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal, “Dengan apa engkau mendahuluiku ke Surga?” Ia menjawab, “Aku belum pernah adzan kecuali aku shalat sunat dua raka’at setelahnya. Dan aku belum pernah hadast, kecuali aku berwudhu’ setelahnya dan harus aku teruskan dengan shalat sunat dua raka’at karena Allah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dengan dua kebaikan itu, kamu meraih derajat itu.”[2]
 
Hadits ini memberikan informasi kepada kita akan kebolehan melakukan ijtihad dalam menentukan waktu ibadah. Bilal radhiyallahu ‘anhu melakukan hal itu dan ia memperoleh derajat yang mulia di sisi Allah karena ijtihadnya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun membenarkannya.[3] Apa yang dilakukan oleh Bilal radhiyallahu ‘anhu dengan menetapkan waktu untuk shalat dua rakaat setiap selesai berwudhu’, baik siang maupun malam, merupakan amaliah yang belum pernah diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelumnya. Bilal radhiyallahu ‘anhu berijtihad sendiri dalam hal ini dan ia mengamalkan apa yang menjadi hasil ijtihadnya itu, meskipun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarinya tentang amaliahnya itu. Meskipun sebelum mengamalkan ijtihadnya itu Bilal radhiyallahu ‘anhu tidak bertanya terlebih dahulu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun beliau membenarkannya. Bahkan beliau memberikan kabar gembira kepada Bilal, bahwa ia memperoleh derajat mulia di sisi Allah di dalam Surga karena amaliah yang dilakukannya itu.
 
Wallahu a’lam


[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Ahmad (5/233), Imam Ibnu Abi Syaibah, Imam Ath-Tahbrani dalam al-Mu’jam al-Kabir (20/271), dan lain-lain. Hadist ini dinilai shahih oleh al-Hafizh Ibnu Daqiq al-‘Id (625-703 H/1235-1303 M) dan al-Hafizh Ibnu Hazam (384-456 H/994-1064 M).
[2] Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (1149), Imam Muslim (6274), Imam Ahmad (9670), Imam al-Nasa’i dalam Fadhail asl Shahabah (132), Imam al-Baghawi (1011), Imam Ibnu Hibban (7085), Imam Abu Ya’la (6104), Imam Ibnu Khuzaimah (1208), dan Imam al-Hakim (1/313).
[3] Lihat: Fath al-Bari (3/34) karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani.
Read More
      edit
Published July 26, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (4)

وَكَذَلِكَ فِى سَائِرِ اْلأَخْلاَقِ نَحْوَ الْجُوْدِ، وَالْبُخْلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْجُرْأَةِ، وَالتَّكَبُّرِ، وَالتَّوَاضُعِ، وَالْعِفَّةِ، وَاْلأِسْرَافِ، وَالتَّقْتِيْرِ وَغَيْرِهَا، فَإِنَّ الْكِبْرَ، وَالْبُخْلَ، وَالْجُبْنَ، وَاْلإِسْرَافَ حَرَامٌ، وَلاَ يُمْكِنُ التَّحَرُّزُ عَنْهَا إِلاَّ بِعِلْمِهَا وَعِلْمِ مَا يُضَادُّهَا، فَيُفْتَرَضُ عَلَى كُلِّ إِنْسَانٍ عِلْمُهَا
 
Begitu juga sifat-sifat lainya seperti dermawan, kikir, pengecut, kurang ajar, sombong, rendah hati, mulia, boros dan sebagainya. Sesungguhnya sifat sombong, pelit, pengecut dan boros tidak diperbolehkan, namun tidak ada jalan untuk menjaga diri darinya kecuali dengan mempelajarinya dan hal-hal yang berlawanan dengannya. Maka setiap manusia diwajibkan mempelajarinya.
 
وَقَدْ صَنَّفَ السَّيِّدُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ الشَّهِيْدُ نَاصِرُ الدِّيْنِ أَبُو الْقَاسِمِ كِتَابًا فِى اْلأَخْلاَقِ، وَنِعْمَ مَا صَنَّفَ فَيَجِبُ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ حفْظُهَا
 
As-Sayyid al-Imam al-Ajal asy-Syahid Nashiruddin Abul Qasim telah menulis buku tentang akhlak, sebuah karya yang apik dan layak dihafal oleh setiap muslim.
Read More
      edit

Thursday, July 25, 2019

Published July 25, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (3)

وَشَرَفُ الْعِلْمِ لاَ يَخْفَى عَلَى أَحَدٍ إِذْ هُوَ مُخْتَصٌّ بِاْلإِنْسَانِيَّةِ لِأَنَّ جَمِيْعَ الْخِصَالِ سِوَى الْعِلْمِ يَشْتَرِكُ فِيْهَا اْلإِنْسَانُ وَسَائِرُ الْحَيَوَانَاتِ كَالشَّجَاعَةِ وَالْجُرْأَةِ وَالْقُوَّةِ وَالْجُوْدِ وَالشَّفَقَةِ وَغَيْرِهَا سِوَى الْعِلْمِ
 
Keutamaan ilmu tidak asing lagi bagi siapapun karena ilmu hanyalah dikhususkan bagi manusia, sedangkan sifat-sifat lainnya juga dimiliki oleh manusia dan binatang, seperti keberanian, kekuatan, kemurahan hati, kasih sayang dan sifat-sifat selain ilmu.
 
وَبِهِ أَظْهَرَ اللهُ تَعَالَى فَضْلَ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمِ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ وَأَمَرَهُمْ بِالسُّجُوْدِ لَهُ
 
Allah Ta'ala mengangkat derajat Nabi Adam as di atas para malaikat dengan ilmu, dan Dia memerintahkan mereka agar bersujud kepada Nabi Adam as.
 
وَإِنَّمَا شَرَفُ الْعِلْمِ بِكَوْنِهِ وَسِيْلَةً اِلَى وَالتَّقْوَى الَّتِي يَسْتَحِقُّ بِهَا الْكَرَامَةَ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى وَالسَّعَادَةَ اْلأَبَدِيَّةَ كَمَا قِيْلَ لِمُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ شِعْرٌ
 
Ilmu menjadi mulia karena ia adalah perantara menuju ketakwaan yang mana karenanya seseorang berhak mendapat kemuliaan di sisi Allah Ta’ala dan kebahagiaan yang abadi, sebagaimana yang dikatakan kepada Muhammad bin al-Hasan bin Abdillah dalam sebuah syair:
 
تَعَـلَّـمْ فَــإِنَّ الْـعِلْـمَ زَيْـنٌ لِأَهْــلِــهِ            وَفَــضْـلٌ وَعِــنْـوَانٌ لِـكُـلِّ الْمَـــحَامِـدِ
وَكُــنْ مُـسْتَـفِـيْدًا كُـلَّ يَـومٍ زِيَـادَةً            مِنَ الْعِـلْمِ وَاسْـبَحْ فِى بُحُـوْرِ الْفَوَائِـدُ
تَـفَـقَّـهْ فَإِنَّ الْـفِــقْـهَ أَفْــضَـلُ قَائِـدٍ            اِلَى الْــبِرِّ وَالتَّـقْـوَى وَأَعْـدَلُ قَـاصِـدٍ
هُوَ الْعِلْمُ الْهَادِى اِلَى سَنَنِ الْهُدَى             هُوَ الْحِصْنُ يُنْجِى مِنْ جَمِيْعِ الشَّدَائِدِ
فَـإِنَّ فَـقِيْــهًـا وَاحِــدًا مُــتَـوَرِّعًــا            أَشَـدُّ عَـلَى الشَّـيْطَـانِ مِنْ أَلْـفِ عَابِدٍ
 
Belajarlah! Sebab ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya ** Keutamaan dan tanda segala perbuatan terpuji
 
Jadikan hari-harimu untuk menambah ilmu ** Dan berenanglah di lautan ilmu yang berguna
 
Belajarlah ilmu fiqih, karena fiqih adalah pemimpin terbaik ** Ilmu yang dapat membimbing menuju kebaikan dan takwa, ilmu paling lurus untuk dipelajari 
 
Dialah ilmu yang membimbing kepada jalan kebenaran ** Dialah benteng pelindung dari segala kesengsaraan
 
Sungguh seorang faqih yang wara’ ** lebih berat bagi setan daripada menggoda seribu ahli ibadah
Read More
      edit