Wednesday, September 18, 2019

Published September 18, 2019 by with 0 comment

Ta'limul Muta'allim (10)

وَيَنْبَغِى لِأَهْلِ الْعِلْمِ أَنْ لاَيُذِلَّ نَفْسَهُ بِالطَّمَعِ فِى غَيْرِ مَطْمَعٍ، وَيَتَحَرَّزَ عَمَّا فِيْهِ مَذَلَّةُ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ، وَيَكُوْنَ مُتَوَاضِعًا. وَالتَّوَاضُعُ بَيْنَ التَّكَبُّرِ وَالْمَذَلَّةِ وَالْعِفَّةُ كَذَلِكَ يُعْرَفُ ذَلِكَ فِى كِتَابِ اْلأَخْلاَقِ

Hendaknya seorang ulama tidak menghinakan dirinya dengan menginginkan sesuatu yang tidak pantas didambakan, menjaga dirinya dari segala sesuatu yang dapat merendahkan ilmu dan para ulama, serta bersikap rendah hati. Perbedaan antara sikap rendah hati dan sombong, demikian pula tentang perbedaan antara harga diri dan kehinaan dapat diketahui di buku-buku tentang akhlak.

أَنْشَدَ الشَّيْخُ اْلإِمَامُ اْلأَجَلُّ اْلأُسْتَاذُ رُكْنُ اْلإِسْلاَمِ الْمَعْرُوْفُ بِاْلأَدِيْبِ الْمُخْتَارِ رَحِمَهُ اللهُ شِعْرًا لِنَفْسِهِ:

Syaikh al-Imam Yang Agung Ustadz Ruknul Islam yang terkenal sebagai penyair yang handal menuturkan gubahan syairnya:

إِنَّ الـتَّوَاضُـعَ مِـنْ خِـصَـالِ الْمُـتَّقِى ٭ وَبِهِ التَّقِىُّ إِلَى الْمَـعَالِى يَرْتَقِى
وَمِنَ الْعَجَائِبِ عُجْبُ مَنْ هُوَ جَاهِلُ ٭ فِى حَالِهِ أَهْوَ السَّعِيْدُ أَمِ الشَّقِى
أَمْ كَـيْـفَ يُخْــتَمْ عُـمْـرُهُ أَوْ رُوْحُــهُ ٭ يَوْمَ الـنَّوَى مُـتَسَفِّلٌ أَوْ مُرْتَقِى
وَالْـكِـــبْـرِيَـاءُ لِـرَبِّـنَـا صِــفَـةٌ بِــــهِ ٭ مَـخْـصُـوْصَةٌ فَتَجَـنِّبَنْهَا وَاتَّقِى

Sesungguhnya tawadhu termasuk sifat orang yang bertakwa * Dengannya seorang yang bertakwa mencapai derajat yang tinggi

Termasuk mengherankan sifat ujub orang yang tidak mengetahui * Tentang dirinya apakah ia termasuk orang yang selamat atau celaka

Atau bagaimana umurnya atau ruhnya berakhir * Di hari kematian apakah ia orang yang jatuh atau yang naik

Kesombongan adalah sifat milik Tuhan kita * Khusus bagi-Nya, maka hindarilah dan jauhilah kesombongan


قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ رَحِمَهُ اللهُ لِأَصْحَابِهِ: عَظِّمُوْا عَمَائِمَكُمْ وَوَسِّعُوْا أَكْمَامَكُمْ. وَإِنَّمَا قَالَ ذَلِكَ لِئَلاَّ يُسْتَخَفَّ بِالْعِلْمِ وَأَهْلِهِ

Abu Hanifah rahimahullah berkata kepada para sahabatnya, “Besarkanlah surban kalian dan luaskanlah lengan baju kalian.” Beliau mengatakan demikian agar orang-orang tidak merendahkan ilmu dan para ulama.

وَيَنْبَغِى لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَحْصُلَ كِتَابَ الْوَصِيَّةِ الَّتِى كَتَبَهَا أَبُوْ حَنِيْفَةَ لِيُوْسُفَ بْنِ خَالِدٍ السِّمْتِىِّ رَحْمَةُ اللهِ عَلَيْهِ عِنْدَ الرُّجُوْع إِلَى أَهْلِهِ، يَجِدُهُ مَنْ يَطْلُبُهُ. وَكَانَ أُسْتَاذُنَا شَيْخُ اْلإِمَامُ بُرْهَانُ اْلأَئِمَّةِ عَلِىُّ بْنُ أَبُوْ بَكْرٍ قَدَّسَ اللهُ رُوْحَهُ الْعَزِيْزَ أَمَرَنِى بِكِتَابَتِهِ عِنْدَ الرُّجُوْعِ إِلَى بَلَدِىْ وَكَتَبْتُهُ وَلاَبُدَّ لِلْمُدَرِّسِ وَالْمُفْتِى فِى مُعَامَلاَتِ النَّاسِ مِنْهُ

Hendaknya seorang murid yang hendak kembali ke keluarganya berusaha mendapatkan surat wasiat yang ditulis oleh Abu Hanifah kepada Yunus bin Khalid As-Simti, dan yang bisa mendapatkannya hanyalah orang yang mau mencarinya. Dahulu guru kami Syaikh al-Imam Ali bin Abu Bakar (semoga Allah menyucikan ruhnya yang mulia) menyuruhku menulis surat ini ketika aku hendak kembali ke daerahku, dan akupun menulisnya. Selain itu hendaknya wasiat ini dipergunakan oleh para guru dan mufti dalam pergaulan mereka dengan orang lain.
Read More
      edit

Tuesday, September 17, 2019

Published September 17, 2019 by with 0 comment

Dalil-Dalil Takhsis Terhadap Hadist “Semua Bid’ah Adalah Sesat” (Bagian Keempat)

7. Menghimpun al-Qur’an dalam Mushhaf

جَاءَ عُمَرُ بْنُ اْلخَطَّابِ رضى الله عنه اِلَى اَبِيْ بَكْرٍِ رضي الله عنه يَقُوْلُ لَهُ: يَاخَلِيْفَةَ رَسُوْلِ اللهِ صلى الله عليه وسلم اَرَى اْلقَتْلَ قَدِ اسْتَحَرَّ فِى اْلقُرَّاءِ فَلَوْ جَمَعْتَ اْلقُرْاَنَ فِيْ مُصْحَفٍِ فَيَقُوْلُ اْلخَلِيْفَةُ: كَيْفَ نَفْعَلُ شَيْئًَا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ فَيَقُوْلُ عُمَرُ: اِنَّهُ وَاللهِ خَيْرٌُ وَلَمْ يَزَلْ بِهِ حَتَّى قَبِلَ فَيَبْعَثَانِ اِلىَ زَيْدٍِ بْنِ ثَابِتٍٍ رضي الله عنه فَيَقُوْلاَنِ لَهُ ذَلِكَ فَيَقُوْلُ: كَيْفَ تَفْعَلاَنِ شَيْئًَا لَمْ يَفْعَلْهُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم؟ فَيَقُوْلاَنِ لَهُ: اِنَّهُ وَاللهِ خَيْرٌُ فَلاَ يَزَالاَنِ بِهِ حَتَّى شَرَحَ اللهُ صَدْرَهُ كَمَا شَرَحَ صَدْرَ اَبِيْ بَكْرٍِ وَعُمَرَ رضى الله عَنْهُمَا.

Artinya: Umar radhiyallahu ‘anhu mendatangi Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya melihat pembunuhan dalam peperangan Yamamah telah mengorbankan para penghafal al-Qur’an, bagaimana kalau Anda menghimpun al-Qur’an dalam satu Mushhaf?” Khalifah menjawab, “Bagaimana mungkin kita akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Umar berkata, “Demi Allah, ini baik.” Umar terus meyakinkan Abu Bakar, sehingga akhirnya Abu Bakar menerima usulan Umar. Kemudian keduanya menemui Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dan menyampaikan tentang rencana mereka kepada Zaid. Ia menjawab, “Bagaimana mungkin kalian akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Keduanya menjawab, “Demi Allah, ini baik.” Keduanya terus meyakinkan Zaid, hingga akhirnya Allah melapangkan dada Zaid sebagaimana telah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar dalam rencana ini.” [1]

Apa yang dikatakan oleh Abu Bakar dan Zaid radhiyallahu ‘anhuma pada saat pertama kali mendengar usulan Umar untuk menghimpun al-Qur’an ke dalam satu mushhaf memperlihatkan bahwa itu perkara baru. Mereka berdua berkata pada awalnya, “Bagaimana mungkin melakukan hal yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Memang demikian adanya. Menghimpun al-Qur’an ke dalam satu mushhaf sama sekali tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan beliau pun tidak pernah memerintahkan untuk melakukannya. Namun Umar radhiyallahu ‘anhu setelah mengkaji berbagai keadaan pada masa itu merasa perlu memberikan usul kepada Khalifah Abu Bakar untuk melakukan penghimpunan al-Qur’an ke dalam mushhaf, meskipun perkara itu tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Karena ini perkara baru tentunya bisa dikatakan sebagai bid’ah, namun bid’ah hasanah, bahkan termasuk ke dalam kategori bid’ah hasanah yang bersifat wajib, karena para ulama telah bersepakat menghimpun al-Qur’an ke dalam mushhaf itu sebagai perkara yang wajib agar ia tetap terpelihara.

8. Shalat Tarawih Berjamaah Selama Bulan Ramadhan

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اْلقَارِيِّ اَنَّهُ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ رضى الله عنه لَيْلَةً فِيْ رَمَضَانَ اِلَى اْلمَسْجِدِ فَاِذَا النَّاسُ اَوْزَاعٌُ مُتَفَرِّقُوْنَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلاَتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ رضي الله عنه: اِنِّي اَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلاَءِ عَلَى قَارِئٍٍ وَاحِدٍ لَكَانَ اَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى اُبَيِّ بْنِ كَعْبٍِ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً اُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّوْنَ بِصَلاَةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هَذِهِ.

Artinya: Abdurrahman bin Abd al-Qari radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suatu malam di bulan Ramadhan aku pergi ke masjid bersama Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ternyata orang-orang di masjid berpencar-pencar dalam sekian kelompok. Ada yang shalat sendirian. Ada juga yang shalat menjadi imam beberapa orang. Lalu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku berpendapat, andaikan mereka aku kumpulkan dalam satu imam, tentu akan lebih baik.” Lalu beliau mengumpulkan mereka kepada Ubay bin Ka’ab. Malam berikutnya, aku ke masjid lagi bersama Umar bin Khaththab, dan mereka melaksanakan shalat bermakmum pada seorang imam. Menyaksikan hal itu, Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini.” [2]

Ketahuilah bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau tidak pernah memfatwakan agar umat Islam melaksanakan shalat tarawih secara berjamaah selama bulan Ramadhan. Informasi yang kita peroleh memperlihatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat tarawih berjamaah hanya beberapa malam saja, kemudian beliau meninggalkannya. Hal yang sama juga terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Pada masa khalifah yang pertama ini tidak pernah ada penghimpunan jamaah di masjid untuk melaksanakan shalat tarawih sebulan penuh.

Ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu menjadi khalifah, pada masa itulah beliau memfatwakan agar shalat tarawih dilakukan secara berjamaah selama bulan Ramadhan, dan oleh Umar perkara baru yang dibuatnya itu ia katakan sebagai sebaik-baik bid’ah. Dengan kata lain, itu adalah bid’ah hasanah. Namun kalau dicermati lebih jauh, yang dilakukan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu itu, sekalipun perkara baru namun tidak bisa dicap sebagai bid’ah. Ia adalah sunnah, yakni sunnah khalifah al-rasyidin. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ

Artinya: “Berpeganglah dengan sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang memperoleh petunjuk.” [3]


[1] Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari (4679), Imam al-Tirmidzi (3103), Imam Ahmad (21687), dan Imam al-Nasa’i (7995).
[2] HR Imam Bukhari (2010) dan Imam Malik (250).
[3] HR Imam Abu Dawud dan Imam al-Tirmidzi.
Read More
      edit
Published September 17, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 30

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً، قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ، قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْنَ (٣٠)

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (30).
  • Tafsir Ath-Thabari
Ayat ini mengingatkan nikmat-nikmat Allah kepada manusia, di antaranya dinobatkannya Adam a.s. sebagai khalifah di bumi. Menurut Imam Ath-Thabari maksud [Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi] adalah mengangkat Adam a.s. sebagai khalifah di bumi dan mengangkat setelahnya khalifah-khalifah lain silih berganti.

Imam Hasan al-Bashri mengatakan bahwa yang dimaksud khalifah adalah suksesi kepemimpinan yang silih berganti sejak Adam a.s. hingga keturunannya hingga hari kiamat. Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa Adam a.s. diangkat sebagai khalifah di muka bumi menggantikan bangsa jin. Sedangkan Imam Ath-Thabari berpendapat berdasarkan riwayat Ibnu Abbas r.a. dan Abdullah bin Mas'ud ra, bahwa yang diangkat sebagai khalifah Allah hanyalah Adam a.s. dan mereka yang taat kepada Allah. Mereka bertugas menegakkan hukum Allah di tengah-tengah makhluk-Nya.

Adapun sebab para malaikat itu bertanya [Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah] adalah untuk memperoleh informasi, karena para malaikat itu, menurut riwayat Ibnu Abbas r.a. pernah ditugaskan untuk membasmi jin penghuni bumi sebelum Adam a.s., yang kebetulan suka berbuat kerusakan dan menumpahkan darah. Maka timbullah pertanyaan ini karena mereka hendak memperoleh informasi dari Allah, bukan karena malaikat itu tahu perkara gaib, tidak pula karena mereka berburuk sangka, atau hendak mengingkari keputusan Allah Swt.

➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 470-500
Read More
      edit

Friday, September 13, 2019

Published September 13, 2019 by with 0 comment

Sepuluh Penghalang Terbukanya Pintu Rezeki (Bagian Kedua)

4. Menyandarkan Nikmat Tidak kepada Pemberi yang Sesungguhnya
Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah tentang ucapan Qarun:

قَالَ إِنَّمَا أُوْتِيْتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِيْ، أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُوْنِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا، وَلاَ يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوْبِهِمُ الْمُجْرِمُوْنَ (٧٨

“Sebagaimana Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.”[1]

Merupakan suatu sikap menyombongkan diri bila di antara manusia ada yang berkata bahwa rezeki yang ia dapatkan semata-mata karena ilmu dan keahlian yang dimilikinya. Yang benar adalah bahwa rezeki itu semata-mata karunia dari Allah Ta’ala.

5. Banyak Bersumpah dalam Jual Beli
Abu Hurairah meriwayatkan dari Rasulullah Saw bahwasanya beliau bersabda:

“Sumpah itu dapat melariskan dagangan tetapi juga menjadi penghilang berkah.”[2]

Abdullah bin Abi Aufa ra berkata ada seseorang yang menawarkan suatu barang di pasar, lalu dia bersumpah atas nama Allah bahwa dia telah memberikan harga yang paling rendah yang belum pernah diberikan, agar ada seorang muslim yang terjebak, lalu turunlah ayat:[3] “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji(nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berbicara pada mereka dan tidak (pula) akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan menyucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.”[4]

6. Mengotori Diri dengan Harta Riba
Allah Swt berfirman:

الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبَا لاَ يَقُوْمُوْنَ إِلاَّ كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ، ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوْا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا، وَأَحَلَّ اللهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا، فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ، وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ، هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (٢٧٥) يَمْحَقُ اللهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ، وَاللهُ لاَ يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيْمٍ (٢٧٦)

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.”[5]

Yang dimaksud dengan memusnahkan riba ialah memusnahkan harta itu atau meniadakan berkahnya. Dan yang dimaksud dengan menyuburkan sedekah ialah memperkembangkan harta yang telah dikeluarkan sedekahnya atau melipatgandakan berkahnya.

Ibnu Mas’ud berkata, “Pemakan riba, yang memberikan harta riba, penulisnya, dan saksinya dilaknat oleh Muhammad Saw.”

Bersambung...


[1] QS. al-Qashash [28]: 78.
[2] HR Imam Bukhari dan Imam Muslim.
[3] QS. Ali Imran [3]: 77.
[4] HR Imam Bukhari.
[5] QS. al-Baqarah [2]: 275-276.
Read More
      edit

Tuesday, September 10, 2019

Published September 10, 2019 by with 0 comment

Sepuluh Penghalang Terbukanya Pintu Rezeki (Bagian Pertama)

Kita semua yakin bahwa Allah adalah Pemilik dan Pembagi rezeki. Dialah Allah Dzat Yang Maha Kaya dan Maha Dermawan. Tidak ada setetes air pun yang kita teguk kecuali berasal dari pemberian-Nya. Tidak pula ada satu pun makhluk yang diciptakan-Nya kecuali mendapat bagian rezeki dari-Nya. Namun demikian, rezeki yang berasal dari-Nya itu bisa saja tertahan dan tidak sampai kepada kita.

Tentu saja hal itu tidak terjadi tanpa sebab. Ada sejumlah sebab yang berasal dari kesalahan-kesalahan yang kita perbuat sehingga Allah menahan sebagian rezeki-Nya untuk kita. Berikut akan kami paparkan sepuluh penyebab yang menjadikan pintu rezeki tidak terbuka lebar. Dengan kata lain sepuluh hal berikut ini merupakan penghalang terbukanya pintu rezeki:

1. Melawan Sang Pemberi Rezeki
Allah Swt berfirman:

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ (٣) الَّذِيْ أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوْعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ (٤)

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”[1]

Ayat ini memerintahkan kita untuk memurnikan ibadah hanya kepada Rabb penguasa Ka’bah, sehingga Allah akan memberikan dua rezeki sekaligus, yaitu dicukupkan kebutuhan dunianya dan diberi rasa aman di akhirat.

2. Berbuat Dosa
Rasulullah Saw bersabda, Sesungguhnya hamba ditahan rezekinya karena dosa yang ia dilakukan.”[2]

Disebutkan pula bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda, Malaikat Jibril membisikkan di dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati hingga telah sempurna rezekinya. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan carilah rezeki dengan cara yang baik, dan hendaklah tertundanya rezeki tidak mendorong kalian untuk mencarinya dengan kemaksiatan kepada Allah, karena sesungguhnya keridhaan di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan ketaatan kepada-Nya.”[3]

3. Mengingkari Nikmat Allah
Allah Saw berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ (٧)

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”[4]

وَضَرَبَ اللهُ مَثَلاً قَرْيَةً كَانَتْ آمِنَةً مُطْمَئِنَّةً يَأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَكَفَرَتْ بِأَنْعُمِ اللهِ فَأَذَاقَهَا اللهُ لِبَاسَ الْجُوْعِ وَالْخَوْفِ بِمَا كَانُوْا يَصْنَعُوْنَ (١١٢)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap penjuru, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.”[5]

Bersambung...

[1] QS. al-Quraisy [106]: 3-4.
[2] HR Imam Nasa’i dan Imam Ibnu Majah.
[3] HR Imam Abu Nu’aim, Imam al-Baihaqi, dan Imam al-Bazzar.
[4] QS. Ibrahim [14]: 7.
[5] QS. an-Nahl [16]: 112.
Read More
      edit
Published September 10, 2019 by with 0 comment

Ringkasan Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 26

Allah Subhanahu wata'ala berfirman:

إِنَّ اللهَ لاَ يَسْتَحْيِيْ أَنْ يَضْرِبَ مَثَلاً مَا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَا، فَأَمَّا الَّذِيْنَ آمَنُوْا فَيَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ، وَأَمَّا الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَيَقُوْلُوْنَ مَاذَا أَرَادَ اللهُ بِهَذَا مَثَلاً، يُضِلُّ بِهِ كَثِيْرًا وَيَهْدِيْ بِهِ كَثِيْرًا، وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلاَّ الْفَاسِقِيْنَ (٢٦)

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (26).
  • Tafsir Ath-Thabari
Menurut para sahabat, di antaranya Ibnu Abbas ra, ayat ini turun terkait ayat [Perumpamaan mereka seperti orang-orang yang menyalakan api (QS. Al-Baqarah: 170] dan [Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit (QS. Al-Baqarah: 19)] yang mengibaratkan keimanan orang munafik dengan sekelebat cahaya api atau kilat. Mendengar perumpamaan ini, orang-orang munafik mengejek, "Allah Maha Tinggi, Maha Gagah dibanding perumpamaan yang dibuat-Nya." Turunlah ayat ini yang menjelaskan bahwa Allah tidak malu dengan perumpamaan yang Dia buat.

Penafsiran lain dikemukakan oleh Al-Rabi' bin Anas ra. Menurutnya ayat ini adalah perumpamaan kehidupan dunia. Karena nyamuk hidup ketika ia lapar, saat sudah gemuk tiba-tiba ia mati. Demikianlah kehidupan dunia. Sebagaimana firman Allah:

فَلَمَّا نَسُوْا مَا ذُكِّرُوْا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوْا بِمَا أُوْتُوْا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُوْنَ (٤٤)
 
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al-An'am: 44)
 
Penafsiran ketiga dikemukakan oleh Qatadah. Ketika Allah menyebutkan nyamuk dan laba-laba dalam Al-Qur'an, mereka yang sesat berkata, "Apa maksud Allah menyebutkan itu?" Maka turunlah ayat ini, menjelaskan bahwa Allah tidak malu menyebutkan kebenaran, walaupun sedikit.

➨ Rujukan: Tafsir Ath-Thabari, Jilid I, 2001: 422-425  
Read More
      edit